Rajan yang melihat ketulusan dari nada ucapan Axton membuat pemuda itu tersenyum lembut dan meminta Axton untuk berbagi dukanya dengan Rajan sebab walaupun ia bukan keluarga dari Luruh dan Lara setidaknya Rajan ingin bisa bermanfaat untuk gadis yang Rajan cintai walaupun Lara entah menyukainya atau tidak.
"Bukan masalah besar jika kamu belum memahami Luruh setidaknya aku bisa merasakan ada ketulusan dari ucapanmu dan semoga kamu mau berbagi duka denganku sebab aku tak merasa keberatan mendengarkanmu! Ya walaupun aku bukan keluarga dari Luruh dan Lara paling tidak aku ingin bisa bermanfaat untuk gadis yang sangat aku cintai selama ini," ucap Rajan sendu.
Axton yang memahami perasaan seperti itu membuat pemuda itu menenangkan Rajan hingga tak lama suasana lorong rumah sakit menjadi hening karena memang kedua pemuda itu tidak berniat membahas apapun lagi.
"Tenang saja aku pasti akan berbagi masalahku padaku karena aku juga memahami cinta yang seperti itu waktu dulu! Kadang memang kita tidak bisa memaksakan keinginan dan bisa jadi kisahmu berbanding terbalik dengan aku waktu dulu! Apapun pilihanmu tetaplah berusaha dan jangan patah semangat meskipun terlihat tidak mungkin, Rajan!" tutur Axton serius.
Tak lama ponsel Axton terus berdering, tetapi pemuda itu tak menyahutinya dan lebih memilih fokus pada pekerjaannya di laptop sementara Rajan yang duduk di samping Axton hanya bisa mengerutkan dahinya bingung sambil berusaha mengingatkan Axton bahwa ponselnya berdering.
"Apakah kau berencana tidak menjawab panggilan telepon ya? Itu ponselmu sejak tadi terus berdering jadi sebaiknya kamu jawab saja, Axton! Mungkin ada hal serius yang ingin di ucapkan ke kamu! Lagipula sepertinya hari ini kamu terlihat cukup sibuk ya? Mau aku bantu jawab atau memang segaja kamu biarkan saja? Apa tidak masalah begitu," ujar Rajan santai.
Pemuda itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, tetapi tangannya tetap sibuk menekan tombol laptop dan masih tak memperdulikan ponselnya lalu tak lama Rajan mencoba berbasa-basi untuk menanyakan mengapa Axton menemani Luruh di rumah sakit padahal ia bisa saja menunggu istrinya di rumah.
"Rupanya memang sengaja tidak ingin di angkat ya? Oh iya, Axton! Kenapa kamu menemani Luruh di rumah sakit? Padahal kamu sedang sibuk dan kamu bisa saja menunggu di rumah? Kenapa harus repot-repot begini? Yakin kamu besok tidak mengantuk saat bekerja, Axton? Kamu tidak mungkin cemburu pada aku kan ya?" tanya Rajan santai.
Mendengar pertanyaan Rajan yang terlihat begitu khawatir pada Luruh membuat Axton merasa sedikit cemburu dan ia menjelaskan bahwa ia ingin selalu bersama istrinya walaupun ada pilihan untuk Axton menjauh dari Luruh, ia tak akan memilih hal itu dibandingkan dirinya harus kehilangan gadis yang ia sayangi.
"Mana mungkin aku cemburu padamu, tentu saja bukan karena itu melainkan aku hanya ingin selalu bersama istriku walaupun ada pilihanku untuk menjauh atau tak menemaninya maka aku tak akan memilih hal itu daripada nantinya aku kehilangannya dan menyesali pilihan yang tak bisa aku ubah kan? Dulu aku pernah melepaskan seseorang dan sekarang aku tak ingin hal itu terjadi kedua kalinya, Rajan! Sangat menyakitkan rasanya," ucap Axton serius.
Dalam diam Rajan memahami perasaan Axton yang juga di rasakan oleh Rajan kepada Lara dan mereka kembali hening sementara Luruh yang terus menggenggam tangan kakaknya erat tak lama merasa ingin mencurahkan segala rasa sedih sebab ia tak memiliki siapapun lagi selain Lara.
"Mungkin dulu aku tidak pernah memikirkan hal ini dengan serius, tetapi bolehkah sekarang aku mempertahankan pernikahan ini? Aku tau dulu aku terlalu naif! Memandang sesuatu dengan mudah dan setelah dipahami rasanya aku masih ingin dengannya, bertahan dengan orang yang selalu meyakinkan diriku bahwa dengannya aku tak lagi sendirian kak! Sepertinya aku terdengar egois ya? Aku cuma ingin bertahan demi kakak dan hatiku kak," gumam Luruh sendu.
Waktu yang terus bergerak membuat hati Luruh merasa semakin sedih hingga tak lama gadis itu larut dalam tidurnya sedangkan Axton sibuk menyelesaikan pekerjaannya, tetapi pemuda itu terus di ganggu oleh telpon dari seseorang yang sudah ia hafal siapa lagi kalau bukan Laninna yang entah mengapa menghubungi dirinya terus menerus seperti ini.
"Ini orang gak paham artinya gak ingin di telepon apa gimana sih? Gak tau gue sibuk apa ya? Dia pikir hidup gue cuma tentang mengurus dia doang gitu? Gue juga punya urusan gue sendiri dan harusnya tuh dia jangan menghubungi gue terus-terusan juga woy! Di kira gue ini orang yang nyantai banget apa gimana sih?! Mengesalkan banget sih dia tuh!" omel Axton kesal.
Sebenarnya Rajan tidak ingin ikut campur ke dalam masalah orang lain, tetapi mendengar Axton yang sangat kesal membuat pemuda itu menyarankan untuk menjawab panggilan telepon dan beritahu orang yang penelpon jika Axton sedang tidak ingin di ganggu olehnya.
"Gue gak bermaksud ikut campur sama lu cuma kalau gue boleh saran sebaiknya lu jawab aja itu telepon! Mungkin ada hal yang mau dia sampaikan sama lu, ya kalau nantinya lu gak mau di ganggu sama dia mending lu kasih tau orang itu! Kalau begini dia gak paham sama isi kepala lu jadi mending di omong aja biar mengerti dianya," ujar Rajan santai.
Entah mengapa ucapan dari Rajan membuat Axton mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dan tak lama Axton menyahuti panggilan telepon Laninna dengan nada datar sebab ia sedang lelah dan tingkah Laninna ini semakin membuat kepalanya semakin kesakitan padahal Axton ingin tenang sejenak.
"Halo, ada apa? Lu tau kan gue gak suka di telpon terus menerus kalau sekali gak gue jawab harusnya udah gak usah nelpon gue berulang-ulang kali! Tujuan lu apa menelpon gue, Laninna? Kalau sekiranya tidak ada hal yang penting sebaiknya akhiri saja telepon ini karena waktu yang gue gunakan gak sesantai diri lu," ucap Axton datar.
Sementara Laninna yang akhirnya bisa mendengar suara dari seseorang yang ia ingin dengar olehnya membuat gadis itu menanyakan kenapa Axton tak menyahuti panggilan teleponnya dan Laninna mengabaikan ucapan Axton seolah-olah yang terpenting adalah meraih Axton kembali tak perduli status pemuda itu apa sekarang.
"Akhirnya tersambung juga telpon gue! Ya bagaimana ya kita itu selalu dekat jadi pas lu jauh begini ya gue mencoba menjaga komunikasi sama lu dong, Axton! Lu sekarang ada di mana Axton? Tumben banget gue telpon lu eh lama banget di jawabnya! Mau gue kirimin makanan gak buat nemenin lu? Kebetulan gue masak beberapa camilan," sahut Laninna manja.
Sayangnya Axton sudah bukan lagi orang yang ia kenal jadi ia meminta Laninna untuk jangan datang hanya untuk menghancurkan rumah tangganya sebab terakhir kali Laninna lebih memilih untuk memutuskan hubungannya dengan Axton karena gadis itu bilang ia muak dan merasa tak bisa lagi bersama-sama dengannya.
"Selalu dekat itu bukan lagi di saat sekarang, Laninna! Kita sudah berpisah lama dan kamu tidak berhak menjaga komunikasi dengan suami orang! Aku memang temanmu, tapi tidak berarti aku harus selalu mengikuti kemauanmu! Mulai sekarang kamu jangan ganggu kami?! Terakhir kali sebelum kita putus kamu bilang kamu muak dan merasa tak bisa lagi bersama-sama denganku bukan? Lalu untuk apa ini semua? Kita bukan lagi sepasang kekasih Laninna," ujar Axton datar.
Tak ada ucapan apapun yang di dengar oleh pemuda itu dan ketika Axton ingin mengakhiri telponnya tak lama Laninna bergumam-gumam jika ia menyesali ucapannya saat itu dan alasan Laninna menemui Axton di cafe saat itu karena ia masih ingin dengan Axton dan memperbaiki hubungan mereka.
"Kalau kamu sudah memahami batas yang perlu kamu jaga, ada baiknya aku tutup panggilan telepon ini karena memang udah gak ada yang harus di bicarakan lagi! Tolong tepati ucapanmu dan jangan bersikap semaumu lagi!! Aku lelah dan aku ingin hidup sesuai keinginanku jadi kamu sebaiknya lanjutkan saja hidupmu sendiri," ucap Axton terhenti.
"Aku tau kamu mungkin tak mempercayai ucapanku, tapi saat itu aku benar-benar hanya asal bicara dan sejujurnya aku menyesali apa yang pernah aku katakan padamu! Setelah memahami bahwa aku seharusnya tak semudah itu melepaskan kamu, aku berusaha untuk menemui kamu di cafe dan sejak saat itu aku ingin memperbaiki hubungan kita!" ujar Laninna serius.
Sayangnya Axton sudah lama tidak memiliki perasaan apapun pada Laninna terlebih gadis itu sendiri yang ingin mengakhiri hubungan mereka jadi Axton merasa tidak ada yang perlu lagi mereka perbaiki karena saat ini Axton sudah memiliki istri yang harus ia bahagiakan di banding membuang waktunya dengan Laninna.
"Penyesalan memang akan selalu datang di akhir hanya saja aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padamu, Laninna! Aku pernah memilihmu menjadi kekasih ya karena sebagai status sementara saja dan saat kamu ingin mengakhiri hubungan ya sudah! Tidak ada yang perlu kita perbaiki lagi! Aku sudah memiliki istri dan aku harus membahagiakannya," sahut Axton serius.
Namun ucapan Axton malah dibalas santai oleh Laninna bahkan dengan bangganya ia tak ada masalah jika pemuda itu ingin menjadikannya istri kedua atau simpanan sekalipun Laninna mau-mau saja sedangkan Axton dengan tegas menolak pemikiran Laninna karena ia tidak berniat menduakan Luruh seperti pemikiran Laninna.
"Membahagiakannya katamu? Tenang saja aku tak masalah bila harus menjadi istri kedua atau sekedar simpananmu juga aku siap-siap saja! Lagipula wajar saja kalau memiliki banyak gadis toh selama ini kamu juga tak pernah cukup dengan satu gadis bukan? Pikirkan baik-baik bahwa kamu tak akan menyesal jika memiliki aku yang baik ini, Axton!" ujar Laninna bangga.
"Tidak! Aku tidak akan menduakan Luruh! Apapun yang kamu pikirkan aku tak melakukannya karena dalam hidupku bukan lagi tentang kesenangan! Aku pernah kehilangan cintaku jadi untuk sekarang aku tidak ingin kehilangannya lagi?! Kamu mungkin orang baik, tetapi tidak ada orang baik yang tega menghancurkan rumah tangga orang, Laninna! Sadarlah!!" sahut Axton tegas.
Masih banyak yang ingin Laninna ucapkan pada Axton tetapi pemuda itu menyuruh Laninna untuk jangan mengganggu dirinya dan Luruh sebab mulai sekarang Axton ingin mengakhiri hubungannya dengan Laninna, lagipula Laninna sendiri yang menginginkan untuk hidup masing-masing jadi mulai hari ini mereka hanya orang asing.
"Kamu ini bicara apa? Aku tidak menyuruhmu menceraikan Luruh! Tolong dengarkan niatku dan pikirkan kembali ucapanku! Mungkin menurutmu aku konyol, tetapi aku menerima apapun yang kamu inginkan dariku dan harusnya kamu memberi aku kesempatan kan," ucap Laninna terhenti.
"Tidak ada kesempatan untuk orang yang sengaja berpikiran menjadi simpanan hanya karena ego sendiri! Sudahlah berhenti menjelaskan apapun lagipula kita sudah berakhir sejak lama dan kamu sendiri yang menginginkan untuk hidup masing-masing jadi mulai hari ini kamu dan aku hanyalah orang asing!" tutur Axton serius.