Luka Membuatku Memahamimu

1614 Kata
Mendengar ucapan Axton membuat Laninna merasa kesal dan ia berpikir jika ucapan Axton yang seperti ini adalah karena perintah Luruh sebab tadi Laninna sempat bertemu dengan Luruh dan ia memperingatkan hal yang sama dengan Axton ini. "Bukankah mereka yang jujur dalam perasaannya akan melakukan apapun untuk membuktikan perasaannya! Kalau menurutmu ini hanya ego lalu apa yang kau lakukan? Kau memperingatkan aku hanya karena istrimu kan! Bilang saja kamu takut padanya jadi kamu berbicara begini iya kan? Tadi aku bertemu Luruh dan ia juga mengatakan hal yang sama tau?!" omel Laninna kesal. Axton yang mendengar ucapan Laninna membuat pemuda itu merenungkannya dan baru Axton menyadari bahwa ekspresi sedih Luruh tadi sepertinya di sebabkan oleh Laninna jadi dengan tegas Axton menyahuti ucapan Laninna bahwa ia mengatakan ini karena dirinya sendiri bukan karena perintah Luruh. "Aku mengatakan ini atas dasar keinginanku untuk mempertahankan pernikahanku dengan Luruh! Tak ada seseorangpun yang memerintahkan aku, Laninna! Luruh tak pernah memintaku berbicara seperti ini, tapi aku sadar diri bahwa bertahan tidak sebercanda itu! Kalau begitu kamu harusnya paham bahwa kami saling ingin mempertahankan satu sama lain," ujar Axton serius. Sayangnya tak ada sahutan apapun dari Laninna dan Axton memilih untuk mengakhiri panggilan telepon ini dan tidak lupa juga ia memperingatkan Laninna untuk jangan mengusik Luruh sebab ia akan membalas Laninna jika sampai istrinya menangis karena sikap Laninna. "Sepertinya kamu paham bahwa memang sudah tak ada yang perlu kita berbicarakan! Kalau begitu aku tutup panggilan telepon ini dan ingat baik-baik untuk jangan mengusik Luruh karena aku akan membalas perbuatanmu pada Luruh! Jika kamu membuatnya menangis maka aku akan memberikan rasa sakit yang lebih sakit padamu! Ingat itu, Laninna!" tutur Axton serius. Di dalam ruangan ICU tak lama jari tangan Lara terlihat bergerak lalu perlahan-lahan mata Lara terbuka dan ia melihat adiknya sedang tertidur sambil memegang tangannya erat, dalam diam hati Lara terasa berdenyut perih melihat Luruh yang selalu bertahan dan mendahulukan dirinya di banding hatinya sendiri. "Bahkan ketika kamu sudah aku titipkan pada pemuda yang harus melindungimu, kamu malah tertidur di dekat kakakmu, dek? Kenapa kamu selalu bertahan seperti ini dan mendahulukan aku di bandingkan hatimu sendiri, Luruh? Padahal kakak hanya ingin melihatmu bahagia bukan malah kesulitan karena kakak begini dek! Kapan ya aku bisa membahagiakanmu seperti kakak-kakak lain yang pada umumnya memberi tawa bukan luka," gumam Lara sendu. Samar-samar suara yang akrab di telinga Luruh terdengar begitu menenangkan membuat Luruh seketika terbangun dan menatap kakaknya bahagia sebab ia masih bisa melihat Lara yang kini tersenyum dan mengusap-usap kedua pipinya, Luruh yang merasa sangat senang membuat gadis itu memeluk kakaknya erat. "Masyaallah! Akhirnya kakak bangun juga dari masa kritis?! Ya Allah, terima kasih karena aku masih bisa melihat senyuman dan memeluknya seperti ini! Rasanya aku sangat bahagia sekali melihat kakak yang berhasil melewati masa kritis kakak! Ada yang sakit gak kak? Ya ampun ini aku bermimpi atau tidak sih! Aku harap nyata karena aku butuh kakak," ucap Luruh bahagia. Tangis Luruh tak bisa di bendung ketika ia melihat kakaknya berhasil terbangun dari masa kritisnya lalu Lara yang melihat adiknya menangis sambil memeluknya membuat gadis itu ikut membalas pelukan Luruh dengan lembut dan menenangkan Luruh bahwa ia sudah baik-baik saja sekarang. "Tenang dek! Kakak hanya pergi sebentar kok, sudah kamu jangan menangis lagi ya? Lagipula kakak juga masih ingin menemani dan melihat bayi menggemaskan yang mirip kamu dan Axton jadi kamu tidak perlu bersedih lagi ya? Lihat! Kakak baik-baik saja bukan? Anggap saja tadi kakak hanya tertidur sebentar ya adikku sayang," tutur Lara lembut. Dalam diam mata Lara memahami jika ada hal yang menyakiti adiknya, tetapi Luruh menahan dan bersikap seolah-olah ia tak memiliki rasa sakit apapun untuk Lara khawatirkan sayangnya Lara tak bisa membiarkan adiknya sedih sendirian jadi Lara meminta Luruh untuk menceritakan masalahnya agar Lara memahami rasa sakit yang di rasakan Luruh saat ini. "Loh? Kenapa tatapan mata dan ekspresimu seperti sedang memendam luka dan sedih begitu? Ada masalah apa selama kakak pergi tadi dek? Hm? Ada yang menyakitimu ya? Kalau memang tadi ada yang membuatmu sedih silahkan bercerita sama kakak! Kakak paham bagaimana sakitnya menahan masalahmu sendirian! Ayok ungkapkan saja dek," ucap Lara serius. Sebenarnya Luruh tidak ingin mengganggu masa pemulihan kakaknya, tetapi rasanya hati Luruh saat ini seperti terbagi menjadi dua antara ia ingin bercerita dan tidak tega menambah beban pada pikiran kakaknya jadi Luruh memilih untuk menenangkan kakaknya di banding ia harus membebani Lara. "Sedih apa kak? Aku baik-baik saja kok! Mana ada masalah, orang tadi aku hanya merasa sedih karena melihat kakak dalam masa kritis kak! Bukan berarti aku ada masalah jadi kakak tidak perlu khawatir ya! Sudah untuk sekarang sebaiknya kakak tidak perlu banyak pikiran dulu ya? Aku tidak seperti yang kakak pikirkan kok! Kakak tenang saja ya," sahut Luruh lembut. Lara yang memahami jika bukan hal yang mudah untuk meluapkan kesedihan di saat seperti ini membuatnya menggenggam tangan Luruh lembut sambil ia menenangkan bahwa mereka tak perlu merasa sungkan satu sama lain karena tanpa Luruh mengatakan masalahnya hati Lara juga memahami rasa sakit itu jadi Lara mohon untuk jangan menutupi apapun darinya. "Hidup itu wajar jika memiliki masalah dek, aku paham jika untuk meluapkan kesedihan yang kamu rasakan memang tidak mudah! Hanya kamu tidak perlu khawatir apalagi sungkan dengan aku karena meskipun kamu tak mengatakan masalahmu tetap saja hatiku juga ikut merasakan sakitnya sebab mata itu tidak pernah bisa berbohong, Luruh! Tolong jangan tutupi apapun dari diri kita ya? Aku ada untuk membantumu begitu juga sebaliknya dek," tutur Lara serius. Tatapan mata kakaknya yang terlihat begitu yakin dan membuat Luruh tak tega membiarkan kakaknya merasakan lukanya dalam kebingungan untuk itu Luruh mulai menceritakan jika hati yang dulu tak merasakan hangatnya cinta kini harus bertahan di antara perasaan egois dan sedih yang Luruh tak pahami kenapa malah menjadi luka seperti ini di hatinya. "Maafkan aku yang tak memahami luka dan rasa sakitmu kak, baiklah aku akan mengatakan kalau aku dulu tak pernah merasakan apa itu cinta lalu sekarang aku harus mempertahankan pernikahan kami ya walaupun aku tau mungkin hal itu terdengar agak egois ya? Apapun itu aku juga tak paham betul dan kenapa sekarang rasanya hatiku terluka ya kak?" ucap Luruh sendu. Perasaan yang dulu pernah Lara rasakan pada Giran entah mengapa terlintas dihati gadis itu, tapi Lara yakin jika adiknya tak akan bernasib sama sepertinya karena Lara percaya jika Axton lebih bertanggung jawab dan memegang teguh akan hatinya jadi luka yang dulu di pahami Lara kemungkinan tak akan terjadi pada Luruh. "Terkadang cinta itu memang selalu terlihat egois di mata orang lain, tapi selama kamu yakin dengan hatimu maka itu bukan masalah kok dek! Kakak yakin bahwa kamu tak akan bernasib malang seperti kakak jadi teruslah berusaha ya? Axton itu sangat bertanggung jawab dan sudah pasti ia tak akan meninggalkan kamu! Untuk itu jangan pikirkan yang lain ya," ujar Lara lembut. Luruh yang mendengar nasihat kakaknya berusaha memahami saran yang kakaknya berikan, tetapi tak lama otak Luruh teringat dengan Laninna yang berbohong padanya soal Axton dan entah mengapa hatinya terasa gelisah saat teringat ucapan Laninna yang jelas-jelas menyakiti hatinya. "Jadi begitu ya? Aku paham maksud kakak hanya saja tadi ketika aku ke kantin ada teman Axton yang namanya Laninna, dia berbohong padaku bahwa Axton bersamanya padahal jelas-jelas Axton bersamaku dan entah mengapa hatiku terasa gelisah apalagi dia seperti menaruh rasa pada Axton! Jujur ucapannya menyakiti hatiku kak," gumam Luruh sendu. Mendengar ada sosok lain yang berusaha memisahkan adiknya dengan seseorang yang Luruh sayang membuat Lara terdiam sejenak lalu ia menenangkan Luruh bahwa yang terpenting bukan ada atau tidak ada orang yang mengganggu melainkan Axton yang memilih bertahan untuk Luruh. "Setiap hubungan pasti memiliki masalahnya sendirinya dek, kamu tenang ya lagipula ada hal yang jauh lebih penting kamu pikirkan! Bukan ada atau tidak adanya orang yang mengganggu kalian yang jadi masalah melainkan apakah Axton memilih bertahan atau pergi? Dia yang jauh lebih penting kamu pikirkan! Selama Axton lebih memilihmu maka kamu jangan bersedih toh kehancuran terjadi jika kalian sudah tak bisa saling bertahan lagi dek," ucap Lara lembut. Luruh yang merasa ada sedikit cahaya untuk masalahnya entah mengapa kini hatinya menjadi lebih tenang dan ia balik menggenggam tangan Lara lembut sambil berterima kasih karena Lara selalu ada di sisinya setiap saat, tak lupa juga Luruh memohon pada kakaknya untuk terus bertahan agar mereka bisa terus seperti ini. "Kakak benar, sepertinya aku hanya terlalu memandang masalah ini dengan emosi tanpa bisa melihat dan memikirkan lagi kalau sebenarnya kami akan baik-baik saja karena hubungan itu butuh dua orang yang saling bertahan kan? Terima kasih karena kakak selalu ada buatku kak! Tolong kakak terus bertahan agar kita bisa terus seperti ini ya kak," sahut Luruh sendu. Sejak tadi Lara sudah menahan air matanya dan kali ini ia tak bisa menahannya lagi karena Lara juga ingin sekali bertahan dan bisa selalu menemani Luruh, hanya saja gadis itu cukup tau diri dan mengerti bahwa hidupnya bukan atas kendali dirinya jadi Lara tak bisa berbuat banyak selain terus berdoa. "Sama-sama, Luruh! Sudah tugas kakak untuk selalu di sisimu dan karena luka membuatku memahamimu yang berusaha mempertahankan hubungan kalian! Dulu kakak hanya berjuang sendiri makanya kami hancur dan tentu saja kakak juga ingin sekali bertahan dan menemanimu hanya saja hidupku bukan atas kendali kakak jadi kakak harus tau diri Luruh," tutur Lara lembut. Keduanya berpelukan untuk saling menguatkan perasaan satu sama lain dan tak lama Luruh bergegas melaporkan keadaan Lara untuk di pindahkan ke ruangan rawatnya sebab keadaannya sudah terlihat baik-baik saja dan gadis itu perlu mendapatkan pemeriksaan setelah ia berhasil melalui masa kritisnya. Tak butuh waktu lama dokter memeriksa keadaan Lara dan hasilnya cukup baik jadi ia boleh di pindahkan ke ruang perawatan yang biasanya lalu tak lama para perawat memindahkan Lara dan diikuti oleh Luruh, Rajan dan Axton sebab setidaknya mereka harus berada di sisi gadis cantik yang masih dalam pemulihan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN