Sesampainya di ruang perawatan Lara tak lama Rajan menanyakan bagaimana perasaan Lara apakah gadis itu membutuhkan sesuatu dan Lara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai jawaban kemudian Lara berterima kasih karena Rajan selalu menolong dirinya.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar, Lara? Bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah kamu butuh bantuanku? Adakah sesuatu yang kamu inginkan dariku? Ada yang sakit tidak? Coba bilang padaku jika ada bagian yang sakit dari badanmu, Lara? Ini kamu seriusan baik-baik saja? Beneran gak ada sakit sama sekali? " tanya Rajan khawatir.
"Aku mau berterima kasih padamu, Rajan! Terima kasih karena kamu selalu menolong diriku bahkan kamu berada di selalu berada di sisiku jadi aku ingin mengucapkan rasa terima kasihku padamu, Rajan! Tenang saja aku baik-baik saja kok jadi kamu tidak perlu terlalu khawatir padaku ya? Aku hanya sedang di minta untuk menjadi lebih kuat," ucap Lara lembut.
Sementara itu melihat Lara yang berhasil melalui masa kritisnya membuat Axton bersiap-siap meminta tolong pada abangnya sebab seingat Axton jika Terang memiliki kenalan yang mengetahui rumah sakit yang bagus di banding rumah sakit ini, sayangnya Lara menolak usul Axton sebab bukan salah rumah sakit jika ia belum sembuh melainkan memang keadaannya yang seperti ini.
"Syukurlah jika kak Lara sudah sadar dan berhasil melalui masa kritis kakak dengan baik, oh iya aku ada ide bagaimana jika kak Lara aku pindahkan ke rumah sakit lain? Kebetulan abang Terang ada kenalan yang tau soal rumah sakit yang lebih bagus dari tempat ini! Mungkin dengan begitu kak Lara ada perkembangan untuk sembuh kak," ucap Axton serius.
"Usul dari Axton memang terdengar baik hanya aku menolak ide ini karena kalau di pikir-pikir lagi aku seperti ini itu bukan salah rumah sakit! Kalau keadaanku belum juga sembuh ya ini karena bukan salah siapapun melainkan memang keadaanku yang begini adanya jadi tolong jangan terlalu berharap pada rumah sakit lain," sahut Lara santai.
Luruh yang mendengar ucapan kakaknya seperti ini membuat gadis itu berusaha membujuk Lara agar ia mau di pindahkan ke rumah sakit demi masa pemulihan dan kesembuhan Lara sayangnya Lara kembali menolaknya sebab mau dimanapun tempat ia berobat tetap saja dirinya akan seperti ini.
"Bukankah hidup memang tentang pengharapan kak? Cobalah untuk mendengarkan usul ini lagipula aku ingin memiliki banyak waktu dengan kakak jadi mungkin dengan pindah dari rumah sakit ini setidaknya aku memiliki kesempatan ini kak! Pikirkan lagi berbagai impian yang pernah kita miliki kak? Tak ada salahnya berusaha mencari yang terbaikkan," ucap Luruh lembut.
"Memang tak ada yang salah jika ingin menemukan yang terbaik hanya saja mau dimanapun aku di pindahkan tetap saja aku akan seperti ini dan mau dimanapun tempat berobat yang kalian sarankan aku hanya merasakan terapi yang menyakitkan dan rasa sakit yang tak pernah pergi dariku jadi bagaimana bisa aku memiliki impian dan harapan di saat bertahan dari semua rasa sakit ini saja aku sudah bersyukur," tutur Lara serius.
Mendengar ucapan Lara membuat Rajan memandangnya sendu Lara lalu tak lama pemuda itu mengusap-usap kepala Lara lembut dan menenangkan Lara bahwa setidaknya mereka telah berusaha dan untuk soal akhirnya akan menjadi apa itu biar menjadi urusan Allah saja.
"Bagaimana kamu tau kamu akan tetap seperti ini atau malah sembuh, Lara? Selama ini kamu hanya berobat di sini jadi berilah kesempatan untuk dirimu sembuh walaupun kamu merasa semua terapi dan obat itu menyakitimu setidaknya kamu sudah berusaha dan perihal akhir yang seperti apa nantinya itu biar menjadi urusan Allah! Aku akan tetap di sisimu jadi kamu tenang saja dan jangan menyimpulkan sesuatu yang belum terjadi begini ya," ucap Rajan lembut.
Lara yang mendengar ucapan Rajan membuat gadis itu merenungi apa yang di ucapkan teman baiknya hingga tak lama Rajan yang melihat ekspresi wajah bimbang bercampur sedih Lara membuat pemuda itu memeluk Lara sambil menepuk-nepuk punggung Lara lembut sambil menenangkannya.
"Begitukah? Mungkin apa yang Rajan katakan itu ada baiknya, tetapi bagaimana jika pada akhirnya aku masih seperti ini? Tidakkah keluargaku semakin sedih saat usaha ini tak juga bisa menyembuhkan diriku? Aku tentu ingin pulih hanya saja kesembuhanku masih terasa seperti mimpi untuk orang seperti aku," batin Lara sendu.
"Manusia memang seringkali merasa bimbang dan takut untuk menyakiti orang lain terlebih hasilnya belum bisa di pastikan bukan? Setidaknya kamu berjuang bersama mereka yang masih berharap kamu sembuh! Tidak apa-apa jika akhirnya mungkin belum sesuai keinginan yang di harapkan sebab yang kami inginkan itu kamu yakin akan impianmu sendiri," tutur Rajan lembut.
Axton yang menyadari jika pemindahan rumah sakit untuk Lara adalah hal yang serius mungkin butuh waktu untuk Lara mengambil keputusannya jadi pemuda itu memberi waktu pada Lara agar ia bisa lebih memikirkannya lalu tak lama mata Axton tidak sengaja melihat wajah Luruh terlihat kelelahan membuat pemuda itu mengarahkan kepala Luruh pada bahunya.
"Baiklah kalau Lara merasa seperti itu maka aku akan memberi waktu pada Lara agar ia bisa berpikir untuk mengambil keputusannya lebih bijak dan yakin lagi, bagaimana? Kamu setuju dengan ucapanku atau tidak kak Lara? Kamu bebas menolak saranku hanya saja coba pikirkan lagi masalah ini karena kami hanya berusaha membantumu saja," ucap Axton serius.
"Sepertinya ucapanmu tidak buruk juga, Axton! Kalau begitu aku akan memikirkan saran dari kalian ini dan semoga saja apapun hasilnya kalian tidak kecewa dengan hasilnya ya? Aku terlalu nyaman di rumah ini jadi pemindahan rumah sakit untukku seperti merubah kebiasaan yang telah aku lakukan sejak lama dan mulai sekarang akan aku pikir lagi soal ini," sahut Lara santai.
"Kalau lelah kamu bisa bersandar padaku, Luruh! Jangan menahan rasa ngantukmu jika kamu memang lelah tinggal taruh kepalamu di bahuku seperti ini! Bagaimana? Nyaman tidak? Tutup matamu jika mengantukmu, aku akan tetap seperti ini dan menjagamu agar kamu tak jatuh jadi kamu tidak perlu terlalu khawatir sayang! Selamat beristirahat ya," tutur Axton lembut.
Sebenarnya Luruh sedang tidak ingin merepotkan Axton, tetapi karena pemuda itu sendiri yang menggerakkan kepala Luruh untuk bersandar di bahunya membuat Luruh menuruti saja ucapan suaminya dan saat Luruh memejamkan matanya tak lama Lara meledek Luruh dengan tawa bahagianya.
"Terima kasih sudah membantu dan memahamiku, aku hanya sedikit mengantuk jadi mungkin aku perlu terlelap sebentar untuk mengumpulkan tenagaku? Entah kenapa rasanya hari ini aku lelah sekali ya? Padahal kalau aku ingat-ingat lagi rasanya aku tidak melakukan hal yang berat cuma ya sudahlah aku mungkin hanya mengantuk saja kali ya," gumam Luruh lelah.
"Wah, romantis sekali ya pengantin baru ini? Di tempat umum saja kalian masih bisa-bisanya mengkhawatirkan satu sama lain ya? Cie! Aku jadi ikut bahagia nih melihat kalian seperti ini hahahaha! Sepertinya aku akan segera dapat keponakan ya? Wah! Tidak sabar sekali melihat bayi yang mirip kalian berdua hahaha," canda Lara senang.
Luruh mengomeli kakaknya yang berbicara omong kosong sementara Rajan dan Axton hanya tertawa karena bisa melihat gadis yang mereka cintai bahagia seperti ini, di tengah kebahagiaan itu tak lama Lara bertanya satu hal dan Luruh menyahuti pertanyaan Lara dengan serius.
"Kakak ini bicara apa sih?! Udahlah gak usah berbicara omong kosong begini dah! Di kira ada yang lucu? Hm? Kalau tidak sabar sebaiknya kakak cepatlah pulih agar bisa menjaga ponakan kakak yang kakak mau! Jangan bilang kakak demam ya? Makanya kakak berbicara tak jelas seperti ini ya?!" omel Luruh kesal.
"Aku baik-baik saja kok, eh iya! Aku boleh bertanya satu hal padamu dan Axton tidak dek? Jadi tadinya aku tidak berniat bertanya begini, tetapi karena kamu sudah membahasnya lebih dulu makanya kakak ingin tau! Bolehkan kakak bertanya seperti ini ya?" tanya Lara santai.
"Tumben sekali kakak berbicara seperti ini? Boleh saja kak, memang kakak mau bertanya apa pada kami? Kayaknya serius banget sampai nada ucapan kakak terdengar berhati-hati begini, ada apa kak? Tanyakan saja apapun pada kami jangan sungkan," sahut Luruh serius.
Lara yang merasa ini waktu yang tepat membuatnya mengajukan syarat bahwa ia akan siap di pindahkan ke rumah sakit lain asal Axton dan Luruh memiliki bayi dan Lara bisa melihat anak mereka yang Lara anggap sebagai malaikat kecil yang akan bergantian menjaga Luruh dan Axton jika nanti dirinya harus tiada.
"Baiklah akan aku katakan, aku tidak keberatan jika harus di pindahkan ke rumah sakit lain asal Luruh dan Axton memiliki bayi dan aku bisa melihat anak kalian! Kenapa aku berbicara seperti ini karena aku berpikir jika suatu saat aku harus tiada maka bayi kalian aku anggap sebagai malaikat kecil yang akan menjaga kalian berdua! Bagaimana kalian setuju?" ucap Lara serius.
Tak ada sahutan yang terdengar karena baik Axton, Luruh dan Rajan merasakan jika ucapan Lara seperti ia memberitahu mereka mau ia pindah rumah sakit atau tetap di sini pada akhirnya gadis itu akan kalah juga dengan penyakitnya dan rasanya Lara menitipkan harapan juga ikatan agar Luruh dan Axton tak berpisah.
"Lara ini berniat berbicara apa sih?! Apa jangan-jangan dia hendak memberitahu kami kalau pindah rumah sakit juga pada akhirnya dia akan kalah dengan penyakitnya? Jangan bilang dia berusaha menitipkan harapan dan penawar luka dari kepergiannya melalui bayi itu? Haruskah ia pergi secepat itu? Tidak bisakah aku menemaninya hingga akhir," batin Rajan sedih.
"Kakak ini ngomong apaan sih! Mengajukan syarat di atas hidupnya saja seperti bom waktu untuk kita? Tunggu! Kak Lara tidak bermaksud menyelamatkan aku dari perpisahan jadi kak Lara memilih menggunakan kesempatan ini untuk mengikat Axton denganku? Ya ampun kenapa dia masih memikirkan orang lain di saat seperti ini? Aku jadi tak tau harus berkata apa padanya," batin Luruh sendu.
Namun Axton memilih menyetujui ucapan Lara sebab ia berpikir ini kesempatan yang baik untuk bisa memindahkan Lara agar bisa di selamatkan jadi Axton juga mengajukan kalau Lara pindah rumah sakit terlebih dulu untuk masalah bayi itu akan berjalan setelah Lara pindah dari sini.
"Oke! Aku setuju kak Lara, kalau begitu aku juga akan mengajukan syarat bagaimana kak Lara pindah ke rumah sakit lain terlebih dahulu lalu untuk masalah bayi aku dan Luruh itu akan berjalan setelah kakak mendapatkan perawatan di rumah sakit kenalan abang Terang! Dengan begini bukankah terlihat adil untuk semuanya?" ucap Axton serius
Butuh beberapa menit untuk merubah suasana hening yang sebelumnya terasa cukup dingin dan canggung kini berubah sedikit membaik, tetapi sayangnya Lara tidak sependapat dengan Axton bahkan gadis itu dengan tegas masih tetap pada ucapannya yang pertama dan tidak terpengaruh sedikitpun oleh ucapan Axton.