Peringatan Laninna

1632 Kata
Axton yang mendengar pertanyaan istrinya membuat pemuda itu menjelaskan salah paham yang bisa berbahaya jika Luruh tak memahami kekhawatirannya sejak tadi sedangkan Luruh terus menatap ekspresi suaminya karena ia juga khawatir jika saat ini Axton sedang berbohong padanya, beruntungnya Luruh melihat ketulusan dan kekhawatiran yang juga di rasakan Axton. "Waalaikum salam, gue gak kesel kok sayang! Ini gue lagi banyak pikiran aja jadi bikin lu salah paham ya? Tenang aja gue tidak bermaksud menjahili lu!! Ya namanya kerja pasti muka gue kadang suka menyebalkan! Maaf ya sayang, gue gak bermaksud apa-apa kok! Bagaimana tadi perjalanan lu? Hm? Panas gak tadi cuacanya?" tutur Axton lembut. "Tadinya gue pikir dia seperti kesal sama gue atau menyembunyikan sesuatu dari gue? Tidak taunya malah salah paham ya? Sepertinya emang gue aja yang terlalu banyak berpikir dan asal menyimpulkan sesuatu hal mungkin ya? Syukurlah tatapan sama nada bicara dia sih gak kayak orang bohong dan entah kenapa perasaan gue merasanya dia tuh tulus," batin Luruh senang. Sayangnya ekspresi bahagia dan suasana menenangkan seketika berubah ketika suara pintu terbuka dan nampaklah Laninna yang menatap tajam Luruh yang berada di sisi kanan Axton dan pemuda itu memeluk istrinya erat, hatinya berontak melihat kemesraan ini sebab Laninna sudah berpikir harusnya yang marah bukanlah dirinya melainkan Luruh. "Kenapa malah dia duluan yang datang di banding gue sih?! Harusnya gue yang ada di posisi dia!! Terus kok malah jadi begini!! Gue gak bisa nih biarin mereka memamerkan kemesraan di hadapan gue!! Orang yang paling mengenal Axton itu gue bukan loh! Gak bisa di diamin nih! Pokoknya Luruh gak akan gue biarin untuk bahagia terus!!" batin Laninna geram. Dalam diam Axton mengerti jika sepertinya Laninna berusaha menahan kemarahannya untuk itu dengan santai ia berbasa-basi bahkan secara terang-terangan Axton membanggakan Luruh agar Laninna mengerti bahwa seharusnya gadis itu tidak lagi mengganggu pria beristri seperti dirinya ini. "Ada apa, Laninna? Bukannya lu udah tau gue udah punya istri kenapa masih datang berkunjung? Gue gak akan lupa makan atau keperluan pribadi gue karena toh Luruh mengurus gue dengan sangat baik! Terima kasih untuk bekal makan siangnya ya, sayang! Nanti kamu pulangnya sama aku ya? Soalnya aku mau ajak kamu beli camilan malam kita ya sayang," tutur Axton santai. "Begitukah? Kalau dia mengurus lu dengan baik harusnya makanannya dari restoran terbaik dong! Bekal macam itu? Oh iya gue datang juga karena mau menemani lu kerja kok Axton jadi jangan salah paham soal makanan! Orang berkelas itu makan di tempat yang terjamin gizi dan kebersihannya kok! Tenang saja gue gak akan ganggu kalian," ucap Laninna datar. Perlakuan dan ucapan Axton pada Luruh semakin membuat hati Laninna merasa panas dan ia berencana memberi peringatan ke istri Axton tanpa diketahui pemuda itu sebab bagaimanapun juga Laninna tidak ingin terlihat tidak baik di mata pemuda itu jadi dengan cara ini Laninna akan membuat Luruh yang meninggalkan Axton. "Selama ini Axton memang selalu baik dengan wanita manapun cuma gue gak akan biarin Luruh setenang dan bahagia seperti sekarang!! Bagaimanapun juga gue akan melakukan segala cara supaya Luruh meninggalkan Axton tanpa pemuda itu tau gue penyebabnya! Perempuan seperti Luruh ini tidak cocok berbahagia dengan pria sempurna seperti Axton?!" batin Laninna geram. Di lain sisi Luruh malah meminta Axton untuk jangan berbicara saat makan karena dalam diam Luruh mengerti jika sepertinya gadis yang kini berjalan menghampiri mereka berdua bukan orang baik bahkan tatapan mata gadis itu seperti menganggap Luruh adalah musuhnya padahal jika di ingat-ingat lagi Luruh tak mengenal gadis ini. "Hiduplah dengan bahagia bukan hidup hanya untuk berkelas! Lagipula orang berkelas tidak akan bilang kalau diri mereka itu berkelas, Laninna! Sebenarnya kehadiranmu tidak di butuhkan di sini dan cukup mengganggu kami sih!! Besok kamu bawakan bekal lagi sayang? Memang hanya Luruh yang paling hebat deh! Terima kasih istriku," ujar Axton bangga. "Makanlah dengan pelan-pelan dan jangan berbicara, Axton! Kalau kamu berbicara saat makan nanti kamu bisa tersedak loh, iya sama-sama! Sudahlah jangan berkata begitu lagipula dia cuma mau berkunjung saja jadi lebih baik kamu pikirkan nih cara makanmu yang sangat rapih ini! Masa makan seperti ini pipimu celemotan begitu? Hm?" ucap Luruh lembut. "Tentu saja sangat rapih kan ada kamu yang bantu membersihkan wajahku, Luruh! Sepertinya kamu mengkhawatirkan aku ya sayang? Tenang saja, aku tidak akan meninggal karena tersedak jadi kamu tidak perlu khawatir begini! Habis bagaimana lagi, sayang? Sudah tau keadaannya tak di butuhkan di sini lalu sekarang dia bilang gak akan ganggu? Aneh sekali ya orang itu, Luruh? Hm?" sahut Axton lembut. "Axton ini bicara apa sih?! Jelas-jelas gadis itu seperti berpikiran jika aku adalah musuhnya kok bisa-bisanya dia menyindir dengan gaya seperti ini? Kalau begitu aku harus tetap waspada dan fokus dengan ucapannya nih! Aku tidak boleh lengah pada orang yang asing! Terlebih aku tidak mengenal apapun tentang perempuan ini?!" batin Luruh serius. Menit terus bergerak, tetapi rasanya Luruh memahami jika setiap pergerakan dirinya membantu Axton makan dengan lahap seperti di awasi oleh gadis yang kini duduk santai di sofa yang tidak jauh dari meja kerja suaminya, mata itu terus menatap dirinya dengan lekat seolah-olah ada hal yang ia nantikan lalu tak lama Axton meminta Laninna untuk pulang saja. "Itu cewek ngapain sih melihat ke arah gue mulu!! Tadinya gue mikir dia gak akan mengganggu ternyata lama-kelamaan rasanya seperti ada hal yang dia tunggu ya? Gue gak boleh biarin gadis itu mengintimidasi gue pokoknya!! Gue gak mengerti apa salah gue sama dia cuma gue gak akan biarin diri gue mencari masalah apalagi hilang kendali nih! Fokus!!" batin Luruh waspada. "Kenapa lu masih di sini? Gue gak minta lu temenin kok, Laninna!! Lagian buat apa gue minta lu di temani sama orang lain sedangkan gue punya yang bisa gue hubungin kapanpun! Mungkin pikiran lu masih berpikir kalau gue adalah orang yang dulu selalu mau ikut mau dan menuruti kemauan lu! Sekarang gue berbeda! Ada hati yang harus gue jaga di banding mengurusi semua hal yang inginkan!! Pulang sebelum kesabaran gue habis, Laninna?!" ucap Axton serius. Sayangnya Laninna bukanlah gadis yang patuh jadi ia membalas ucapan Axton dengan santai, tetapi Axton mengerti jika ucapan Laninna bermaksud lain dan sepertinya ia menargetkan Luruh atas kemarahan dirinya yang tidak lagi bisa menemani Axton persis seperti dulu ketika pemuda itu di kelilingi oleh banyak gadis. "Sepertinya lu lupa siapa gue ya, Axton? Mau bagaimanapun menyuruh gue pulang tetap saja gue gak akan pergi kalau diri gue sendiri gak mau!! Lu mau jaga hati Luruh? Kayak selama ini lu bisa jaga hati seseorang saja?! Kalau orang seperti lu tidak bisa gue dapatkan maka orang lain juga gak boleh dong? Akan gue tunjukkan siapa pemenangnya di sini," ujar Laninna datar. "Apa-apaan sih, Laninna ini!! Entah kenapa ucapannya kayak sengaja menargetkan dan bikin orang takut aja sama dia!! Dulu dia sering nih mengatakan hal semacam ini demi menjatuhkan mental dan perasaan gadis-gadis yang berkeliling di sekitar gue! Aduh perasaan gue jadi gak tenang dah! Ucapannya seolah-olah dia mau menghancurkan kita berdua," batin Axton waspada. Mungkin gadis lain akan merasa ketakutan atau khawatir dengan ucapan Laninna yang seperti ini, tetapi Luruh malah terlihat tak perduli bahkan ia sibuk merapihkan kotak makan dan alat-alat makan yang telah digunakan suaminya, melihat hal ini semakin membuat Laninna mengatupkan mulutnya rapat-rapat hanya agar tak memaki sikap angkuh istri Axton itu. "Benar-benar gadis bermuka tebal ya dia!! Apa dia bisa sesantai ini setelah ucapan gue barusan? Masa sih ada orang model dia? Kalau saja Axton tidak ada di hadapan gue, udah pasti itu cewek gue maki-maki dia!! Masalahnya dia malah diam aja begini? Kayaknya dia bukan lawan yang lemah? Pokoknya akan gue buat cewek itu mengerti siapa itu Laninna?!" batin Lanninna geram. Tanpa Laninna sadari sebenarnya Axton juga memahami jika sepertinya Laninna sedang duduk di sana untuk menilai keluarga kecilnya bahkan gadis itu menunggu Luruh pulang agar ia bisa mencari masalah dengan Luruh, tentu saja Axton tidak akan membiarkan Laninna mengusik Luruh seperti ia mengganggu wanita-wanita tak jelas yang dulu di sekeliling Axton. "Ucapan dia yang bilang datang karena ingin menemani gue sepertinya ada tujuan lain di balik itu ya? Atau jangan-jangan dia mau menilai keluarga gue ya? Ngapain sih dia kurang kerjaan begitu! Jangan bilang dia sengaja menunggu Luruh pulang supaya dia bisa mencari masalah sama istri gue ya? Kalau begitu ceritanya sih gak bisa gue biarkan!" batin Axton serius. Kemudian ketika Luruh hendak berpamitan pada Axton tak lama Laninna menyindir Luruh yang masih terlihat memiliki perut rata padahal menurut Laninna seharusnya gadis itu sebagai istri ia sedang mengandung bukan malah seperti ini, mendengar penghinaan untuk istrinya membuat Axton hendak memarahi Laninna sayangnya Luruh santai saja menyikapi sindiran tersebut. "Kamu sudah selesai makan dan aku masih perlu mengurus kak Lara jadi aku pamit pulang dulu ya, Axton! Kamu jangan terlalu lelah saat sedang bekerja dan kabari aku jika butuh sesuatu ya? Assalamualaikum," ucap Luruh terhenti. "Loh sudah mau pulang saja, Luruh? Kenapa? Malu ya? Takut ditanyain kenapa belum ada isinya itu perut? Yah memang seharusnya perempuan yang sudah menikah itu langsung mengandung ya? Sepertinya kamu terlalu sibuk ke sana-sini jadi masih rata aja ya itu perutmu? Oh apakah kamu takut suamimu di ambil orang lain karena badanmu berubah?" sindir Laninna datar. "Laninna Veenintya Ayu!! Lancang sekali mulut anda itu hah!! Kamu tak memahami Luruh jadi sebaiknya jaga ucapanmu dan minta maaflah pada dia?! Bagaimana bisa sesama perempuan, tapi kamu menyakiti hati perempuan lainnya!! Kamu keterlaluan sekali," murka Axton terhenti. "Malu katamu? Kenapa aku malu jika Allah yang memberikan waktu untuk membahagiakan aku dan Axton sebelum nantinya kami akan lebih sibuk ketika ada bayi? Aku tidak takut suamiku di ambil orang toh aku percaya sama dia! Bukankah seharusnya kamu mengkhawatirkan dirimu yang belum menikah di usia seperti ini? Tidakkah kamu malu hal itu ya," sahut Luruh santai. Diam-diam Axton tersenyum karena mendengar balasan istrinya yang tenang dan menusuk benar-benar membuat hatinya semakin kagum akan gadis yang entah sejak kapan telah berhasil mengisi seluruh ruang di hatinya yang dulu berantakan dan sengaja Axton kunci rapat-rapat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN