Apa Keinginanmu

1646 Kata
Lara yang melihat langit sudah menjadi gelap membuat gadis itu mengingatkan adiknya untuk pulang ke rumah karena bagaimanapun juga, Luruh pasti sudah lumayan kelelahan seharian di rumah sakit menemani kakaknya dan dengan patuhnya Luruh mengikuti nasihat kakaknya sebab Luruh hanya ingin melihat Lara bahagia. "Dek, ini udah malam loh! Jangan kemalaman pulangnya nanti takut ada apa-apa loh, Luruh! Axton! Apalagi dari pagi kamu udah bantuin dan nemenin kakak loh, Luruh! Tolong nanti kamu istirahat yang cukup ya Luruh! Jangan terlalu ngebut-ngebut berkendaranya ya Axton! Utamakan keselamatan kalian ya," ucap Lara lembut. "Baiklah, kak! Kakak juga tolong istirahat dengan nyaman ya? Jangan pikirkan apa yang terjadi tadi dan tetaplah fokua pada pemulihan kakak dulu ya! Kami akan berhati-hati jadi kak Rajan juga berhati-hati ya! Kami akan datang lagi besok lalu aku harap kakak juga bahagia selalu ya! Apapun yang terjadi pokoknya kak Lara dan Kak Rajan jangan lupa bahagia dan jangan lupa untuk selalu mengabari kami ya," tutur Luruh patuh. Setelah berpamitan dengan kakaknya tak lama Luruh dan Axton mulai bergegas pulang ke rumah dan tidak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di rumah sementara Rajan tidak lupa membantu Lara yang bersiap-siap untuk beristirahat walaupun sebenarnya kepala mereka masih terasa begitu berisik. "Selimut dan segala kebutuhan Lara udah ada di samping dia, sepertinya udah saatnya gue tidur dan dia mengistirahatkan tubuhnya juga! Hari ini terasa cukup membingungkan dan banyak hal yang terjadi, makanya gue gak heran kalau malam ini badan gue lelah banget rasanya! Mana ini pikiran gue campur aduk banget lagi rasanya," batin Rajan lelah. "Aku mungkin sudah memaafkan hal yang terjadi hari ini karena memendam amarah tidak bisa selalu aku lakukan, di tambah lagi rasanya isi kepalaku terdengar cukup berisik setelah omong kosong dari Giran dan kegaduhan yang ia buat juga cukup menyebalkan menurutku! Sudahlah Lara! Ayok semangat dan lupakan hari ini," batin Lara tegar. Sayangnya mau seberisik atau tidak tenang hati mereka tetap saja raga mereka butuh istirahat jadi dengan sekuat tenaga Lara dan Rajan memejamkan mata mereka agar rasa ngantuk dan perasaan ingin tidur lebih mendominasi di banding pikiran yang berlebihan dan menyiksa Lara dan juga Rajan. Awalnya Suasana heningnya malam memang selalu berhasil banyak menganggu pikiran banyak orang yang ingin beristirahat, hal itu juga yang di rasakan Lara dan Rajan sebab rasanya kesunyian malam seolah-olah berusaha sedang menenggelamkan mereka akan pikiran yang berlebih dan tentu saja Rajan memilih cara untuk menghibur gadis yang ia cintai. "Aku tidak tau pasti apa tujuan Giran bertingkah tidak wajar begitu hanya saja aku tidak ingin Rajan ataupun Luruh salah paham terhadap diriku karena aku yang sekarang tidak lagi ingin naif hanya karena kita! Keinginanku sekarang adalah bisa membahagiakan mereka yang aku sayang dan apakah aku bisa melakukan hal itu di saat keadaanku begini? Gak bisa ya," batin Lara sendu. "Sebenarnya tidak apa-apa jika Lara masih mencintai Giran setidaknya ada hal yang mungkin lebih bisa membahagiakan gadis itu dibandingkan perasaaku! Hanya saja perasaanku tidak bisa aku bohongi bahwa aku ingin membahagiakan dirimu, Lara! Semakin melihat kamu sedih hanya akan membuat hatiku ikut sedih juga loh Lara," batin Rajan khawatir. Namun pemuda itu butuh beberapa menit untuk terlelap dan samar-samar ia memperhatikan dulu apakah Lara sudah nyaman dalam tidurnya karena Rajan tidak ingin Lara terganggu dalam tidurnya kemudian setelah memastikan Lara baik-baik saja membiarkan alam mimpi membawa dirinya terlelap. Tanpa di sadari Rajan sebenarnya Lara belum terlelap bahkan gadis itu menangis dalam diam karena jika saja Lara boleh jujur rasanya gadis itu akan meneriaki sesakit apa menjadi dirinya dan seberapa inginnya Lara pergi dari dunia yang terasa menyakitkan untuknya, sayangnya hal itu tidak mungkin terjadi. "Kalau saja aku boleh mengatakan seberapa lelah dan sakitnya aku selama ini rasanya aku ingin sekali berteriak sesuka hatiku agar semua perasaan menyakitkan ini pergi dari diriku! Kadang aku sempat berpikir ingin pergi dari dunia ini agar rasa sakit ini tak lagi aku rasakan, sayangnya hal seperti itu tidak mungkin terjadi ya," batin Lara sendu. Untuk itu gadis cantik yang kini terlihat kelelahan membiarkan dirinya tertidur dengan rasa sedih dan penat di hatinya hingga perlahan-lahan matahari terlihat menyilaukan membuat Rajan mulai mengumpulkan nyawanya untuk membantu Lara yang terlihat melamun di pagi hari padahal ia tidak biasanya melamun pagi-pagi begini. "Selamat pagi, Lara! Loh kenapa masih pagi begini kamu sudah melamun? Ada apa? hm? Apa yang sedang kamu pikirkan? Sini biar aku bantu kamu cuci muka? Sepertinya ada masalah serius ya kamu sampai melamun begini? Tidak biasanya kamu begini, Lara? Apa kamu baik-baik saja?" ucap Rajan khawatir. Lara yang mendengar namanya di panggil membuat gadis itu tersenyum sekilas lalu Lara tiba-tiba menanyakan apa keinginan Rajan jika dirinya tak pernah bertemu Lara, mendengar ucapan tak biasa pada Lara semakin membuat Rajan khawatir dan memegang dahi Lara karena Rajan berpikir jika gadis itu sedang demam makanya ia ngawur seperti ini. "Bukan masalah besar, hanya saja aku tadi berpikir! Bagaimana jika aku tak bertemu dengan dirimu, Rajan? Bagaimana jika kamu tak pernah bertemu gadis penyakitan seperti aku ini? Hm? Apakah kamu memiliki keinginan lain? Kalau aku tidak ada lalu apa yang sedang kamu lakukan sekarang ya?" tanya Lara serius. "Kamu ini bicara apa sih, Lara! Apakah kamu sedang demam ya? Tidak biasanya kamu ngawur begini? Ada yang sakitkah? Jangan bilang tadi ketika bangun tidur kamu terbentur sesuatu ya? Makanya kamu ngomong aneh begini? Katakan sesuatu padaku, Lara! Jangan buat aku gelisah dan semakin mengkhawatirkan kamu seperti ini, Lara?!" sahut Rajan panik. Mendengar nada khawatir dan tatapan takut yang di tunjukkan Rajan padanya membuat Lara merasa gelisah karena ia merasa jarak antara dirinya dan akhir hidupnya sudah semakin dekat lalu kalau belum pergi saja Rajan begini lalu bagaimana pemuda itu akan melanjutkan hidupnya. "Kenapa responmu seperti ini, Rajan? Nada khawatir dan tatapan takut apa ini! Suatu hari nanti aku akan pergi menjauh darimu dan seharusnya kamu tidak boleh sesedih ini! Nanti bagaimana caramu melanjutkan hidup, Rajan? Rasanya jarak antara aku dan akhir hidupku sudah semakin dekat dan aku tidak pernah ingin membuatmu merasakan kesedihan karena kepergianku! Tolong hiduplah dengan baik, Rajan! Bukan hal seperti ini yang ingin aku lihat," batin Lara gelisah. Rajan yang melihat gadis yang ia cintai diam saja membuat pemuda itu semakin merasa tidak tenang jadi ia hendak memanggil dokter dan perawat, tetapi baru saja saat Rajan membalikkan tubuhnya mencari bantuan tak lama Lara menggenggam pergelangan tangannya dan gadis itu juga kembali mempertanyakan hal yang menyakitkan untuk Rajan. "Lara! Hey, Lara Patricia Angel Hunt! Lu dengar gue gak? Hm? Sepertinya gue gak bisa biarin dia yang terus-terusan melamun begini nih! Udah jelas ada hal yang gak beres dari dia makanya dia kayak banyak diem! Kalau begitu gue harus secepatnya memanggil dokter dan perawat nih! Mereka bilang untuk melaporkan keadaan Lara kan ya?" gumam Rajan khawatir. "Kenapa lu membantu gue, Rajan? Kenapa lu harus berkorban untuk orang yang gak mencintai lu? Kenapa sih lu senaif ini dan apakah keinginan lu selama ini, Rajan! Jawab! Gue tuh bukan siapa-siapa lu kenapa lu membantu gue sebegininya! Gue udah gak punya harapan hidup terus apa yang lu harapkan dari gadis penyakitan macam gue ini sih Rajan," tanya Lara sendu. Melihat gadis yang ia cintai menangis seperti ini membuat Rajan memilih untuk memeluk Lara dan menenangkannya karena jika Rajan boleh jujur ia hanya ingin Lara pulih dan menemani dirinya sayangnya Rajan tau hal itu tidak akan terjadi dan malah semakin menyakiti hati Lara nantinya. "Menurut gue membantu orang itu gak harus memiliki alasan, Lara! Jangan menyalahkan diri lu karena semua yang gue lakuin murni atas dasar keinginan gue jadi seharusnya apapun yang gue lakuin ya gak perlu lu sedihin, Lara! Gue akan tetap ada buat lu kok! Tenang aja ya jangan memikirkan hal yang gak bisa kita rubah setidaknya lu udah berusaha Lara," ucap Rajan lembut. "Berhenti membohongi dirimu dan lakukanlah keinginanmu! Jangan hidup hanya untuk orang lain dan lakukan semua hal yang bisa kamu lakukan, Rajan! Semakin kamu memintaku untuk tidak memikirkan hatiku tetap tak bisa membohongi diriku dan kenyataan yang ada aku tetaplah sakit seperti ini Rajan," ujar Lara sedih. "Bagaimana bisa aku melakukan keinginanku di saat aku ingin kamu pulih dan menemani hari-hariku bersamamu, Lara! Sayangnya aku tidak mungkin mengatakan hal demikian karena hal itu hanya akan semakin menyakiti hati Lara! Aku tidak ingin menghancurkan hati Lara hanya demi keinginan yang aku tau tidaklah mudah untuk terjadi," batin Rajan sendu. Bukan pagi seperti ini yang ingin di lalui Rajan, ia berharap hari-hari Lara di penuhi bahagia dan tawa agar gadis itu melupakan kenyataan dan rasa sakit yang selama ia tahan sendirian, di saat Rajan berusaha menenangkan Lara tak lama gadis cantik itu balik memeluk Rajan sebab entah mengapa kali ini Lara takut Rajan atau dirinya akan pergi. "Aku bertanya mengenai keinginanmu karena aku ingin mengetahui hal yang bisa aku lakukan di saat nafas ini masih milikku! Aku takut jika hari itu tiba maka aku tak akan bisa mendengar apa-apa lagi dari kamu, Rajan! Entah aku pergi sebelum membahagiakan dirimu atau aku masih sempat untuk membalas kebaikanmu tetap saja aku takut akan diriku, " gumam Lara khawatir. "Bukan hanya kamu yang takut akan hal itu, Lara! Setiap detik, setiap helaan nafasku! Aku tetap saja takut apakah kita tetap bisa melalui waktu bersama atau pada akhirnya aku masih tidak bisa melindungi kamu, Lara! Pada akhirnya yang semakin membuat kita sedih adalah akhir yang tidak tau akan seperti apa dan aku juga takut akan diriku yang lemah ini Lara," batin Rajan sendu. Sebenarnya bukan hanya Lara saja yang takut kalau dirinya dan Lara akan berpisah, tetapi hati kecil Rajan juga merasakan hal yang sama dan banyak kekhawatiran yang ia tahan hanya demi melindungi perasaan Lara agar ia bisa fokus pada pemulihannya lalu ketika Rajan dan Lara sibuk menenangkan diri tiba-tiba saja ada seseorang yang masuk kamar rawat Lara. Pemuda yang selalu mematahkan hati Lara kini ia malah mengulaskan senyuman dengan santai padahal Lara dan Rajan sangat muak dengan sikap Giran yang melelahkan hingga tak lama ia yang kini ditatap datar oleh Rajan dan Lara malah berusaha mendekati gadis cantik itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN