Mendengar ucapan suaminya membuat Luruh menatap Axton lekat sebab rasanya semakin Luruh mengenal pemuda itu rasanya ia merasa memiliki kesempatan yang baik dan bersyukur bahwa dirinya menikahi yang tepat sementara Axton sibuk menjawabnya panggilan telpon dari daddynya yang membahas soal pekerjaan dan Axton menelpon daddynya di balkon agar ia bisa fokus dengan obrolan dari daddynya.
"Mengenalnya membuatku merasa bersyukur akan kesempatan yang baik padaku, pria yang menikah denganku ternyata pria yang baik bahkan rasanya aku seperti bermimpi bisa menikah dengannya? Apapun itu berkat dirinya aku kembali merasakan bahagia dan perasaan baru yang hadir karena kebaikan dan usahanya," batin Luruh senang.
"Halo, assalamualaikum dad! Ada hal apa sampai daddy menelponku seperti ini? Jangan bilang ada masalah di kantor ya? Oh mau membahas pekerjaan kemarin itu ya? Baiklah daddy bisa bicarakan melalui panggilan telepon karena hari ini Axton tidak bisa ke kantor, dad! Soalnya tadi malam Axton sama Luruh berjaga di rumah sakit untuk menemani Lara," ucap Axton serius.
Dalam diam Luruh masih sibuk memandang punggung kokoh Axton yang terlihat luar biasa dan rasanya Luruh seperti merasakan perasaan yang hangat berkat sikap baik dan perlakuan hangat Axton membuat hatinya benar-benar di berikan kesempatan yang baik untuk mempertahankan pernikahannya.
"Padahal dia seringkali terlihatnya menyebalkan hanya saja semakin aku memahami dirinya aku merasakan perasaan yang hangat karena sikap baiknya dan perlakuannya yang kadang manis padaku! Apapun yang telah Axton lakukan untuk rasanya aku seperti mendapat kesempatan yang baik untuk mempertahankan pernikahan kami! Makasih ya Allah," batin Luruh bahagia.
Namun di tengah-tengah rasa bahagia yang di rasakan Luruh tak lama Laninna mengirimkan pesan pada Luruh bermaksud membuat gadis itu mundur sendiri sayangnya apa yang Laninna pikirkan tidak terjadi sama sekali bahkan Laninna justru merasa kesal dengan respon Luruh.
"Kamu harusnya sadar diri dan berhenti mengharapkan kesempatan yang sejak awal memang milikku! Wanita tak jelas seperti dirimu harusnya segera pergi dari hidup Axton tau tidak?! Kamu tak memiliki alasan apapun untuk tetap bertahan di sisinya! Sebaiknya kamu segera pergi darinya atau aku akan melakukan segala cara untuk memisahkan kalian," pesan Laninna serius.
Pesan dari Laninna tak sedikitpun mengusik hati Luruh sebab gadis itu paham Laninna hanya ingin menggoyahkan hatinya dan tentu saja Luruh tidak semudah itu untuk di pukul mundur seperti ini jadi dengan santai Luruh menyahuti Laninna yang masih saja menganggap dirinya dengan sebelah mata.
"Hidup itu milik semesta mana mungkin kita paham kesempatan yang ada akan menjadi milik kita atau bukan jadi sebaiinya fokus untuk hidupmu jangan menyimpulkan masa depan sesuka dirimu karena kita tetaplah manusia biasa dan kamu tidak perlu repot-repot mengurusi diriku karena aku tidak perduli pada ucapanmu Laninna," sahut Luruh santai.
Sesekali Axton yang sedang sibuk dengan telepon menolehkan pandangannya untuk melihat apakah Luruh terluka atau berada jauh dari pandangannya dan tak lama pemuda itu meminta Luruh segera beristirahat karena gadis itu belum cukup tidur sejak semalaman iya bergadang menjaga Lara.
"Tunggu sebentar ya, dad! Kamu masih belum tidur sayang? Semalaman kamu sudah tak tidur jadi sebaiknya kamu tidur sekarang sayang! Aku masih menelpon daddy jadi sekarang kamu tidur saja duluan tak apa-apa sayang! Nanti aku akan menyusul jika selesai," ucap Axton lembut.
Tak lama gadis itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti lalu tidak butuh waktu lama Luruh tertidur sementara di lain tempat Laninna masih merasa kesal dengan Luruh yang berani melawan dirinya bahkan Laninna sampai melemparkan semua barang yang ada di kamar dirinya hingga kamar miliknya berantakan.
"Apa-apaan gadis itu!! Kenapa dia berani melawanku hah?! Tidak akan aku biarkan dia bersikap angkuh seperti ini padaku! Pokoknya aku akan membuat gadis itu membayar ucapannya kali ini padaku, tunggu saja dia akan aku buat menyesali apa yang telah ia katakan padaku aku ini dan akan aku buat ia merasakan rasa sakit yang lebih dariku!" murka Laninna geram.
Melihat nonanya sedang marah seperti ini membuat para pelayan menundukkan kepala mereka takut sebab para pelayan ini takut jika nonanya semakin marah sementara Laninna masih saja mengeluarkan amarahnya dan berniat membalas Luruh yang berani pada dirinya.
"Dia pikir hanya dirinya saja yang bisa menjadi kesempatan yang baik untuk Axton! Jangan mimpi kamu! Semua hal akan aku lakukan demi mendapatkan Axton dan tidak akan aku biarkan kalian bahagia di atas penderitaanku ini?! Jika hari itu tiba kesempatan baikmu akan menjadi milikku Luruh," geram Laninna marah.
Di saat Laninna larut dalam amarahnya di lain tempat Lara sibuk membaca buku yang di berikan oleh Rajan sedangkan Rajan menyiapkan buah untuk camilan Lara lalu tak lama Lara bertanya mengenai isi buku yang entah mengapa menarik minat membaca Lara dan Rajan hanya melihat sekilas sambil menjelaskan bahwa itu hanya karya fiksi biasa.
"Wah ini buku yang menarik menurutku, Rajan! Darimana kamu mendapatkannya lalu aku ingin tau sebenarnya apa arti hidup sebenarnya? Kebahagiaan itu seperti apa dan kenapa rasanya aku dan tokoh dalam cerita tidak memiliki kesempatan baik yang sama? Apakah aku adalah contoh orang yang tak layak bahagia ataupun hidup seperti tokoh ini?" ucap Lara penasaran.
"Oh buku ini toh! Aku hanya membelinya di toko buku biasa, Lara! Hidup? Tidak biasanya kamu bertanya seperti ini? Kalau harus di jelaskan hidup itu apa akan luas maknanya, Lara! Berbagai orang bebas menyimpulkan makna hidup jadi kamu tidak perlu memikirkannya lagipula itu hanya karya fiksi biasa saja kok," tutur Rajan lembut.
Mendengar ucapan Rajan membuat Lara cemberut dan bergumam-gumam mengenai pemuda itu yang tidak seru padanya sementara pemuda itu hanya menjelaskan jika ia belum selesai membaca bukunya jadi ia agak kesulitan menjawab ucapan Lara padanya sementara tiba-tiba Lara menahan pergelangan tangannya membuat pemuda itu menanyakan ada hal apa sampai gadis itu sampai seperti ini.
"Ucapan macam apa itu, Rajan? Masa penjelasanmu hanya seperti itu! Aku kan benar-benar ingin memahami cerita di buku ini! Kenapa kamu tidak seru sekali sih?! Lagipula aku ingin memahami banyak hal baru jadi seharusnya kamu membantuku bukan malah menyebalkan seperti ini tau, Rajan! Kesal sekali aku dengan jawabanmu," gumam Lara sebal.
"Maafkan aku, Lara! Ngomong-ngomong aku belum selesai membaca buku ini jadi agak sulit juga untuk menjelaskannya! Anggap saja hidupmu itu caramu mempertahankan hal yang ingin kamu pertahankan dan soal bahagia biar dirimu saja yang mengendalikannya, Lara! Hm? Ada apa? Kenapa kamu menahan pergelangan tanganku? Kamu butuh sesuatu?" tanya Rajan lembut.
Tak lama Lara terlihat menarik nafasnya dalam seperti ia berusaha mengumpulkan keberanian untuk bertanya pada Rajan mengenai bagaimana kehidupan yang normal dan apakah dirinya tak layak hidup seperti gadis lainnya sementara pemuda itu menjelaskan bahwa hidup itu bukan hanya tentang normal ataupun tidak saja.
"Aku ingin bertanya padamu mengenai kehidupan yang normal itu seperti apa, Rajan? Apa salahku sampai hidupku seperti ini? Apakah aku tak layak hidup seperti gadis lainnya? Kadang aku juga ingin hidup dengan normal karena rasanya aku lelah sekali menyimpan ini sendirian jadi aku butuh penjelasanmu! Akankah aku bisa hidup normal?" tanya Lara sendu.
"Cara kerja kehidupan tidak melulu tentang kesalahan atau hal apa yang pernah kamu perbuat ini dan itu, Lara! Hidup itu bukan hanya tentang normal ataupun tidak melainkan bagaimana dirimu bertahan untuk meraih kehidupan yang kamu inginkan! Kalau di tanya bisa atau tidak kamu hidup normal tentu bisa sebab itu hidupmu sendiri Lara," tutur Rajan lembut.
Lara yang mendengar ucapan Rajan membuat gadis itu mengulas senyumannya dan tidak lama ia meminta Rajan untuk berjanji padanya satu hal sementara Rajan balik bertanya apa yang Lara inginkan darinya sebab ia juga perlu mengerti janji yang dirinya dan Lara buat agar tidak ada salah paham nantinya.
"Wah kamu benar-benar luar biasa ya, Rajan! Baiklah aku mengerti penjelasanmu dan dapatkah kamu berjanji padaku satu hal? Aku ingin memiliki janji denganmu jadi tolong izinkan aku untuk bisa memiliki janji ya, Rajan? Tenang saja aku tidak mungkin membuatmu berjanji yang aneh-aneh kok, kamu mau berjanji padaku?" tanya Lara lembut.
"Tidak juga, Lara! Aku masih bukan apa-apa di bandingkan orang lain jadi tolong jangan memuji aku seperti itu ya? Hm? Kamu ingin aku berjanji padamu? Janji dalam hal apa, Lara? Aku paham jika kamu tak mungkin aneh-aneh hanya saja aku juga perlu tau janji apa yang aku buat agar nantinya tidak ada salah paham di antara kita, Lara! Janji apa dulu nih?" tanya Rajan serius.
Ucapan pemuda itu membuat Lara tersenyum sekilas lalu ia menjelaskan jika suatu saat Rajan mengetahui janji yang ia inginkan sementara Rajan hanya tersenyum sekilas dan mengusap-usap kepala Lara lembut dan di lain tempat Axton sudah selesai menelpon dengan daddynya lalu tak lama pemuda itu memandang Luruh yang tertidur dengan senyuman yang terlihat damai.
"Mungkin kamu benar hanya saja di mataku hanya kamu orang yang luar biasa dan anggaplah aku masih memikirkan janji yang aku inginkan, Rajan! Jadi aku mohon tunggulah sampai hari itu tiba dan aku akan menagih janjiku dan kamu akan tahu mengenai janji apa yang aku buat dengan dirimu," ucap Lara lembut.
"Akhirnya ia tertidur dengan nyaman juga ya? Berkatmu aku merasa hidupku lebih berwarna dan aku ingin membuat dirimu selalu tersenyum seperti ini! Apapun yang akan terjadi nantinya pokoknya aku akan mendahulukan dirimu dan membahagiakan dirimu dengan caraku Luruh," gumam Axton lembut.
Melihat istrinya sudah terlelap membuat Axton ikut tertidur sambil memeluk Luruh dan perlahan-lahan matahari yang berawalnya terlihat malu-malu kini sudah semakin meninggi kemudian entah mengapa Luruh terbangun tiba-tiba membuat Axton menanyakan apa yang terjadi dan pemuda itu berusaha menenangkan Luruh.
"Astagfirullah! Tadi aku melihat apa? Kenapa rasanya aku melihat sesuatu yang mengerikan sampai aku takut sekali dengan mimpiku ya? Seingatku tadi aku sedang tak memikirkan apapun lalu kenapa aku terkejut seperti ini ya? Apakah ada yang tak beres dengan diriku? Masa ia seperti itu sih?" gumam Luruh bingung.
"Ada apa sayang? Kamu bermimpi apa? Hm? Mau aku panggilkan dokter ke sini? Ayok ini kamu minum dulu dan cobalah tenangkan dirimu mungkin tadi kamu hanya sedang bermimpi yang tak baik saja! Memangnya apa yang kamu lihat sampai takut begitu? Coba tatap aku dan katakan apa yang mengganggumu sayang?" tanya Axton khawatir.