Sabar Itu Luas

1631 Kata
Gadis itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan ketika melihat Axton terlelap di sisinya Luruh hanya memandang pemuda itu dan Axton mengusili Luruh dengan menutup mata Luruh dengan tangannya agar istrinya bisa terlelap dengan nyaman sedangkan Luruh bergumam-gumam jika ia takut suatu saat Axton pergi darinya. "Tidur sayang, aku tak akan pergi ke manapun dan setelah kamu tidur ini kamu bisa menatap aku sesuka kamu kok sayang! Ayok tidur, Luruh! Nah, aku tutup saja matamu agar kamu bisa tidur ya sayang hahaha! Tenang saja aku seperti ini agar kamu bisa istirahat dengan nyaman ya sayang! Jangan marah ya," canda Axton lembut. "Tak akan pergi kemanapun? Apakah kamu yakin dengan ucapanmu ini? Kadang aku berpikir apakah suatu saat kamu akan pergi dariku? Jujur aku takut hari itu datang dan akhirnya aku tak memiliki apapun lagikan? Rasanya hari itu seperti mimpi buruk untukku," gumam Luruh sendu. Axton yang mendengar nada sedih dari istrinya membuat pemuda membawa Luruh ke dalam pelukannya dan ia menenangkan Luruh bahwa ia tidak akan meninggalkan Luruh jadi gadis itu tidak perlu berpikir seperti ini dan segera beristirahat agar rasa kantuk dan lelahnya bisa pergi. "Satu-satunya tempat yang aku tuju hanyalah kamu, Luruh! Lantas untuk apa juga aku pergi? Hm? Mungkin apa yang aku ucapkan terdengar tak masuk akal hanya saja aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu jadi kamu tidak perlu takut ataupun berpikir seperti ini ya sayang! Ayok cepat beristirahat agar rasa kantuk dan lelahmu bisa segera pergi sayang," ucap Axton lembut. Sayangnya Luruh juga tak tau mengapa ia berpikir sampai sejauh ini, tetapi melihat Axton yang sangat bersabar padanya membuat Luruh menyadari bahwa kesabaran itu memang luas dan ia ingin bisa bersabar seperti suaminya kemudian tangan Luruh membalas pelukan suaminya hingga keduanya tertidur dengan harapan yang besar. "Apakah ucapannya ini benar ya? Jujur aku juga tidak tau kenapa aku malah berpikir sampai sejauh ini? Bukankah tak ada hal yang perlu kami khawatirkan ya? Lagipula Axton terlihat cukup sangat sabat padaku dan darinya aku jadi paham bahwa kesabaran itu memang luas juga ya? Rasanya aku ingin bersabar seperti dirinya ya Allah," batin Luruh tegar. "Senyuman, ekspresi dan kebahagiaan Luruh adalah hal penting yang ingin selalu aku lihat dan apapun yang terjadi aku akan memberikan segalanya pada istriku dan tak akan aku biarkan siapapun menyakitinya sebab berkatnya hatiku yang dulu patah kini kembali merasakan perasaan hangat yang membahagiakan lagi," batin Axton bahagia. Namun mau seberapa nyenyak tidur Luruh tiba-tiba saja gadis itu tersentak membuatnya tiba-tiba terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang bercampur aduk kemudian Luruh perlahan-lahan melepaskan pelukan Axton dan entah mengapa rasanya Luruh ingin duduk di tempat tidurnya sambil memikirkan banyak hal yang mengusik hatinya. Menit terus berganti menit dan Luruh masih belum bisa kembali memejamkan matanya lagi dan Axton yang merasa sisi sampingnya kosong membuat pemuda itu menatap ke arah Luruh yang terdiam sambil membelakangi dirinya dan terduduk dengan posisi yang entah mengapa malah membuat hati Axton khawatir. "Loh kenapa di sisi kasur ini kosong? Seingatku tadi ada Luruh di sini? Apa yang di lakukan oleh Luruh di sana? Kenapa dia duduk sambil melamun begitu ya? Sepertinya dia masih memikirkan kakaknya? Atau ada hal lain yang sedang dia pikirkan ya? Jangan bilang Luruh menyimpan masalahnya sendiri lagi? Ya ampun sayang kamu kenapa diam begini," batin Axton khawatir. Luruh masih terduduk di tempat tidurnya dengan wajah yang ia tenggelamkan di kedua lengan gadis itu yang memeluk lututnya erat, ia tau keinginan untuk kakaknya sembuh terlihat egois hanya saja Luruh ingin Lara merasakan bagaimana hidup yang sesungguhnya bukan hanya sekedar bertahan dari obat dan rumah sakit saja. "Kakak berniat baik padaku hanya saja aku juga ingin kak Lara merasakan bagaimana hidup yang sesungguhnya! Selama ini kakak selalu bertahan dari obat dan rumah sakit saja, padahal aku ingin kakak bahagia ya walaupun keinginanku ini terlihat egois untuknya, tetapi aku sekali memberikan kebahagiaan pada kakakku," batin Luruh sendu. Dalam diam Luruh berusaha untuk menahan tangisannya, tetapi semakin gadis itu menahan tangisannya ia malah semakin merasa sesak akan rasa sedihnya hingga perlahan-lahan tanpa bisa Luruh tahan lagi gadis itu menangis dengan menutup mulutnya agar ia tidak mengganggu Axton yang sedang tertidur. Padahal pemuda itu ikut merasakan rasa sedih yang di rasakan istrinya dalam diam hingga saat Luruh hendak memaksakan dirinya tertidur, mata Luruh tidak sengaja bertatapan dengan Axton yang terlihat menatapnya lembut lalu pemuda itu juga berusaha menenangkan Luruh dan tidak lama Axton membawa gadis itu berada dalam pelukannya. "Tak apa jika kamu memikirkan kakakmu hanya saja semua hal akan terjadi ketika waktu yang tepat sayang! Jadi kamu tidak perlu menyimpan masalahmu sendiri begini, Luruh! Jangan sedih sayang! Kita akan melaluinya bersama-sama dan kamu hanya harus tenang sekarang, Luruh! Kamu tak sendiri dan aku akan selalu ada untukmu sayang," tutur Axton lembut. Perlakuan lembut suaminya membuat Luruh semakin menangis dalam pelukan Axton dan pria itu terus menepuk-nepuk punggung istrinya lembut agar perasaan Luruh bisa sedikit membaik, sayangnya mau seberapa lembut Axton menenangkan dirinya tetap saja rasa sedih itu masih melekat kuat di hati Luruh. "Kamu mudah bilang seperti itu, tapi kamu kan gak paham bagaimana rasanya jadi aku, Axton! Waktu yang tepat itu kapan? Aku cuma mau melihat kak Lara bahagia seperti gadis lainnya! Apakah hal itu terlalu sulit untuk aku wujudkan begitu? Bagaimana bisa aku tenang di saat kondisi kak Lara terus tak stabil begini? Rasanya aku seperti adik yang payah," lirih Luruh sedih. "Baiklah maafkan aku yang kurang memahami dirimu, kalau ditanya kapan tentu kita mana tau kapannya sayang! Bukan masalah sulit atau tidak, Luruh! Melainkan doa dan harapan itu seperti kamu mendayung perahu di lautan yang luas dan untuk sampai di pulau kamu perlu mendayung perahunya berulang kali sayang! Jika belum terjadi ya bukan salahmu kok," ucap Axton lembut. "Makanya kamu jangan menyebalkan dengan berbicara seperti itu karena rasanya menjadi aku ini membuat kepala seperti ingin meletus saja tau! Ucapanmu masuk akal hanya saja kadang aku merasa semua ini salahku, kalau memang kakak harus sakit kenapa rasa sakit itu tak di bagi dua saja? Aku tak apa jika harus menahan rasa sakit asal jangan kakak sendirian yang menahannya," gumam Luruh sendu. "Iya, iya maaf sayang! Allah mengujimu karena yakin kamu mampu melaluinya, Luruh! Kamu berpikir seperti itu karena kamu sangat menyayangi Lara dan tak ingin ia menderita sendirian, tapi bagaimanapun juga Allah itu sebaik-baik perencana jadi kamu cukup yakin saja pada-Nya! Apapun yang terjadi pada kita pasti itu sudah yang terbaik sayang," tutur Axton lembut. "Tentu aku paham dengan ucapanmu hanya saja sebagai seseorang yang tumbuh bersamanya membuatku menyalahkan diriku karena aku tidak bisa berbuat apa-apa sementara Lara terus saja kesakitan dan menahan semuanya sendirian! Aku ini sebenarnya adiknya atau hanya orang asing yang cuma beban saja! Jujur aku ingin melihat penderitaannya hilang," lirih Luruh sedih. Pemuda itu paham jika istrinya sedang ingin meluapkan perasaan yang selama ini tidak bisa ia katakan pada siapapun jadi Axton hanya bisa mendengarkan segala keluh kesah Luruh yang terlihat sibuk mengeluarkan semua perasaannya sementara gadis itu malah kesal karena Axton hanya sedikit sekali menyahutinya seolah-olah ia tak perduli padanya. "Sebenarnya dunia memang seperti ini atau aku yang terlalu lemah sih! Aku tau masih banyak orang yang kurang beruntung dan harusnya aku lebih bersyukur atas hidupku, tapi tetap saja kalau boleh minta aku ingin hidupku saja yang kesulitan jangan kakakku yang harus bertahan dan bersabar di setiap ujiannya! Aku kasihan padanya, tapi juga kasihan sama diriku yang tidak bisa membantunya apapun," ujar Luruh sedih. "Dunia memang terlalu luas untuk di simpulkan sayang, kamu sudah cukup membantunya jadi jangan terus-terusan menyalahkan dirimu seperti ini dong sayang! Tak ada yang salah dengan dirimu," sahut Axton lembut. "Ucapan macam apa itu?! Masa aku udah ngomong sampai pegal eh kamu cuma jawab seperti itu saja!! Kamu bosan dengan ucapanku ya? Rasanya kamu yang seperti ini kayak orang yang gak perduli dengan ucapanku deh!! Bisa gak sih kamu menyahuti ucapanku dengan semangat sepertiku bukan malah menyebalkan begini, Axton!!" omel Luruh kesal. Mendengar nada kesal dari istrinya malah membuat Axton terkekeh sejenak lalu ia menjelaskan jika Axton hanya ingin Luruh mengeluarkan perasaan yang tak bisa ia katakan dan kenapa ia tak banyak bicara karena entah mengapa setiap ekspresi dari Luruh benar-benar menarik perhatian hatinya. "Kamu menggemaskan sekali sayang hahaha! Aku bukan tak perduli dengan ucapanmu sejak tadi aku hanya ingin kamu mengeluarkan perasaan yang mungkin sulit untuk kamu katakan, sayang! Aku tak banyak bicarq karena setiap ekspresimu membuatku tak bisa berhenti untuk memandangmu dan rasanya kamu lebih menarik dibanding ceritamu haha," tutur Axton lembut. Luruh yang sedang tak ingin bercanda seperti ini membuat gadis itu mengomeli Axton dan tak lama ia bergumam jika Axton benar-benar orang yang sabar saat menghadapi dirinya yang seperti ini padahal Axton bisa memarahi dirinya jika ia mau sementara Axton menyahuti ucapan istrinya dengan serius dan lembut. "Bisa-bisanya kamu berpikir begitu, Axton! Aku sedang serius nih tolong jangan bercanda dulu dong!! Rasanya menyebalkan sekali melihatmu tertawa di saat aku sedang merasa sedih begini, apa jangan-jangan kamu cuma ingin bercanda dan meledek aku saja ya, Axton!" ujar Luruh kesal. "Ahahaha! Pikiran darimana itu sayang, aku hanya berusaha menghibur dan menemani kamu di saat hatimu ingin mengeluarkan keluh-kesahmu sayang! Sudah jangan cemberut begitu dong lagipula aku bukan menertawakan kamu melainkan aku suka melihatmu penuh ekspresi dan terbuka pada suamimu ini," kekeh Axton santai. "Jadi seperti ini sikapmu ya, dari beberapa pria yang aku kenal aku hanya kagum padamu! Kamu benar-benar orang yang sabar ketika menghadapi aku yang menyebalkan ini! Padahal kamu bisa memarahi diriku jika kamu mau kenapa kamu memilih bersabar padaku," gumam Luruh sendu. "Bisa dibilang iya juga bisa dibilang kamu belum melihat seluruh sikapku sayang! Aku bersabar padamu karena hatiku menginginkannya dan memarahimu tak membuat masalah selesai jadi aku tidak ingin kita semakin berjauhan hanya karena masalah dan bukan aku yang sabar, tetapi Allah yang meluaskan hatiku jadi kamu melihatku lebih sabar padahal sabar itu memang luas dan aku belum ada apa-apanya di bandingkan orang lain," sahut Axton lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN