"Bye, Nad!"
Pukul 17.00, jam kuliah sudah selesai. Tasya berencana pulang ke rumah terlebih dahulu sebelum berangkat kerja. Karena masih kuliah dan paling lama selesai kuliah pukul 18.00, ia diizinkan masuk kerja pukul 18.30 WIB.
Tasya berniat untuk menyelesaikan laporannya yang tinggal sedikit lagi, kemudian beristirahat sebentar lalu berangkat kerja. Hampir tiba di rumah nenek, ia melihat seseorang laki-laki. Tasya merasa familiar dengan penampilan orang tersebut kalau melihatnya dari belakang. Tasya melajukan motornya dengan kecepatan sedang, saat posisinya sejajar dengan laki-laki itu, ia melirik ke arahnya.
'Tuh, kan bener! Itu kak Christian.'
BRUKK
Tasya menghentikan laju keretanya. Ia merasa menabrak sesuatu. Tasya melihat ke bawah tanpa beranjak dari motor, tampak ekor yang terkulai lemas dan terdengar suara tangisan seekor anjing. Syok, karena keadaan yang terjadi begitu cepat, ia masih saja terdiam di atas motor. Christian menghampiri dan langsung melihat keadaan anjing itu.
"Oi, sadar!" Teriak Christian.
Tasya tersentak dan turun dari motor dengan segera. Tampak seekor anak anjing dengan luka di kakinya.
"Gimana ini kak? Aku tidak sengaja menabraknya." Tasya panik dan merasa sangat bersalah.
"Tenanglah! Kita bawa dulu ke klinik hewan, tidak terlalu jauh dari sini." Christian mencoba menenangkan Tasya.
"Iya, kak. Ayo naik motorku saja!"
Mereka berdua berdiri, Tasya langsung menghidupkan motorku. Namun Christian terdiam dan memandang Tasya.
"Ayo kak, biar aku yang bawa motornya. Kakak tunjukkan saja kita mau kemana. Aku tidak tau posisinya dimana."
Christian tampak berpikir sekian detik sebelum akhirnya naik ke atas motor sambil memeluk anjing tersebut.
~ ~
Chris masih memegang anak anjing itu saat keluar dari klinik. Kaki anjing itu patah, namun masih bisa untuk sembuh seperti semula. Chris memperhatikan anjing tersebut. Anjing tersebut kurus dan bulunya tidak terawat, sepertinya dia adalah anjing liar.
"Kak, makasih ya sudah temani ke klinik."
"Sama-sama."
Chris melirik Tasya, sepertinya dia takut namun ingin menyentuh anjing ini.
"Kamu mau menggendongnya?"
"Aahh, tidak kak. Hehe." Dia mundur satu langkah.
"Sentuh saja, aku akan memegangnya, dia takkan menggigitmu. Lagian ini hanya seekor anak anjing."
Dia terdiam dan terlihat berpikir sebentar lalu maju dengan takut-takut untuk menyentuh anjing tersebut. Anjing tersebut bangun dan menatap waspada kearahnya.
"Jangan takut-takut begitu! Kalau kamu takut, dia akan semakin mencurigaimu. Tengadahkan saja tanganmu ke wajahnya, dia akan mencoba menandaimu nanti."
Tasya menuruti perkataan Chris dan benar saja, anjing tersebut mengendus tangannya lebih dulu lalu menjilatnya sekali. Tasya terlihat senang akan sambutan anjing tersebut dan langsung mengelus ngelus kepalanya.
"Hahaha, kamu lucu banget! Gemes! Maaf yah, tadi tidak sengaja menabrakmu."
"Guk!"
"Dia sudah memaafkanmu katanya."
"Iya kak!" Jawabnya sambil tersenyum.
"Siapa namamu, kamu tadi yang lupa bawa kaos kaki itu, kan?"
"Hehehe, iya kak. Namaku Tasya."
"Kamu hobi menabrak yah, sepertinya." Sindirku. Sebenarnya aku tau kalau kejadian di kantin tadi bukan salahnya. Aku juga salah seorang yang merasa terganggu dengan teriakan genit dari 2 orang cewe tadi.
"Gak, kak! Aku beneran gak sengaja, tadi anjingnya tiba-tiba melintas saat.." dia menghentikan kalimatnya.
"Aah, saat kamu melihat kearahku?"
"Umm, ya. Tadi aku berniat menyapa atau memberikan tumpangan atau berbasa basi karena sepertinya aku mengenal kakak kalau dilihat dari belakang."
"Ooh, hanya basa-basi." Chris sengaja memojokkannya.
"Eeh, ya aneh aja rasanya kak kalau tidak menyapa padahal sebenarnya kenal. Kalau mau terima tumpangan gapapa, kalau gak mau lebih bagus. Yah, basa-basi aja. Hahaha."
"Blak-blakan sekali yah! Hahaha." Chris tertawa mendengar perkataan Tasya.
"Yah, daripada aku bermanis-manis di depan tapi nanti memaki-maki di dalam hati. Hehehe."
'Hmmm, cewe yang unik.'
"Baiklah. Jadi anjing ini mau dibagaimanakan? Sepertinya ini anjing liar. Aku tidak bisa membawanya ke apartemenku."
"Itulah kak, aku mau aja membawanya kerumah. Tetapi aku harus kerja setelah pulang kuliah, sampai di rumah sekitar jam 11 lewat. Aku takut nanti gak bisa mengurusnya, apalagi kakinya lagi patah begini. Apa aku tanya Nadya dulu? Sebentar yah, kak."
Tasya mengeluarkan hapenya, mencari kontak yang dituju lalu menelepon.
'Ternyata selain ceroboh, dia termasuk anak yang mau bertanggung jawab dan sepertinya juga seorang pekerja keras.'
Tasya memasukkan kembali hpnya ke dalam saku kemudian kembali menatap Chris.
"Hmm, kak.., Nadya mau merawat anjing ini. Hmm, kakak mau menemaniku mengantarnya ke rumah Nadya? Aku tidak bisa memegangnya sambil membawa motor." Dia memohon dengan ragu-ragu.
"Hahaha, yaudah ayok! Tapi kali ini biar aku saja yang membawa motornya."
"Gapapa kak, aku saja! Biar kita bisa cepat sampai kerumah Nadya. Ayok, kak!"
Tasya menyalakan motornya. Chris terlihat pasrah dan tidak berniat untuk memprotesnya.
Sesampainya di tujuan, tampak Nadya sudah menunggu di depan gerbang rumahnya. Chris memperhatikan, bahwa keluarga Nadya mempunyai halaman rumah berumput yang cocok untuk memelihara anak anjing ini. Nadya pun menyambut kami dan menerima anak anjing itu.
"Udah, tenang aja Sya! Anjing ini aman di tanganku. Kamu pergi kerja aja sana, kamu dah telat setengah jam ini!"
'Ha? Telat? Maksudnya telat kerja? Kenapa dia tidak bilang daritadi?'
Chris memperhatikan gerakan instruksi dari Tasya untuk menyuruh Nadya berhenti membahas masalah pekerjaannya. Sepertinya dia tidak ingin Chris merasa tidak nyaman dengan itu.
"Hehe, iya. Kami pergi dulu, ayok kak!"
"Aku bisa pulang sendiri, lagian kamu sudah terlambat kan. Lebih baik kamu duluan saja."
"Gapapa, kak. Gak telat-telat amat kok! Arah tempat kerjaku, searah dengan tempat kecelakaan tadi kak. Aku merasa tidak enak sudah merepotkan kakak, jadi biarkan aku mengantar kakak."
"Oke! Tapi kali ini biarkan aku yang membawa motornya."
Chris merebut kunci dari tangan Tasya kemudian menyalakan motor. Dia mengiyakan dan duduk di bangku boncengan.
"Kami pergi dulu, Nadya. Terima kasih mau menerima anjing itu."
"Iya kak, sama-sama. Hati-hati yah!" Balas Nadya.
"Bye, Nad!" Tasya melambaikan tangan berpamitan.