James merasa sangat bosan jika hari Sabtu tiba. Kegiatan kuliah dan kegiatan mahasiswa tidak ada di hari tersebut, kecuali jika ada event musik. Hanya ada James, Valen adik laki-lakiku yang berumur 9 tahun, dan juga bibi yang mengurus kami.
Sudah pukul 09.00, James masih berada di tempat tidur menonton video-video yang ada di youtube, membuka sosial media dan ujungnya kembali lagi ke youtube. Setelah 2 jam berkutat dengan hape, akhirnya ia merasa bosan dan memilih untuk mematikannya.
"Haaa, bosan sekali. Apa yang harus kulakukan hari ini? Ngomong-ngomong gadis kaos kaki itu sedang apa, yah?'
Sudah seminggu James tidak melihat Tasya. Entah mengapa setelah kejadian waktu itu, Tasya selalu berada di dalam pikirannya. Aneh memang, gadis itu mempunyai daya tarik tersendiri yang berbeda dengan gadis lainnya.
Dari kecil, James tau kalau dirinya mempunyai nilai plus di bagian wajah. Namun, memiliki wajah tampan merupakan kutukan baginya. Beberapa kali ia diperkenalkan kepada kerabat atau rekan kerja orang tuanya hanya untuk dipamerkan seakan-akan ia sebuah barang pajangan. Begitu juga para gadis yang ada di sekitarnya, James tau kalau mereka mendekatinya karena wajah atau kekayaan orang tuanya. Mereka mencoba berbagai cara untuk mendekatinya dan berlomba untuk menjadi pacarnya hanya untuk dipamerkan kepada teman mereka lainnya. Begitu juga dengan anak laki-laki yang ada di sekitar Chris, mereka semua sama saja, mendekat karena ada maksud tersembunyi dibelakangnya. Menyadari semua itu membuat Chris bersikap sewajarnya kepada mereka. Tidak menjauh tetapi tidak juga mendekat.
Berbeda dengan Tasya. Ia langsung merasa nyaman dengannya, walaupun mereka baru sekali bertemu. Gadis itu bertingkah apa adanya. Marah jikalau memang kesal, minta maaf jika merasa bersalah, tertawa jika ada yang lucu. Semua emosi yang ada berhasil dikeluarkannya sesuai tempat tanpa ada unsur melebih-lebihkan untuk menarik perhatian orang lain. Hanya dia satu-satunya gadis yang tidak menjaga imagenya jika berada di dekat James.
James mengambil gitar yang ada di sebelah meja belajarku kemudian memetikkan beberapa nada sambil bernyanyi.
She paints her fingers with a close precision
He starts to notice empty bottles of gin
And takes a moment to assess the sin
She's paid for
A lonely speaker in a conversation
Her words are spinning through his ears again
There's nothing wrong with just a taste of what you've paid for
Say what you mean
Tell me I'm right
And let the sun shine down on me
Give me a sign
I want to believe
Woah, Mona lisa
"Kak.."
Valen masuk ke dalam kamar. James menghentikan permainan gitarnya yang baru saja memasuki bagian Reff dari lagu tersebut.
"Keluar yok, kemana gitu. Kalau gak kita sepedaan aja di taman sambil menunggu jam makan siang, yah kak? Please.." Lanjutnya dengan pose membujuk.
Valen adik yang menggemaskan, dia termasuk anak yang penurut dan sopan. Dia tau bagaimana cara bersikap kepada orang yang lebih tua, yang sebaya atau kepada yang lebih muda darinya. Dia juga tau, bagaimana cara mengambil hati orang lain.
"Haa, baiklah." James mengiyakan.
"Yes!" Jawabnya senang. Dia keluar dari kamar, bergegas mengeluarkan sepedanya.
James meletakkan kembali gitarnya ke tempat semula, mengambil topi dan beberapa lembar uangku untuk berjaga-jaga siapa tau Valen mau membeli sesuatu di luar sana.
~~
"Woahhh, segarnya!! Aku senang kakak menemaniku keluar bermain sepeda." Serunya kegirangan menikmati cuaca yang hangat dan angin yang bertiup pelan saat itu. Dia terlihat seperti anjing kecil yang baru saja dilepaskan.
"Iya, tapi jangan kencang-kencang, dong! Kakak susah mengejarmu."
James tidak membawa sepedanya, bannya bocor.
"Kak, itu ada yang jual roti. Sepertinya enak, aku boleh minta itu?"
"Iya, boleh. Tapi kamu jangan kemana-mana dulu, saat kakak membeli roti ini. Oke?" Aku memperingatkannya, karena keadaan jalan yang turunan dan langsung menuju jalan raya.
"Oke!"
James memperhatikan roti yang diinginkan Valen memang menggugah selera, banyak orang bergantian membeli roti tersebut. James memesan 3 roti dengan isian dan bentuk yang berbeda. Ia terlalu sibuk memperhatikan jenis roti yang ada disitu, hingga tidak sadar jika Valen sedang mencoba untuk meluncur turun.
"Uhuuy, kakakk!" Teriaknya girang tanpa menyadari ujung dari turunan jalan tersebut.
"VALEN, NO!!" James berteriak kencang.
James menerima roti yang sudah dipesan dan memberikan selembar uang 100 ribu, kemudian mengejar Valen turun.
"Yeahhh.." teriak Valen.
"Valen, rem! Rem!" James terus berlari mengejarnya, namun jarakku dengan Valen cukup jauh.
BRAAKKK.
"Oh, no, no, tidak!"
James melihat Valen terhempas dari sepedanya pas disaat ada mobil yang melintas. Ia mempercepat laju larinya, berbagai hal buruk sudah melintas di pikiran James. Orang-orang juga mulai berkerumun di ujung jalan itu.
"Ha..ha..ha.." James mencoba mengatur nafasku saat tiba di ujung jalan, kemudian berjalan masuk menerobos masuk kerumunan tersebut.
James melihat Valen menangis dan gemetar hebat di dalam pelukan Tasya.