"Ayo kak, kita makan dulu. Masakan bibi enak-enak loo!" Dia menarik tangan Tasya menuju meja makan.
Anak yang tadi menangis itu kini tampak riang seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Saat kecelakan kecil tadi, James hendak memarahi Valen karena tidak mendengar dan memilih untuk turun lebih dulu. Namun semua itu terhenti karena Tasya melarang memarahinya, dia malah berkata bahwa tidak ada gunanya memarahi Valen, semua sudah terjadi. Dia merasa bahwa tanpa dimarahi pun, kejadian tadi akan membuat Valen lebih berhati-hati jika berada di jalan turunan seperti tadi.
"Wah, wah, non Tasya ini temannya dedek Valen atau kak James, nih? Kok yang bibi lihat daritadi dek Valen narik-narik tangan non Tasya?"
"Panggil saya Tasya aja bi, tidak usah pakai non."
"Aduh, bibi merasa tak enak panggilnya. Gimana kalau neng Tasya aja?"
"Iya, begitu saja bi."
"Kak Tasya temannya Valen, bi. Kak Tasya bukan temannya kak James. Iya kan, kak?" Katanya sambil merangkul tangan Tasya. James melihat Tasya sedikit meringis saat tangannya dipegang Valen.
"Hehe, iya Bi. Saya temannya Valen."
"Hahaha, kalau begitu selamat makan semuanya. Bibi tinggal dulu, masih ada yang mau dikerjakan."
Bibi pergi pamit ke belakang, meninggalkan kami bertiga. Valen mengambil segala jenis lauk yang disediakan bibi ke dalam piring Tasya.
Dua puluh menit kemudian kami menyelesaikan makanan kami. Tampak Valen mulai mengantuk akibat kenyang dan kelelahan karena menangis tadi.
"Sana tidur kalau mengantuk!"
"Tapi aku masih mau main sama kak Tasya. Atau kakak tinggal disini saja?"
"Wah, anak ini benar-benar.." James mulai terlihat kesal mendengar perkataan Valen.
"Kakak gak bisa lama-lama disini, kakak masih ada pekerjaan yang harus dilakukan. Lain kali, kamu harus lebih mendengar perkataan kakakmu, yah Valen anak baik!"
Valen mengangguk mendengar perkataan Tasya dan wajahnya tampak memerah.
"Wah, apa-apaan tingkah bocah satu ini?"
"Kak, boleh nunduk sebentar?" Tanyanya.
Tasya menunduk dan mengarahkan wajahnya sejajar dengan Valen. Seketika itu juga, Valen memberikan kecupan ringan di dahi Tasya.
"Terima kasih kakak sudah menyelamatkanku tadi. Kakak sangat cantik seperti malaikat. Aku menyukai kakak! Kalau aku sudah besar nanti, kakak mau jadi pacarku?" Dia terlihat serius saat mengajukan pertanyaan itu.
"Hey, hey, kepalamu habis kebentur? Mana, mana, coba sini kakak periksa." James mengacak-acak wajah Valen dengan kasar, memeriksa tiap sisi dari wajahnya.
"Arghh, aku baik-baik saja. Sudah sana, kak!" Katanya kesal.
Tasya menghentikanku mengganggu Valen, kemudian berlutut mensejajarkan tingginya dengan bocah itu.
"Terimakasih atas pernyataan Valen tadi. Tapi kakak gak bisa menerimanya, kakak terlalu tua untuk Valen. Kakak juga tidak suka berpacaran dengan orang yang lebih muda dari kakak." Katanya tegas.
Anak itu terlihat seperti mau menangis kembali.
"Tapi, apakah boleh aku berteman dengan kakak?" Tanyanya.
"Tentu, dong! Sudah kamu pergi tidur sana." Dia mengacak-acak rambut Valen.
"Iya, kak. Sampai jumpa kak!" Valen akhirnya pergi ke lantai dua menuju kamarnya.
"Wah, hebat. Kamu baru saja menolak pengakuan seorang anak berumur 9 tahun dengan sangat kejam."
"Bagus kan kalau ditolak begitu, daripada Valen bertumbuh terus tetap menyukaiku."
"But he still nine years old, kamu bisa saja menyetujuinya sekarang dan dia akan melupakannya saat dia dewasa nanti."
"Memangnya kamu bisa menjamin? Aku juga tidak tau karakteristik Valen, namun aku tau sati hal bahwa dia orang yang sangat berambisi mendapatkan apa yang diinginkannya."
James terkejut mendengar perkataan Tasya. Ia juga tau kalau Valen anak yang sangat berambisi jika ingin mendapatkan tujuannya.
"Kamu benar. Terima kasih untuk semuanya hari ini."
"Sama-sama. Aku hanya kebetulan lewat saja. Dan satu lagi, berhenti membuat Valen menjadi seorang playboy sepertimu."
"Hahaha, kamu menuduhku? Yang benar saja! Aku juga tidak tau darimana dia bisa mengatakan hal seperti itu." James tertawa menanggapinya.
"Who knows?" Katanya sambil berjalan menuju pintu keluar.
James menggenggam tangan yang tadi dipegang Valen, tampak dia mulai meringis.
"Hey, coba buka jaketmu!"
"Apa sih?" Dia berusaha melepaskan genggaman tangan James menggunakan tangan satunya.
James menggulung paksa lengan jaketnya keatas. Tampak lebam biru di bagian tangan kirinya.
"Tanganmu ini keseleo. Kenapa kamu diam saja?"
"Adekmu tadi terlihat ketakutan. Apakah aku harus membuatnya merasa bersalah juga?" Jawabnya sambil mendorong menjauh menggunakan tangan kanannya.
"Haa, biarkan aku mengobatinya kalau begitu."
"Tidak usah, aku bisa mengobatinya nanti!"
James merasa kecewa dengan penolakannya. James terpaksa menggendongnya dan membawanya menuju ruangan tempat penyimpanan obat-obatan. Dia tetap memberontak untuk diturunkan. Bibi yang baru saja keluar dari dapur terlihat kebingungan melihat kami.
"Bi, tolong bawakan iced pack 2, yah." Kataku.
James masuk keruangan itu dan mendudukkannya di salah satu sofa. Lalu ia mengambil obat gel untuk mengurangi rasa nyeri sekaligus bengkak di tangannya dari kotak penyimpanan. Bibi juga datang membawa iced pack yang kuminta, kemudian kembali keluar meninggalkan kami.
James menarik tangan kirinya lalu mengapit tangannya dengan kedua iced pack.
"Sssshhhh.."
"Tahan sebentar, kita perlu mengompresnya lebih dulu."
Setelah mengompresnya sekitar 10 menit, James mengelap tangan Tasya yang basah dengan tissu lalu mengoleskan gel tersebut sambil mengurutnya pelan.
"Arghhh.." dia menghentikan gerakan tangan James.
"Tahan sebentar saja."
Dia menarik tangannya kembali dan menutup matanya menahan sakit. Dia terlihat sangat menggemaskan.
"Hahaha, kamu bisa kesakitan juga ternyata." James mencoba menyindirnya dan membuatnya untuk tidak terpaku kepada sakit di tangannya.
"Sakit tau!"
James tersenyum melihat ekspresi marahnya.
"Kamu menggemaskan."
"Hahaha, kamu merayuku?" Katanya datar sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Mungkin."
"Terimakasih, tetapi itu tidak akan mempengaruhiku."
"Jawaban yang sangat yakin. Pakai lagi gelnya saat mau tidur." James memberikan gel tersebut ke dalam tangannya.
"Terima kasih."
Dia beranjak dari sofa dan hendak berjalan ke luar rumah. James mengikutinya dari belakang.
"Kamu tidak mau diantar?"
"Tidak usah, aku bawa sepeda." Dia menaiki sepedanya.
Saat hendak berangkat, James kembali menghentikan langkahnya.
"Hey!"
"Apalagi?" Katanya kesal.
"Kamu mau jadi temanku?"
"Tidak." Jawabnya tegas. Dia mendayung pedal sepedanya menuju gerbang.
"Oke, kalau tidak mau jadi temanku. Kamu mau tidak jadi pacarku?"
Dia menghentikan laju sepedanya dan melihat ke belakang.
"Are you insane?" Teriaknya. Dia pun melangkah pergi.
"Maybe, i am." Kata James lirih menatap kepergiannya.