Pekerjaan di kafe pada hari weekend sangat sibuk dibandingkan dengan hari lainnya. Tasya bisa melihat berbagai ekspresi ataupun kejadian dari setiap manusia yang datang ke kafe kami.
"Cheese cake dan cappucino latte ke meja 7, pancake with chocolate ice cream ke meja 4."
"Oke!"
Tasya pergi ke meja 7 lebih dulu dan meletakkan pancake with chocolate ice cream.
"Maaf mbak, kami tindak memesan pancake."
"Ahh, ya. Maaf, mbak. Cheese cake dan cappucino latte, kan?" tanyanya memastikan.
"Benar, mbak."
Tasya memberikan pesanan mereka dan mengantarkan pancake ke meja 4, lalu kembali ke meja pantri untuk mengambil pesanan selanjutnya.
"Kamu kelihatan tidak fokus hari ini, Sya. Ada apa? Kantong menipis?" Canda Nuel bagian kasir mereka.
"Hahaha, itu masih aman kak. Paling bentar lagi kosongnya." Canda Tasya sambil mengingat kalau minggu depan adalah akhir bulan.
Seharusnya hari Sabtu dan Minggu adalah hari dimana Tasya bisa bekerja dengan keadaan prima. Tidak ada kuliah di hari itu. Biasanya hari tersebut ia isi dengan bersepeda, berbelanja bahan makanan, menyelesaikan cicilan tugas, bahkan terkadang Tasya bisa tidur-tiduran seharian sebelum berangkat kerja. Namun itu semua harus tertunda, karena kecelakan kecil tadi.
"Mas, pesan cappucino coffeenya 1, take away."
Tasya sedikit tersentak mendengar suara tersebut, suara yang familiar di telinganya. Ia menoleh kesebelahnya dan pada saat itu juga orang tersebut menoleh melihat Tasya.
"Kak, Chris."
"Oh, hai Tasya." Jawabnya.
Saat itu Christian mengenakan kaos dengan celana training bewarna hitam dengan rambut yang dibiarkan jatuh begitu saja tanpa ada tambahan gel rambut seperti biasanya. Dia terlihat berbeda namun tetap tampan dengan tampilan santai begitu.
"Ini pesanannya." Nuel memberikan pesanan Chris.
"Jadi, kamu kerja disini, Sya? Ah, sorry, tentu saja kamu kerja disini kalau dilihat dari tampilanmu. Hahaha." Katanya canggung sambil mengusap belakang kepalanya.
"Hahaha, iya kak. Aku kerja di kafe ini."
Tasya juga merasa canggung melihat kedatangan Christian ada disini. Biasanya tidak ada mahasiswa dari kampusnya datang ke kafe mereka karena posisinya kurang strategis.
"Hmm, kalau begitu aku pulang dulu yah. Selamat bekerja!" Dia melambaikan tangan kanannya.
"Ia kak. Selamat menikmati coffenya dan hati-hati dijalan." Balas Tasya dan mengawasi kepergiannya.
"Hayo! Tutup mulutnya, nanti masuk lalat. Hahaha. Ganteng, yah. Pacar kamu?" Tanya Nuel ingin tau.
"Bukan. Senior di kampus."
"Ini pesanan untuk meja 1."
"Baik."
Tasya mengambil pesanan tersebut dan bergegas ke meja 1 menghindari pertanyaan Nuel selanjutnya. Tasya tau pasti Nuel akan terus bertanya yang aneh-aneh jika ia tetap disitu.
~~
"Haaa, enaknya nyentuh kasur begini!"
Sesampainya di rumah, Tasya langsung bersih-bersih, kemudian menghempaskan diri ke atas tempat tidurnya. Seharian ini, ia tidak menyentuh kasur. Jadi, Tasya merasakan kenikmatan yang tidak dapat dibantah lagi begitu menyentuhnya.
Tasya menyalakan hapenya untuk mengecek apakah ada panggilan atau pesan yang masuk. Ternyata nihil. Akhirnya ia membuka status w******p dan terlihat Nadya membuat status dengan Mister Popo, anak anjing yang ia tabrak waktu itu. Disitu terlihat jelas keadaannya mulai membaik. Tasya berpikir untuk mengecek keadaannya besok, ia pun menghubungi Nadya.
"Hai, Sya. Ada apa?" Suara Nadya terdengar ceria.
"Gapapa, Nad. Aku cuma mau nanya keadaan Mister Popo."
"Ooh, jangan khawatir, Sya. Bentar lagi Mister Popo akan berlari bebas seperti biasanya."
"Syukurlah, Nad. Tapi kamu gak masalah kan, Mister Popo kubawa ke rumah kalau nanti dia sudah sehat?"
"Ya, gapapalah. Kamu perlu Mister Popo biar gak terlalu sepi tuh rumah Nenek. Memangnya ada apa?"
"Takutnya kamu terlanjur sayang kan, jadinya nanti kamu gak bolehin aku membawa Mister Popo."
"Hahaha, ya memang sudah sayang lah. Nanti kan aku bisa bermain kesana kalau memang rindu Mister Popo."
"Sep. Besok aku kesana yah, mungkin sekitar jam 9 atau 10."
"Okay, Sya!"
"Thank you, Nad!"
Tasya mengakhiri panggilan teleponnya.
~~
"Lucunya kamu Mister Popo, nanti kalau sudah sembuh baru pindah kerumah nenek yah." Tasya mengelus elus lembut bulu Mister Popo.
Ia datang ke rumah Nadya sesuai janjinya. Di rumah Nadya, Tasya bermain dengan Popo yang ternyata masih mengingatnya. Popo terlihat begitu terurus, tidak seperti saat ia bertemu dengannya pertama kali.
"Aku baru tau kamu sudah tidak takut lagi dengan anjing, Sya."
"Ah, itu ceritanya karena kak Christian, Nad. Dia yang membantuku untuk tidak takut dengan Popo."
"Ciee, jadi kak Christian, nih?" Sindir Nadya bercanda.
"Hahaha, jangan ikut-ikutan kayak Tere deh, Nad! Btw, makasih ya udah merawat Popo. Aku mau pamit kerja dulu."
"Anytime, Sya. Udah buruan pergi nyari dolar sana, nanti telat."
"Aku kerja dulu." Tasya menyalakan motornya dan berangkat pergi.
Perjalanan dari rumah Nadya ke tempat kerja tidak terlalu jauh. Sore itu juga jalanan tidak terlalu ramai, Tasya tidak perlu terlalu terburu-buru melajukan motornya. Angin di sore hari itu berhembus dengan lembut dan terasa sangat nyaman. Hingga akhirnya pandangannya mengarah keseberang jalan, tampak seorang wanita tua sedang mengutip sampah yang dibuang sembarangan oleh pemuda yang tidak beradab. Ia memarkirkan motornya ke pinggir jalan lalu menghampiri ibu tersebut.
"Biar aku bantu, bu." Kata Tasya sambil megambil sampah tersebut.
"Tidak usah nak, nanti kamu jadi bau dan kotor."
"Hahaha, santai bu. Nanti tinggal mandi saja."
'Sepertinya aku masih sempat mandi sebentar di kafe.'
Satu persatu sampah-sampah tersebut dimasukkan ke dalam gerobak sampah hingga selesai. Gerobak tersebut sudah dipenuhi sampah dan terlihat berat jika dibawa oleh ibu tersebut.
"Ibu mau kemana? Mau menyebrang?"
"Ia nak, ibu mau ke seberang sana, lalu mengantar sampah-sampah ini."
Ibu tersebut menarik gerobaknya dengan susah payah. Tasya membantu ibu tersebut dengan mendorong gerobaknya dari belakang.
"Makasih yah, nak sudah membantu. Nama kamu siapa?" Kata ibu tersebut saat kami tiba di seberang jalan.
"Iya bu, sama-sama. Namaku Tasya, bu. Aku minta maaf gak bisa membantu ibu sampai ke tujuan. Aku harus berangkat kerja."
"Tidak apa-apa, nak! Jangan merasa bersalah begitu. Saya malah berterima kasih karena kamu sudah mau membantu ibu, padahal harus pergi kerja. Nama saya Ibu Nana. Semoga rejekimu banyak yah, nak!"
"Amin. Makasih, bu. Hati-hati di jalan!"