"Hai, Chris. Apa kabar?"
Sehari sebelumnya wanita itu menghubungi Chris setelah 10 tahun berlalu. Beliau mengatakan bahwa dia ingin berjumpa dengannya di restoran Bhineka. Chris merasa hari itu hanyalah mimpi belaka.
Ia masih mengingat hari dimana wanita itu memilih untuk keluar dari rumah, meninggalkan Chris dan ayahnya. Chris yang masih 11 tahun pada saat itu, tidak mengetahui alasan bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Mengapa wanita itu meninggalkan mereka.
"Saya baik-baik saja."
Wajahnya masih sama seperti yang kulihat terakhir kali, hanya kali ini ada beberapa kerutan yang terlihat jelas di sudut matanya.
"Mama merindukanmu, Chris." Katanya sendu.
Chris tidak tau harus bagaimana harus menjawab perkataannya. Setiap hari ia sudah menunggu kepulangan wanita itu, mengharapkan semua akan kembali baik seperti sedia kala. Namun semua penantian itu sia-sia. Waktu terus berjalan dan ia harus berpura-pura untuk baik-baik saja.
"Haaa.., tidak usah berlama-lama. Sebenarnya apa maksud anda menghubungi saya dan mengajak saya untuk bertemu seperti ini?"
"Mama tau kamu kecewa, Chris."
"Berhenti untuk seakan-akan anda tau keadaan saya!" Potong Chris dengan nada sedikit tinggi.
"Mama minta maaf karena sudah meninggalkanku tanpa mengatakan suatu apapun. Kamu masih sangat kecil waktu itu, kamu belum bisa mengerti."
"Itu hak saya untuk tau tentang apa yang terjadi diantara kalian, apa yang terjadi dengan sekitar saya. Masalah saya mengerti atau tidak, itu adalah urusan saya."
Chris merasa sangat marah dan tidak mampu untuk mengontrolnya. Semua emosi yang tertahan selama 10 tahun, kini memaksa untuk keluar.
"Papamu gay." Katanya dengan ekspresi yang cukup tenang.
"Aku sudah mengetahui kalau dia memiliki kelainan dari sebelum kami menikah. Namun mama menyayanginya dan dia juga menyayangi mama. Itu yang membuat mama yakin untuk menikah dengan papamu dan yakin bahwa papamu bisa berubah."
"Terus kenapa kalian berpisah?"
"Bertahun-tahun pernikahan kami, mama merasa yakin kalau papamu bukan seorang gay lagi. Hingga suatu saat, di tahun pernikahan kami yang kedelapan, mama melihat papa sedang berciuman begitu mesra dengan seorang pria. Mama sungguh hancur melihatnya. Mama mencoba untuk membicarakan apa yang mama lihat dengan papamu. Dia akhirnya mengaku, bahwa selama ini dia sudah berusaha untuk menjadi seorang yang straight, namun tidak semudah itu untuk berubah."
Dia berhenti sejenak untuk memperhatikan ekspresiku.
"Tiga tahun lamanya, mama menemani papa untuk menemui psikiater. Terus berharap bahwa papa bisa berubah, tetapi tetap sia-sia. Kami menjadi saling menyiksa diri satu sama lain, berusaha memenuhi ekspektasi dari pasangan. Hingga akhirnya, mama memutuskan untuk pergi." Lanjutnya lagi.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah dia pergi mulai terlintas di pikiranku seperti adegan film yang sedang diputar dan saling mendesak satu sama lain. Chris mulai merasa mual akan semuanya itu. Ia berdiri dan beranjak keluar dari restoran.
"Mama masih ingin berbicara denganmu, Chris." Katanya sambil menahan tangan Chris untuk pergi.
"Untuk apa? Semua sudah berlalu. Anda juga sudah punya keluarga yang lain kan?" Chris memperhatikan cincin yang melingkar di jarinya.
Chris melepaskan tangannya dan pergi keluar. Mengabaikan semua panggilan darinya.
Chris pergi ke arah parkiran untuk mengambil motornya. Ia memakai helm dengan tergesa-gesa, kemudian menyalakan motor dan melajukannya ke tengah jalan yang sepi.
Suara dan perkataan wanita itu masih terngiang-ngiang di dalam telinganya. Sudah lama Chris membayangkan akan seperti apa keadaan jika ia kembali bertemu dengannya.
Kesunyian malam itu seolah-olah semakin membawaku kesisi gelap diriku. Tanpa sadar, air mata Chris mulai menetes dengan sendirinya dan memburamkan pandangannya. Ia menambah kecepatan motornya berharap untuk segera tiba di apartemen. Hingga tiba di persimpangan jalan, terlihat motor yang juga dengan kecepatan tinggi hendak berbelok. Chris langsung mengarahkan motornya ke bahu jalan untuk menghindari tabrakan, lalu mengerem mendadak. Syok. Ia terpaku sekian detik di atas motor.
'Kumohon, siapa saja tolong aku.'
Seseorang menghentikan motornya di depan Chris, membuka helmnya lalu menghampiri dan memegang bahunya.
"Kak Chris gapapa?"