Bab 11 - Pelangi Sehabis Hujan

709 Kata
"Ini tehnya, silahkan diminum!" Tasya membuatkannya secangkir teh hangat. Dia mengajak Chris untuk singgah dirumahnya agar bisa menenangkan diri terlebih dahulu. Chris baru tau, ternyata jarak rumah kami tidak terlalu jauh, hanya berbeda blok saja. "Thanks, Sya!" "Sure." Jawabnya. Rumah yang Tasya tinggali tidak begitu besar namun memiliki halaman yang luas dan terawat. Beberapa jenis bunga menambah keindahan rumahnya, ditambah dengan sebuah bangku taman yang dilindungi oleh dua buah pohon yang besar dan rindang. Duduk di bangku taman sambil meminum secangkir teh hangat serta melihat indahnya beraneka bunga, mampu membuat Chris bernapas lebih lega. "Kamu tinggal sendiri, Sya?" "Ya, sekarang aku tinggal sendiri. Sebelumnya bersama dengan nenek, tapi beliau sudah meninggal 2 tahun lalu." "Bagaimana dengan kedua orang tuamu? Ahh, tidak usah dijawab jika keberatan, aku tidak ingin membuatmu merasa terbebani." "Hahaha, tidak apa-apa kak. Aku tau kakak berusaha mencari bahan obrolan. Hmm, kedua orang tuaku meninggal dunia ketika mereka melakukan perjalan dinas keluar kota, pesawat yang mereka tumpangi jatuh. Peristiwa itu terjadi saat aku berumur 16 tahun." Jawabnya. Chris kaget mendengar perkataannya. Tasya tidak terlihat seperti anak yang kesepian, meskipun ia hidup sebatang kara.  "Maafkan pertanyaanku tadi." "Kenapa minta maaf, kak? Peristiwa itu sudah lama terjadi. They are in a much better place now." Jawabnya sambil tersenyum. "Ya, you right." "Hmm, kenapa kakak membawa motor? Maksudnya, selama ke kampus kak Chris tidak pernah membawanya." "Memang. Aku malas membawanya ke kampus." "Malas membawanya atau malas nanti banyak yang minta nebeng?" "Bisa jadi."  Dia tertawa mendengar jawaban Chris, Chris juga ikutan tertawa karena mendengar tertawanya Tasya. Beberapa menit berikutnya kami terdiam dan sibuk dengan minuman kami masing-masing. Dia tidak menanyakan bagaimana aku bisa seperti tadi. "Kamu tidak mau bertanya kenapa aku bisa seperti tadi?"  Dia menatap Chris. "Kenapa harus ditanya? Itu hak kakak mau menceritakannya atau tidak. Setiap orang pasti mempunyai sisi kelam dari hidupnya." Chris mengalihkan matanya dari Tasya dan memilih untuk tidak membalasnya. "Kalau kakak mau cerita, saya siap jadi tong sampah kakak." Lanjutnya. "Tong sampah? Mana ada tong sampah yang mempunyai mulut blak-blakan sepertimu." "Dihh, sudah bisa menyindir nih ceritanya?" Dia menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum menyindir. "Hey, hey, apa-apaan ekspresimu itu?" "Hahaha, enggak kak, aku hanya bercanda." Kemudian mereka mulai terdiam lagi dalam waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya, Chris melihat Tasya mulai menguap. Chris melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11.30 malam. Wajar saja Tasya mulai mengantuk setelah selesai bekerja. "Aku pulang dulu, Sya. Kamu juga terlihat cukup lelah." Chris berdiri dari bangku taman yang mereka duduki. "Oke, kak. Bohong jika aku bilang aku tidak lelah. Hehehe. Mari kuantar sampai depan." Mereka berjalan ke arah gerbang dan Chris mulai menyalakan motornya. "Ehmm, makasih yah, sudah menenangkanku tadi." "Menenangkan? Memangnya kakak hewan liar?" Chris terdiam memandang Tasya dan bersikap datar, berpura-pura tersinggung atas perkataannya barusan. Ternyata dia terpengaruh dengan jebakan Chris. "Eh, maaf kak. Aku tadi cuma bercanda, biar kakak tidak terlalu muram. Maaf kak!" Dia memegang tangan Chris dengan kedua tangannya dan merasa bersalah. "Hahahahaha." Chris tertawa terbahak-bahak melihat wajah Tasya yang merasa bersalah. "Wah, wah, aku dikerjain nih. Hahaha." Sahutnya "Hahaha. Aku hanya ingin sedikit menjahilimu." Chris mengusap rambutnya dengan gemas. Dia terlihat sedikit kaget dengan perbuatan Chris, ia juga tidak mengerti kenapa melakukan itu kepada Tasya. "Oke, aku pulang dulu ya!" Dia menganggukkan kepalanya. Baru saja Chris melajukan motornya, dia memanggil Chris kembali. "Kak, setidaknya jangan pernah menyerah kepada keadaan. Pasti ada pelangi sehabis hujan. Hati-hati di jalan, ya!" Teriaknya sambil melambaikan tangan. Chris kembali melajukan motornya.  'Dia benar, pasti ada pelangi sehabis hujan. Masalahnya, dapatkah aku berjalan maju di tengah-tengah hujan tersebut?' Hape Chris berdering ketika tiba di apartemen. Ia mengeluarkannya dari saku celananya. Ada sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. 0821734xxxxx Kakak sudah sampai? Ia merasa kalau orang yang mengirimkan pesan tersebut adalah Tasya. Gadis itu memang mempunyai nomornya, Chris pernah memberikannya di kelas mereka waktu perkenalan asisten lab. Chris segera membalas pesan tersebut. Christian Baru saja sampai. Ini Tasya? Kamu mengkhawatirkanku? Tasya Iya kak, ini Tasya. Saya khawatir, siapa tau kakak nyangkut di tiang listrik lagi, hahaha peace kak :p Dia membalas seperti itu karena Chris hampir menabrak tiang saat kecelakaan tadi. Christian Hmm.. :) Aku sampai dengan selamat dan utuh di apartemen. Tenang saja.  Tasya Baiklah kak. Malam. "Malam Tasya" Chris meletakkan hpnya dan memutuskan untuk tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN