"Hmm, oke, pertama kita harus merangkai alatnya!"
Pertama-tama Tasya memasukkan batu didih terlebih dahulu ke dalam labu destilasi. Tasya sedikit memiringkan labu destilasi saat hendak memasukkan batu didih untuk menghindari retakan di labu destilasi. Kemudian, labu destilasi direkatkan ke statif dan klem. Mira meletakkan kaki tiga di bawah labu destilat. Nadya merekatkan kondensor ke statif dan klem, mengatur ketinggiannya dengan labu destilasi yang sudah dipasang Tasya. Lalu, ia menghubungkan labu destilat ke kondensor.
"Taruh sedikit vaselin supaya lebih mudah dihubungkan." Kata Chris saat menghampiri meja mereka.
Hari ini kelompok mereka mendapatkan praktikum mengenai destilasi sederhana. Mereka hendak melakukan pemisahan alkohol dari tuak.
Setelah rangkaian alat sudah terhubung, Tasya memasukkan tuak ke dalam labu destilasi menggunakan corong kaca agar tidak ada tuak yang tumpah. Tak lupa juga memasukkan termometer ke dalam labu destilasi. Tama membakar pembakar bunsen kemudian meletakkannya ke bawah kaki tiga.
"Amati suhu ketika kondensat pertama sekali menetes ke dalam labu penampung, jangan lupa catat waktunya! Perhatikan juga banyak kondensat yang akan terkumpul."
"Oke kak!" Jawab mereka serempak.
Chris pergi mengamati praktikum di meja lain.
Melakukan percobaan destilasi sederhana ini lumayan lama, karena harus menunggu sampai alkohol tersebut terpisah secara sempurna dari larutannya.
"Gimana praktikum di meja ini?" Tanya Vani.
Asisten laboratorium kelas mereka adalah Christian. Hanya saja, karena praktikum kimia organik terbilang cukup berbahaya dan memakan waktu yang lama, Chris mengajak 2 orang temannya untuk membantu mengawasi jalannya praktikum di kelas kami. Dua orang temannya itu adalah Vani dan Brian.
"Lancar kak, kami tinggal menunggu saja sampai semua alkoholnya terpisah."
"Menurut kamu apa fungsi dari penambahan batu didih dalam larutan itu?" Vani menunjuk Tasya.
"Oh, itu agar panasnya merata, kak."
"Panas apa yang merata?" Tanyanya lagi.
"Panas dari tuak itu kak."
"Penambahan batu didih itu fungsinya untuk meratakan panas agar panas dari larutan menjadi homogen. Biasakan untuk menjawab secara lengkap, sudah mahasiswa kan?" Katanya sinis kemudian pergi ke meja lainnya.
Nadya dan anggota lainnya langsung memandang ke arah Tasya.
"Kamu biki masalah apa sama kak Vani?" Tanya Gadis penasaran.
"Gak ada, kami juga tidak pernah mengobrol sebelumnya."
"Hahaha, lagi PMS kali!" Canda Tama.
Tasya tidak mengerti kenapa Vani bersikap seperti itu kepadanya, tetapi Tasya memang merasa jika Vani tidak menyukainya.
~~
"Tasya." Chris memanggil saat hendak keluar dari lab.
"Iya, kak?"
"Ini hasil laporan kelasmu minggu lalu, nanti tolong dibagikan kepada teman-temanmu!"
Tasya menerima laporan praktikum tersebut.
"Dan ini untukmu!" Lanjutnya.
Tasya terkejut saat Chris memberikan sebungkus roti keju yang terlihat lezat kepadanya.
"Dalam rangka apa, kak?" Tasya bingung karena diberikan roti tiba-tiba.
"Jadi gak mau, nih?" Dia mencoba untuk menarik kembali roti tersebut dari tangan Tasya.
"Eh, mau dong!" Tasya menarik kembali roti tersebut.
"Ini gak kadaluarsa, kan?"
"Hey, hey, apa maksudmu?"
"Hahaha, gapapa kak. Makasih yah!" Tasya segera keluar dari lab mencegah Chris untuk menarik kembali roti itu.
Tasya keluar dari lab dan membagikan laporan praktikum kepada teman-teman lainnya. Seperti biasa, ia dan Nadya berencana untuk ke perpustakaan lalu pulang ke rumah untuk langsung mengerjakan laporan.
"Roti dari siapa, Sya? Kayaknya enak." Tanya Nadya ketika mereka berjalan ke arah parkiran.
Tasya membuka bungkusan roti tersebut dan membaginya kepada Nadya.
"Hmm, iya, enak yah! Dikasi kak Chris tadi."
"Dalam rangka apa?" Nadya bertanya hal yang sama denganku tadi.
"Tidak tau, Nad! Aku juga tidak mengerti kenapa kak Chris memberikanku roti."
'Apa karena kejadian kemaren, yah?'
"Hmm, hati-hati ada peletnya, hahaha."
"Hahaha, kamu kira ikan! Lagian kamu juga makan kan."
"Oia. Hahaha."
Mereka berdua tertawa sambil tetap menikmati roti keju pemberian Chris.
"Loh, itu ada apa rame-rame begitu?"
Tasya mengikuti arah pandang Nadya. Ia melihat James sedang dikelilingi oleh 6 mahasiswi yang terbilang cantik.
"Wah, memang yah dari dulu si James selalu saja dikelilingi gadis-gadis." Seru Nadya
"Hahaha, resiko orang ganteng. Udah yuk, buruan!"
Tasya hendak memasukkan kunci untuk menyalakan motornya, hingga akhirnya seseorang menarik tangannya dan membawanya pergi.