James terus berlari tanpa arah, menjauhkan diri dari segerombolan mahasiswi pemuja tampang. Tangan Tasya tetap digenggamnya erat, mengabaikan teriakannya yang meminta untuk berhenti. Sudah lama James tidak merasakan berlari sebebas ini.
"BERHENTI KAU, JAMES SIALAN!!!" Teriak Tasya.
James merasa gemas, ketika mendengar Tasya berteriak seperti itu. Ia sudah membawanya sampai ke halaman gedung biro rektor, mencari celah dari bangunan tersebut untuk bersembunyi.
James menutup mulut Tasya sambil melirik situasi di sekitar mereka, memastikan sekumpulan orang yang mengejarnya tadi tidak mengetahui tempat persembunyian mereka. James melepaskan tangannya dari mulut Tasya, setelah memastikan mereka tidak mengejar lagi. Tasya menatapnya tajam.
"Kenapa?" Tanya James, kemudian Tasya menginjak kakinya, menekan kuat dengan tumit kaki.
"Awwww."
"Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu mengajakku lari menghindari fans-fansmu itu!" Katanya kesal.
"Aku tadi memang sedang mencarimu, mereka saja yang tiba-tiba datang. Ternyata kamu berat juga yah, pijakan satu kaki saja bisa sakit gini."
James mencoba mencairkan suasana agar Tasya tidak terlalu marah kepadanya. Ia tau jika tindakannya tadi membuat Tasya terkejut, jarak dari fakultas ke biro rektor terbilang lumayan jauh.
Dia hanya menatap James, lalu keluar dari tempat persembunyian dan berjalan kembali ke arah fakultas sambil berusaha menelpon seseorang, kemungkinan orang itu adalah Nadya. James mengejarnya dan mensejajarkan langkah kakinya dengan Tasya.
"Kenapa gak diangkat sih, Nad?" Serunya sambil menunggu panggilan teleponnya terjawab.
Wajahnya terlihat serius. James mulai berpikir mungkin dia ada janji atau ada kegiatan dari kelas mereka.
"Hey, aku minta maaf, Sya! Aku akan temani mencari Nadya."
"Tidak usah, aku bisa sendiri!" Jawabnya ketus sambil terus berjalan dengan cepat.
"Kalian lagi ada kegiatan yah?" James bertanya sambil terus menatap wajahnya.
James terlalu fokus memandang Tasya. Ia tidak sadar kalau jalan selanjutnya itu terdapat batu besar. Otomatis James tersandung dan jatuh tengkurap. Mahasiswa lain yang ada disitu, tertawa melihatnya.
"Hahaha, bro lagi ngapain? Lagi nangkap katak?" Celetuk seorang mahasiswa disambut oleh tawa teman-temannya.
"Gapapa kan, James?"
James menatap wajah Tasya yang terlihat khawatir dengan keadaannya. Dia memegang lengan James, seumpama membantunya berdiri. James tidak menyangka kalau Tasya akan berhenti dan mengkhawatirkannya, disaat ia sudah membuatnya kesal.
"Hahaha, gapapa Sya! Kamu khawatir, yah?" Goda James sambil menghempaskan tanah yang menempel di baju dan celananya.
"Hahaha, kamu benar-benar orang aneh!" Dia tertawa.
"Kenapa kamu harus mengikutiku?" Lanjutnya.
"Yah, mungkin karena merasa sedikit bersalah. Dimaafin gak nih?"
"Oke, oke, dimaafin."
Kemudian dia berjalan lagi ke parkiran, James mengikutinya kembali.
Mereka tidak juga bertemu dengan Nadya, ketika sudah sampai di parkiran. Tasya mencoba menghubungi Nadya kembali, namun tetap tidak ada jawaban.
"Kalian ada kegiatan lagi? Ini kan masih jam istirahat."
"Ah, tidak. Kuliah selanjutnya jam 3, biasanya aku dan Nadya pulang dulu ke rumahku untuk beristihat atau menyicil laporan dan tugas kami."
"Terus sekarang gimana?"
"Hmm, tersisa 2 jam lagi sih. Sepertinya aku akan tetap pulang."
"Mau makan bareng dulu? Yah, kita bisa pesan terus makan di rumahmu. Aku traktir!"
Tasya terlihat menimbang-nimbang ajakan James.
"Gak usah deh, James."
"Aku traktir makanan apapun juga yang kamu inginkan. Sebagai bentuk permintaan maafku. Please."
"Apapun juga, deal?" Katanya mulai tertarik.
"Deal!"
Tasya menyambut uluran tangan James, tanda menyepakati ajakannya.
"Oke! Yuk, pakai motorku aja!" Serunya.
~~
Ada perasaan aneh yang timbul saat Chris melihat Tasya saat itu. Tasya sedang mengobrol dan tertawa lepas dengan seorang pria.
"Wah, itu anak yang dikelas praktikummu, kan?" Tanya Vani.
Vani mengikuti Chris saat ia hendak menuju gedung fakultas untuk meminjam proyektor.
'Apa itu pacarnya?'
"Jangan-jangan itu pacarnya? Eh, itu kan anak fisika yang terkenal ganteng itu. Hahaha, pakai pelet apa dia makanya bisa pacaran dengan anak itu. Padahal tampilannya dekil begitu."
"Bisa tidak, kamu tidak menebar kebencian begitu?"
Chris merasa tersinggung dengan perkataan Vani.
"Loh, kan memang benar. Aku tidak menjelekkan, tapi itu memang fakta. Tunggu dong, Chris! Aku ikut temani kamu ke fakultas." Dia memegang tangan Chris agar tidak ketinggalan.
"Aku bisa sendiri. Terima kasih!"
Chris melepaskan tangan Vani dan meninggalkannya pergi.