"Haaa.., kenapa aku memikirkan Tasya terus? Did I fall in love with her? But how could that be?"
Chris mengacak-acak rambutnya dengan gusar. Chris merasakan sedikit kecemburuan saat melihat Tasya berduaan dengan laki-laki tadi. Ia menutup buku pelajarannya, mengambil jaket dan kunci motornya.
'Mungkin aku bisa mendapatkan jawabannya ketika melihatnya nanti.'
~ ~
"So..?" Tere menaikkan sebelah alisnya mengintrogasi Nadya.
"So, what? Aku dan James tidak ada apa-apa sama sekali."
Nadya dan Tere datang ke cafe tempat Nadya bekerja hanya untuk menanyakan apa yang ia lakukan dengan James tadi siang.
"Jadi, kenapa tadi dia narik tanganmu pergi begitu?" Tanya Nadya ingin tau.
"Aku juga tidak mengerti, Nad. Dia hanya bilang tadi memang ingin menemuiku, tetapi fans-fansnya tiba-tiba datang mengerumuninya."
Tasya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Nadya dan Tere sambil memperhatikan meja paling ujung cafe. Ia memperhatikan bahwa Hana, salah satu pegawai sepertinya, terlihat tertekan saat menanyakan pesanan dari dua orang pria sekitar 40 tahunan di meja itu.
"Menemuimu untuk apa? Bukannya urusan kalian kemaren sudah selesai?"
"Iya, benar. Dia hanya bilang ingin mengajak makan siang bersama. Tadi kenapa kamu susah dihubungi sih, Nad?"
"Waktu di lab kan, sudah kubilang kalau bateraiku lowbat. Aku tadi langsung menelepon Tere, karena panik melihatmu ditarik begitu. Ujung-ujungnya yah, hapeku padam."
"Jadi, kamu mengajaknya ke rumah nenek, Sya?"
"Iya. Hmm, tunggu sebentar."
Tasya bangkit dari kursinya dan hendak menghampiri Hana. Ia melihat salah seorang dari laki-laki tadi mulai melakukan pelecehan kepada Hana saat memberikan pesanan mereka. Hana terlihat ketakutan karenanya.
"Pak, bisa tidak tangannya dijaga! Kami bisa menuntut bapak kalau bapak seperti ini." Kataku dengan suara yang cukup kuat.
Hana bersembunyi takut di belakang Tasya. Beberapa orang yang berada tidak jauh dari sini mulai memperhatikan.
"Hahaha, apa hakmu mengatur-ngatur kami? Kamu hanyalah seorang pelayan disini." Mereka berdua tertawa dan tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun.
"Pak, meskipun bapak orang yang dipandang di negara ini, kalau bapak tidak menjaga perbuatan bapak, bapak sama saja seperti MANUSIA b***t yang tidak ada artinya sama sekali."
Salah seorang dari mereka terlihat terpancing dengan perkataan Tasya. Dia berdiri dan hendak menamparnya. Tasya hendak bersiap untuk menangkis tamparan itu, tetapi sudah ada seseorang yang melakukan itu untuknya.
"APA-APAAN KAMU!" Dia berteriak dan terlihat kaget karena tindakannya dihentikan seseorang.
"Bapak bisa pergi ke rumah bordil jika ingin melakukan tindakan asusila. Bapak mau saya antar?"
"b******n, jangan asal menuduh kamu!"
"Mohon maaf, pak. Lebih baik bapak keluar dari cafe kami! Bapak sudah membuat keributan dan ketidaknyamanan disini." Kata manajer cafe yang baru saja datang menghampiri.
Nadya dan Tere juga mulai datang menghampiri.
"Iya, benar! Aku juga lihat memang dia sudah melakukan tindakan pelecehan dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas." Kata seseorang pengunjung.
"Iya, benar! Aku juga melihatnya!" Teriak pengunjung yang lain.
Kedua orang tersebut mulai terpojokkan, mereka mengambil tas mereka dan keluar dari cafe sambil diteriakin pengunjung lainnya.
"Haaa.., kamu tidak apa-apa Tasya?"
Chris membalikkan tubuhnya, memandang Tasya dengan khawatir.
"Eh, ya. Aku tidak apa-apa kak. Terima kasih."
"Syukurlah." Chris tersenyum lega.
DEG
Tasya merasakan sedikit getaran di dadanya saat melihat senyum Chris.
"Hana bagaimana?" Tanya manajer.
"Iya, gapapa, pak." Jawabnya. Dia masih terlihat sedikit gemetar karena kejadian tadi.
"Kamu boleh menenangkan diri dulu di dalam ruangan staf. Kamu juga Tasya."
"Tidak apa-apa, pak! Saya lanjut bekerja saja."
"Baiklah. Kepada semuanya, kami mohon maaf atas ketidaknyamanannya!" Katanya yang dibalas dengan seruan pengunjung lainnya.
"Terimakasih karena sudah melindungi pegawai saya, kamu boleh memesan apa saja secara gratis." Katanya kepada kak Chris.
"Tidak, pak. Terima kasih. Saya hanya melindungi Tasya saja."
"Baikklah, saya tinggal dulu."
"Hmm, bagaimana kalau kita duduk di meja tadi sambil bercerita sebentar?" Usul Tere.
Mereka semua kembali kemeja semula, Chris mengikuti dari belakang.
"Oia, kak. Ini Tere temanku, mahasiswa kampus kita juga, jurusan Manajemen keuangan."
Chris bersalaman dengan Tere.
"Halo, kak Chris. Tadi habis darimana?" Tanya Tere memecah kecanggungan yang ada.
"Dari apartemen." Jawabnya singkat dan terlihat tidak tertarik untuk mengobrol.
Tasya memperhatikan tangan Chris, dia tidak terlihat memegang pesanannya.
"Kakak tadi memesan sesuatu?"
"Ahh, iya. Tadi aku memesan cappucino coffee, tetapi belum kuambil."
"Tunggu sebentar kak, biar aku ambil."
Tasya pergi mengambil pesanan Chris dan membawanya kembali.
"Thanks, Sya! Kalau begitu aku pulang dulu, yah." Katanya sambil memandang kepada Nadya dan Tere untuk berpamitan.
"Oke, hati-hati, kak!" Senyum Tere.
"Eh, biar kuantar ke depan." Tasya berdiri dari kursinya.
"Kak Tasya!" Seseorang anak berteriak dan memeluk kakinya.
"Hai, Valen! Apa kabar? Sama siapa kesini?" Tasya mensejajarkan tingginya dengan Valen.
"Sama kak James, kak! Itu dia."
"Hai, Sya! Hai Nadya dan Tere. Hai..?" James mengangkat tangan kirinya dan menyapa semuanya, termasuk Chris.
"Kenalin ini kak Chris, dan ini James."
"Wah, semuanya sedang berkumpul yah! Kamu bekerja disini, Sya?"
"Ya, begitulah. Mau membeli apa?"
"Aku mau beli kue coklat, kak! Hari ini aku ulang tahun." Valen menjawab pertanyaan Tasya sambil tersenyum lebar.
"Aduh, lucunya kamu!" Seru Nadya dan Tere barengan sambil mencubit pipi Valen gemas.
"Selamat ulang tahun, Valen." Kata Tasy sambil mengusap-usap rambut Valen.
"Engg, aku permisi dulu." Seru Chris terlihat canggung.
Tasya mengikuti Chris keluar Cafe.
~~
"Hati-hati di jalan yah, kak! Terima kasih tadi sudah menolongku."
"Sama-sama. Aku juga senang bisa menolongmu."
"Nanti kalau sudah sampai, kabarin kak! Takutnya, nanti kakak bertemu dengan dua orang tadi." Tasya terlihat khawatir.
Chris tersenyum melihatnya, tangan Chris mulai bergerak mengusap kepala Tasya tanpa perlu diperintah.
"Iya. Aku pergi dulu!"
"Bye, kak!"
Chris beranjak pergi dan melihat ada seseorang yang memperhatikan mereka dengan tatapan tajam dari dalam cafe.