James memperhatikan Tasya yang sedang sibuk melayani pelanggan yang datang mengunjungi cafe. Wajahnya terlihat sangat serius saat bekerja, menambah pesona dari dirinya. Sesekali dia melemparkan senyum kepada para pelanggan saat mencatat pesanan atau saat mengantarkan pesanan.
'Ternyata dia bisa tersenyum lepas begitu sama orang asing.'
James kembali teringat kepada orang yang bernama Chris. Ia masih mengingat bagaimana cara dia memandang dan cara memperlakukan Tasya. Instingnya mengatakan jika Chris juga mempunyai perasaan kepada Tasya. James penasaran bagaimana hubungan antara Tasya dan orang tersebut.
"Btw, does she have a boyfriend?"
James sengaja berbahasa Inggris supaya Valen tidak mengetahui pembicaraan mereka. Valen terlihat sibuk menikmati kue ulang tahunnya.
"Who? Ahh, Tasya?" Tere sepertinya mengerti arah pembicaraan James.
"Ya."
"Tidak, kenapa? Wanna be her boyfriend, huh?" Jawab Tere. Nadya mulai menatap James tajam. James tau kalau mereka bertiga sangat bersahabat dekat.
"Tidak boleh! Kak Tasya pacarnya Valen!"
James terkejut melihat adiknya yang mengerti arti dari pembicaraan mereka.
"Hahaha, sainganmu berat, nih!" Sindir Tere.
"Hey bro, memangnya kamu tahu apa yang sedang kami bicarakan?" Tanya James, yang masih tidak menyangka kepada kemampuan bahasa Inggris Valen.
"Tentu saja aku mengerti. Kak James bertanya, apakah kak Tasya punya pacar, kan? Terus mau jadi pacarnya, kan?"
"Hahaha." Nadya dan Tere tertawa bersamaan.
's**t! Sudah sampai mana bocah ini mengerti berbahasa Inggris?'
Biasanya James akan berbicara suatu hal berbau dewasa atau personal menggunakan bahasa Inggris saat Valen berada di ruangan yang sama dengannya.
"Hey, pada ngobrolin apa? Sepertinya seru." Tasya menghampiri meja kami.
"Kak Tasya! Kakak sudah selesai kerjanya?" Sambut Valen girang.
"Hehehe, belum Valen. Sekitar jam 11, baru kakak selesai kerja. Gimana kuenya, enakkan?"
"Enak, kak!"
James mengakui kalau kue yang dijual di cafe tersebut memang enak dan harganya juga tidak terlalu mahal. Suasana cafe tersebut terasa sangat hangat nyaman. Selain kue, cafe tersebut menjual es krim dan beberapa jenis minuman lainnya.
"Valen mau es krim? Kakak kasih gratis deh, karena Valen sedang berulang tahun."
"Terima kasih kak, lain kali aja kakak traktir Valen. Sudah terlalu malam untuk menyantap es krim, lagian nanti Valen jadi gemuk dan tidak ganteng lagi. Kakak nanti tidak tertarik kepada Valen."
'Hahaha, lihatlah betapa mudahnya bocah ini mengutarakan perasaannya.'
James merasa sedikit kecemburuan terhadap Valen dengan kepolosan seorang anak, yang bisa berkata apa saja tanpa takut kalau lawan bicaranya merasa tersinggung. Bagaimana orang masih akan memakluminya karena dia masih anak-anak.
"Haha, Valen.."
"Iya, tau kak! Tapi siapa tau nanti kakak berubah pikiran saat melihat Valen dewasa nanti. Valen pasti menjadi laki-laki yang tinggi, tampan, pintar dan berprestasi."
Valen memotong perkataan Tasya. Valen masih ingat bagaimana Tasya menolaknya waktu itu dan juga penjelasan dari penolakannya.
"Ini anak, memang yah! Nikmati saja dulu masa menjadi anak-anak, belajar yang benar. Masih jauh waktunya untuk berpikir masalah percintaan."
James menggamit leher Valen dan mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Nadya, Tere dan Tasya hanya tertawa melihatnya. Valen meronta-ronta minta dilepaskan dari rangkulan James.
"Aku bukan anak kecil! Jangan lakukan ini kepadaku!" Teriak Valen. Wajahnya terlihat merah setelah terlepas dari James.
"Ya, you are still a little boy." Seru James.
"I am not." Gerutu Valen.
"Dont worry, you are cute!" Seru Nadya.
"I know!" Jawabnya dengan percaya diri.
~~
James meletakkan Valen di bangku depan mobil, lalu memasangkannya sit belt. Wajah Valen tertidur begitu tenang, padahal sebelumnya dia berusaha keras menahan kantuknya demi menunggu Tasya pulang.
"Melihatmu tertidur pulas begini, aku malah ingin menjahilimu."
"Oke, bye Nadya, bye Tere! Hati-hati yah!"
James menoleh kebelakang dan melihat mereka bertiga saling berpamitan untuk berpisah. Nadya pulang bersama dengan Tere, sementara Tasya pulang dengan motornya.
"Tasya!" Teriak James.
Orang yang dipanggil menoleh dan berjalan ke arah sumber suara.
"Lho, kamu belum pulang? Valen mana?"
"Itu, ada di dalam, lagi tidur."
Tasya langsung menghampiri Valen yang tertidur di dalam mobil, dia menurunkan bangku mobil itu supaya posisi tidur Valen lebih nyaman. Selain pekerja keras dan bertanggung jawab, hari ini James juga melihat sisi keibuan dari Tasya, yang mungkin tidak disadari oleh Tasya. Hal itu membuatnya teringat kembali dengan pertanyaannya yang belum dijawab oleh Nadya dan Tere, James beneran ingin tau tentang hubungan Tasya dengan Chris.
"Tidur yang nyenyak Valen. Selamat ulang tahun." Kata Tasya sambil membelai rambut Valen.
Degg
James merasa debaran jantungnya bertambah cepat.
'Aku beneran suka sama Tasya? Jangan-jangan ini cinta?'
"Hmm, sya. Kak Chris tadi itu siapa(mu)?"
"Oh, kak Chris. Dia asisten lab kimia organik kelasku. Hmm, terima kasih sudah datang ke kafe hari ini."
"Haha, seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih karena sudah memeriahkan ulang tahun Valen, dia terlihat bahagia hari ini. Sebelumnya aku tidak tau kamu bekerja disini."
"Kenapa tidak dirayakan bersama orang tua atau keluarga lainnya di rumah?"
"Kedua orang tua kami sedang kerja di luar kota. Aku membawanya keluar membeli kue, supaya dia tidak merasa sedih lagi."
"Uuhh, kakak yang baik." Sindirnya.
"Hahaha, apaan sih?" James mencubit pipi Tasya gemas, Tasya sedikit terkejut dengan itu.
"Aah, yuk pulang! Aku akan mengikutimu dari belakang."
"I..iiya." Tasya memakai helm yang sedari tadi dipegangnya.