Bab 16 - Degup Jantung

937 Kata
Tasya sedang melakukan jogging ringan di sekitar rumahnya, hari itu ia bangun terlalu pagi.  'Sesekali bangun pagi begini ternyata enak juga.' Tasya menghirup udara sedalam-dalamnya. Meskipun jam tidurnya kurang, ia tidak merasa menyesal telah bangun lebih awal untuk menikmati udara dan hangatnya mentari pagi itu. Di tengah aktivitas joggingnya, Tasya bertemu dengan seorang ibu. Ia yakin bahwa itu adalah ibu Nana, seseorang yang pernah ia jumpai waktu di persimpangan jalan saat hendak bekerja. Tasya menghampiri ibu tersebut dan menyapanya. "Pagi ibu Nana!"  Wanita itu mendengar dan melihat ke arah Tasya, beliau sempat berpikir sekian detik sebelum akhirnya membalas sapaan Tasya. "Hai, nak! Kamu yang kemarin di persimpangan jalan itu, kan? Siapa namamu?" "Iya, bu. Namaku Tasya. Aku bantuin ya, bu!"  Tasya membantu ibu Nana mengumpulkan sampah di pinggir jalan raya, kemudian memasukkannya ke dalam gerobak sampah. "Rumah ibu di daerah mana?" "Itu rumah kecil yang ada disitu, di dekat apartemen." Ibu Nana menunjuk jalan yang beliau maksud. 'Dekat apartemen? Berarti apartemennya kak Chris?' "Pagi, Bu! Ini Chris bawa makanan." Baru saja Tasya menyebut nama Chris di dalam hatinya, orang tersebut kini sudah berada di hadapannya. "Lho, Tasya kok kamu disini?" "Iya kak, tadi habis jogging terus ketemu dengan ibu Nana." "Kalian sudah saling kenal?" Tanya ibu Nana penasaran. "Iya bu, kami satu jurusan di kampus." Jawab Tasya. "Wah, udah satu kampus, rumahnya juga dekatan, nanti kalian jodoh, lho!" Kata ibu Nana sambil tersenyum. "Aduh, bu. Gak mungkin kak Christian yang ganteng dan pintar ini berjodoh denganku. Aku gadis dekil, gak mungkin kak Chris menyukaiku. Hahaha." "Kata siapa? Aku menyukaimu, kok!"  "Ha?" Tasya terlihat terkejut mendengar respon dari Chris. Tasya terlihat salah tingkah. "Tuh, yang bersangkutan aja tidak keberatan. Yaudah ya, kalian pergi sarapan bersama, ibu mau lanjut kerja dulu. Terima kasih atas makanannya nak Chris." "Sama-sama, Bu. Selamat bekerja!" Ibu Nana pergi meninggalkan Chris dan Tasya.  "Hmm, kak. Aku pulang dulu, yah!" "Kenapa kamu terlihat seperti menghindariku?" "Eh, bukan kak! Aku tidak menghindari kakak. Hehehe.." Tasya terlihat salah tingkah dan tidak tau harus berkata apa ke Chris. Dia hanya mengalihkan matanya dan mengusap bagian belakang kepalanya. "Kamu hari ini masuk jam berapa?" "Jam 10, kak." "Aku juga jam 10. Yuk, sarapan bersama dulu!?" ~~ Tasya dan Chris mempunyai menu yang sama untuk sarapan, yakni sarapan roti. Namun saat keluar tadi, Chris hanya berniat untuk memberikan makanan ke ibu Nana lalu kembali pulang ke apartemennya. Oleh karena itu, ia tidak membawa uangnya. Begitu juga dengan Tasya. Akhirnya Chris mengajak Tasya untuk sarapan di Apartemennya, dia mempunyai roti yang bisa diolah untuk dijadikan sarapan. "Yumm, enaknya!" Seru Tasya saat menyantap rotinya. Dia terlihat tidak canggung lagi seperti tadi. "Syukurlah kamu suka." Chris tersenyum melihat Tasya makan dengan lahap.  "Peralatan masak kakak lengkap juga." "Ya, lumayan. Sebisa mungkin aku menyempatkan diri untuk memasak." "Berarti kakak sering mengundang teman juga ke apartemen? Kan seru tuh, kumpul bareng teman terus masak bareng." "Tidak. Aku tidak pernah mengajak seorang pun kesini. Kamu yang pertama." "Wah, suatu penghargaan ini! Hahaha." Dia tertawa canggung dan memilih meneruskan untuk menyantap rotinya. Sebenarnya Chris juga salah tingkah ketika ibu Nana mengatakan kalau mereka berdua berjodoh. Ia tidak bisa menyangkal bahwa Tasya telah berhasil mengusik pikirannya beberapa hari ini. Hanya saja dia sudah terlatih untuk menyembunyikan perasaannya sejak dulu. Chris mau mendekati Tasya dengan perlahan. Ia tidak ingin Tasya merasa terbebani atau tidak nyaman dengan kehadirannya. "Kakak memang sering memberikan makanan ke ibu Nana?" Tanyanya lagi untuk memecah kesunyian diantara kami. "Hanya sesekali. Kamu kok bisa kenal dengan ibu Nana?" "Ooh, kemarin tidak sengaja bertemu di persimpangan jalan saat mau ke kafe, kak." "Oh, gitu. Kabar Popo anjing kecil kemaren, gimana? Jadi kamu bawa kerumahmu?" "Jadi, kak! Rencananya hari Sabtu minggu ini, aku mau ke rumah Nadya untuk mengambilnya." "Oke. Kita barengan aja mengambil Popo. Nanti kamu kabarin kalau mau berangkat, aku juga ingin tau gimana kabarnya." Chris mencari alasan agar Tasya tidak menolak ajakannya. Chris tau kalau Tasya bukanlah orang yang suka meminta pertolongan dari orang lain, dia tidak suka untuk membebani orang lain. "Ya, uhm.., baiklah." Jawabnya. "Aku boleh bertanya sesuatu?"  "Ya, apa itu?" Tanya Tasya yang kemudian mengambil gelasnya untuk minum. "James itu pacar kamu?" "Uhukk..kk.." Tasya tersedak mendengar pertanyaan Chris. Dia menenangkan diri terlebih dahulu sebelum menjawab. "Tidak, aku dan James tidak pacaran. Aku, Nadya dan Tere yang kemaren kukenalkan ke kakak, ternyata dulu pernah satu sekolah saat SMA. Dia dekat dengan Nadya karena mengambil kegiatan yang sama. Aku sendiri tidak ingat kalau Nadya pernah mengenalkan James dulu, hingga akhirnya bertemu kembali karena aku meminjam kaos kakinya." Tasya menjelaskannya dengan lengkap. James tertawa karena mendengarkan penjelasan Tasya. "Hahaha." "Hahaha. Penjelasanku terlalu panjang, yah?" Dia ikut tertawa. "Iya, tetapi aku senang karena kamu tidak pacaran dengannya." Kata James sambil menatap mata Tasya lekat. Seketika itu juga wajah Tasya memerah. Itu adalah suatu kelemahan memiliki kulit putih, tidak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya ketika malu. Tasya mengeluarkan hape dari sakunya. "Uhm, sepertinya aku harus pulang sekarang, kak." Dia berdiri. "Mau kuantar?" "Ahh, tidak usah kak, aku pulang sendiri aja. Tidak jauh juga. Aku pulang dulu." "Tunggu..." Chris menahan tangan Tasya pergi. "Jangan lupa hubungi jika mau menjemput Popo!"  "O..oke, kak. Uhm, aku mau pakai sepatu dulu." Chris melepas genggamannya. Tasya memakai sepatu olahraganya dengan cepat. "Makasih atas sarapannya, kak! Nanti aku hubungi jika jadi menjemput Popo." "Oke, hati-hati yah!" "Bye, kak!" Dia pergi menjauh dengan langkah panjang dan cepat. Chris kembali masuk ke dalam apartemennya dan mengunci pintunya. Dia terjatuh dan langsung menutup wajahnya yang terasa panas. "Wah.. kamu mulai berani, Chris!"  Chris merasakan debaran jantungnya berdegup cepat. "Tenanglah kamu wahai jantung! Tugasmu masih jauh, hahaha." Dia tersenyum sendiri, senyum orang yang sedang jatuh cinta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN