"Saya senang sekali bapak mau makan bersama dengan keluarga kami." Kata Pak Hendrawan, ayah James.
Hari ini, keluarga Hendrawan sedang makan bersama sekaligus beramah tamah dengan keluarga Santoso, rekan kerja barunya. Ayah James berniat untuk membuka cabang dari perusahaannya.
"Hahaha, kami sekeluarga juga senang telah diundang keluarga Hendrawan. Ini anak pertama kamu?" Tanya Pak Santoso sambil menyantap makanannya.
James merasa risih dengan pertanyaan itu, ia sudah dapat memperkirakan kemana arah pembicaraan mereka selanjutnya.
"Iya, bener. Ini anak pertama kami, James."
"Nama yang bagus, kamu juga anak yang tampan. Kamu jurusan apa? Semester berapa?"
"Semester tiga, jurusan fisika, Om!"
"Wah, jurusan fisika. Kamu anak yang pintar dong. Udah tampan, pintar lagi. Kamu sudah punya pacar belum? Tante punya anak gadis namanya Santi yang baru masuk kuliah, dia jurusan hukum." Kata Bu Santoso.
"Pasti Santi anaknya juga cantik yah, seperti ibunya. Hahaha." Puji Bu Hendrawan.
"Itu tentu saja, sayang!" Seru pak Hendrawan.
"Jadi, gimana James? Kamu nanti bakal bekerja sesuai jurusanmu atau meneruskan perusahaan ayahmu?" Pak Santoso bertanya kepada James, namun hal itu dijawab oleh Pak Hendrawan.
"Tentu saja sebagai putra pertama, James akan meneruskan perusahaan kami."
"Bagus dong itu! Tunggu sebentar!"
Pak Santoso pergi menjauh dari meja dan tampak beliau sedang menjawab panggilan masuk dari hapenya. Ibu Santoso memulai lagi pembicaraan, untuk mengisi kekosongan yang ada.
"Hmm, kalau James jadi menantu kami, sepertinya itu bakal lebih bagus lagi." Kata Bu Santoso.
"Saya.." Baru saja James hendak membalas perkataan bu Santoso, ayahhnya sudah memotong terlebih dulu.
"Tentu saja kami akan senang jika bisa menjadi besan keluarga Santoso." Senyumnya girang.
"AYAH!" James terlihat mulai gusar.
"Hmm, sepertinya kami harus pergi dulu, pak Hendrawan. Ada urusan yang harus kami kerjakan."
Pak Santoso kembali ke meja dan mengajak istrinya untuk berpamitan pergi. Bapak dan Ibu Hendrawan bangkit dari kursi mereka dan menyalam keluarga Santoso.
"Baik, Pak! Terima kasih telah menyempatkan diri untuk makan malam bersama kami. Kami senang Bapak menerima proposal kerjasama dengan perusahaan kami."
"Tidak masalah, pak! Saya melihat ada potensi di perusahaan Bapak. Oke, baiklah. Kami permisi dulu." Pamit keluarga Santoso.
"Oke, sebaiknya kita menghabiskan makanan kita dulu sebelum pergi." Kata pak Hendrawan.
Bapak dan Ibu Hendrawan kembali duduk, lalu mulai menyantap makanan mereka kembali. James hanya berdiri dan memperhatikan mereka.
"Kenapa masih berdiri? Lanjutkan makan malammu!" Seru pak Hendrawan tegas.
"Ayah.."
"Duduk! Jangan bikin malu!"
James duduk dengan terpaksa, ia mencoba kembali untuk berbicara tentang pembicaraan dengan keluarga Santoso tadi.
"Ayah, aku tidak mau meneruskan perusahaan." Kata James hati-hati.
"Kamu diam saja dan jangan melawan orang tua!"
"Aku bukan bermaksud untuk melawan, tetapi apa ayah pernah sekali saja menanyakan atau mendengarkan pendapat James?"
Pak Hendrawan berhenti menyantap makanannya dan meletakkan sendoknya di atas piring, lalu menatap James tajam.
"Kamu tidak tau apa-apa tentang kehidupan ini, kamu cukup melaksanakan apa yang kuperintahkan!"
"Sayang, sudah, sudah!" Bu Hendrawan mencoba menenangkan suaminya.
"Ayah, aku manusia, bukan robot. Aku juga punya perasaan. Aku juga punya pilihan untuk menentukan hidupku. Aku juga tidak suka ayah dan mama terus membawaku ke acara kalian, memamerkanku, atau berniat menjodohkanku seperti yang barusan kalian lakukan. Aku tau kalian berusaha menjilat rekan kerja kalian." James merasa marah, ia tidak dapat memendam amarah yang sudah ia tumpuk bertahun-tahun.
Kejadian selanjutnya terjadi tanpa James duga. Pak Hendrawan berdiri dari kursinya, mendekat kepada James dan mencengkram kedua pipinya dengan satu tangan. James merasa sakit di kedua pipinya karena kuatnya cengkraman dan tekanan dari kuku beliau. James sudah menduga jika ayahnya akan marah secara verbal, tetapi ia sama sekali tidak menduga jika ayahnya akan bertindak seperti ini di tempat umum. Pak Hendrawan selalu menjaga tindakan dan perkataannya di tempat umum.
"Beraninya kamu berkata seperti itu kepada orang tuamu. Dasar anak kurang ajar!" Beliau semakin menekan wajah James dengan kukunya.
"Cukup, sayang! Kamu sudah melukai wajah anakmu! Kamu juga sudah menarik perhatian banyak orang." Bu Hendrawan menggemgam tangan suaminya dan berusaha untuk melepaskan James dari cengkramannya.
Seolah sadar dengan pandangan dari sekitarnya, Pak Hendrawan melepaskan cengkramannya dari James.
"Ayo kita pergi!" Ajaknya kepada istrinya.
James kembali duduk di kursinya dan merenungkan kembali apa yang baru saja terjadi. Ia memegang pipinya, lalu merasa perih akibat panas dari tangannya saat menyentuh luka tersebut.
"Mas, makanannya sudah dibayar bapak tadi. Apa mejanya sudah bisa saya bersihkan?" Seorang pelayan di restoran itu menghampirinya.
"Ya, silahkan Mas."
Pelayan itu mulai mengangkut piring-piring yang ada di meja. James masih saja duduk di bangku itu.
"Hmm, maaf Mas! Apakah Mas masih ingin duduk disini?"
James memandang wajah pelayan itu, ia tau kalau pelayan itu hendak menyuruh James untuk memesan kembali jika masih ingin duduk disitu.
"Apakah disini menyediakan alkohol?" Tanya James.