Bab 18 - A Little Kiss

584 Kata
Tasya baru saja tiba dirumah, ia sedang memasukkan motornya ke halaman rumah. Ia mengurungkan niatnya untuk menggembok pagar, saat melihat James turun diantar oleh tukang ojol. James tersenyum lepas saat bertemu dengan Tasya. "Hey, Tasya!" "Why did you come here? Ada apa dengan wajahmu? Ugh, kamu bau alkohol."  Tasya membuka gerbang pintu rumahnya dan mengajak James untuk masuk. Kini mereka sedang duduk di bangku taman. "Tunggu sebentar! Aku ambil minum sama kotak p3K dulu." Tasya berlari masuk ke dalam rumah. Ketika ia kembali ke halaman rumahnya, ia mendapati James sedang membenamkan wajahnya ke lutut yang ia tekuk. "Nih, James minum dulu airnya!" James mengangkat wajahnya, lalu mengambil gelas yang diberikan Tasya dan langsung meminumnya habis. "Thanks, Sya!" Dia tersenyum dipaksakan. Tasya duduk di sebelah James, lalu membersihkan wajahnya dengan alkohol kemudian mengoleskan betadine ke wajah James. "Ada apa? Kamu bisa cerita kalau kamu mau." Kata Tasya sambil memberi olesan terakhir ke luka wajah James. "Hmmm." Dia hanya menggumam tanpa melanjutkan ceritanya. Tasya tidak bertanya kembali kepada James. Ia hanya duduk dalam diam di sebelah James, menunggu sampai James mau membuka dirinya untuk berkata. "Aku baru saja bertengkar dengan ayahku." Akhirnya James membuka mulutnya. Tasya memilih untuk diam dan menunggu James menyelesaikan kalimatnya. "Ha.., apa aku tidak punya hak untuk memilih apa yang ingin aku lakukan untuk hidupku, ya?" Dia tersenyum getir memandang Tasya. "Hmm, well. Aku tidak tau bagaimana permasalahan kalian dengan lengkap, namun aku tau kalau ini berat buatmu." Tasya berhati-hati memilih kata yang ia ucapkan. Tasya memperhatikan mimik wajah James sebelum melanjutkan pembicaraan mereka.  "Kamu berhak melakukan apa saja dalam hidupmu, that's your life. Tetapi ingat, orang tua tidak pernah punya maksud buruk terhadap anaknya."  James terlihat sedikit bergetar. Tasya meletakkan tangannya di atas tangan James. "Mungkin mereka dulu punya struggling yang hebat sewaktu seumuranmu. Mereka tidak mau kamu merasakan apa yang pernah mereka rasakan dulu. Kalian hanya perlu mengobrol dengan tenang, redam segala emosi. Jika memang kamu sudah memiliki pilihan dalam hidupmu, kamu hanya perlu bekerja keras dan meyakinkan mereka bahwa apa yang sudah kamu pilih itulah yang terbaik dan tidak ada penyesalan sama sekali." Tikkk Setitik air mulai menetes di wajah James.  "Hahaha, ternyata memang benar pilihanku untuk bertemu denganmu." James tersenyum, lalu mengelap air mata dari wajahnya. James menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya.  "Thanks untuk waktunya! Sudah waktunya untuk pulang." "Biar kuantar!" Tasya menawarkan diri karena khawatir melihat kondisi James yang sedang dibawah pengaruh alkohol. "Tidak usah! Aku bisa pulang sendiri." James berdiri dan berjalan limbung. Tasya langsung menahan tubuh James biar tidak jatuh. "Tuh, kan! Sebentar, aku keluarkan motor dulu." Tasya membantu James berjalan sampai ke depan gerbang, kemudian kembali untuk mengeluarkan motornya. Mengunci pagar, kemudian membantu James untuk duduk di motornya. "Hahaha, akhirnya aku merasakan dibonceng kamu!" Kata James meracau. "Sialan! Kamu harus mentraktirku makan nanti, pegangan yang benar!" "Siap, bos!" Sahut James Tasya melingkarkan tangan James di pinggangnya lalu melajukan motornya. Sesampainya dirumah James, Tasya mengalungkan sebelah lengan James kelehernya untuk membantu James berjalan sampai ke depan pintu rumahnya.  Dengan susah payah akhirnya Tasya sampai ke depan rumah James, lalu menekan tombol bel yang ada di pintunya.  Tasya sudah merasa kelelahan, ia merasa beban tubuh James terasa semakin berat. Tasya kehilangan keseimbangan dan terhuyung jatuh , tertimpa James yang sedang dipapahnya. Wajah James begitu dekat dengan wajahnya dan kedua pandangan mata mereka saling bertemu. Tasya merasakan wajah James semakin mendekat kepadanya, menghimpitnya dalam ketidakleluasaan yang tidak nyaman. Seketika saja James memegang kedua pipi Tasya untuk menahan wajahnya, lalu mencium lembut bibir Tasya.  "I love you, Tasya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN