Sinar mentari pagi masuk ke dalam kamar James, saat Valen menyibakkan tirai. James mengernyit silau, dengan refleks menutupi wajahnya dengan selimut.
"Udah siang kak! Ayo bangun!" Teriak Valen, menarik selimut yang menutupi wajah James.
"Ughhh, jam berapa sih?" James memijat mijat kepalanya yang mulai terasa sakit.
"Ini sudah jam 12, untung saja ini hari Sabtu. Ughh, kakak habis ngapain sih? Berantakan benar, mandi gih!"
Valen meninggalkan James yang masih memijat-mijat kepalanya. Sebelumnya, James sudah pernah minum alkohol, tetapi hanya sekedar mencicipi, tidak sampai mabuk seperti ini.
"Masih pening kepalanya, James?" Bibi masuk ke dalam kamar James.
Karena sering ditinggal kerja oleh orang tuanya, James sudah menganggap Bibi seperti keluarganya.
"Masih, Bi!"
"Ada apa, James? Ribut sama Ayah?" Bibi tau kalau semalam James pergi makan dengan kedua orang tuanya.
"Begitulah, Bi. Mereka gak lihat James pulang dalam keadaan mabuk kan, Bi?"
"Untungnya tidak, tuan dan nyonya langsung masuk kamar begitu sampai di rumah. Mungkin mereka langsung tidur, karena tadi pagi mereka buru-buru pergi. Katanya ada pertemuan penting."
James menarik napas lega. Baru kali ini dia merasa bersyukur memiliki orang tua yang tidak mempedulikannya tiba di rumah jam berapa.
"Kamu tidak ingat, siapa yang mengantarmu semalam?" Tanya Bibi.
"Tukan ojol kan, Bi? James ingat semalam ada pesan ojol saat pulang."
"Bibi tidak tau ceritanya gimana, tetapi yang mengantar kamu semalam itu neng Tasya."
James terdiam, kaget mendengar nama Tasya disebut.
"Kamu tidak ingat? Kamu sudah bikin kesalahan besar sama neng Tasya."
"Kesalahan apa, Bi?"
"Lebih baik kamu mandi dulu, coba segarkan pikiran dan ingat kembali apa saja yang sudah kamu lakukan semalam. Bibi mau ke dapur dulu, membuat minuman untuk pereda mabukmu." Kata Bibi lalu keluar dari kamar James.
Sepeninggal Bibi, James belum juga beranjak dari tempat tidurnya. James mencoba mengingat kembali, apa saja yang mulai terjadi saat ia makan bersama kedua orang tuanya dan juga keluarga Santoso.
James ingat acara malam itu tidak berakhir dengan baik. Ia ribut dengan ayahnya, hingga akhirnya ia ditinggal pergi begitu saja. Ia ingat kalau ia memesan alkohol di restoran tersebut.
Samar-samar ingatan James mulai muncul. James mulai mengingat kalau ia memesan ojol untuk pulang kerumah, tetapi berhenti di rumah Tasya karena kebetulan melewati rumah Tasya.
James ingat jika ia berbicara dengan Tasya di bangku tamannya, bahkan James ingat mereka berdua berbicara tentang apa.
Ingatan lainnya pun muncul. Tasya memapah James ke motornya, hendak mengantar pulang. James ingat, bagaimana Tasya memapahnya dengan susah payah ke depan pintu rumahnya. Hingga akhirnya Tasya terjatuh dan kejadian itu terjadi.
"Aku mencium Tasya!" James merasa syok dengan ingatannya sendiri.
James sadar kalau ia memang menyukai Tasya, tetapi mencium orang yang disukai karena pengaruh alkohol bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan.
Berbagai pikiran meresahakan mulai menghantui James. Bagaimana James harus berhadapan dengan Tasya ke depannya? Bagaimana jika Tasya berpikiran kalau James sudah melecehkannya?
Apakah James sanggup tidak bertemu dengan orang yang ia sukai, disaat ia baru saja memutuskan untuk mendekati orang tersebut? Membayangkan itu semua saja sudah membuat James merasa mual.
~~
Sesuai janji yang telah mereka buat, Tasya dan Chris menjemput Popo di rumah Nadya. Kini Chris sedang asyik bermain lempar bola dengan Popo, sementara itu Tasya hanya memperhatikan mereka dari jauh dengan tatapan kosong. Chris yang melihat itu pun menghampiri Tasya.
"Hey, ada apa?" Chris menepuk pundak Tasya dengan ringan, membuat Tasya keluar dari lamunan.
"Ehh, gapapa kak!" Jawab Tasya.
"Beneran? Seharian ini kamu terlihat tidak fokus dan kurang bersemangat."
Bagaimana Tasya bisa bersemangat? Semalam Tasya kurang tidur karena memikirkan kejadian semalam di rumah James.
Terkadang Tasya memang berandai andai bagaimana ia akan mendapatkan ciuman pertamanya. Apakah benar perasaannya akan berbunga-bunga, atau akankah ada kupu-kupu kecil yang bergerak di dalam perutnya, seperti cerita di film-film yang ia tonton bersama Nadya dan Tere. Namun hal itu tidak akan terjadi kepadanya, James sudah mengambil ciuman pertamanya dan itu terjadi saat dia dalam keadaan mabuk, hal itu semakin membuat pikirannya semakin buruk.
"Ahh, mungkin karena kurang tidur kak! Hehehe." Jawab Tasya. Ia tidak mungkin mengatakan hal yang mengganggu pikirannya tersebut kepada Chris.
"Kalau begitu, lebih baik kakak pulang dulu supaya kamu bisa beristirahat." Chris beranjak pergi.
"Aduh, maaf kak! Aku tidak ada maksud untuk mengusir kakak." Tasya merasa bersalah.
"Kakak mengerti, ada kalanya memang kita bermimpi buruk sehingga susah untuk tidur. Kamu istirahat dulu, biar nanti semangat bekerjanya." Chris menampilkan senyum yang begitu teduh dan mengangkat rasa bersalah Tasya kepadanya.
"Terima kasih yah, kak! Hati-hati!" Tasya berteriak dan melambaikan tangan kepada Chris. Chris membalas lambaian tangan Tasya dari jauh.