Sore hari pun tiba. Tasya hendak berangkat kerja dengan energi penuh. Perasaan Tasya sudah mulai mendingan, setelah tidur siang selama 2 jam.
"Hey Popo, jaga rumah baik-baik! Aku pergi kerja dulu." Tasya mengelus-elus bulu Popo, anjing itu tampak mengibas-ngibaskan ekornya.
"Tasya!" Seseorang memanggil namanya.
Tasya menoleh ke arah suara tersebut dan ia melihat Chris di depan pagarnya.
"Kak Chris, ada apa? Ada yang ketinggalan?" Tasya membuka pagar rumahnya dan membiarkan Chris masuk ke dalam.
"Gak, gak ada yang ketinggalan. Aku hanya mau mengantarmu pergi kerja."
"Gak usah, kak! Jadi ngerepotin. Aku bisa bawa motor kok, kak! Kakak gak perlu khawatir, tadi aku sudah tidur dulu, jadi keadaanku sudah enakan, kok." Tasya merasa Chris mengkhawatirkan dirinya.
"Aku tau kamu sudah merasa lebih sehat, tetapi aku tetap mau mengantar dan menjemputmu hari ini."
"Memangnya kenapa, kak?"
Chris menatap Tasya dan memberanikan diri untuk menggenggam tangannya. Chris merasa harus mengatakan sesuatu kepada Tasya.
"Karena.. karena, aku ingin lebih dekat dan mengenal dirimu. Boleh?" Kata Chris dengan wajah memerah.
Tasya merasakan sedikit debaran di dadanya. Ia merasa salah tingkah melihat Chris yang biasanya cool dan cuek, kini sedang memohon dengan wajah memerah.
"Bo.. boleh, kak!" Balas Tasya.
James tersenyum dan masih menggenggam tangan Tasya.
"Kalau begitu yuk, aku antar!" Chris menarik tangan Tasya menuju motornya.
"Iya kak, tapi aku harus menggembok pagar dulu." Tasya memandang tangannya yang belum dilepaskan Chris.
"Haha, iya." Chris melepaskan tangannya.
~~
"Makasih ya, kak! Kakak sudah mengantar jemput seharian ini."
Tasya turun dari motornya Chris dan membuka helmnya Chris dengan susah payah.
"Iya, sama-sama." Chris membuka pengait dari helm yang dipakai Tasya, lalu merapikan rambut Tasya.
"Ah, aku masuk dulu yah, kak. Hati-hati di jalan!" Tasya buru-buru hendak masuk ke dalam rumah, ia tidak ingin Chris mengetahui debaran yang ada di hatinya.
"Tunggu.." Chris menahan Tasya pergi.
"A.. aku." Chris menghentikan perkataannya dan memilih untuk memeluk Tasya dengan erat.
"Kak..?" Tasya kaget karena tiba-tiba dipeluk oleh Chris. Tasya berusaha untuk melepaskan dirinya, namun, Chris makin mempererat pelukannya, hingga membuat Tasya mampu mendengar suara jantung Chris yang sedang berdetak dengan cepat.
"Sebentar saja. Izinkan aku memelukmu sebentar saja." Kata Chris lirih di samping telinga Tasya.
Suara lirih Chris membuat udara di sekitar Tasya semakin panas. Tasya merasakan dadanya mulai terasa sesak, karena dekapan Chris yang begitu erat dan lama. Tasya menepuk-nepuk lengan Chris, meminta untuk dilepaskan. Tepukan itu berhasil membuat Chris sadar, kemudian melepaskan Tasya yang mulai terbatuk.
"Maaf." Ucap Chris khawatir.
"Hahaha, kakak hampir membuatku mati karena sesak napas." Canda Tasya.
"Hahaha, maaf." Chris ikut tertawa karenanya.
Death air. Chris dan Tasya kehabisan kata-kata, kecanggungan mulai terasa diantara mereka.
"Sebenarnya aku masih ingin berduaan denganmu, tetapi aku tau kalau kamu sudah mulai lelah karena habis bekerja. Hmm, terima kasih untuk hari ini, selamat beristirahat!"
~~
James sedang mondar-mandir di dalam kamarnya. Seharian Ia berpikir keras bagaimana caranya untuk meminta maaf kepada Tasya, namun tetap masih bisa mendekatinya.
"Baiklah. Besok, aku akan menjemput Tasya dari cafe dan meminta maaf kepadanya."
James melemparkan dirinya ke atas kasur, kemudian menutup wajahnya dengan bantal. James berharap agar hari esok cepat tiba, sehingga Ia tidak merasa uring-uringan lagi seperti hari ini.
'Semoga besok Tasya memaafkanku. Semoga Tasya tidak melarangku untuk mendekatinya. Semoga Tasya menjadi pacarku...'
Wajah James memerah dengan seketika, saat memikirkan jika Tasya menjadi pacarnya.