Mereka memasuki sebuah café dengan interior kaca dan lampu berwarna kuning. Jika saja Alan tidak datang bersama Kiara, mungkin saja suasana itu bisa dikatakan romantis. Alan lalu melirik kearah Kiara yang masih dengan wajah tembok yang minta di paku itu. “Lo kenapa sih? Bad mood ya?” tanya Alan yang mulai tidak tahan di juteki tanpa sebab.
“Iya,” jawab Kiara singkat.
Alan meringis, lalu menggiring Kiara untuk duduk di bagian ujung, di samping jendela setelah sebelumnya menyapa penjaga kasir disana. Tempat yang menurutnya nyaman dan tidak terlalu bising. Tujuan utama mereka datang kesini adalah untuk mengerjakan tugas, dan beruntung Alan mengenal baik pemilik café ini.
“Mau cerita?” tanya Alan ketika keduanya sudah duduk. Mereka duduk berhadapan, menatap satu sama lain.
Kiara menyangga kepalanya dengan tangan kirinya. Moodnya yang sebelumnya baik itu mendadak turun karena mendapatkan ceramah dari Ayahnya tadi sore. “Enak kali ya jadi cowok,” gumam Kiara dengan tatapan kesal dan irinya. Gadis itu menatap Alan tajam, seolah melalui tatapan matanya, ia bisa bertukar tubuh dengan lelaki tampan itu.
Alan mengerutkan keningnya, lalu meggeleng dengan wajah takutnya. Mendapatkan tatapan tajam dari Kiara tanpa tahu keselahannya adalah hal terakhir yang ia inginkan. “Nggak juga. Sebenarnya, Ayah lebih ngekang gue dari pada adik cewek gue,” tutur Alan yang membuat kening Kiara berkerut.
“Kok bisa?” tanya gadis itu bingung.
Kini berganti Alan yang mengerutkan keningnya, lelaki itu menyangga kepalanya dengan kedua tangannya yang ditekuk. Membuat Kiara membatin dalam hati bahwa lelaki itu terlihat begitu menawan dengan posisi imut seperti itu.
“Ayah sangat mempercayai Aliana, berbanding terbalik dengan gue. Aliana bisa dengan bebas keluar malam, sedangkan gue bahkan punya jam malam,” gumamnya.
Kiara menegakkan tubuhnya, menatap tidak percaya pada lelaki yang masih menatapnya dengan wajah antara polos dan lempem itu. “Kok bisa sih?” ucapnya lagi setengah memekik.
“Bisa aja, Ayah gue punya pemikiran kalau anak lelaki lebih berbahaya daripada anak perempuan. Dan gue dulu emang nakal banget sih, tapi sekarang sudah tobat,” ucap Alan dengan posisi yang sama. “Ayah gue emang agak aneh, dia punya prinsip yang unik, tetapi gue rasa emang berhasil sih. Gue dikekang dengan aturan yang sebenarnya nggak terlalu berat, lalu adik gue dibebaskan oleh Ayah, tapi dikekang sama gue,” kekeh Alan di akhir kalimatnya. Lelaki itu tiba-tiba mengingat bagaimana ia selalu mengekang dan mengomeli Aliana sebagai bentuk balas dendamnya.
“Lo sayang banget ya sama keluarga lo,” gumam Kiara dengan tatapan iri. Gadis itu bisa membayangkan bagaimana menyenangkannya bisa tinggal dalam keluarga Alan.
Alan mengangguk dengan seulas senyum di bibirnya, lelaki itu lalu menegakkan tubuhnya. Menyandarkan dirinya pada sandaran kursi yang terlihat nyaman itu. “Iyadong, kan seharusnya emang gitu.”
Kiara terdiam, menunduk sebentar sebelum mengangkat kepalanya. “Kalo lo emang sayang sama keluarga lo, harusnya lo nggak malas-malasan kayak ginikan?” ujar Kiara dengan pandangan skeptis. “Lo nggak bakalan bisa lulus tepat waktu, dan bakal terus-terusan ngabisin uang Ayah lo,” Kiara menatap Alan dengan padangan tajam. Sesungguhnya gadis itu hanya iri dengan segala kebebasan yang dimiliki Alan. “Lo nggak berguna,” lanjutnya lagi.
Alan meringis, mulut Kiara sudah kembali tajam seperti sebelum-sebelumnya. Dan ialah yang selalu terkena sasaran dari mulut manis bin sadis gadis itu. Dalam hatinya, Alan tahu bahwa gadis itu hanya sekadar mengalihkan percakapan mereka sebelumnya.
Alan hanya mengangguk-angguk kecil, lalu tersenyum maklum. Lelaki itu nampaknya sudah sangat terbiasa dengan mulut pedas Kiara. “Lo mau pesan apa?” ujarnya sembari menyodorkan buku menu pada gadis itu. “Gue yang traktir,” imbuhnya.
Kiara mencebikkan bibirnya karena Alan tidak membalas perkataannya. Gadis itu lalu menujuk salah satu gambar makanan yang nampak begitu menggoda. “Ini,” jawabnya tanpa melihat kearah Alan.
“Nggak pilih yang ini aja? Yang ini lebih enak,” Alan menunjuk gambar ayam dengan bumbu blackpepper yang terlihat pedas.
“Itu pedas,” gumam Kiara tidak suka.
“Ini nggak pedas,” kukuh Alan meyakinkan.
“Nggak! Gue pilih yang tadi saja, minumnya es teh,” ucap Kiara dengan wajah cemberut.
Alan menghela napas pelan, “Oke…” jawabnya menyerah lalu berdiri dari kursinya. Lelaki itu lalu berjalan kearah kasir, berucap sembari menatap kearah Kiara beberapa kali lalu masuk kedalam pintu kayu setengah badan yang diperuntukkan khusus pegawai.
Kiara mengerutkan keningnya, menunggu sekembalinya Alan dari sana. Namun, lelaki itu tak kunjung kembali, sampai beberapa orang pegawai membawa nampan dan menyapanya dengan senyuman yang kelewat ramah.
“Pacarnya Mas Alan ya mbak?” tanya lelaki yang menggunakan kemeja pegawai itu.
“Bukan, gue temennya,” jawabnya, menatap bingung kearah pegawai yang terlihat mengenal Alan itu.
“Wah, tumben Mas Alan bawa temen cewek,” godanya.
“Alan-nya ke toilet ya mas?” tanya Kiara tidak sabar. Ia cukup tidak nyaman dengan kehadiran pegawai yang terlihat sok kenal itu.
“Enggak mbak, Mas Alan ketemu sama Bos.”
“Ngapain?” sambar Kiara penasaran.
“Ngomongin café mungkin, tapi nggak tau juga sih,” pegawai itu mengangkat bahunya.
“Buat apa ngomongin café?” kejar Kiara lagi, gadis itu seakan tidak puas dengan jawaban pegawai itu.
Kini berganti pegawai itu yang mengerutkan keningnya, menatap bingung kearah Kiara. “Kan Mas Alan yang punya café ini,” gumam pegawai itu sebelum menunduk sopan saat Alan berjalan kearahnya.
“Makasih ya Ron,” ucap Alan dengan senyum di bibirnya.
“Iya Mas,” jawab pegawai itu cepat lalu berpamitan kembali bekerja.
Alan tersenyum kearah Kiara, namun nampaknya gadis itu tengah terbengong sembari menatapnya diam. “Maaf lama,” ujar memecahkan lamunan Kiara.
“Lo kok nggak bilang sih!” tegur Kiara kesal.
“Bilang apa?” binung Alan.
“Café ini punya lo kan?”
Alan terdiam sebentar, “Bukan, gue cuma join aja,” gumam Alan seolah tidak ingin membahas hal ini.
Gadis itu lalu berpikir keras. Jika Alan memiliki café dengan nama yang besar seperti ini. Bukankah lelaki itu akan sangat mudah jika hanya membayar UKT? Kiara bahkan yakin, jika Alan sudah bisa hidup mandiri dengan penghasilan yang lebih dari cukup dengan usahanya ini.
“Dan lo cuma diam waktu gue ngehina lo kayak tadi!” kesal Kiara yang sebenarnya terlanjur malu kepada Alan.
“Jadi, gue yang harus minta maaf?” tanya Alan dengan pandangan dinginnya. Tak ada lagi senyum di bibirnya seperti beberapa saat yang lalu, dan hal itu membuat Kiara merasa sedikit takut.
Gadis itu menunduk, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Ia merasa bersalah, dan ia malu telah melontarkan kata jahat seperti sebelumnya. Kiara merasakan jantungnya berdebar saat Alan mengusap kepalanya, nampak sepeti seorang Ayah yang memaklumi kenalan anaknya.
“Lain kali, jangan ngomong kasar kayak itu. Lo bisa nyakitin hati orang lain,” ujar Alan dengan senyum lembutnya. Lelaki itu sangat baik, itulah yang Kiara pikirkan saat ini.
“Lo sakit hati sama omongan gue?” tanya gadis itu dengan gugup. Jantungnya berdebar kencang seiring dengan usapan tangan Alan yang menghilang, menjauh dari kepalanya.
“Enggak, omongan lo nggak bakal pernah bikin gue sakit hati,” gumam Alan dengan senyumannya. Senyuman yang membuat Kiara sadar, bahwa hatinya telah terbawa, entah sejak kapan. Mungkin saat lelaki itu tersenyum untuk pertama kalinya, atau mungkin saat Alan berdiri semalaman di belakang dirinya.
Selama ini, yang Kiara ketahui hanyalah bagaimana caranya terlihat sempurna. Bagaimana terlihat mengagumkan di depan semua orang hingga segala pujian datang padanya. Namun, ia tidak sadar. Bahwa seorang lelaki menatapnya dari belakang, mengamati bagaimana terkekangnya gadis itu. Dan yang Kiara tunjukkan pada lelaki itu hanyalah keburukannya. Keburukan yang bisa dimaklumi lelaki itu dengan mudah, dan itulah yang sesungguhnya membuat Kiara jatuh cinta. Bersama lelaki itu, Kiara bisa menjadi dirinya sendiri.