Rasa marah dan kecewa tengah menyelimuti hati Samantha. Ia marah karena merasa dikhianati oleh pangeran Marlon. Kecewa karena janji manis sang pangeran dianggap hanya kebohongan belaka. Padahal kenyataannya, pangeran Marlon masih mencintai Samantha. Namun takdir harus memisahkan mereka. Di antara senja dan lelah setelah menempuh perjalanan panjang yang berujung kekecewaan, Samantha duduk di dekat pohon besar di ujung perbatasan desa Nebula. Senja saat itu tak seindah senja sebelumnya. Samantha merintih dalam sedih dan kesendirian. Sang pangeran yang sangat dinanti tidak akan pernah kembali ke dalam pelukannya. “Aku tidak menyangka begitu sakit rasanya... Luka yang tak berdarah, tapi sangat menyayat hati... Separuh jiwaku seakan sirna entah karena apa... Karena sedih yang amat mendalam me

