*****
Ting Tong Ting Tong
Tanpa memakai heels-nya terlebih dahulu, Anya segera berlari untuk membuka pintu. Ia tak bisa menutupi keterkejutannya saat membuka pintu. Awalnya, ia pikir Cucu yang akan datang untuk menjemputnya.
"Mama?" desis Anya, masih diliputi rasa keterkejutannya.
Tanpa mempersilahkan sang Mama masuk terlebih dahulu, ia lebih memilih untuk melirik jam tangannya yang melingkar di lengan kirinya. Tepat pukul 8 malam. Dalam rangka apa pula sang Mama yang biasanya tinggal di ibukota Jakarta datang menemuinya malam-malam begini.
"Mau ke mana kamu?" Kedua mata Liana memandang penampilan Anya yang terlihat seperti akan pergi keluar, bukan kaos kedodoran dan celana super pendek kegemaran sang putri semata wayang.
Dengan gerakan reflek, ia memajukan wajahnya mengendus bau parfum yang dikeluarkan dari mini dress Anya.
"Wangi," guman Liana sambil melirik Anya dengan tatapan curiga, "mau kencan?" Ia memandang putrinya sebentar, kemudian langsung masuk ke dalam apartement. "Kamu suruh ngumpet di mana pacarmu?" tuduhnya tak beralasan, kedua matanya mengelilingi isi apartement Anya yang tidak terlalu luas, kemudian berbalik menatap Anya yang sedang bersedekap dengan wajah cemberut.
"Anya cuma mau main sama Cucu, Ma. Rencananya," kata Anya sambil berjalan menuju sofa. Mengambil ponselnya dan mulai mengetikkan pesan untuk Cucu.
Me:
Batal nge-barnya. Nyonya gue sedang mengadakan kunjungan.
Cucu:
Anjir, gue udah naik lift k*****t.
Cucu:
Serius gue harus turun lagi nih?
Me:
Naik aja dulu kalo gitu
Cucu:
Enggak usah. Thanks
Cucu:
Next time ya. Harus. Nggak ada penolakan
Anya kembali meletakkan ponselnya di atas meja, tanpa berniat untuk membalasnya. Kemudian beralih menatap sang Mama yang masih sibuk mencari entah apa.
"Nyari apaan sih, Ma?" tanya Anya heran. Tangan kanannya ia gunakan untuk melepas jam tangan, kedua matanya masih fokus menatap Liana yang masih celingak-celinguk.
"Pacar kamu."
"Pacar Anya masih dijagain Maminya," balas Anya asal.
"Duda apa perjaka?"
"Mama!" tegur Anya mulai sebal, kedua matanya langsung melotot.
"Santai aja, nggak bakalan Mama tikung," ujar Liana dengan raut wajah tersinggungnya. "Mau ke mana sih?" Liana kembali memfokuskan pakaian sang putri yang kini sudah tak muda lagi. Dengan status yang sama dengannya pula. Sama-sama perempuan yang pernah menikah a.k.a janda. Bedanya ia pernah kawin-cerai beberapa kali dan melahirkan sekali, sedangkan sang putri baru sekali menikah dan belum melahirkan sama sekali.
"Ngebar sih, tadinya."
Plak!
Dengan gerakan gemas dan sedikit brutal, Liana langsung menghampiri Anya dan memukul pundak putri semata wayangnya tanpa ba-bi-bu.
"Dokter macam apa kamu ini, ngebar segala. Kuliah di mana sih kamu dulu?"
"UI. Sama kayak Mama kan?"
"Jelema gelo!"
Anya langsung terbahak mendapat respon dari sang Mama. Dengan gerakan sigap, ia justru memeluk tubuh sang Mama.
"Kangen Mama deh," bisiknya sambil mencium pipi kanan Liana.
"Mama lebih kangen punya mantu," celetuk Liana yang membuat Anya kembali cemberut.
"Astaga, Mama! Mantu lagi, mantu lagi. Nggak bosen apa?"
"Bosen lah."
"Kalau bosen kenapa minta mantu terus. Sekali-kali minta tas branded kenapa?"
"Hei! Kamu pikir Mama nggak mampu beli tas branded? Asal kamu tahu ya, kalo Mama mau, Mama sanggup beli gedung ini."
Sambil mendesah malas, Anya melepaskan pelukannya. Berjalan menjauhi tubuh Liana sambil memijit pelipisnya. Memang benar sih uang Mamanya ini mengalir deras ke dalam rekening. Selain masih dapat transferan rutin dari sang mantan suami, Papa Anya. Mamanya ini memang membuka beberapa usaha. Seperti butik, salon, hingga cafe yang tempatnya instagramable. Bahkan bisa dibilang gaji yang diterima olehnya tidak seberapa dibandingkan penghasilan sang Mama.
"Iya, iya, uang Mama banyak," ucap Anya memilih menyandarkan kepalanya pada sofa. Sementara Liana langsung tertawa puas.
"Makanya belajar investasi kayak Mama dong," celetuk Liana ikut bergabung di sebelah Anya.
"Enggak, makasih," tolak Anya tegas.
"An," panggil Liana pelan.
"Pasti ada maunya," tebak Anya tanpa menoleh ke arah Liana.
"Iiihh, anak Mama yang satu ini peka banget deh."
"Iya lah, orang anak Mama cuma satu."
"Satu dari mana, anak Mama kan banyak."
"Banyak gimana?" Anya mengangkat badannya sedikit, menoleh ke arah sang Mama dengan kening yang mengerut.
"Kenapa kaget gitu sih?" tanya Liana heran.
"Iya lah, Anya belum pernah tuh liat Mama hamil setelah cerai dari Papa. Jelas Anya kaget."
Liana terbahak mendapati respon lucu dari Anya. Dengan gemas tangannya terulur, menyentil dahi Anya hingga menimbulkan suara yang cukup keras.
"AKKHH!" pekik Anya meringis kesakitan. Tanpa sungkan ia membalas Liana dengan cara memukul paha sang Mama.
Bukannya marah karena perbuatannya lansung dibalas oleh Anya, Liana justru makin terbahak.
"Maksud Mama itu anak tiri, An. Selera Mama kan hot duda. Nah, pas jaman Mama nyari hot duda yang tanpa buntut kan susah, harus sepaket sama buntutnya."
"Hot duda banget, Ma?"
"Iya." Liana mengangguk antusias. "Kamu makanya cari hot duda juga dong, eh, nggak hot juga nggak papa, yang penting mau sama kamu. Itu juga cukup."
Sambil mendengkus, Anya menggeleng. Kemudian meraih remote tivi yang ada di atas meja. Lebih baik ia menonton acara tivi kan, ketimbang mendengar Mamanya ini mengomel perihal menantu melulu.
"Mantan suamimu saja udah mau punya anak tiga loh, An, masa kamu gini-gini aja."
Dengan gerak spontan Anya menoleh, keningnya langsung berkerut penasaran.
"Udah mau tiga?" tanya Anya masih dengan wajah terkejutnya.
Tanpa ragu Liana mengangguk membenarkan.
"Tau dari mana?"
"GI. Kemarin nggak sengaja ketemu, perut istrinya udah besar, padahal anak yang ngintilin udah 2. Makanya Mama ke sini laporan sama kamu."
"Ya ampun, Ma, sekarang jaman sudah canggih. Kalo cuma mau ngasih kabar nggak terlalu penting gitu, kan bisa telfon atau video call sekalian. Ribet amat jauh-jauh sampai ke Bandung."
"Apaan, video call kan cuma buat kaum yang hemat ongkos. Nah, beda sama Mama. Lagian jaman juga udah canggih, naik pesawat. Jakarta-Bandung nggak ada sejam nyampe."
Anya menghela napas pendek. Menatap sang Mama dengan datar. Berlama-lama ngobrol dengan Mamanya memang suka bikin tekanan darahnya naik pelan-pelan. Sambil menggeleng ia berdiri dari sofa, membuat Liana sedikit mendongak.
"Jadi ngebar?" tanya Liana, kedua ekor matanya mengikuti tubuh Anya yang kini berjalan menuju kamar.
"Nggak jadi, dibatalin. Anya mau ganti baju sama apus make-up," balas Anya sebelum menghilang di balik pintu kamar.
Sambil menggeleng tak habis pikir Liana ikut berdiri. Bukan untuk mengikuti Anya, ia lebih memilih berbelok ke dapur minimalis yang letaknya tak jauh dari ruang tamu. Tujuannya cuma satu, yaitu memeriksa isi kulkas Anya. Dan sesuai tebakannya kalau kulkas milik Anya tak akan ada bahan mentah seperti sayuran atau bahan-bahan yang bisa dimasak. Yang ia temukan hanya beberapa kaleng minuman soda berbagai rasa dan air mineral. Sisanya, kosong melompong. Benar-benar tak menggambarkan isi kulkas seorang dokter.
"Dokter macam apa anakku ini, isi kulkas cuma kaleng soda," gerutunya sambil membanting pintu kulkas dengan kesal.
Anya yang kebetulan baru saja mengganti pakaiannya dengan kaos oblong dan celana super pendek andalannya langsung mendelik kesal.
"Mama!" tegur Anya tak terima. "Jangan main banting-banting perabot Anya dong, yang beli pakai uang itu, bukan pakai daun."
"Tahan!" intruksi Liana sambil mengacungkan telapak tangan kanannya. "Kali ini yang mau ngomel Mama. Okay?"
"Enggak," tolak Anya tanpa berpikir. Mana ada anak yang mau diomeli akan menerimanya dengan senang hati, nggak ada kan?
"Pokoknya Mama tetep mau ngomel," tegas Liana tak ingin dibantah.
Sambil menggulung rambutnya Anya akhirnya menggangguk pasrah. Bukankah ucapan orang tua tidak boleh dibantahkan, ya? Jadi sebagai anak yang baik, ia tak berencana untuk mendebat ucapan sang Mama.
"Silahkan Nyonya Kim," ucap Anya mempersilahkan dengan sedikit berlebihan. Ia bahkan memakai marga sang Papa untuk pelengkap.
"Apaan, Mama udah bukan Nyonya Kim, ya."
Sambil mengangkat bahunya cuek, Anya memilih berjalan menuju sofa. Menghempaskan tubuhnya di sana.
"Jadi ngomel nggak sih, Ma?"
"Ohya, hampir lupa. Itu isi kulkas kamu, kenapa nggak ada isinya gitu. Kamu ini beneran dokter bukan sih, An. Masa isi kulkas dokter cuma minuman kaleng soda. Nggak ada bahan makanan yang bisa diolah, nggak ada buah, sayur," cerocos Liana sambil menunjuk kulkas yang masih bisa Anya lihat karena memang tidak ada pembatas untuk ruang tamu dan dapur.
"Oh, itu. Anya emang belum belanja bulanan, Ma. Tanggal tua, Ma, belum gajian," cengir Anya sambilmenampilkan deretan giginya yang putih bersih.
"Halah, kebanyakan alesan. Kamu pikir Mama nggak tau kelakuan kamu. Udah deh mending buruan kasih Mama mantu lagi," kata Liana kini ikut bergabung di sofa lagi.
"Hah?" Anya melongo, memasang wajah bingungnya. "Ini hubungannya apa, isi kulkas sama kasih Mama mantu. Nggak nyambung banget deh," gerutunya sambil menggeleng tak habis pikir.
"Ya, jelas ada dong. Kalau kamu punya suami nggak mungkin isi kulkas dibiarin kosong melompong gitu, pasti diisi. Nyambung kan?"
"Udah, ah, Anya ngantuk. Mau tidur. Mama mau nginep di sini apa pulang sekarang?" Anya langsung berdiri, menghindari obrolan sang Mama yang tak jauh dari calon suami dan menantu.
"Jam segini mau tidur? Bukan kamu banget deh. Udah deh nggak usah ngindarin Mama terus. Karena Mama nggak bakalan nyerah buat paksa kamu nikah lagi. Kamu itu perempuan, belum punya anak, nggak punya adik, kerabat juga jauh semua. Udah sewajarnya emang kamu kaw--"
"Ma," sela Anya dengan wajah memelas. "Plis, jangan bahas beginian dulu bisa?" pintanya dengan nada serius.
Sambil menghela napas, Liana mengangguk pasrah.
"Thanks."
"Ya, udah, Mama pamit. Kamu jaga kesehatan, ya."
Anya mengangguk, berjalan menghampiri sang Mama, mencium kedua pipinya secara bergantian, baru kemudian mengantarkan Mama sampai pintu.
"Nggak usah anter Mama, kamu langsung tidur sana!"
Anya mengangguk. "Mama hati-hati ya. Kalo udah nyampe kabarin Anya, jaga kesehatan juga."
"Iya. Mama tunggu calon mantu Mama sesegera mungkin ya," bisik Liana sambil terkekeh.
"Mama!"
Tbc,