Keesokan harinya
"Apa ini rumahmu, Han?" tanya Eunbi yang diikuti anggukan Han.
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang" tanya Eunbi.
Han terdiam sesaat menatap Eunbi.
"Katakan kepada orangtuaku untuk melepaskan alat bantu medis itu dari tubuhku" ucap Han.
"Apa aku tak salah mendengar ? Apa yang kau katakan tadi, Han?" tanya Eunbi sedikit berbisik.
"Aku hanya ingin pergi, ragaku di sana sudah terlalu lama tertidur tanpa tahu kapan harus bangun" ucap Han.
"Mengapa kau tidak ingin menunggu lebih lama ? Areum saja bisa kembali, kau pun pasti bisa" ucap Eunbi.
"Tidak Eunbi, aku berbeda, aku sudah tak bisa kembali. Ragaku hanya bergantung kepada alat-alat yang dibuat oleh manusia, jadi pada dasarnya, ragaku pun sudah mati. Kau tahu mengapa aku memintamu hal seperti tadi ? Karena aku tak ingin keluargaku menungguku seperti itu. Mereka pun hanya mengurusi diriku tanpa mengurus diri mereka sendiri, sedangkan mereka masih punya kehidupan yang perlu mereka lanjutkan, dan aku lelah berada di sini, terlebih kau tahu aku sudah tak punya siapa-siapa di sini. Areum sudah tidak berada di sini. Aku hanya ingin pergi, aku hanya ingin membuat semua kembali normal, aku mohon bantu aku" ucap Han.
"Tapi bagaimana cara aku menyampaikannya? Aku mungkin akan dipandang sebagai orang yang tak waras bila tiba-tiba mengatakan itu" ucap Eunbi.
"Kau hanya perlu berbicara perlahan, aku akan membantumu, percayalah" ucap Han.
Eunbi pun memandang wajah Han yang penuh dengan permohonan kepadanya. Eunbi pun menoleh ke arah pintu rumah Han, perlahan dia menghampiri dan mengetuk pintunya. Tak lama seorang lelaki yang mungkin berumur tak terlalu jauh dengan Han membukakannya.
"Maaf, mencari siapa?" tanya lelaki itu.
"Apa kau keluarga Han?" tanya Eunbi.
"Iya aku kakaknya, kau siapa?" tanya kakak Han.
"A-Aku temannya, ada hal yang ingin aku bicarakan kepadamu dan mungkin juga orang tuamu" jawab Eunbi.
"Hmm ... baiklah, silahkan masuk" kakak Han pun mempersilahkan masuk.
Saat Eunbi mulai masuk ke dalam rumah, Eunbi terlihat sedikit melihat-lihat isi rumah Han. Terlihat foto-foto masa kecil Han, saat Han masih menjadi bayi, saat Han berada di sekolah, sampai foto Han berada di luar negeri pun terpampang pada tembok-tembok rumah Han. Eunbi pun ternyata diarahkan ke tempat dimana tempat Han tertidur. Jelas kini raga Han sedang memejamkan matanya di dalam kamarnya, dengan segala macam peralatan medis yang bisa membantunya untuk tetap hidup.
"Bu, teman Han ingin berbicara" ucap kakak Han.
Ibu Han menoleh, terlihat jelas raut wajah ibunya yang tampak tak pernah tersenyum, sangat terlihat lelah namun juga terlihat kuat untuk Han. Saat ini dia sedang membasuh dan membersihkan bagian-bagian dari tubuh Han, masih terlihat semangatnya untuk merawat Han.
"Apa bisa aku mengambil waktu kalian sebentar?" tanya Eunbi.
Ibu Han pun memandang Eunbi, lalu memandang Han. Tak lama dia simpan alat basuh Han dan berdiri menuju sofa kamar Han, diikuti kakak Han dan Eunbi, tak lupa ... roh Han pun berada di belakang mereka.
"Sepertinya aku tak pernah melihatmu sebelumnya" ucap ibu Han lalu duduk bersama kakak Han.
"Mungkin memang sebelumnya aku tak pernah mengenal kalian" ucap Eunbi lalu ikut duduk di depannya.
"Lalu apa yang ingin kau bicarakan?" tanya kakak Han.
"Aku tak tahu harus memulainya dari mana, namun aku mohon apapun yang akan aku katakan, kalian jangan dulu mengambil kesimpulan yang buruk. Aku di sini hanya ingin menyampaikan sesuatu" ucap Eunbi.
Ibu dan kakak Han hanya saling memandang karena belum paham apa yang Eunbi maksud, Eunbi menarik napas dalam.
"Han memintaku agar kalian melepaskan semua alat bantu medisnya" ucap Eunbi.
Brakk!!
"Apa maksudmu !! Kau ingin kami melepaskan alatnya ? Apa kau gila ?? Apa kau seorang musuh adikku dan ingin membunuhnya hah ??" ucap kakak Han memukul meja.
"Ti-Tidak, bukan be-"
"Pergi kau dari sini !! Seharusnya aku tak usah membukakan pintu untukmu ! Terlebih kau bukanlah orang yang kami kenal !" ucap kakak Han berdiri dan mengusir Eunbi.
"To-Tolong dengarkan aku dulu, aku hanya ingin menyampaikan, dan aku belum selesai bercerita, tolong dengarkan aku, aku hanya ingin membantu Han" ucap Eunbi berusaha meyakinkan.
"Cepat pergi da-"
"Biarkan dia berbicara dulu, lanjutkan apa yang ingin kau bicarakan, nak" ucap ibu Han yang membuat Eunbi dan kakak Han menolehnya secara bersamaan.
Eunbi pun kembali duduk segera.
"Sebelumnya terima kasih sudah memberikanku kesempatan" ucap Eunbi membenarkan posisi duduknya.
"Aku tahu mungkin ini tak masuk akal, aku tahu ini tampak seperti aku adalah orang gila, namun apa yang akan aku ceritakan ini adalah nyata" ucap Eunbi.
"Roh Han ... sudah lama hidup di luar raganya, selama ini dia pun sering berinteraksi denganku. Banyak yang telah dia lewati saat hidup di luar raganya, dan aku datang ke sini atas permintaan dia. Dia memintaku untuk mengatakan hal ini, dia meminta kalian untuk segera merelakannya, karena dia sudah lelah dan dia ingin pergi" sambung Eunbi.
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?" tanya ibu Han datar.
Eunbi pun terdiam, lalu Eunbi menoleh Han yang dari tadi hanya diam di samping ibunya. Eunbi memberi isyarat apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
"Saat ini pun, dia berada di sini, dekat denganmu" ucap Eunbi.
Ucapan Eunbi membuat ibu Han tiba-tiba menangis, sontak Eunbi terkejut dan membuat kakak Han menatap tajam kepada Eunbi.
"Bagaimana kau bisa mengaku bisa berinteraksi dengannya bahkan bisa melihatnya, sedangkan aku ? Aku sebagai ibunya tidak bisa ? Bahkan bermimpi tentang dia saja aku tak pernah, bagaimana bisa?" ucap Ibu Han terisak.
Eunbi sudah tak bisa bicara hal lain lagi, rasanya dia sudah bingung dengan apa yang akan dia katakan lagi.
"Kalau kau tak bisa memberikan alasan agar aku mempercayaimu, lebih baik kau pergi dari sini" ucap ibu Han lalu beranjak dari tempat duduknya.
Kakak Han pun beranjak dengan memberi isyarat agar Eunbi segera pergi. Dengan menunduk Eunbi pun perlahan berjalan menuju pintu keluar, namun ...
Tiba-tiba saja entah dari mana asalnya angin berhembus menyibakkan tirai-tirai kamar Han, keadaannya seperti sedang berada di luar ruangan yang sedang berhembus angin kencang. Bersamaan dengan itu wujud Han yang awalnya hanya bisa terlihat oleh Eunbi, kini bisa dilihat oleh ibu Han dan juga kakaknya. Hal itu membuat kakak Han sangat terkejut ketika raga adiknya masih terbaring di atas ranjang namun wujudnya bisa terlihat juga di hadapannya saat ini, tak terkecuali dengan ibu Han. Dia menutup mulutnya dan meneteskan air matanya dengan deras, Han pun terlihat sedang melihat bagian-bagian tubuhnya yang terlihat lebih nyata sekarang, lalu dia langsung menatap ibunya. Ibu Han pun perlahan menghampiri sosok anaknya.
"Ibu ..."
Akhirnya setelah satu tahun lebih berlalu, selama ini dia selalu berusaha agar bisa berbicara dengan keluarganya namun tak bisa, kali ini dia bisa kembali memanggil ibunya.
"Anakku, benarkah ini kau?" ucap ibu Han semakin mendekat pada Han.
"Iya Bu, ini aku Han anakmu, aku merindukanmu, Bu" ucap Han menangis.
"Anakku !" ucap ibu Han memeluknya.
Ya ... kali ini pun sosoknya bisa disentuh oleh manusia lain. Ibunya memeluk dengan erat, Han pun menangis sangat keras dalam pelukan ibunya.
"Aku merindukanmu Bu ... Maafkan aku selalu merepotkanmu" ucap Han.
"Tidak nak, kau tak pernah merepotkanku, aku pun sangat merindukanmu, nak" ucap ibu Han.
"Bu ... aku ingin melihatmu bahagia, maafkan aku yang tak sempat membahagiakanm. Namun sungguh Bu, jangan menangis seperti ini lagi, kembalilah tersenyum seperti dulu, Bu ... Aku tahu ini tak bisa dimasuki oleh akal sehat, namun inilah kenyataannya ... Inilah aku sekarang, aku yang mungkin sudah tak bisa kembali pada ragaku. Lihatlah ragaku di sana, Bu. Bukankah Ibu mengajarkanku untuk tak menjadi lemah ? Namun apa sekarang ? Aku terbaring sangat tak berdaya dan lemah seperti itu, aku tak mau seperti itu terus, Bu" ucap Han.
"Bu ... aku ingin pergi, aku ingin ragaku terlepas dari alat-alat itu, itu sangat menyedihkan, Bu. Aku mohon lepaskan, aku ingin kalian melanjutkan hidup kalian dengan normal, jadilah keluargaku yang kuat, tunjukkanlah itu kepadaku. Aku mohon bangkitlah dari duka kalian selama ini, tersenyumlah kembali" sambung Han yang diikuti tangisan ibunya.
Begitu juga dengan kakaknya dan Eunbi, kakaknya yang masih terkejut dengan apa yang dilihatnya juga menangis ... dan Eunbi pun tak kuasa menahan air matanya.
"Apa tak bisa kau kembali ? Apa tak bisa kau bertahan ?" ucap Ibu Han menangkup pipi anaknya.
"Selama ini aku selalu bertahan, Bu. Selama ini aku selalu mencari cara bagaimana aku bisa kembali, namun takdir sudah tersuratkan, Bu. aku harus pergi, namun tetap aku bersyukur aku masih bisa berbicara denganmu seperti ini, aku sudah sangat bahagia" ucap Han mencium tangan ibunya.
Ibunya memeluk Han kembali, seperti melepas rindu yang tak tertahan kepada anaknya, memeluk Han dengan sangat erat.
"Baiklah nak, bila itu sudah seharusnya, akan kulakukan" ucap Ibu Han walau berat.
"Setelah ini, hiduplah dengan normal seperti biasanya, bersemangatlah, tersenyumlah dan jangan pernah terluka" ucap Han tersenyum.
"Ibu merindukan senyummu seperti ini, nak" ucap ibu Han.
"Aku juga merindukan senyummu, Bu. Tersenyumlah selalu, Bu, untukku ..." ucap Han.
"Baiklah, pergilah nak, kau pasti sudah banyak melewati banyak hal selama ini, kau pasti lelah. Ibu melepasmu, bukan berarti ibu melupakanmu. Kau tetap anakku, kau tetap ada untukku selamanya" ucap ibunya tersenyum untuk Han.
"Tetaplah seperti ini ya, Bu. Jangan pernah menangis lagi" ucap Han.
"Dan kau ... apa kau tak merindukanku hah ? Kakak macam apa kau ini" ucap Han menoleh pada kakaknya yang masih berdiri di belakangnya.
Kakaknya pun perlahan mendekati Han dan langsung memeluk Han.
"Tolong jaga Ibu dengan baik. Setelah Ayah tak ada, selama ini kita selalu saling menjaga satu sama lain, dan kali ini aku percayakan sepenuhnya Ibu kepadamu" ucap Han membalas pelukan kakaknya.
"Carilah pasangan yang baik, yang juga bisa menyayangi Ibu. Walau nanti kau sudah menikah, jangan pernah tinggalkan Ibu. Bila kau membuat Ibu terluka, akan kuhantui kau!!" sambung Han terkekeh namun juga menahan air matanya.
"Walau selama ini kau yang lebih bisa menjaga Ibu, tapi aku berjanji akan menjaga Ibu seperti kau menjaga Ibu selama ini, dan . . walau aku sering memarahimu, namun kau harus tahu, aku sangat menyayangimu Han, adikku" ucap kakaknya.
"Walau kau memang bukan kakak yang baik, tapi aku juga menyayangimu. Jaga dirimu baik-baik" ucap Han tersenyum.
Han melepas pelukan kakaknya, lalu dia menoleh kepada Eunbi, lalu menghampirinya.
"Terima kasih Eunbi, terima kasih untuk semuanya. Tolong perhatikan Areum-ku, dan saat KimSeo sadar nanti, sampaikan permintaan maafku kepadanya. Ucapkan terima kasih kepadanya dariku karena telah menjadi sahabatku selama ini. Apapun yang harus kalian selesaikan nanti, selesaikanlah sebaik mungkin, hiduplah dengan baik" ucap Han memeluk Eunbi.
Setelah itu, ibu Han menghampiri raga Han, dengan berat ibunya perlahan membuka satu persatu alat medis yang menempel pada tubuh Han. Dengan tangis yang tertahan, akhirnya ibu dan kakaknya berhasil melepaskan semuanya.
Sesaat setelah itu, kembali angin meniup segala apa yang ada di dalam kamarnya, dan secara bersamaan, sosok Han perlahan mulai menghilang, menghilang dengan senyuman termanisnya.
---------------------------------
Tujuh hari setelah itu, Eunbi ditemani Youra, selalu berada di rumah sakit untuk melihat Areum dan KimSeo. Areum yang sudah sadar semenjak enam hari yang lalu masih berada di rumah sakit untuk pemulihan. Eunbi pun belum berani langsung menemuinya, sampai di suatu malam Areum berada di taman rumah sakit untuk sekedar mencari udara malam, Eunbi melihat dan mengikutinya.
"Boleh aku duduk di sini ?" tanya Eunbi.
Areum menoleh dan mengangguk.
Eunbi yang melihat Areum seperti itu, sadar bahwa Areum sama sekali tidak mengingat kejadian saat dia menjadi roh, yang berarti dia juga tidak akan mengenali Eunbi.
"Namaku Eunbi, kau?" ucap Eunbi menjabatkan tangannya.
"Aku Areum" ucapnya membalas jabatan Eunbi.
"Kau sedang apa di sini ? Bukankah cuacanya sedang dingin" tanya Eunbi.
"Aku hanya ingin mencari udara malam saja, sudah lama aku tak keluar" ucap Areum sambil menatap langit.
Eunbi pun menatap Areum sesaat lalu ikut menatap langit.
"Langitnya cerah ya, dan kau lihat itu, bintang yang paling terang itu, aku sangat menyukainya. Katanya ... bintang yang paling terang itu adalah wujud dari orang yang menyayangi kita walau dia telah berbeda dengan kita, tapi dia tetap bisa melihat kita dari sana dengan sinarnya" ucap Eunbi.
"Benarkah ? Itu terdengar sangat manis, apa kau menganggap itu adalah bintang milikmu?" tanya Areum.
"Tidak ... itu bukan milikku, itu milikmu" jawab Eunbi.
"Milikku ? Maksudmu ?" tanya Areum.
"Iya itu milikmu, jadi ... bila kau merasa kesepian, merasa sedih, atau saat kau merasa bahagia, bicaralah pada bintang itu. Bintang yang paling terang itu adalah seseorang yang
sangat begitu mencintaimu" ucap Eunbi yang membuat Areum menatap lekat pada langit.
Eunbi kembali menatap Areum sambil sedikit tersenyum dan meneteskan air mata, rasanya Eunbi ingin sekali memeluk Areum.
"Baiklah aku pergi dulu, ini nomor ponselku, simpan saja. Semoga kita bisa berteman. Lekaslah masuk dan beristirahatlah agar kau cepat pulih" ucap Eunbi lalu pergi sambil mengusap air matanya diam-diam.
Areum hanya melihat Eunbi pergi dan merasa heran dengan Eunbi. Setelah Eunbi sudah tidak ada, Areum menatap kembali pada bintang itu.
"Jadi? Kau milikku hm? Kau sangat indah, benarkah kau mencintaiku? Ahh menatapmu memang menenangkan. Baiklah .. kau milikku ! Aku akan selalu melihatmu setiap malam. Kita akan bertemu setiap malam, aku akan selalu bercerita kepadamu tentang hariku. Sampai jumpa ... aku masuk dulu. Bersinarlah selalu dan tetaplah menjadi yang paling terang" ucap Areum tersenyum lalu kembali ke dalam rumah sakit.