Beberapa hari setelah Hyun menghilang ...
Ya, tentunya Eunbi belum bisa menjalani harinya dengan normal.
Eunbi masih berusaha mengadaptasikan dirinya setelah tak ada lagi sosok Hyun di sisinya, sosok yang selalu menemaninya di bangun dan tidurnya, di setiap geraknya, di setiap nafasnya.
Saat ini dia pun sedang menyandarkan tubuh pada sandaran tempat tidurnya, menatap kosong ke arah depan, sampai ponsel berdering yang memecahkan lamunannya.
Dia menatap pada layar, lalu diraih ponselnya
"Hm ? Kau sudah membaik Youra ?"
" ..... "
"Baiklah kita bertemu di mana?"
" ..... "
"Apa tidak ada tempat lain selain itu ?"
" ..... "
"Ah, tidak ... aku hanya ... hm baiklah nanti kita bertemu langsung di sana ya"
" ..... "
Tanpa mengucapkan apapun lagi Eunbi menutup teleponnya, dengan wajah datar tanpa semangat sedikit pun dia turun dari tempat tidurnya, bersiap-siap untuk bertemu dengan sahabatnya yang mungkin sudah mulai bisa mengendalikan kesedihan setelah orang yang dicintainya pergi untuk selamanya.
Di tempat bertemunya Youra dan Eunbi.
"Youra, bagaimana keadaanmu saat ini?" tanya Eunbi.
Youra terdiam sejenak dan tersenyum.
"Ada hal yang membuatku bisa merasa lebih baik, Eunbi" jawab Youra tersenyum.
"Apa itu ?" tanya Eunbi.
"Mimpi, saat aku tertidur malam itu, Chul datang ke mimpiku, dia sangat rupawan, sangat terlihat bahagia. Dengan senyumnya dia menghampiriku, dia langsung memelukku dengan lembut, lalu dia menatapku dalam, dengan tetap tersenyum kepadaku, tak ada sepatah kata pun dia ucap. Namun sekali lagi, dia sangat terlihat bahagia, terlebih saat aku tersenyum juga kepadanya, saat itu juga dia kembali memelukku, aku pun memeluknya erat" ucap Youra.
"Dengan mimpi seperti itu kau bisa menjadi lebih baik ?" tanya Eunbi.
"Saat aku terbangun, aku masih merasakan hangatnya pelukan itu, dia tak berubah ... Dia masih saja seperti itu, tak pernah mengatakan apapun, hanya dengan sikapnya dia berbicara, aku merenungkan mimpi itu, lalu entah mengapa aku sangat mengerti apa maksud dari mimpi itu. Aku mengerti ... saat ini dia telah bahagia di sana, dan dia akan lebih bahagia bila aku di sini juga tersenyum dan tak bersedih lagi. Kau benar Eunbi, aku harus tetap mencintainya dengan cara aku mencintai diriku sendiri, mencintai diriku untuknya" tutur Youra.
Eunbi tersenyum sesaat lalu tak lama kembali pada ekspresi wajahnya yang semula.
"Eunbi, lalu apa kabarmu ? Aku lihat kau sangat lesu hari ini? Apa kau sedang sakit ? Dan oh ya, di mana Hyun ? Apa dia ada di sampingmu ?" tanya Youra.
Eunbi hanya terdiam.
"Eunbi ? Ada apa ? Apa ada sesuatu ?" tanya Youra kembali.
"Hyun sudah menghilang, dia sudah tidak ada di sini" jawab Eunbi.
"Hah ? Maksudmu ?" tanya Youra membulatkan matanya.
"Itu alasan mengapa saat kau mengajakku ke sini tadi, aku sempat ingin menolak, karena di tempat ini, Hyun pun pernah bersamaku" ucap Eunbi.
"Maafkan aku, aku tak tahu itu, aku hanya berniat ingin mengenang Chul di sini, bersamamu juga, dulu kita bertiga dan Hyun ... bermain bersama kita di sini. Maafkan aku, aku menyesal" ucap Youra.
"Mengenang ? Hmm ... ada benarnya juga, mungkin ... aku pun hanya bisa mengenang Hyun" ucap Eunbi.
"Eunbi, maafkan aku bila saat kau bersedih aku tidak ada di sampingmu, namun kau tenang saja, saat ini aku akan selalu ada untukmu. Dengarkan aku ... aku tak mau kau larut dalam kesedihanmu, kenanglah segala hal yang indah saja, jangan kau mengingat sakitnya pedih itu. Coba sekarang kau ingat bagaimana indahnya dulu saat kau dan Hyun di tempat ini" ucap Youra.
Eunbi pun melihat pada satu arah, arah dimana dia dan Hyun dulu menaiki wahana itu. Dia mengingat segala hal saat itu, lalu tak lama kemudian dia tersenyum.
"Kau terlalu hebat Hyun Su, padahal dulu melihat wajahmu saja aku tak bisa, aku hanya mendengar suara teriakanmu saat kau ketakutan menaiki wahana itu. Aku tertawa sangat lepas, aku mengejekmu dengan sangat puas, aku sangat bahagia saat itu, kau mengembalikan tawa dan keceriaanku saat itu, tawa yang sudah lama hilang" gumam Eunbi yang masih bisa terdengar oleh Youra.
Youra memeluk Eunbi, memberikan kekuatan batin untuk sahabatnya, seperti yang dilakukan Eunbi saat dirinya terpuruk karena kepergian Chul.
Waktu pun berlalu dengan cepat, sore hari mereka memutuskan meninggalkan tempat itu.
"Eunbi, orangtuaku akan pulang dan tiba di rumah malam ini. Aku akan segera pulang, nanti aku hubungi kau kembali, bila ada apa-apa tolong segera hubungi aku ya" ucap Youra lalu masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya.
"Baiklah, hati-hati, sampaikan salamku kepada orangtuamu" ucap Eunbi melambaikan tangannya.
Eunbi membalikkan badannya, berpikir untuk kembali ke rumah dengan berjalan kaki saja.
"Eunbi !!" panggil seseorang dari arah belakang Eunbi.
"Hm ? Han ?" Eunbi menoleh ke sumber suara.
"Bagaimana bisa kau ada di sini ?" tanya Eunbi.
"Eunbi, bisa kau ikuti aku sekarang ? Ada hal yang ingin aku katakan kepadamu" ucap Han.
"Ikuti kau ? Ke mana ?" tanya Eunbi.
Han tak menjawab, dia hanya menarik tangan Eunbi lalu membawanya berjalan. Tak ada sepatah kata pun keluar dari keduanya, Han hanya memasang wajah datar dan Eunbi hanya melihat wajah Han dengan setumpuk pertanyaannya.
Sesampainya mereka di tujuan, Eunbi mengerutkan keningnya saat melihat Han membawanya ke sana. Han masih memegang tangan Eunbi dan masih berjalan ke suatu tempat.
Dan pada saat Han berhenti, Han melepaskan tangan Eunbi, menatap Eunbi lalu berjalan pelan membelakangi Eunbi.
"Han, mengapa kau membawaku ke rumah sakit ?" tanya Eunbi namun Han tak menjawab.
"Ah sebentar, Areum ?? Aku ingat, saat aku berada di sini ketika sahabatku meninggal di rumah sakit ini, aku melihat wanita yang terlihat mirip dengan Areum berada di salah satu ruangan pasien, ah ... atau ? A-Apa benar itu Areum ?" tanya Eunbi saat mengingat beberapa waktu lalu dia melihat seseorang yang mirip dengan Areum berada di dalam ruangan rawat.
"Han jawab !! Apa benar itu Areum ? Ada apa dengan dirinya !!" tanya Eunbi saat Han tak juga kunjung menjawab.
Han tetap diam sambil menatap ke dalam satu ruangan. Eunbi pun perlahan menghampiri Han untuk melihat siapa orang yang ada di dalam ruangan itu. Dengan rasa takut Eunbi ragu-ragu untuk melihatnya, dan saat Eunbi melihatnya, betapa terkejut dia melihat seseorang yang ada di dalamnya. Ternyata orang yang dia lihat beberapa waktu lalu nyatanya memang benar kekasih dari Han, Areum.
Dengan keadaan Areum yang masih diberi alat bantu pernapasan, Areum tampak belum sadarkan diri.
"Han tolong jelaskan kepadaku apa yang terjadi kepada Areum, mengapa kau tak memberitahu soal ini ! Jadi sejak kapan Areum sudah berada di sini !" tanya Eunbi memegang bahu Han.
Han tetap tak menjawab, dia hanya menatap Eunbi. Eunbi sangat kesal saat Han tak juga berbicara, Eunbi mendorong tubuh Han karena kesal.
"Mengapa kau tak mau bicara hah ?" teriak Eunbi.
"Eunbi, ini rumah sakit, jangan kau berteriak seperti itu" ucap seseorang.
Namun ucapan itu bukan berasal dari mulut Han, suara itu berasal dari seseorang yang berada di belakang Eunbi.
Eunbi menoleh cepat, dan ...
Brukk!!
Eunbi memundurkan tubuhnya cepat sampai menabrak pintu ruangan Areum dengan wajah yang sangat terkejut dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"K-Kau ..."
"Iya Eunbi, ini aku … Areum"