Part 14

1049 Kata
"Kau bisa memberitahu siapa orangnya ?" ucap Hyun.   "Hm dia itu … Orang itu adalah ..." "Ah tidak, maaf Hyun bukan aku tak mau memberitahumu, tapi aku hanya ingin mulai perlahan menghilangkan dia dari pikiranku, aku ingin membuat penantian itu menjadi hal yang akan aku lupakan" ucap Eunbi. "Tapi mengapa ? Di dalam mimpimu, kau selalu berkata bahwa dia selalu berlaku baik kepadamu, dia selalu memperhatikanmu, bukankah itu artinya dia pun sebenarnya mempunyai hati untukmu ? Dan tunggu ... apa jangan-jangan orang itu adalah ..." "Cukup Hyun! Siapapun yang ada di dalam pikiranmu saat ini, hentikan pembicaraan ini, aku mohon" ucap Eunbi. Hyun menatap mata Eunbi yang mulai seperti akan mengeluarkan air matanya. Hyun pun berhenti bertanya tentang itu, dan saat mereka hanya saling diam tak bicara, Hyun mendapati tubuhnya yang semakin berubah, dilihat tubuhnya sedikit demi sedikit mulai menghilang. "Tidak ... tidak aku mohon jangan sekarang" ucap Hyun membuat Eunbi terkejut mendengarnya. "Ada apa Hyun, ada apa denganmu ?" tanya Eunbi panik. "Tubuhku... tubuhku semakin menghilang, Eunbi aku takut" ucap Hyun. Eunbi memeluk Hyun, memastikan dia masih bisa memeluknya, dan beruntung, tubuh Eunbi masih bisa merasakan tubuh Hyun. "Tenanglah, ada aku di sini, kau jangan takut ya" Eunbi memeluk erat Hyun. Eunbi terus menenangkan Hyun walau sebenarnya dirinya pun sedang merasa takut saat tahu tubuh Hyun semakin menghilang. "Eunbi bagaimana ini, apa ini adalah saatnya ?" ucap Hyun. "Hyun ikut aku!" Eunbi menarik tangan Hyun yang masih bisa dia genggam. Hyun mengikuti kemana Eunbi pergi, mereka berjalan menuju belakang rumah Eunbi, di sana terdapat kolam yang tak terlalu besar, dengan dikelilingi tumbuhan-tumbuhan dan bunga-bunga yang menjadi penghias sekitar. Karena langit pun sudah berwarna gelap, pemandangan di sekitar pun hanya terlihat karena sorot dari lampu-lampu sekitar tempat itu saja. Eunbi berhenti di dekat kolam yang memiliki penerangan lebih baik, Eunbi kembali memeluk Hyun erat. "Eunbi untuk apa kita ke sini" tanya Hyun yang masih belum mengerti. "Tidak ada alasan khusus aku mengajakmu ke sini, namun biarkan kita di sini ya, biarkan aku memelukmu seperti ini, jangan pernah lepas. Bila kau harus pergi saat ini, setidaknya aku masih bisa memelukmu saat kau pergi" ucap Eunbi susah payah menahan tangisannya. Hyun mendekap Eunbi, mencium puncak kepalanya dengan menutup mata. "Maafkan aku telah hadir di hidupmu, maafkan aku telah masuk ke dalam dimensimu, maafkan aku telah menarikmu ke dalam cinta ini" ucap Hyun begitu sendu. "Tidak apa-apa Hyun, aku sangat bahagia bersamamu" ucap Eunbi yang semakin terdengar seperti menahan tangisannya. "Cukup Eunbi, jangan selalu kau menahan kesedihanmu seperti ini, bila kau ingin menangis, menangislah sekarang, setidaknya ... saat kau menangis, aku masih bisa memelukmu, masih ada aku di sini saat kau menangis" ucap Hyun. Tak lama saat Hyun berkata seperti itu, tangisan Eunbi meledak dengan cepat. Eunbi menangis sekeras-kerasnya, dengan tetap memeluk Hyun erat. Hyun pun semakin mengeratkan dekapannya. "Mengapa kau harus hadir !! Mengapa kau harus memberikan aku kenyamanan yang sudah lama tak pernah aku rasakan selama ini!! Mengapa aku bisa mempunyai rasa ini kepadamu!! Dan mengapa saat aku merasakan semua itu, kau malah akan pergi dan menghilang meninggalkanku!! Apa tak bisa kita lebih lama bersama!!" tiba-tiba Eunbi seakan meluapkan segala apa yang dia pendam selama ini. "Bahkan kau tak pernah menampakkan wajahmu kepadaku !! Kau hanya membiarkan aku merasakanmu tanpa bisa melihatmu !! Mengapa kau begitu kejam !!" sambung Eunbi. Hyun hanya tetap memeluk Eunbi tanpa meregangkan sedikit pun jaraknya, tak peduli saat Eunbi memukuli tubuhnya terus menerus, dia hanya ingin gadis cantiknya menangis di pelukannya, walau ... untuk untuk yang terakhir. "Maafkan aku ... maafkan aku yang telah mencintaimu" ucap Hyun. "Namun satu hal yang masih bisa aku syukuri, walau aku diciptakan seperti ini ... aku besyukur karena kau telah sudi mencintai diriku yang tak akan bisa memberikanmu kebahagiaan abadi, yang tak bisa mendampingimu seperti manusia yang mampu menjagamu sampai akhir hayat. Aku bersyukur dicintai oleh makhluk sempurna sepertimu, terimakasih ..." sambung Hyun terus mengelus rambut Eunbi dan mendekap erat tubuh Eunbi. Tangisan Eunbi semakin menjadi dan semakin keras, Hyun pun sudah mulai tak sanggup melihat Eunbi sesakit itu. Dan tak lama kemudian tiba-tiba sebuah cahaya yang sangat menyilaukan berada di atas mereka, semakin lama semakin mendekat. Eunbi dan Hyun perlahan melihat ke atas dengan menyipitkan matanya tanpa melepas pelukan mereka. "Hyun !! Apa itu ??" ucap Eunbi lalu mendekapkan kembali tubuh Hyun pada dekapannya. "Eunbi ... mungkin ini sudah waktunya, maafkan aku" ucap Hyun. "Tidak !! Tidak Hyun, tidak !! Aku mohon jangan!!" ucap Eunbi semakin mengeratkan pelukannya. "Eunbi, tubuhku ... tubuhku sudah semakin menghilang" ucap Hyun yang membuat Eunbi semakin panik dengan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. "Eunbi tolong berjanjilah kepadaku cepat, jaga dirimu baik-baik, lakukanlah kegiatan yang lebih bisa membuatmu lebih baik, lupakanlah semua ini dengan cepat, lupakan dengan cara temukanlah seseorang yang bisa membawamu ke dalam bahagia, cepat kau harus berjanji kepadaku sekarang juga!" ucap Hyun dengan cepat karena tubuhnya yang sudah semakin menghilang. Dan di saat Eunbi masih memeluknya, Eunbi merasakan tubuh Hyun sudah tak bisa lagi dia rasakan, namun tangan Hyun masih bisa diraihnya. "Cepatlah berjanji kepadaku sekarang !!" teriak Hyun diikuti tangisan Eunbi yang tersedu-sedu. Eunbi menggenggam tangan Hyun, dia menundukkan kepalanya dengan suara yang memekik dan tersedu, lalu tak lama dia mengangkat kepalanya lagi lalu mencium tangan Hyun. "Baiklah ... aku berjanji ... aku akan selalu ingat semua perkataanmu Hyun... namun ada satu yang aku pinta darimu ..." "Ke manapun kau akan pergi setelah ini, bila kau bisa meminta kembali, tolong kembalilah ... aku akan menantimu ..." ucap Eunbi. "Tidak Eunbi, jangan pernah menantiku, teruskanlah hidupmu seperti apa yang aku pinta, dimensi kita berbeda, kita tidak akan pernah bisa bersama, anggaplah aku hanya fiksi dari cerita yang selalu kau baca dari kumpulan komik-komikmu itu, hiduplah dengan baik ... Hiduplah seperti seharusnya" ucap Hyun lalu mengecup kening Eunbi. Dan kini tangan Hyun perlahan mulai menghilang, dan saat Hyun menyadarinya, Hyun mencium bibir Eunbi dalam. Eunbi memegangi kepala Hyun dan membalas ciuman Hyun dengan menutup matanya, mengalir air mata dari keduanya dalam ciuman itu, ciuman yang berasal dari ketulusan juga kesakitan di dalamnya. Dan perlahan ciuman itu semakin lama semakin tak bisa Eunbi rasakan, dengan hilangnya cahaya dari atas Eunbi, maka hilanglah semua yang Eunbi rasakan. Tidak ada Hyun, tak ada lagi tubuh atau suara yang sudah biasa menemani Eunbi di setiap harinya. Eunbi runtuh, sampai hanya lututnya saja yang bisa jadi tumpuannya, dia menunduk dengan menangis sekeras-kerasnya di atas bumi yang kini menampung setiap tetesan air matanya. "Bahkan kau tak sempat mengucapkan bahwa kau mencintaiku untuk terakhir kalinya Hyun Su !!" lirih Eunbi di bawah sorot lampu yang menerangi pandangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN