Adegan 2 : Wanita Misterius

1259 Kata
Musim dingin di kota Sankt Petersburg tahun ini terasa lebih menyebalkan daripada tahun-tahun sebelumnya, lebih dingin dan lebih panjang. Memaksaku untuk memakai mantel lebih tebal daripada biasanya dan membuat perapianku lebih mengepul ketimbang musim dingin sebelumnya. Jarum jam sudah mengarah ke tengah malam, seakan-akan memaksaku untuk mengistirahatkan tubuhku. Kuhentikan jari-jariku pada bagian akhir kalimat bab satu dan mematikan laptopku.   “Ah s**l, karena terlalu sibuknya mengisi lembaran kertas kosong itu, sampai-sampai aku lupa mengisi perutku sendiri”   Aku urungkan niatku untuk lebih awal menuju tempat tidur, dan bersiap untuk menembus dinginnya kota. Ya begitulah, kesendirianku ini membuatku terpaksa mengurusi diriku sendiri, dan lagi tak ada ketertarikanku untuk belajar memasak, aku terlalu muak untuk membayangkan bagaimana bau panas kompor dan panggangannya.                Untung saja tempatku biasa membeli makanan tak begitu jauh dari apartemenku, sekitar tiga blok saja ke arah utara apartemenku. Terpaksa kugunakan mantel tertebal yang kupunya, karena aku tak akan mau menggigil  karena  kebodohanku menggunakan mantel tipis dan juga untuk berjaga-jaga tentunya aku tidak akan pernah lupa menggunakan masker hitamku. Entah mengapa melewati malam di jalanan Sankt Petersburg selalu berbeda dari hari ke hari, mungkin saja karena sikap ketidak-pedulianku untuk mencari persamaannya.                 Kupesan dua mangkok Solyanka, setidaknya untuk menghangatkan tubuhku—(karena tak ada yang bisa benar-benar mengenyangkanku selain semangkuk nasi panas buatan emakku sendiri). Harga semangkuknya sekitaran 400 rubel. Untung saja uangku cukup untuk itu.             Kupilih untuk membawa pulang Solyanka itu dan berlanjut untuk segera kembali ke apartemen. Rasanya terlalu menyebalkan untuk berlama-lama di keramaian kota Sankt Petersburg. Kota ini seperti kota yang tak pernah tidur, tetap tampak keramaian bahkan sudah larut malam, keramaian yang hidup dalam keheningan kota.                Kulanjutkan langkah menuju apartemenku, masuk, kemudian menyantap semangkuk Solyanka dan menyimpan yang satunya lagi untuk berjaga-jaga apabila besok pagi aku terbangun dengan keadaan lapar. Segera setelah itu aku menuju tempat tidurku dan beristirahat.   ******************   “knock, knock, knock, privyet!, selamat pagi, apakah ada orang di dalam?”, suara asing muncul dari balik pintuku.   “ah s**l, orang iseng macam apa yang berani bertamu sepagi ini?” kemudian kulihat jam yang menunjuk ke arah jam sembilan pagi.     “knock, knock, knock, privyet!,” suaranya makin jelas di telingaku, terdengar seperti suara seorang wanita.   “tunggu sebentar nona”, jawabku asal, karena sangat tidak mungkin untuk mengetahui umur dan status seseorang jika hanya dari suaranya saja. Aku bergegas mencuci mukaku dan langsung mengelapnya, setidaknya agar aku tak terlalu kelihatan baru bangun.   “privyet, selamat pagi nona, ada perlu a—pa?”   “apakah anda tuan Basim?, Sang Mahakarya?” ia bertanya sembari memotong pembicaraanku.   “bagaimana nona ta—hu?”   “boleh aku masuk?” lagi-lagi ia bertanya sembari kembali memotong ucapanku   Jujur saja, saat itu aku langsung kesal padanya, apakah ia tidak punya sopan santun? Seenaknya saja memotong setiap ucapanku dan memaksa untuk masuk ke apartemenku, dan kemudian tampak tak bersalah padahal jelas-jelas sudah mengganggu tidurku. s**l, kenapa aku harus bertemu orang menyebalkan hari ini.   ******************   “Ruangan ini tampak unik, punya kesan klasik di setiap sudutnya”, ucap wanita itu memulai percakapan.   “sudahlah itu tak penting, apa tujuanmu kesini?”, jawabku ketus,   “hahaha, apakah tuan tidak pernah diajari bagaimana caranya berekspresi, semua ekspresimu tampak sama, saat kau terkaget melihat aku tiba-tiba muncul di balik pintumu dan saat kau sedang kesal padaku, semuanya sama, datar”. Wanita itu menimpali ucapanku.             “sudahlah itu tak penting, apa tujuanmu kesini?”, jawabku sedikit meninggikan suaraku.   “okay, okay, baiklah tuan, kita baru saja bertemu sejak 10 menit yang lalu, dan kau sudah ingin membentakku, haha, perkenalkan namaku Sheren, salam kenal tuan” jawabnya menenangkan sembari tersenyum lebar.   “lagi-lagi kau menjawab dengan jawaban yang tak penting, yang inginku tanyakan adalah, apa tujuanmu kesini, sehingga kau dengan berani mendatangiku sepagi ini dan melakukan hal-hal menyebalkan barusan?”, tanyaku, lama-kelamaan aku justru semakin kesal kepadanya.   “aku ingin bertemu dengan sang mahakarya” jawabnya santai   Sejak saat ia mengatakan itu aku mulai panik, “aa—pa maksudmu?”.   “ya, tentu, aku ingin bertemu denganmu tuan, karena tuan telah membuat mahakarya yang luar biasa, kurasa tidak ada yang bisa menandingi kemampuan tuan dalam menulis, tuan adalah mahakaryanya”, wanita itu berbicara dengan setengah berapi-api.   “hufth, kukira kau tahu”, jawabku lega—(harusnya aku tidak boleh sembarangan mengucapkan pernyataan ini).   “tidak tuan, aku benar-benar tahu”, ucap wanita itu tiba-tiba serius.   “aa—pakah kau serius?”, tanyaku semakin panik,   “haha, tuan sangat aneh, aku tidak mengerti apa yang tuan bicarakan, aku hanya ingin memastikan apakah ekspresi tuan ketika kaget, kesal, lega dan panik akan ada perbedaan. Ternyata sama saja, datar, haha”, tertawa wanita itu puas.   “ah, s**l”, meskiku kesal, aku sedikit lega karena ia memberikan jawaban semacam itu.   ******************               Pembaca yang hebat, aku tidak akan mempersulit anda membayangkan bagaimana dan seperti apa wanita misterius barusan, akanku jelaskan kepada anda layaknya aku menjelaskan kepada salah satu aktorku tentang karakter yang akan ia mainkan.             Saat aku pertama kali melihatnya, ia tampak manis. Hanya saja ada yang sedikit menggangguku, yaitu pakaiannya, sangat tebal dan lebar, pastinya mengganggu pemandangan orang yang melihatnya, dari kejauhan ia akan tampak seperti wanita besar dan gemuk. Tapi dapat kupastikan bahwa dia adalah wanita yang tidak gemuk, itu dapat dipastikan dari lehernya yang kecil, dan pipinya yang tirus. Ia tampak tidak berbeda jauh dariku, baik tinggi badannya maupun usianya, kemungkinan ia lebih muda.              Ia tampak seperti wanita-wanita Rusia pada umumnya, hanya saja jika diperhatikan dari gaya berpakaian, sikap, dan tata kramanya, dapat dipastikan bahwa dia bukan berasal dari desa, pastilah berasal dari kota besar.             Kurasa sudah cukup, pembaca yang hebat. Selanjutnya silahkan anda mengimprovisasi bagaimana perawakan wanita tersebut dalam imajinasi anda.   ******************   “jika sudah tidak ada urusan, bisakah kau pergi dari apartemenku?, masih ada tulisan yang harus ku selesaikan”, ucapku seakan-akan sangat ingin mengusirnya.   “well, baik tuan, kurasa memang benar yang di-omongin orang-orang tentang sang mahakarya, dia adalah lawan bicara yang buruk. Sekalipun hari-harinya adalah menulis dialog, membuat dialog yang menyenangkan untuk percakapannya sendiri saja dia tidak bisa, haha, baiklah jika itu mau tuan aku akan segera meninggalkan tempat ini, terima kasih atas waktunya tuan”, wanita itu pamit begitu saja.   “iya silahkan, jangan pernah menggangguku lagi. Tapi, tunggu sebentar, kurasa kau bukan dari kota ini, dimana rumahmu?”, tanyaku hanya untuk memastikan dugaanku, karena tak akan mungkin aku akan tertarik dengan hal tak penting itu.   “aku tinggal di Moskow tuan”, jawab wanita itu berubah menjadi sangat lembut.   “apakah kau akan langsung pulang?”   “tentu tidak tuan, aku ingin menikmati waktuku lebih lama di Petersburg”.   “baiklah kalau begitu, kuingatkan padamu jangan terlalu larut jika ingin berkeliaran di kota ini, apalagi di musim dingin begini, dinginnya kota akan menusukmu dan perlahan bisa jadi akan membunuhmu”, ucapku mengingatkannya   “hehe, terima kasih tuan, tenang saja, aku sudah menggunakan mantel yang sangat tebal dan besar hari ini, jadi tak akan mungkin udara dingin dapat menembusnya”, jawabnya sembari menyambungnya dengan senyuman, jujur saja, kali ini ia tampak lebih manis.   “baiklah, sekali lagi kuingatkan, jangan pernah menggangguku lagi, aku terlalu sibuk untuk meladeni orang aneh sepertimu”.   “haha, baiklah tuan, sampai jumpa” ucap wanita itu pamit.   “ya”, jawabku datar.   Kamipun berpisah arah. Aku melangkahkan kakiku menuju ruang kerjaku untuk melanjutkan tulisan biografiku semalam, dan wanita misterius itu menyeret kakinya—(ia tampak benar-benar menyeret kakinya, mungkin efek yang diakibatkan oleh pakaiannya yang terlalu lebar)— menuju pintu keluar dan meninggalkan apartemenku.   ******************               Kulanjutkan kembali tulisanku yang baru selesai satu bab itu. Kemudian di pertengahan aku tiba-tiba teringat ucapan-ucapanku kepada wanita misterius itu.   “Mengapa aku mengatakan hal-hal yang membuatku seakan peduli padanya?” “Aku baru mengenalnya setengah jam yang lalu, dan mengapa ucapanku seakan-akan seperti kami telah berkenalan lama?”   Jujur saja, ini adalah pertama kalinya aku benar-benar merasakan percakapan yang berbeda dari biasanya, bahkan aku tidak pernah merasakan seperti ini jika bercakap dengan emak atau bapak, rasanya aneh.             Apakah mungkin ketertarikanku selanjutnya muncul?. Tapi kurasa ini adalah ketertarikan yang berbeda, ini bukan seperti ketertarikanku dengan surat yang kutemukan semasa SMA dulu atau ketertarikanku pada karya seni. Ini hal baru. Kurasa ini pertama kalinya, aku mulai tertarik untuk mengenal orang lain. Dan wanita itu, Sheren, yang memunculkan ketertarikan itu.             Dia adalah wanita yang benar-benar misterius. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN