Adegan 3 : The True Sight

1616 Kata
“Sensasi macam apa ini?”, apakah ini yang biasanya orang-orang alami ketika tertarik pada suatu teka-teki dan tak kunjung menemukan jawabannya. Ah s**l, aku membenci sensasi ini.             Sudah semingguan aku terus berkutat pada tiga surat aneh itu. Rasanya inginku tanyakan kepada emak dan bapak. Tapi rasanya tak mungkin, emak tak akan mungkin mengerti, dan bapak pasti hanya akan menganggap ini sebuah lelucon. Tapi aku seperti benar-benar membenci sensasi ini, kalau tidak salah orang-orang menyebutnya dengan sebutan rasa penasaran.             Hari ini sekolahku tengah libur, oleh karenanya, kumanfaatkan waktu senggangku pergi ke warnet di dekat rumahku untuk mencari tahu lebih dalam tentang “Mahakarya” ini. Untungnya aku masih sempat  Menyisihkan uang jajanku sejak seminggua lalu, cukuplah untuk menyewa komputer 3 jam-an.             Aku memainkan tanganku dan berkali-kali mengetik di semua platform yang ada, google, f*******:, i********:, twitter, dan otakku terus terfokus untuk mencari satu kata, “Mahakarya”. Namun hasilnya nihil. Tidak ada yang benar-benar membuatku puas akan jawaban yang muncul di laman-laman itu. Sia-sia saja rasanya.             Aku bergegas mematikan komputer itu, membayar bill sewa warnet, dan segera pulang.    ******************   “~kring kring kring kring~”, tiba-tiba ponselku berbunyi dan bergetar.   “Ah s**l, selalu saja ada yang mengganggu kerjaanku”   Namun tetap kuangkat telpon itu, barangkali penting.   “halo, tu-tu-tuan Basim, a-a-apakah tuan me-melihat kakak saya?”, terdengar suara seorang pemuda gagap yang entah siapa dan menanyakan hal yang saya tidak tahu maksudnya.   “hei, saya tidak tahu siapa anda, siapa kakak anda, dan mohon jangan ganggu saya!”, jawabku sedikit meninggikan nada   “tu-tu-tuan, kumohon, kakakku hilang, dan aku butuh bantuanmu tuan, namanya she-she-she~~”, suaranya pun tiba-tiba menghilang, pertanda obrolan kami terputus.             Sejujurnya, aku tidak terlalu peduli dengan orang misterius yang menelponku itu. Alhasil, aku kembali melanjutkan penulisan biografiku yang terganggu karena telpon tersebut.   ******************               Sepulangnya dari warnet, aku merasakan kejanggalan di rumahku. Di pekarangan, aku melihat para warga berkerumun dan tertunduk suram, dan, lama-kelamaan satu per satu pergi meninggalkan pekarangan rumahku.             Aku segera masuk ke rumah, berlari bergegas masuk, dan mematung setelah melihat apa yang aku lihat di depan mataku sendiri.   “EMAK!!, BAPAK!!”   Aku melihat kedua orang tuaku terbujur bersimbah darah, di ruang tengah rumahku. Jujur, saat itu pikiran dan pandanganku berasa kosong. Aku mendekati orang tua, untuk memeriksa, dengan gemetaran yang luar biasa.             Aku menyeret kakiku menuju kamar, tatapanku kosong, pikiranku kosong. Tidak ada satupun yang bisa aku pikirkan setelah melihat kejadian mengenaskan itu. Perasaanku baru pagi tadi aku pamit kepada emak dan bapakku untuk pergi ke warnet. Tak di sangka emak dan bapak sudah tak bernyawa lagi siang ini.             Aku terdiam sejenak, menghela nafas panjang, dan memutar knop pintu kamarku. Dan lagi-lagi ada hal aneh yang kutemukan di meja belajarku. Sebuah tiket beserta paspor  keberangkatan dua hari lagi, tertulis namaku di dalamnya, dan tertuju suatu tempat yang tidak pernah aku dengar sebelumnya, Kota Sofia, Bulgaria. Di meja itu pun terdapat sebuah surat yang tertulis :   “Hei bocah yang selalu tersenyum, Tidak perlu bersedih, kamu itu milik kami, bukan milik kedua orang tua itu, haha, biarlah mereka hidup dan mati dengan cara semacam itu, lupakanlah, Hei bocah, kau itu mahakarya, kami menanti karyamu disini, temui kami di kota Sofia, kupastikan kau tidak lagi hanya tersenyum, tetapi juga akan tertawa, haha”                 Aku bergegas menghubungi pihak-pihak yang paham bagaimana mengurusi mayat, aku biarkan mereka mengurusinya. Dan aku mencoba berfokus menyiapkan diriku untuk memecahkan teka-teki selanjutnya, yang mungkin akan memiliki benang merah dengan teka-teki yang sebelumnya belum sempat aku pecahkan.             Tanpa berfikir panjang, aku memulai awal petualanganku ke negeri entah berantah itu dengan lekas menyiapkan semua pakaian yang aku perlukan, membawa makanan secukupnya dan pergi dengan menumpangi truk kargo yang akan mengangkut barang-barang dari desaku ke bandara. Masalah uang, aku tidak perlu lagi memikirkannya lagi, karena di samping paspor, visa, dan surat yang kutemui di kamarku beberapa hari lalu, aku juga dibekali oleh orang yang entah siapa itu dengan sejumlah uang tunai bermata uang rupiah dan euro, serta juga dengan kartu kredit lengkap dengan pinnya.             Perjalanan sekitar 4 jam aku tempuh hingga sampai di bandara yang dituju. Sesampai di bandara, langsung kulanjutkan lagi perjalananku dengan mengikuti semua prosedur tentang bagaimana bepergian dengan pesawat. Masuk ke gerbang keberangkatan, dan kucoba untuk terus-terusan bertanya dengan orang-orang disamping kanan-kiriku,agar tidak kesasar, seringkali pula diantara mereka mulai pergi menjarakiku lantaran kesal dan risih dengan sifat “kampung”ku, haha, maklumlah baru kali ini aku bepergian dengan pesawat, suatu hal yang hampir tidak mungkin terjadi seharusnya.             15 jam perjalanan di atas awan, kuhabiskan saja waktuku untuk tidur, bolak-balik membaca buku petunjuk keselamatan berulang kali, atau sekedar melamun dan mengandai-andai tentang hal apa yang akan kudapati di negeri eropa nanti. Jujur aku merasa bosan setengah mati, tapi tak ada lagi yang bisa aku lakukan, selain hal-hal itu. Yasudahlah.   ******************   Belum usai aku mengingat hal-hal yang aku alami ketika diatas pesawat kala itu kemudian menuliskannya di biografiku, sebuah peluru mendesing dan menghancurkan kaca kamarku, memaksaku untuk merunduk dan bersembunyi di bawah meja kerjaku.   “Ahh k*****t!, tidak bisakah orang-orang di muka bumi ini berhenti menggangguku”, teriakku mengumpat.   Tak lama kemudian, ku mendengar seseorang mendobrak pintu ruang kerjaku dan berteriak dengan suara yang sudah tak lagi asing di telingaku,   “Tuan Basim, ayo ikut saya, anda harus segera pergi dari tempat ini”   Wanita misterius di waktu pagi tadi, kembali datang dan memaksaku untuk ikut dengannya. Tanpa pikir panjang, aku bergegas memasukkan laptopku kedalam tasku, mengenakan mantelku, dan tak lupa membawa Bokav yang untung saja masih tertidur di dalam kandang kecilnya, sehingga tak sulit bagiku untuk membawanya. Setelah aku merasa siap untuk pergi, wanita misterius itu langsung menggenggam tanganku erat-erat, dan langsung menuntunku keluar dari apartemen sambil berlari. kupastikan ia dalam kondisi sedang sangat ketakutan, hal itu kurasakan sendiri ketika menggenggam tangannya, begitu dingin dan sedikit gemetaran.             Tak ada satupun hal yang bisa kulakukan, selain mengikuti tuntunannya. Kami memasuki mobil yang terparkir di bagian belakang apartemen, kurasa itu mobil miliknya.             Seusai kami masuk dalam mobil itu, masing-masing kami hanya terdiam. Dia mencoba menenangkan dirinya sendiri sebelum memulai mengemudikan mobilnya, sementara aku hanya terdiam duduk di sampingnya sambil bertanya-tanya, apa yang baru saja terjadi.             Setelah wanita itu sedikit merasa tenang, barulah ia mulai memutar kunci mobilnya, menyalakannya, dan mengendarainya menuju tempat yang aku juga tak tahu pasti kemana, yang pasti aku sekarang seperti tak berani menanyakan kepadanya. Rasanya sangat canggung.             Ketimbang canggung terus-menerus, akhirnya aku memutuskan untuk kembali melanjutkan penulisan biografiku yang lagi-lagi terganggu, kali ini oleh desingan peluru yang mengagetkanku ditambah kepanikan yang ditimbulkan oleh wanita misterius di sampingku ini.             Kumulai meletakkan laptopku di pangkuan, menyalakannya, dan melanjutkan cerita perjalananku 15 jam di atas awan.             ******************   Tiba-tiba ketikaku masih berandai-andai memikirkan kehidupanku nanti di Eropa, seorang pramugari cantik menghampiriku dan membawakan aku hidangan makan malam yang tampaknya begitu lezat, ditambah dengan variasi makanan yang sangat banyak sekali, rasanya gila saja jika aku harus menghabiskan semuanya—(ketika itu aku masih belum menyadari bahwa aku sedang berada dalam fasilitas penerbangan kelas satu). Tapi lama-lama kukembali berfikir bahwa perutku ini sudah sangat kosong dan memang perlu diisi.  Tanpa fikir panjang, langsung kulahap saja semua hidangan yang tersedia, semuanya kulibas tanpa ampun. Semuanya sangat nikmat, sampai-sampai aku tidak lagi pilih-pilih makanan dan minuman, sampai akhirnya aku salah meminum minuman yang tersedia, kepalaku mulai terasa pusing karenanya, kantuk yang berat, dan selanjutnya memaksaku untuk mengistirahatkan seluruh tubuhku saat itu juga. Lalu selanjutnya kuhabiskan sisa waktuku dengan hanya tertidur sangat pulas, seperti orang yang sudah mati lah kalau dikira-kira penggambarannya.   “Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, anda telah sampai di Kota Sofia, Georgia, silahkan turun dengan hati-hati dan pastikan anda membawa semua barang bawaan anda, dan terima kasih telah terbang bersama kami”   Suara pengumuman diatas pesawat itu membangunkanku, dan membuatku seketika sadar bahwa saat itu juga aku sudah sampai ke negeri yang benar-benar tak pernah ada sebelumnya dalam pikiranku. Kota Sofia, Georgia, disinilah aku akan menemukan jawaban dari teka-teki selama ini. Dan awal dari langkahku memahami MAHAKARYA.   ******************   “TUAAN MAHAKARYA, kita sudah sampai, selamat datang di kota saya, Moskow”, wanita misterius di sampingku tiba-tiba berteriak dengan begitu gembira. Seketika membuatku kaget dan langsung menghentikan penulisan biografiku.   Aku membalasnya dengan berusaha sedikit tersenyum,   “Nah, ini baru wanita misterius yang kukenal, penuh ceria dan senyum, bukan seperti wanita yang mengagetkanku ketika di apartemen tadi, penuh ketakutan dan kepanikan” s**l, mengapa aku mengatakan hal bodoh itu barusan, hal ini tentu akan membuat dia berfikir bahwa aku mulai peduli padanya.   “Haha, ucapan tuan barusan, seakan-akan memperlihatkan bahwa tuan telah mengenal saya begitu lama, padahal kan, kita baru saja kenal tadi pagi, tapi terima kasih atas perhatian anda tuan kepada saya” wanita itu kembali menjawab dengan senyuman super manisnya.   “Jadi sekarang, wanita misterius, bisakah kau jelaskan kepadaku tentang apa yang terjadi barusan, dan kenapa kita harus pergi ke kota ini”, tanyaku padanya.   “Eitss, ingat tuan, saya ini punya nama, kan tadi pagi saya sudah memberitahu anda tuan, nama saya Sheren tuan, Sheren”, jawabnya dengan sedikit menunjukkan ekspresi kesal.   “well, well, baiklah Sheren, sekarang aku ingin bertanya padamu, apa sebenarnya yang baru saja terjadi”, tanyaku kembali   “Hmmm, sebenarnya agak sulit untuk saya menjelaskan semuanya secara rinci kepada tuan, tapi yang pasti, yang saya lakukan tadi adalah semata-mata untuk menyelamatkan tuan, The True Sight sudah mengetahui keberadaan anda” Jawabnya mulai serius.   “The True Sight?”, rasanya aku pernah mendengar julukan itu, dan rasanya aku seperti pernah berurusan dengannya.   Sheren mencoba kembali melanjutkan penjelasannya, “Tuan ingat desingan peluru yang memecahkan kaca kamar tuan siang tadi?, itu adalah ancaman pertama yang diberikan The True Sight kepada tuan, maka mulai sekarang, tuan berhati-hatilah, lebih baik tetap bersama saya, di kota ini, dan jangan kembali ke Petersburg sebelum semuanya membaik”.   “Baiklah, Terima kasih, Sheren”, jawabku teduh, sambil mencoba mengingat kembali tentang T he True Sight yang pernah kukenal.   “Oiya tuan, aku sudah mulai mengantuk, bisakah kita berhenti sejenak membeli kopi, aku tahu tempat terbaik untuk mendapatkannya”, ucap Sheren kepadaku, persis seperti seorang balita yang meminta di belikan es krim oleh ayahnya.   “Baiklah, seperti katamu tadi, aku harus bersamamu, maka sekarang aku akan mengikutimu kemanapun kau mau”, jawabku mencoba kembali mencairkan suasananya.   “Oke, terima kasih tuan, si ekpresi menyebalkan”, ucapnya seakan puas atas jawabanku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN