Sesuai janjinya, keesokkan harinya Mahendra menjemput bik Siti di depan gerbang komplek perumahan tempat sang ayah tinggal. "Masuk mbok...sini aku bantuin." Ucap Mahendra membantu wanita itu masuk ke dalam mobil. Salahnya juga kenapa menjemput wanita kesayangannya itu, menggunakan mobil Fortuner yang jelas akan mempersulit bik Siti untuk naik. "Kita mau kemana mas Enda?" tanya bik Siti setelah mobil kembali melaju perlahan. "Kejutan buat bibik," sahut Mahendra tersenyum penuh arti. "Si mbok sudah tua, mbok ya jangan di kasih kejutan segala. Jantung mbok sudah rapuh mas," ucap wanita itu membuat tawa Mahendra menggelegar memenuhi seisi mobil. "Pokoknya mbok pasti senang... bahkan mungkin tidak ingin kembali lagi ke rumah tuan Permadi itu." Tukas Mahendra penuh keyakinan. Tak lupa pria

