"Mbak Siti ada di rumahku sekarang, Kak. Dia udah ceritain semuanya ke aku," ujar Fanya.
Ada kelegaan juga setelah mengetahui bahwa Siti ada bersama dengan Fanya. Itu artinya Udin tak perlu kesusahan lagi untuk mencari keberadaan sang pujaan hati.
"Syukurlah! Jadi kakak bisa hubungi Udin buat jemput Siti. Bilang sama Siti ya kalau Udin bakalan nikahin dia. Jadi Siti nggak perlu khawatir lagi," ujar Dion.
"Iya, Kak. Aku pasti sampaiin kabar baik ini ke Mbak Siti," sahut Fanya.
"Oke, kakak hubungi Udin dulu, ya."
"Kak ...." panggil Fanya yang seketika menghentikan niat Dion untuk memutus sambungan suara.
"Kenapa, Sayang?" tanya Dion diiringi dengan kernyitan di dahinya.
"Mm .... " Fanya nampak ragu-ragu saat akan bicara.
"Kenapa?" Dion mengulang pertanyaan.
"Kak Udin dan Mbak Siti itu kan terkenal alim, tapi nyatanya mereka-"
"Kenapa?" potong Dion dengan cepat yang seketika membungkam mulut Fanya.
"Kamu takut kita juga akan sama seperti mereka?" tembak Dion yang dengan canggihnya bisa membaca isi otak sang kekasih.
"Apalagi kamu tahu kalau kakak adalah mantan playboy yang gemar main perempuan," imbuhnya.
"Kak, aku ... aku cuma khawatir aja, karena ... aku nggak mau bikin malu kedua orang tua kita," ucap Fanya memberi penjelasan agar Dion tak salah paham.
"Fanya, kamu bisa pegang janji Kakak! Kakak nggak akan macam-macam sama kamu sampai kita nikah nanti," ujar Dion.
Kedua bola mata Fanya mengeluarkan embun bening. Dia lega mendengar janji Dion barusan. Dia berharap Dion bisa menepati janjinya tersebut. Sebab percuma jika semua hanya ada di mulut saja.
"Kalau gitu Kakak hubungi Udin dulu, ya! Aku cinta kamu, Sayang."
Dion mematikan panggilan suara tanpa menunggu jawaban dari Fanya. Lelaki itu menghubungi Udin dengan segera dan mengabarkan berita baik tersebut kepada sang sahabat. Kemudian ia memberikan alamat rumah Fanya kepada Udin agar Udin bisa segera menemui Siti.
Dion meraih jaket miliknya yang tergantung di hanger. Dengan mata berkaca-kaca ia berusaha untuk mengesampingkan rasa bersalahnya kepada Fanya.
"Maaf! Kakak harus lakuin ini demi harga diri Kakak, Fanya," ucap Dion.
**
Suara ketukan beberapa kali membuat Fanya segera membuka pintu kamarnya.
"Non, ada tamu di bawah," kata salah satu asisten rumah tangga memberitahu Fanya.
"Itu pasti Mas Udin!" Dari dalam kamar Siti berseru kesenengan.
"Iya, Mbak! Ayo kita turun sekarang!" ajak Fanya yang ikut bersemangat. Melihat Siti tersenyum penuh kelegaan membuat Fanya turut bahagia. Dia juga perempuan, dia paham bagaimana kalutnya Siti jika sang kekasih tak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya, sementara jabang bayi semakin besar di dalam rahimnya.
Fanya dan Siti berjalanan menuruni anak tangga. Begitu sampai ruang tamu, Udin beserta keluarga sudah duduk berjejer di atas sofa. Ada pula Ernest, Jovian dan Gilbert yang menemani sang sahabat.
Sementara Udin dan Siti saling menyapa kemudian berpelukan. Fanya justru berdiri tertegun, lalu mengedarkan pandangan matanya seperti sedang mencari-cari seseorang.
"Yank, maafin aku, ya! Aku janji nggak akan ninggalin kamu lagi. Kita nikah ya, Yank!" kata Udin seraya menyeka lelehan air mata Siti.
Adegan romantis yang Udin dan Siti pertontonkan tak digubris sama sekali oleh Fanya. Dia masih sibuk mencari di mana Dion kenapa tak ikut bersama dengan rombongan Udin Cs ke rumahnya.
"Fanya, Dion nggak bisa ikut. Dia ada urusan," ucap Gilbert yang tentunya paham dengan sikap Fanya yang gelisah seperti sekarang. Siapa lagi yang Fanya cari jika bukan Dion?
"Oh ... " Hanya dua huruf itu saja yang keluar dari mulutnya. Fanya tentu kecewa, sebab Dion tak memberinya kabar lagi setelah sambungan telepon satu jam yang lalu.
Apa Kak Dion takut ketemu sama Bang Faris kalau dia ikut ke rumah? Batin Fanya, bertanya-tanya.
Tapi keperluan apa yang sampai bikin Kak Dion nggak hubungin aku lagi sampai detik ini? Sepenting apakah itu? Jantung Fanya berdetak kencang. Serasa ada sinyal negatif yang kini masuk ke dalam hati dan perasaannya.
**
"Zayn, terus! Tante suka, Sayang!"
Seorang wanita berumur tiga puluh lima tahun tergolek pasrah di bawah kungkungan seorang pria muda yang sudah dua puluh satu tahun hidup di dunia. Wanita itu tak berhenti berteriak dan mendesah mendapati serangan yang dilancarkan brondong simpanannya ke setiap inci tubuhnya yang molek.
"Please, buang pengamannya!" pinta Sanny seraya merebut benda kecil berbungkus merah yang ada di tangan Zayn.
"Hei, nanti kamu bisa hamil, Beb. Suamimu nanti membunuh aku," desis Zayn yang merebut kembali bungkusan pengaman tersebut dari jari-jari lentik Sanny.
"Aku pakai kB, Beb. Aku nggak akan hamil. Jadi, nikmati aku tanpa pengaman, oke?" ujar Sanny dengan suaranya yang sexy.
Pergumulan itu pun berlanjut. Derit ranjang apartmen pribadi Sanny menjadi saksi begitu panasnya permainan dua insan yang sedang dibakar napsu tersebut. Berbagai gaya mereka lancarkan demi mencari yang namanya kepuasan. Hingga akhirnya Zayn tergolek di atas tubuh sintal Sanny yang tanpa sehelai benang, setelah ia berhasil menyemburkan benih miliknya di rahim tante-tante tersebut.
"Sayang, kamu selalu membuat Tante puas. Tante suka," ujar Sanny kemudian mengecup kening Zayn.
"Thanks, Tante," sahut Zayn seraya beranjak dan menjumputi pakaiannya.
Zayn memakai celananya meski masih bertelanjang d**a. Kemudian ia berjalan menuju ke dapur untuk mengambil minuman. Peluh yang mengucur di tubuhnya masih deras meski ac menyala dengan suhu rendah. Meladeni istri orang yang haus belaian memang sangat melelahkan. Namun, itulah satu-satunya jalan yang ia ambil untuk mendapatkan uang dengan cepat.
"Zayn, kamu masih belum mau pulang kan?" tanya Sanny. Ia menyusul Zayn hanya dengan mengenakan kimono tipis yang membungkus tubuhnya. Lantas ia memeluk Zayn dari belakang dan mengelus nakal d**a Zayn yang berbulu lebat.
"Kenapa, Tante?" tanya Zayn. Seketika sekujur tubuhnya merinding dengan perlakuan Sanny yang memancing naluri kelaki-lakiannya kembali.
"Aku masih mau, Sayang. One more again," ujar Sanny membuat Dion geleng-geleng kepala.
Hyper! Pekik Zayn dalam batin.
"Tante, aku harus ngojek buat tambah-tambahan bayar kuliah," kata Zayn sembari meletakkan gelas yang sejak tadi ada di tangan kanannya.
"Hei, kamu butuh berapa? Oke, Tante transfer sekarang."
Sanny melepaskan tubuh Zayn. Lalu ia berjalan menuju tempat di mana ia meletakkan tas brandeednya. Sanny mengambil telepon genggamnya dan segera mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening Dion.
"Dua puluh juta cukup kan, Sayang?" tanya Sanny setelah uang-uang tersebut berpindah dari rekeningnya ke rekening simpanan mudanya tersebut.
Zayn tersenyum, "Oke. Makasih, Tante," ucapnya.
Sanny mendekati Zayn kembali. Jalannya berlenggak-lenggok bak model yang sedang berpentas di catwalk. Lalu Sanny meletakkan tangan kanannya di belakang kepala Zayn. Wanita itu mendekatkan bibirnya ke telinga Zayn kemudian berbisik, "Kita main di sini, Sayang. Bermain di dapur sensasinya lebih oke dari pada di kamar."
Zayn pun tak menolak. Selama uang mengalir deras ke rekeningnya. Dia akan menuruti apapun mau Sanny.