**
"Terima kasih, Mbak," ucap Fanya kepada seorang kasir minimarket yang telah melayani transaksinya dengan baik dan ramah. Diiringi dengan senyum perpisahan ia pun meninggalkan meja kasiran dan berjalan menuju ke pintu keluar sambil membawa barang belanjaannya.
Begitu ia keluar dari dalam minimarket berlogo biru kuning tersebut, Fanya melihat ada seorang gadis seumuran dengannya tengah duduk melamun di kursi yang tersedia di depan minimarket tersebut. Gadis itu terdiam dan sibuk dengan pikirannya. Tatapannya kosong, terlihat jelas jika saat ini dia sedang dalam memikirkan masalah yang berat.
"Kayaknya aku pernah ngeliat cewek ini, tapi di mana, ya?" Fanya bergumam seraya memperhatikan gadis itu dari jarak kurang lebih empat meteran. Fanya mengernyitkan keningnya berusaha untuk mengingat-ingat.
"Seriusan aku nggak asing sama dia." Fanya bergumam lagi.
Fanya menjejakkan langkah, mendekati gadis yang membuatnya penasaran. Gadis itu nampak menitikkan air mata dan dia hapus dengan gerakan terburu-buru. Mungkin ia malu jika ada orang yang menyadari tangisnya. Jadilah, Fanya semakin yakin jika gadis yang seumuran dengannya itu sedang berada dalam masalah yang besar.
"Harusnya aku nggak ngelakuin hal bodoh itu," cetus si gadis berkerudung merah itu lalu meletakkan kepalanya di atas meja dengan posisi wajah yang tertelungkup di bawah.
"Kasian banget." Fanya menjadi iba. Bukan bermaksud untuk ikut campur, tapi jika berkenan Fanya ingin sekali membantunya.
"M-Mbak!" Dengan gagap Fanya memanggil gadis itu diiringi dengan tangannya yang mampir di punggung gadis tersebut.
Gadis itu terkesiap, ditandai dengan melonjaknya kedua bahu dan tolehan kepala menghadap ke Fanya. Fanya pun segera menarik tangannya menjauh, lalu mengatupkannya sebagai simbol permohonan maaf.
"Fanya," sebut gadis tersebut.
**
"K-Kamu hamil?!" tanya Fanya dengan kedua bola mata yang membelalak lebar.
Siti, gadis yang ia temui di depan minimarket beberapa menit yang lalu pun menganggukkan kepalanya.
"T-tapi ... Kenapa bisa hamil?" tanya Fanya lagi. Jantungnya berdetak cepat setelah mendengar cerita dari Siti. Pantas saja jika Fanya merasa tak asing dengan wajah Siti, karena ternyata mereka berkuliah di kampus yang sama.
"Apa aku harus jelasin ke kamu bagaimana prosesnya sehingga aku bisa hamil?" tanya Siti dengan lugunya.
Fanya segera melambaikan tangannya ke kanan dan kiri. "No! Tapi ... kenapa kamu bisa ketipu sama rayuan buaya? Itu maksud pertanyaanku, Mbak," jelas Fanya.
Fanya ingin tahu bagaimana gadis sekalem dan sesholehah Siti memutuskan untuk bersedia mempertemukan sel telurnya dengan s****a di saat ia belum terikat pernikahan sah dengan kekasihnya.
"Karena dia berjanji akan bertanggung jawab dan Mas Udin-"
"Stop! Siapa nama kekasihmu?" Fanya menjeda ucapan Siti dengan cepat.
"Udin, Mas Udin," jawab Siti lalu menundukkan kepalanya seraya meremat-remat jemari tangannya dengan gelisah.
"U-Udin t-temannya Kak Dion?" tanya Fanya untuk memastikan.
Siti pun mengangguk. Benar-benar Fanya tak menyangka. Ia memegang kepalanya dengan kedua tangan lalu menghempas napas kasar ke udara.
"Kak Udin dan dirimu adalah dua orang alim, kata Kak Dion. Tapi ...."
"Kami khilaf, Fanya. Dan ini bisa kamu jadiin pelajaran bahwa ketika dua insan berduaan maka yang ketiga memanglah setan. Kamu pacaran kan sama Dion?"
"Aku?" Fanya menunjuk dirinya sendiri. "Aku hanya lagi dekat aja," imbuhnya menutupi hubungannya dengan Dion.
"Semua orang udah tahu kalau kalian dekat, tapi kedekatan kalian melebihi adik kelas dan kakak kelas. Dion dan Udin itu satu pergaulan, jangan-"
"Aku percaya aku bisa jaga diriku baik-baik, Mbak," sambar Fanya dengan wajah yang merah padam.
Aku berjanji aku nggak akan pernah tergoda sama bujukan Kak Dion untuk pacaran yang melebihi batas, batin Fanya.
"Terus aku harus bantu Mbak Siti apa?" tanya Fanya.
"Tolong pertemuin aku sama Mas Udin," jawab Siti.
**
"Sudah lama kamu nggak pulang ke rumah, Dion. Emak kangen banget," ucap ibu kandung Dion melalui sambungan suara.
Sejak percekcokannya dengan sang kakak, Zian. Dion memang belum pernah pulang ke kampung untuk menemui orang tuanya. Dion bahkan menutup akses komunikasi, sehingga orang tua Dion terpaksa harus menyewa nomor handphone tetangga untuk menghubungi sang anak bungsu.
"Mak, Dion lagi sibuk nyari duit di sini," jawab Dion yang baru saja sampai kostan setibanya ia dari kampung Udin.
"Emang udah kumpul berapa duit lu? Hah? Emak lagi butuh duit, bisa nggak lu ngasih? Gue udah nopang biaya hidup emak bapak ye selama ini," sambar Zian dengan suara yang kencang. Lelaki itu duduk di belakang ibunya.
Mendengar ocehan si kakak kandung, membuat Dion menjadi naik darah. Ternyata sikap Zain yang kerap meremehkan dirinya tak juga berubah dan hilang meski setelah sekian lama mereka tak bicara. Dion mengepalkan tanganya, pertanda bahwa dia tengah menahan amarah. Ia mengeratkan giginya, kesal. Seandainya Zian ada di depan matanya, sudah pasti si kakak sudah dia buat babak belur habis-habisan.
Duit tabungan gue udah habis. Gimana bisa gue kirim duit ke emak untuk bungkam mulut Zian, batin Dion.
"Kenapa lu diam? Transfer sekarang kalau emang lu ada duit!" tantang Zian.
Dion benar-benar kesal dan marah hingga ia melemparkan handphonenya ketembok kamar. Meski layarnya terlihat retak karena benturan, beruntung telepon seluler berukuran lebar itu masih bisa dipergunakan.
"Apa senggak berguna ini gue jadi anak? Aaarkh!" Dion frustasi. Ia meremas rambutnya dengan kedua tangan dan berteriak sekencang-kencangnya. Lelaki itu menangis terisak menahan sakit akibat keterbatasan ekonominya selepas bangkrutnya kedua orang tua.
"Gue juga pengen dibanggain kaya Zian. Gue juga pengen dianggap mandiri dan bisa nyari duit kaya dia!"
Sedang meratapi nasib dan tengah bergelut dengan isi pikiran yang ruwetnya tak karuan. Handphone yang tadi sempat menjadi sasaran amukan Dion pun berdering. Nampaklah wajah seorang wanita cantik bernama Tante Sanny menghiasi layar ponselnya.
"Iya, Tante!" jawab Dion. Ia berusaha untuk baik-baik saja meski suaranya terdengar serak karena tangisnya.
"Baby, kita ketemu yuk! Tante lagi pengen banget. Jangan khawatir! Apapun yang kamu mau bakal Tante turutin, Sayang," ajak Sanny dengan suaranya yang manja dan mendesah membuat bulu kuduk Dion merinding setiap kali mendengar suaranya.
Ini kesempatan gue buat dapat duit yang banyak. Buat ngebungkam mulut Zian, batin Dion. Ia berpikir ini adalah peluang emas yang nggak boleh dia lewatkan.
"Oke, Baby. Aku ke apartment kamu sekarang juga, ya. Wait me!" sahut Dion tanpa ragu.
Setelah panggilan suara dengan Sanny terputus, giliran Fanya yang menghubunginya. Sang kekasih sekedar ingin menanyakan di mana posisinya dan bagaimana kabar Dion.
"Kakak baik-baik saja, Sayang," jawab Dion dengan begitu lembutnya.
"Jadi, Kakak pergi ke kampung halaman Kak Udin karena Mbak Siti hamil, ya?" Setelah berbasa-basi, Fanya pun menanyakan tentang hal penting yang ia ketahui.
Dion pun menelan ludah kasar. Bagaimana bisa Fanya mengetahui tentang rahasia ini? Siapa yang bercerita?
"K-kamu ... kamu tahu dari mana, Sayang?" Dion gugup setengah mati.