Istri Orang 17

1102 Kata
Dion, Ernest, Jovian dan Gilbert memutuskan untuk menginap di rumah Udin. Mumpung ada waktu liburan yang cukup panjang untuk mereka mempersiapkan pernikahan Udin dan juga Siti. Keempat sahabat yang selalu kompak tersebut, kini tengah menikmati malam mereka-nongkrong di pinggir pematang sawah ditemani oleh suara jangkrik dan embusan angin yang menggoyangkan dedaunan. Padi yang nampak hijau terhampar di hadapan mereka pun terlihat bergoyang seirama. "Gue nggak nyangka, ternyata Udin nggak cuma nembak Siti pakai I Love you doang, tapi pakai senjatanya juga. Sialan!" pekik Ernest sambil geleng-geleng kepala. Hingga detik ini tragedi yang dibuat oleh Udin dan Siti masih rumit untuk diterima oleh akal pikirannya. Udin lhoh Udin, sama Siti yang notabene kalem banget dan alim. "Gue juga nggak habis pikir. Udah habis pikiran gue mikirin ini," sambar Jovian. "Nggak perlu kalian pikirin juga!" sungut Dion. "Orang udah terjadi ngapain mesti dipikirin?! Lu pikir anak dalam kandungan Siti bakalan gugur kalau terus dipikirin?" Ernest dan Jovian manggut-manggut mendengar ocehan Dion. Lantas Ernest meraih satu batang rumput yang ada di hadapannya, lalu ia cabut dan ia pilin-pilin untuk dijadikan bahan kegabutan tangannya. "Lagian bego banget, kan bisa pakai ndomko," desis Ernest. "Terus mana ini si Udin? Kok nggak nongol juga dari tadi?" tanya Gilbert seraya menoleh ke arah samping kiri di mana rumah Udin yang khas pedesaan berada. Rumah berlampu orange yang nampak remang-remang tersebut terlihat sepi tak seperti biasanya. "Mungkin dia lagi merenung di dalam kamar," jawab Jovian ikutan memutar lehernya ke arah mata Gilbert menuju. "Udah telat buat merenung juga. Yang sekarang harus kita lakuin, kita mesti mastiin ke dia kalau dia udah hubungi Siti dan bilang ke Siti kalau dia bersedia untuk tanggung jawab," kata Dion. Menurut lelaki berumur dua puluh satu tahun tersebut, tak ada yang lebih penting dari sebuah tindakan. Terus berpikir, merenung, menyesali keadaan, itu tidak ada gunanya. Yang dibutuhkan saat ini adalah sikap tanggung jawab sesegera mungkin sebelum perut Siti semakin membuncit. "Kasian Siti dia pasti berharap kita bisa bantu. Dia masih nunggu Udin dengan harap-harap cemas. Perempuan lagi hamil ditinggal gitu aja tanpa ikatan pastilah tertekan, Bro," ujar Dion yang lagi-lagi memiliki pemikiran yang cukup dewasa. Rasa kemanusiaan lelaki itu cukup tinggi apalagi kalau berurusan sama yang namanya wanita. "Lagian Si Siti kok mau dibuntingin dulu," desah Gilbert sambil garuk-garuk kepala. "Jangan salahin Siti! Wanita kalau udah cinta memang kadang suka oon," sambar Dion. Jovian menepuk pundak Dion, lalu ia berkata, "Kesambet orang-orangan sawah kayaknya ini sohib gue. Ngomongnya dari tadi bener terus. Hahaha." *** "Bu, Ibu maafin Udin ya, Bu." Udin mengiba. Ia duduk di lantai, di sisi ranjang di mana ibunya berbaring. Lelaki itu menggenggam erat tangan ibunya, sesekali ia cium dengan penuh rasa penyesalan yang berkecamuk dalam d**a. "Kamu punya adek cewek, harusnya kamu mikir sebelum ngelakuin sesuatu! Kalau adekmu yang digituin gimana?" ujar Rohana. Tak ada lagi air mata yang menetes di dua sudut mata wanita tua tersebut. Namun, masih tetap ada rasa marah yang belum bisa ia tuntaskan. "Udin tahu, Bu. Amit-amit jangan sampai adik-adik Udin hamil di luar nikah. Cukup Udin aja yang bikin malu keluarga, Bu," ujar Udin. "Cepet hubungi Siti! Dan bilang kalau kamu mau tanggung jawab. Ibu nggak suka punya anak yang nggak tanggung jawab," perintah Rohana dengan tegas. Udin bergegas menjalankan titah dari ibunya. Ia bangkit dari tempat yang ia duduki dan berjalan masuk menuju kamarnya. Lantas, lelaki itu mengintruksikan kedua kakinya untuk membawanya mendekat ke lemari pakaian. Lemari usang yang telah mendiami kamar Udin selama dua puluh tahunan. Pintunya pun sudah tak lagi rapat. Beberapa bagian sudah mulai koyak. "Kriet!" Begitulah suara ketika pintunya dibuka. Kemudian, tangan Udin meraih ujung laci yang ada di dalam lemari tersebut untuk mengambil sebuah benda. Iya, handphone mahal yang ibunya belikan beberapa bulan yang lalu. Udin simpan di dalam lemari ini semenjak ia tiba di kampung, hingga detik ini tidak pernah ia nyalakan kembali. Ia menonaktifkan ponselnya untuk melarikan diri dari masalahnya terutama dari Siti. "Aku pengecut banget jadi lelaki. Berani berbuat nggak berani tanggung jawab. Maafin Abang ya, Siti," sesal Udin seraya menekan tombol power ponsel touchscreen miliknya. Setelah melewati proses booting, telepon genggam milik Udin pun siap untuk digunakan. Pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah foto Siti yang nampak manis mengenakan hijab berwarna merah. "Maafin Abang, Siti." Rasa sesal dan bersalah Udin semakin menggebu di dalam d**a ketika ia mengingat janjinya yang akan selalu ada di sisi Siti apapun keadaannya. Namun, ternyata dengan gelap mata ia justru meninggalkan wanita itu begitu saja. Begitu banyak pesan yang masuk ke dalam ponsel berukuran besar nan tipis tersebut. Yang paling banyak tentunya dari Siti. Banyak emoticon menangis yang wanita itu kirimkan karena rasa gelisah dan takutnya akibat ditinggalkan. Tanpa terasa air mata Udin pun menetes. Ia tahu bahwa kesalahannya amatlah fatal. Mereka melakukan hubungan tersebut atas suka sama suka tanpa paksa. Dan mereka juga sudah berkomitmen untuk bersedia menanggung semua akibatnya, tapi ia justru berubah menjadi lelaki j*****m yang tega meninggalkan wanita yang dihamilinya. Dengan tangan gemetaran, Udin mencoba untuk menghubungi Siti kembali. Sebenarnya ia malu, ia takut, tapi ia harus tetap melakukannya. Ia harus melumpuhkan segala rasa demi sebuah tanggung jawab. "Siti Chayank." Nama yang Udin sematkan dalam buku telepon ponselnya untuk sang kekasih hati. Nama tersebut tertulis besar di layar disertai dengan foto Siti yang sangat menawan. Beberapa kali sambungan suara berdering, hingga akhirnya .... ** "Siti sudah saya usir dari rumah!" tegas Eko Juniarto, Bapak Kandung Siti ketika Udin dan sekeluarga tiba ke kediaman miliknya di Jakarta. Ketika mentari masih belum muncul, rembulan pun mengintip di balik awan hitam, Udin dan sekeluarga beserta sahabat-sahabatnya segera bertolak ke kota. Rencana untuk menginap beberapa hari pun dibatalkan dengan seketika. Panggilan suara malam itu yang Udin tujukan kepada Siti membuatnya harus segera mengambil tindakan. Tak bisa menunggu, ia harus datang untuk mempertanggung jawabkan semuanya dihadapan keluarga besar. "Pak, tapi dia nggak salah, Pak. Saya yang salah," ujar Udin. Dengan pemberani ia mengakui kesalahannya. Meski sekujur tubuhnya gemetaran, degup jantungnya tak karuan, ia harus berdiri tegak untuk menjadi seorang lelaki yang penuh tanggung jawab. "Siti salah, kamu juga salah! Tapi bagi saya, dia bukan anak saya lagi," tegas Eko. Tubuhnya yang gagap dan kekar, beserta brewok di sekitar dagunya. Membuat ia terlihat sangat menyeramkan. Pantaslah kalau Siti selalu takut dengan bapaknya. "Di mana Siti sekarang, Pak?" tanya Udin. Inilah yang paling penting, mengetahui keberadaan Siti. "Saya ingin menikahinya. Saya akan bertanggung jawab," imbuhnya. "Saya tidak tahu di mana Siti. Dan saya pun juga tidak peduli," jawab Eko. Lantas lelaki berumur lima puluh tahun itu pun berbalik badan dan melenggang pergi meninggalkan rombongan keluarga Udin. Udin kebingungan. Bagaimana bisa dia menghubungi Siti jika ponsel wanita itu saja kini ditahan oleh Bapaknya?!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN