Istri Orang 16

1030 Kata
Rohana alias ibu kandung Udin yang jatuh pingsan akibat shock karena mendapatkan kabar bahwa anak lelaki pertamanya itu menghamili wanita di kota, segera digotong untuk dibawa masuk ke dalam kamar. Rohana dibaringkan di atas tempat tidur dengan tubuh yang lemas tidak karuan. "Kayu putih! Buruan!" seru Sabeni, ayah kandung Udin mengomando siapa saja anaknya yang mau menuruti perintahnya untuk mengambilkan minyak urut. "Mak, maafin Udin, ya, Mak! Burung Udin udah nakal sampai parkir sembarangan, Mak," ujar Udin sambil merengek panik takut ibunya kenapa-napa. "Bang Udin memang keterlaluan!" sungut Maesaroh adik Udin yang pertama alias anak nomor dua. "Maafin Abang, Saroh," tutur Udin merasa menyesal. Maesaroh dibantu oleh Maesari membaluri tubuh ibu mereka dengan banyak minyak kayu putih agar ibu segera sadar dari pingsannya. Sementara itu, Sabeni menarik Udin keluar kamar dan dibawanya ke ruang tamu untuk berkumpul dengan teman-teman Udin yang lainnya. "Duduk lu anak nggak tahu diuntung!" umpat Sabeni. "Ampun, Pak! Udin janji nggak bakal salah parkir lagi," ucap Udin seraya mengatupkan kedua tangannya. "Makanya pengaman dipakai," celetuk Ernest. "Nah ini nih yang bikin Indonesia nggak maju-maju!" sungut Sabeni. "Anak kuliahan itu sibuk mikirin pelajaran bukan bergaul ama pengaman!" "Ya, tapi seenggaknya kalau pakai pengaman nggak akan kebobolan atuh, Pak," debat Ernest. "Ckckckck! Kalian ini memang, ya!" Sabeni geleng-geleng kepala menanggapi perilaku anak muda jaman sekarang. "Sekarang Bapak tanya sama kamu Udin. Siapa wanita yang udah kamu bikin melendung perutnya?" Sabeni mulai mengintrogasi anaknya. "Namanya Siti, Pak. Dia anak desa tetangga yang sama-sama kuliah di kota," tutur Udin sambil menundukkan kepalanya karena takut menatap mata ayahnya yang terbelalak apabila sedang marah. "Astagfirullah! Keterlaluan kamu, Din! Bisa-bisanya kamu ngelakuin itu! Nggak takut dosa kamu?! Hah?!" cecar Sabeni dengan suara yang super kencang. Saking semangatnya Sabeni bicara, air liurnya sampai ada yang muncrat. "Y-Ya takut, Pak," jawab Udin dengan gagap sambil meremat-remat jari jemarinya karena gugup. "Takut kenapa masih dilakuin?!" sembur Sabeni. "Karena enak, Pak. Astagfirullah!" Udin buru-buru membungkam mulutnya selesai menjawab pertanyaan dari bapaknya. "Nah itu, enak!" sambung Jovian sambil geleng-geleng kepala. Di jaman sekarang ini memang sudah banyak anak muda yang bergonta-ganti pasangan, tapi tetap itu tidak dibenarkan dalam agama atau norma asusila. Namun, tidak semua orang bisa mengontrol perilaku anaknya di luaran sana. Meski orang tua berkali bilang dan mewanti-wanti untuk tak salah jalan, tapi nyatanya bisikan setan lebih dominan daripada kata-kata orang tua. Sehingga tak sedikit di masa sekarang anak muda yang masa depannya harus hancur karena pergaulan yang bebas. "Ya sudahlah! Mau bagaimana lagi kalau sudah terlanjur?! Kamu harus jadi lelaki yang bertanggung jawab, Din. Udah Bapak duga kalau kamu tetiba mau berhenti kuliah terus balik di desa itu pasti ada sesuatu yang nggak beres. Ternyata benar kan? Bapak kecewa, karena Bapak udah bilang sama kamu nikah aja dan bantu bapak urus sawah. Tapi kamunya malah nggak ngeyel. Udah diijinin kuliah bukannya belajar yang bener malah buntingin anak orang," omel Sabeni dengan panjang lebar. "Ya begitulah Udin, Pak. Saya juga menyayangkan kenapa torpedonya bisa crot sembarangan," sambar Dion sambil geleng-geleng kepala. "Memang Nak Dion nggak begitu?" tanya Sabeni. Meski jarang bertandang ke desa, tapi orang tua Udin sudah hapal dengan sahabat-sahabat anaknya di kota. "Ya enggaklah, Pak. Saya mah crot di pengaman, hahaha," kelakar Dion membuat Sabeni kesal bukan main. "Sama aja itu dosa, Nak! Nggak boleh dilakuin!" tegur Sabeni. "Ya sudah sekarang hubungi wanita itu! Bilang kalau bapak bakalan ngelamar dia, jadi dia nggak perlu takut kalau kamu kabur. Biar bagaimana pun kamu itu punya adik-adik cewek, Din. Kamu mau kalau hal itu menimpa adik kamu?" Udin merasa berdosa. Lelaki yang terlihat kalem, lugu, oon dan nggak ngerti apa-apa itu memang kerap kali membahayakan. Istilahnya diam-diam menghanyutkan. Ternyata benar peribahasa itu memang cocok disematkan kepada Udin. Teman-teman bahkan tidak tahu kalau selama setahun ini ternyata dia dan Siti sudah jadian bahkan tidur dalam satu ranjang. Hubungan mereka terlihat canggung apabila di kampus. Jadi mana ada yang percaya kalau mereka ternyata sudah berpacaran hingga akhirnya terciptalah benih yang kini dikandung oleh Siti. "Ampun, Pak. Jangan sampai adik-adik Udin dihamili lelaki yang bukan suaminya," sahut Udin masih menundukkan kepala dan tidak mau menatap bapaknya. "Udiin!" teriak Rohana, Ibu kandung Udin yang sudah sadar dari pingsannya. Ia berlari sambil membawa panci berpantat hitam kusam yang siap untuk ia pukulkan ke Udin, si anak yang tidak tahu diuntung. "Ampuun, Mak!" Udin tahu kalau ibunya sudah marah, pasti apapun bakal dipukulin ke dirinya. Dan ternyata benar kan. Spontan ia menutupi kepalanya dengan kedua telapak tangan untuk menghalau hantaman panci ibunya. "Dasar anak Sabeni! Kelakuan lu udah kayak binatang main buntingin anak orang sembarangan!" amuk Rohana sembari menimpukkan p****t panci ke paha Udin hingga celana udin yang berwarna putih menjadi kusam. Rohana yang tadi lemas dan jatuh pingsan kini seperti mendapatkan tenaganya kembali. "Iya emang dia anak gua, mau gimana lagi. Kok jadi nyalahin gua," decit Sabeni. "Bikin malu aje lu, Din! Astagfirullah! Kaya emak sama bapak nggak pernah ngajarin ilmu agama aja!" amuk Rohana benar-benar geram. Setelah puas mengomeli anaknya, Rohana duduk menggelepar di atas kursi bambu yang memenuhi ruang tamu rumahnya. Rohana menjatuhkan panci itu hingga menyebabkan suara yang kencang. Lalu, ia menangis terisak-isak karena tak tahu lagi bagaimana harus mengadapi keluarga yang lain kalau sampai mereka mendengar bahwa Udin menghamili anak orang. "Bu, Udin minta maaf ya, Bu." Udin terus memohon maaf kepada ibu dan juga bapaknya. Singkat cerita, orang tua Udin berencana untuk menemui orang tua Siti minggu depan. Siti yang mendapatkan kabar itu pun menjadi bahagia. Setidaknya dia kini merasa lega karena kekhawtirannya Udin lari dari tanggung jawab kini sudah menghilang. "Pokoknya kamu nggak usah khawatir! Kita bakal ikut bantuin elu buat biaya pernikahan elu, Din," ucap Dion yang kini sudah kembali tajir akibat bantuan dari Tante Sanny. "Thanks ya, semuanya! Pokoknya kalian yang terbaik buat gue," ucap Udin merasa terharu dan bangga memiliki sahabat seperti mereka. "Tetap ingat satu hal, Guys! Kita boleh bar-bar, boleh nakal asal jangan pernah jadi pengecut dan lari dari tanggung jawab," kata Jovian mewanti-wanti sahabatnya. "Jadikan kebebasan kita sebagai kebebasan yang bertanggung jawab. Setelah ini gua nggak mau kalau ada salah satu di antara kita yang hamilin anak orang lagi. Kasian, Bro! Ngeri banget kalau tetiba ada cewek datang kayak kemarin sambil bawa tespack," ucap Gilbert sambil mengedikan kedua bahunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN