**
Sudah lama banget Dion nggak mampir di tempat ini. Restoran mahal yang bisa habis jutaan rupiah sekali makan.
"Kamu suka tempatnya, Zayn?" tanya Tante Sanny. Mereka duduk di ruang VIP yang khusus hanya mereka berdua saja.
"Suka banget, Tante. Ini resto favorit aku sebelum orang tua aku jatuh bangkrut." Dion menjawab sekalian curhat.
"Oh ... bisa tante tebak sie kalau kamu dulunya anak orang kaya, habisan kulit kamu bersih, mana ganteng banget lagi," ucap Tante Sanny mengagumi pesona Dion yang mampu menggetarkan hatinya yang kosong akibat pernikahannya yang hambar.
"Tante pinter gombal juga," cetus Dion.
Saat lagi asyik-asyiknya ngobrol, telepon seluler Dion berdering. Ternyata Fanya yang menelponnya.
"Mampus gue!" lirih Dion kebingungan. Jantungnya seketika itu berdebar dahsyat.
"Hm .... aku permisi ke kamar mandi dulu ya, Tante," pamit Dion bergegas pergi meninggalkan ruangan. Bisa mati kalau sampai ketahuan lagi jalan sama tante-tante.
"Oke, Sayang," sahut Tante Sanny seraya melempar senyum simpul.
"Pokoknya aku nggak mau lepasin Zayn. Udah lama aku nggak ngerasa berbunga-bunga seperti ini. Lagian pernikahanku sama Aaron juga anyep banget. Aku butuh meredakan dahaga asmaraku," gumam Tante Sanny.
Dion menelpon balik Fanya ketika ia sampai di kamar mandi.
"Please, Dion! Jangan panik! Jangan bikin Fanya curiga kalau lu nyembunyiin sesuatu dari dia!" Dion menarik napas panjang kemudian membuangnya.
"Kakak!" Suara manja Fanya terdengar mengetuk gendang telinga Dion.
"Iya, Sayang. Maaf, Ya! Tadi kakak lagi pegang barbel, jadinya nggak bisa angkat telepon kamu, ini kakak mau ganti baju lagi di toilet," jelas Dion berbohong dengan sangat lancar.
"Oh ... iya nggak apa-apa kok, Kak. Kakak udah sarapan kan tadi?" tanya Fanya penuh perhatian.
"Udah, Sayang," jawab Dion.
"Alhamdulilah. Terus kakak mau aku bawain apa buat makan siang? Aku anterin ke kost, ya? Mumpung tante aku juga lagi pergi jadinya rumah sepi," kata Fanya memperhatikan Dion dengan sangat intens.
"Eh nggak usah! Nggak usah, Sayang! Habis ini kakak mau narik, kok. Mumpung libur bisa fokus nyari orderan," tolak Dion mengatasnamakan pekerjaan.
"Oalah, gitu ... ya udah deh, yang penting jangan lupa makan ya, Kak! Aku nggak mau kakak sakit," ujar Fanya meski pun hatinya sedikit kecewa karena Dion menolak tawarannya untuk dibawakan makan siang.
"Iya, Sayang. Kamu juga, ya!"
"Pasti kok, Kak. Dan jangan lupa buat jaga hati apalagi kalau kakak pas dapat pelanggan cewek cantik!" Fanya mewanti-wanti, dia takut banget Dion berpindah ke lain hati.
"Iya, pasti. Cuma kamu yang paling cantik sedunia, Sayang," sahut Dion melancarkan gombalannya.
"Ya udah, baik-baik ya, Kakak Sayang. Aku cinta kamu."
"Aku juga cinta kamu, Fanyaku Sayang," sahut Dion lalu menutup panggilan suara.
Dion memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Dia mengacai dirinya di cermin yang tertempel di atas wastafel kamar mandi.
"Maafin kakak, Fanya! Kakak terpaksa jadi baaajingan karena hinaan banyak orang, tapi percayalah! Kakak terpaksa dan itu demi kamu ... untuk dapetin restu orang tua kamu," lirih Dion dengan mata berkaca-kaca.
**
Fanya tidak jadi pergi ke kostan Dion padahal dia sudah bersiap dan berdandan cantik. Untuk itu karena sudah terlanjur siap pergi, maka Fanya mengubah tujuannya yang tadinya mau ke kostan sang kekasih kini menjadi ke rumah pribadi milik abangnya Farish.
Meski belum menikah, tapi Farish memilih tinggal terpisah dari orang tuanya. Kenapa begitu? Karena dia tidak tahan dengan percekcokkan yang kerap terjadi di antara papa dan mamanya, begitu pun dengan Fanya yang memilih untuk tinggal dengan tantenya semenjak dia berpindah kuliah.
Perjalanan dari rumah tantenya sampai ke rumah abangnya membutuhkan waktu setengah jam saja karena tidak begitu jauh. Lagi-lagi Fanya menggunakan transportasi ojek online untuk mengantarkan ke mana pun dia hendak pergi.
"Abang, aku mau ngomong sama abang!" tegas Fanya ketika abangnya sudah mempersilahkan dirinya untuk masuk ke dalam rumah.
"Ngomong apa?" tanya Farish dengan nada dingin, dia menduga pasti Fanya kemari masih ada hubungannya dengan Dion, lelaki yang telah menjadi rivalnya selama ini.
"Aku punya bukti kalau Kak Dion nggak bersalah. Dia beneran nggak ngrebut Adelia dari abang," cetus Fanya.
"Bukti apa?" tanya Farish sambil mengernyitkan dahinya.
"Video pengakuan Adelia kalau memang bukan Kak Dion yang godain dia," jawab Fanya lalu menyodorkan ponselnya pada abangnya.
Farish melihat video itu. Ada rasa geram juga karena tahu dia sudah dikibuli oleh Adel selama ini. Hubungannya dan Adel masih berjalan hingga saat ini karena Adelia yang terus menggodanya dan merayunya. Tangan Farish terkepal ketika tahu ternyata Adel tidur sana sini dengan laki-laki lain tidak hanya dirinya.
"Sekarang Abang tahu kan betapa gatalnya pacar abang? Abang masih mau bertahan sama dia?" Fanya mengompor-ngompori abangnya.
Farish mengembalikan ponsel itu ke tangan Fanya lalu dia memalingkan wajahnya. "Abang dari lama udah nggak pacaran sama Adel," ucapnya membohongi Fanya karena dia malu kalau sampai ketahuan masih pacaran dengan cewek nggak bener seperti Adelia. Terlebih dia nggak mau terlihat bodoh di depan adiknya karena sudah tertipu dengan buaya betina macam Adel.
"Syukur deh! Jadi sekarang nggak ada alasan lagi buat abang dendam sama Kak Dion, karena kalian itu sama-sama kena tipu sama Adel."
"Tapi dia tetap nggak level sama kita, Nya," ketus Farish.
"Abang ngebahas ini lagi tanpa abang mikir kalau usaha papah juga diambang kebangkrutan," debat Fanya.
"Tapi semua itu nggak akan terjadi kalau kamu mau nikah sama Refi selepas kamu lulus kuliah," decit Farish.
"Aku nggak cinta sama Kak Refi, aku maunya sama Kak Dion," tegas Fanya tetap pada pendiriannya.
"Tapi apa lu bisa bahagia hidup susah sama dia?"
"Kak Dion lagi berjuang saat ini! Nggak ada yang tahu nasib ke depannya kita itu kaya apa, Bang! Jadi abang nggak boleh underestimate sama orang!" sembur Fanya lalu berlalu pergi meninggalkan rumah abangnya.
**
Selapas menelpon Fanya. Dion kembali menemui Tante Sanny. Saat dia datang berbagai makanan sudah berjajar di atas meja.
"Ayo, makan Zayn!" ajak Tante Sanny.
Mereka makan bersama dengan mulut terkunci. Rasanya perut Dion hampir meledak karena dipaksa menghabiskan begitu banyak menu yang terhidang.
"Aku udah kenyang banget, Tante," keluh Dion.
"Jadinya ngantuk gini, deh," imbuhnya.
"Kalau gitu kita ke apartemen tante mau, ya?"
Waduuh ... ngapain tuch? Dion berdebar-debar jantungnya. Mengingat kata apartmen dia jadi teringat akan kejadian saat dirinya kepergok Zian lagi berduaan sama pacarnya.
"Tante kesepian, udah lama juga nggak dibelai, Zayn. Kamu mau kan nemenin tante?" tanya Tante Sanny sambil menempelkan dadanya pada d**a Dion.
Adik gue gerak dong, ya. Sialan! Umpat Dion karena mendapatkan sengatan listrik dari ulah Tante Sanny.
"Aduh ...." Dion hanya bisa mengaduh sambil memejamkan matanya.
"Jangan khawatir! Kamu mau apa dari tante? Tante paham kamu pasti lagi kesulitan keuangan kan, Sayang? Sini nomor rekening kamu! Biar tante kirimi," rayu Tante Sanny.
Itu yang gue harapin dari hubungan ini, yaitu duit. Pikir Dion.
"Seriusan tante mau kirimin aku duit?" tanya Dion dengan mata berbinar-binar.
"Seriusan, Sayang. Asal kamu mau jadi pacar gelap, Tante. Fiuuuh ...." Tante Sanny memberikan syarat lalu meniup leher Dion dengan sensual.
Aduuh ... mana tahan gue? Guys ... kepalang tanggung juga.
"Oke, tapi please jangan di sini, Tante! Nanti takutnya dilihat sama orang yang kenal sama kita." Dion menggeser tubuh Tante Sanny agar menyingkir.
"Oke, tante bayar makanan kita dulu setelah itu kita main di apartemen tante, ya!" kata Tante Sanny lalu berjalan berlenggak-lenggok menuju kasir.
**
Untung saja apartemen Tante Sanny tidak sama dengan apartemen milik Jenifer. Kalau sama bisa mampus seumpama mereka nggak sengaja bertemu. Bisa dipastikan ini akan sampai ke telinga Zian.
"Masuk, Sayang!" Tante Sanny menggeret Dion masuk, lalu menutup pintunya rapat-rapat.
Dion nerves tidak karuan hanya berdua dengan wanita yang kini berstatus pacar gelapnya.
Dion duduk di sofa panjang.
"Tunggu, ya!" ucap Tante Sanny lalu masuk ke dalam kamarnya.
Sepuluh menit kemudian wanita itu keluar mengenakan lingerie sexy yang tembus pandang. Seketika membuat Dion menelan ludah melihat body aduhai Tante yang putih mulus bikin kertas HVS pun minder.
"Sayang ... kamu mau berapa?" Tante Sanny duduk dipangkuan Dion sambil mengotak-atik ponselnya untuk membuka M-Banking.
"T-Terserah, Tante," jawab Dion terbata-bata.
Moga Tante Sanny nggak sadar kalau adikku bangun. Pekik Dion yang rasanya nggak tahan pingin meledak aja.
"Oke berapa nomor rekening kamu?" tanya Tante Sanny.
Dion menyebutkan nomor rekeningnya.
"Coba cek, Sayang! Udah masuk belum!" perintah Tante Sanny.
"I-iya, tapi tante-"
"Panggil aku sayang!" ralat Tante Sanny meminta Dion menyebutnya dengan panggilan yang mesra.
"I-iya, Sayang. Sayang minggir dulu, ya! Aku mau ambil hapeku dulu di kantong celana," kata Dion.
"Oke, habis ini buka aja celananya ya, Sayang!" Nakalnya Tante Sanny.
What the f**k?
Dion memegang ponselnya dengan tangan gemeteran. Dia semakin shock ketika melihat saldo rekeningnya yang membengkak, tadinya cuma tinggal sejuta doang kini jadi dua puluh satu juta.
"Ta-Tante ... eh maksudku, Sayang ... k-kamu kirimin aku dua puluh juta?" tanya Dion masih kaget banget bisa dapat duit sebanyak itu dalam waktu yang singkat dan tanpa bekerja keras.
"Iya, Sayang! Kurang, ya? Besok aku kirim lagi. Sekarang geletakkin hape kamu, aku udah gak tahan!" Tante Sanny merampas ponsel Dion secara paksa lalu menerjang bibir Dion dengan sangat beringas.
Ya Allah, ampuni aku! Fanya ampuni aku, Sayang. Pikir Dion yang ternyata tidak dapat menahan gejolak hasratnya yang meledak meski akal sehatnya masih bisa dia gunakan untuk berpikir.
Selama pergumulan itu, Dion tak lepas memikirkan Faanya. Imajinasi liarnya bermain dengan Fanya bukan Tante Sanny yang setelah ini akan memberikan banyak kemewahan untuknya.
**
"Kak Dion ke mana sie kok nggak kasih kabar aku?" Fanya gelisah karena sejak komunikasinya yang terakhir tadi siang, Dion belum memberinya lagi kabar.
Fanya sudah berusaha menelpon dan mengirimi lelaki itu pesan beberapa kali, tapi Dion mengabaikannya.
"Aku berharap semoga kakak baik-baik aja," ucap Fanya gelisah. Dia tidak terpikir kalau Dion akan melakukan hal yang macam-macam di belakangnya, dia hanya takut kalau ada apa-apa dengan Dion di jalan.
**
Seminggu kemudian. Hubungan Dion dan Fanya masih berjalan baik-baik saja begitu pun dengan hubungan terlarang antara Dion dan Tante Sanny.
"Jadi gimana, Yon? Lu masih mau tetap sama Tante Sanny?" tanya Ernest.
"Iya, nanti kalau gue udah lulus kuliah baru gue tinggalin Tante Sanny. Lagian kan cepat atau lambat hubungan terlarang ini pasti bakal tetap diakhiri, gue takut kena gibeng suaminya yang bule itu," jawab Dion.
Seminggu berpacaran dengan Tante Sanny rekening Dion berkembang pesat. Namun, ada satu hal di sini yang Dion lakukan. Dion mencatat semua uang yang Tante kirimkan kepadanya dan juga barang-barang mahal yang Tante Sanny belikan untuknya. Dengan tujuan apa? Agar dia bisa mengembalikan uang itu sedikit demi sedikit saat dia telah sukses suatu saat nanti. Jadi Dion menganggap ini adalah sebuah pinjaman, ya meski pun dia sudah memberikan kepuasan untuk Tante Sanny yang tidak pernah tersentuh oleh suaminya.
"Oke, deh! Semoga semua berjalan lancar seperti yang lu harapin," sambut Gilbert.
"Tapi Fanya nggak curiga apapun kan?" tanya Ernest.
"Syukurnya dia percaya apapun yang gue bilang jadinya dia nggak curiga. Tapi gue mesti bilang apa ya kalau mendadak gue jadi kaya raya begini? Kan nggak mungkin dua pekerjaan yang sekarang gue tinggalin tanpa sepengetahuan Fanya ini bisa bikin gue jadi kaya raya," tutur Dion meminta pendapat kawan-kawannya.
"Itu mah kecil, Sob! Bilang aja lu main tradding sekarang. Jaman saat ini yang serba canggih banyak orang jadi kaya kalau pandai mainin gituan, tapi kalau pandai, kalau nggak pandai ya miskin juga. Hahahaha ...." cetus Jovian memberikan ide yang cemerlang untuk Dion.
"Siip!" Dion menjentikkan jarinya.
"Eh, by the way, kok Si Udin nggak keliahatan, ya?" tanya Ernest. Sudah dua hari ini lelaki itu tidak menampakkan batang hidungnya. Dichat pun nomornya nggak aktif.
"Di kamarnya juga kosong. Itu anak kenapa?" Dion juga mencari-cari sahabat sekaligus tetangga kostnya itu sejak kemarin.
"Dia nggak lagi ada masalah kan, Ya?" celetuk Gilbert yang mendadak jadi nggak enak hati.
"Kakak, boleh minta waktunya sebentar?" tanya seorang cewek yang datang dengan mata yang sembab seperti habis menangis semalaman. Mereka berempat pun seketika menoleh ke arah si cewek yang duduk di tepi meja.
**
"Aku hamil, Kak," aku cewek yang tadi menemui genk huru-hara di kantin kampus.
"Apa?" seru mereka bertanya dengan kompak dengan mata terbelalak.
Cewek itu meminta mereka untuk berbicara di tempat sepi, yaitu di belakang laboratorium komputer yang jarang dijamah oleh penduduk kampus ini.
"Lu hamil terus apa hubungannya sama kita?" tanya Dion nggak ngerti sama sekali.
"Karena aku hamil sama salah satu member genk huru-hara," jawabnya dengan terisak-isak.
"What?" Mereka berteriak kompak sambil membelalakan bola mata mereka.
"Anjiir, lu yang ngehamilin Si Siti, Yon?" tuduh Ernest.
"Sembarangan! Gue selalu pakai kondommm kalau main, lagian gue aja gak pernah ketemu Siti, nyentuh seujung kuku juga gak pernah, gimana itu kecebong bisa mampir ke perut dia?" sembur Dion nggak terima sama tuduhan Ernest.
"Terus siapa? Lu ya, Jo? Atau lu, Bert? Atau ...." Ernest memutar bola matanya.
"Udin?!" tebak mereka bersamaan sambil menatap ke arah Siti yang sejak tadi menangis dengan kepala tertunduk.
"Iya, aku hamil anaknya Bang Udin, Kak. Tapi Bang Udinnya udah dua hari ini nggak bisa aku hubungi, hiks ...."
Pengakuan Siti membuat Dion, Ernest, Jovian dan Gilbert tercengang.
"Astagfirullah, Udin ... Udin ....!" seru mereka.
"Tapi kan setahu gue, lu sama Udin nggak ada gelagat pacaran. Kalau ketemu aja pada diem-dieman," kata Dion.
"Kita udah setahun pacaran," ungkap Siti.
"Apa? Setahun?" Lagi-lagi mereka dibuat shock.
"Dan kita emang sepakat buat nggak ngasih tahu siapa pun, Kak. Eh, tapinya kita kebablasan," cerita Siti dengan tangisnya yang makin kencang.
"Eh, jangan berisik, Sit!" tegur Gilbert. "Ntar takutnya ada yang dengar dan nyangka kita yang perkosa elu!"
Siti langsung memelankan volume tangisnya.
"Terus aku harus gimana, Kak? Bang Udin nggak bisa aku hubungi lagi," keluh Siti. Wajah cewek itu terlihat ketakutan sekali.
"Gila bener Si Udin paling kelihatan pendiam, alim eh ternyata udah buntingin anak orang aja itu si pleki juniornya," gersah Ernest nggak habis pikir.
"Gue juga nggak nyangka, Nest. Anjiiir kok gue ikut puyeng, Ya," sambung Jovian.
"Untung gue selalu pakai sutra," decak Dion.
"Dilihat dulu kadaluarsa belum!" perintah Gilbert.
"Selalu baru dong! Sialan lu ah!" pekik Dion kesal.
"Udah nggak usah debat kalian! Jadinya gimana ini Si Siti?! Kalau benar Udin yang ngelakuin itu sama lu, kita siap buat nyari Udin ke mana pun itu kunyuk pergi. Kita punya prinsip kok, biar nakal, tapi jangan sampai hancurin anak gadis orang. Kita nggak ada toleransi untuk itu," tutur Ernest si ketua genk.
"Terus siapa yang tahu kalau lu hamil sekarang?" tanya Gilbert mengintrogasi Siti.
"Baru aku doang sama Bang Udin, Kak. Aku nggak berani kasih tahu siapa pun. Ini kalau mau lihat hasil testpacknya," terang Siti lalu menunjukkan lima buah testpack yang dia gunakaan untuk memeriksa.
"Busyet sampai sebanyak itu?" Dion geleng-geleng kepala.
"Karena aku berharapnya hasil testnya salah, Kak. Makanya sampai aku ulangi beberapa kali," ungkap Siti.
"Ya amplop!" desah Jovian.
"Kita cari Udin sampai ketemu, Guys. Karena ini related banget sama kelenyapan dia dari muka bumi secara mendadak. Dia pasti juga dalam keadaan panik banget. Jadi mending lu tenang dulu, Sit!" ucap Ernest.
"Orang bunting lakinya kabur gimana mau tenang, Geblek!" umpat Dion.
"Ya maksud aku jangan nunjukkin kegalauannya di depan orang, takutnya ntar ada yang curiga," debat Ernest.
"Lu mending pulang dulu dah! Biar kita yang cari Udin!" perintah Ernest disambut anggukan dari Siti.
"Makasih banget ya Kak udah mau bantuin aku," kata Siti sangat bersyukur karena ternyata genk huru-hara tidak sejahat yang dia pikirkan.
**
Setelah dua hari melacak keberadaan Udin, kini mereka tahu di mana sahabatnya itu bersembunyi. Dion and the genk pun menghampiri Udin saat itu juga.
"Kok kalian bisa tahu alamat kampung aku?" tanya Udin kaget melihat kehadiran teman-temannya yang tanpa kabar terlebih dulu. Lagian gimana mau kasih kabar? Orang nomor hape Udin aja nggak pernah aktif.
"Sini dah lu, Pengecut! Kita mau ngomong!" perintah Ernest sambil merangkul Udin dan membawa sahabatnya itu keluar dari dalam rumah.
Udin kembali ke desa dan berniat untuk tidak akan lagi melanjutkan kuliah. Dia bingung, dia belum bekerja, apalagi membiayai anak orang dan anaknya nanti. Jalan pintas adalah melarikan diri.
Dion dan kawan-kawan ngobrol di tengah sawah agar tidak ada orang yang mendengar, paling hanya burung dan padi yang menguping percakapan mereka.
"Lu harus gentlemen, Din! Lu tau kan pantang bagi anggota genk huru-hara untuk lari dari tanggung jawab!" tegur Ernest.
"Tapi thanks, lu pemain yang hebat banget sampai bisa menipu kami selama setahun ini," sambung Dion sedikit kecewa. Karena mereka menerapkan asas saling terbuka satu sama lainnya.
"Kita nggak tahu kapan lu pacaran, kapan lu ngeweee dan kita juga nggak mau tahu, itu urusan pribadi lu, Din. Tapi saat lu udah berani berbuat lu juga harus berani tanggung jawab," serang Jovian.
Udin hanya diam sambil menundukkan kepala. Dia terlihat takut dan malu menghadapi sahabat-sahabatnya.
"Jadi bener anak yang dikandung Siti itu anak lu bukan anak biawak? Eh kok biawak!" Ernest masih bisa-bisanya ngelawak. "Anak laki lain maksudnya," ralat Ernest.
Udin diam beberapa sebelum akhirnya mengangguk, mengakui perbuatannya dengan sangat menyesal.
"Anjiir! Jaman udah canggih masih bisa gitu kebobolan!" umpat Dion.
"Kita suka sama suka, kok," aku Udin.
"Kalau suka sama suka ya lu juga harus berani tanggung jawab dong, Din! Jangan jadi bajiingan!" amuk Ernest.
"Iya, kasian si Siti, gitu juga dia kan juga punya keluarga, punya orang tua! Lu gak bisa main lari begini, Din! Kasian dia kebingungan banget lu!" timpal Jovian ikut mengomeli sahabatnya.
"Gue tahu gue salah, tapi gue bingung gue gak punya modal buat nikah," cetus Udin.
"Gue juga takut bikin emak bapak gue kena serangan jantung meski pun sebenarnya mereka nggak setuju juga gue kuliah, mereka maunya gue di sini aja ngurus sawah dan dijodohin sama anak tetangga desa. Mereka udah pingin cucu, maklum pemikirannya masih kolot," tutur Udin.
"Ya udah sie kalau mereka pingin cucu ya nikahin Siti!" ucap Dion.
"Masalahnya modal buat nikah belum ada, gue juga lagi mikir buat ngejual salah satu sawah emak gue buat modal. Gue nggak ada niat mau melarikan diri kok, gue cinta banget Ama Siti," ucap Udin mengutarakan niatnya.
"Yang penting ijab kabul dulu, Din! Lagian tanggung juga kuliah kita bentar lagi kelar masa mau lu tinggal?!" kata Dion.
"Ijab juga perlu duit, Yon," sahut Udin dengan lesu.
"Ya udah gue talangin dulu biaya lu buat nikah, berapa? Dua puluh juta cukup kan buat ijab doang?" Dion yang royal menawari bantuan.
"Seriusan, Yon?" tanya Udin dengan mata berbinar-binar.
"Iya, serius. Yang penting jangan sampai lu tinggalin Siti! Kasian banget, Anyiing!" jawab Dion lalu memberi syarat pada Udin.
"Gue juga bakal kasih lu bantuan, Din," sambung Ernest.
"Gue juga," timpal Jovian.
"Gue sama," sahut Gilbert.
"Gue nggak ngerti gimana caranya gue bersyukur punya sahabat sebaik kalian." Udin begitu terharu dengan bantuan yang teman-temannya berikan.
"Ingat semuanya! Sebejat apapun kita jangan pernah lari dari tanggung jawab dan ingat! Jangan lupa pakai pengaman! Hahaha ...." ucap Ernest membuat tawa mereka pecah seketika.
"Sialan lu, Nest!" umpat Dion.
"Terutama lu, Yon! Segila apapun langkah yang lu ambil sekarang, tetap cinta lu buat Fanya doang dan lu harus konsekuen buat ninggalin Tante Sanny setelah kita lulus kuliah! Jangan sampai kita menua di kampus ini karena gak lulus-lulus. Hahaha .... " Lagi-lagi Ernest membuat banyolan.
Sekarang permasalahannya adalah memberitahu ke dua orang tua Udin tentang perilaku anaknya yang sudah berani membuat bunting anak orang.
"Gila! Gue takut, Njiir!" keluh Udin.
"Udah tahu takut ngapain o***g lu pakai nggak ada akhlak?!" sembur Gilbert.
"Enak, Bert," jawaban yang singkat terlontar dari mulut Udin.
"Anyiing!" umpat Gilbert.
"Ayo kita temenin! Masa lu perkasa kalau di kamar doang Ama Siti, kalau ngadepin kenyataan letoy!" cibir Dion.
Begitu sampai di depan rumah ke dua orang tua Udin sudah menunggu mereka. Pak Sabeni dan Ibu Rohana kebingungan kenapa ke lima anak ini tahu-tahu sudah tidak ada di ruang tamu rumah mereka yang lapang.
"Ya Allah kalian ini pada ke mana sih emak cariin? Udah emak bikinin es teh seteko tuh!" kata Ibu Rohana.
Wajah Udin menegang dan terlihat pucat dia benar-benar takut dan bingung harus memulai dari mana.
"Makasih banget ya mak udah ngerepotin deh kita," sahut Dion berbasa-basi.
"Mana ada ngerepotin orang es teh doang," kata Emak.
"Eh lu kenapa, Din? Tegang gitu muka lo mana pucet banget lu sakit?" tegur Bu Rohana.
"Emak, Bapak, ada yang mau Udin omongin sama kalian." Udin mulai membuka pembicaraan.
"Ngomongin apa lu kok Mak jadi deg-degan kan begini?" Ibu Rohana menjadi tidak enak hati karena jarang sekali Udin memasang ekspresi yang serius dan ketakutan seperti saat ini.
"Mak, Bapak, Udin ngaku ... Udin balik kampung bukan karena pingin bantu emak bapak garap sawah tapi ...." Udin menggantung kata-katanya.
"Kenapa si, Din? Emak lempar tai kebo tahu rasa lu kalau kagak ngomong-ngomong!" ancam Ibu Rohana karena kesal bin deg-degan.
"Udin buntingin pacar Udin Mak di kota," cetus Udin dengan seluruh badan gemetaran.
"A-apa?" Bapak bereaksi terlebih dulu.
"Haaaa ...." Emak memegang dadanya dengan mata terbelalak.
"Mak, emak kenapa?" Udin dan yang lainnya pun panik melihat ekspresi Emak.
"Emak lu jantungan ini, Din! Sialan anak nggak ada akhlak! Lu ke kota pamit kuliah bukan kelon!" umpat Pak Sabeni emosi.
Bersambung.