Istri Orang 14

1506 Kata
"Bro, gimana keadaan lu?" tanya Ernest, setelah jam kuliah selesai ke empat pemuda ini mengunjungi Dion di kostnya. Mereka ingin mengetahui keadaan sahabat mereka. "Udah mendingan setelah Fanya datang dan ngasih semangat ke gue. Ternyata Farish nekan Fanya buat ninggalin gue, tapi Fanya-nya nggak mau. Dia beneran sayang sama gue, Bro. Terharu gue jadinya," cerita Dion. "Iya, gue tahu Fanya beneran cinta sama lu, jadinya jangan sampai kecewain dia," sahut Udin. "Tapi ada yang gue pikirin banget banget banget," cetus Dion. Meski wajahnya tetap masih tampan, tapi aura Dion memang tidak cetar seperti dulu. Tubuhnya terlihat lebih kurus sekarang. Maklum saja, Dion terlalu banyak pikiran dan juga bekerja. Istirahatnya pun tidak cukup. "Kenapa, Yon? Cerita aja sie!" perintah Jovian. Dion menceritakan tentang pertemuannya dengan Zian dan Jenifer secara rinci. Dia berkata kalau harga dirinya benar-benar anjlok dengan cemoohan dari mereka. "Terus apa yang mau lu lakuin sekarang?" tanya Jovian. Pandangan mata Dion terlihat nanar menatap ke depan. Lalu dia menjawab pertanyaan Jovian dengan mantab. "Kita jalanin misi untuk nyari istri orang yang tajir." Udin, Ernest, Jovian dan Gilbert saling bertatapan lalu mereka kompak bertanya, "Lu serius, Bro?" "Gue serius. Gue udah mikirin ini sejak tadi," jawab Dion. "Lu yakin mau ngelanjutin misi kita ini dengan segala konsekuensinya?" tanya Gilbert memastikan kalau Dion benar-benar sudah mantab dalam mengambil keputusan. "Terus kalau Fanya sampai tahu gimana?" sambung Udin. "Jangan sampai tahu! Cuma kita berlima yang tahu dan gue percaya kalian bisa gue percaya," cetus Dion. "Gimana? Kalian mau kan bantuin gue? Seenggaknya sampai gue lulus kuliah dan gue bisa cari kerja yang lebih menjanjikan lagi. Dengan gue pakai ijasah SMA gue nggak bisa nyari pekerjaan yang lebih baik dari ini, sedangkan gue tetap harus kerja. Nggak mungkin gue balik ke rumah orang tua gue buat minta biaya, itu bakal bikin Zian menang. Gue nggak mau harga diri gue diinjak-injak," jelas Dion. "Dan ini jalan ninja yang terpaksa gue ambil biar gue bisa dapat duit banyak," imbuhnya, meski dalam hati dia merasa berdosa karena akan banyak membohongi Fanya setelah ini. Namun, satu alasan yang membuatnya memutuskan untuk terjerembab dalam jalan yang salah yaitu demi bisa membuat Fanya bahagia. "Hanya sampai gue lulus kuliah yang cuma tinggal beberapa bulan lagi," kata Dion lalu menatap mata kawan-kawannya bergantian. "Oke, deh. Selama lu udah mikirin ini matang-matang, gue dukung-dukung aja. Tapi be carefull! Ini sangat beresik," sahut Ernest memutuskan untuk mendukung sahabatnya. "Iya, dech gue juga," sambung Udin. "Gue juga deh, selama ini bisa nyelesaiin masalah lu gue dukung aja," timpal Gilbert. "Jadi deal, ya. Besok kita cari target!" perintah Dion. ** Dion tetap menjalani pekerjaannya seperti biasa sampai dia mendapatkan tante-tante yang akan menjadikannya atm sumber keuangannya. "Sayang, kakak mau ke fitnesan dulu ya! Udah lama nggak ngegym," pamit Dion pada Fanya melalui sambungan suara. "Iya, Kak. Ati-ati, ya!" sahut Fanya mengijinkan. Kebetulan hari ini Dion libur bekerja dan dia juga baru dapat cipratan duit dua juta dari hasil palakan Pak Sanusi beberapa hari yang lalu. "Busyet dah badan berasa kaku banget lama nggak pegang barbel," gumam Dion. Seperti pada umumnya orang ngegym, mulai dari pemanasan, terus pegang yang ringan-ringan dulu, berangsur ke yang berat, semua Dion lakukan seperti biasa. Lumayan dia bisa mendapatkan keringat selepas satu jam berolahraga membakar lemak. Pada saat itu pula ada seorang wanita berumur tiga puluh lima tahun yang terlihat datang dengan membawa tas ransel di pundaknya. Wanita yang cukup sexy dan masih terlihat muda jauh di bawah umur aslinya. Dion mengamati wanita itu dari kejauhan. "Dia orang kaya," ucap Dion sambil manggut-manggut dan menyunggingkan senyumnya. Dari gesture si tante-tante itu, terlihat sekali kalau dia wanita yang ramah bahkan cenderung centil. Banyak lelaki muda yang digodanya sampai akhirnya Dion memberanikan diri untuk mendekat saat wanita itu tengah bermain-main dengan barbel kecil di tangannya. "Maaf, cara pegang barbelnya salah, Tante," ucap Dion dengan penampilan yang begitu sexy karena dia kini menggunakan kaos sport tanpa lengan yang mempertontonkan otot gagahnya. Dari baju yang press body itu, perut Dion yang six pack bisa terlihat membentuk dari luar. "Oh, salah ya? Terus gimana dong?" tanya Tante tersebut dengan centil dan membusungkan dadanya yang besar. Anjiir segede melon. Gumam Dion dalam batin. "Gini tante aku ajarin, ya," kata Dion mulai beraksi. Dion mendekat pada tante tersebut, bahkan duduk di belakang wanita yang masih kencang dan sexy di usianya yang menginjak kepala tiga. Bau parfumnya mahal banget, gelang kalungnya juga pasti mahal. Nggak salah lagi dia pasti tante-tante gatel yang banyak duitnya. "Gini tante cara pegangnya, maaf ya aku pegang tangannya." Dion membenarkan posisi tangan tante tersebut hingga kini tubuh mereka menempel sangat dekat. "Oh gini, ya? Jadi selama ini aku salah dong," cetus wanita itu dengan suaranya yang serak-serak basah macam Dewi Perssik, bodynya juga mirip Dewi Perssik. "Iya makanya sekarang aku benerin," kata Dion lalu melepaskan tangan tante tersebut. "Aku permisi dulu ya, Tante. Udah ngerti kan sekarang?" Dion berpamitan. "Eh, tunggu dulu, Sayang! Eh ... maaf kok malah aku panggil sayang." Tuch kan agresif banget emang. Pikir Dion. Agak jijik sie, tapi mau bagaimana lagi. "Nggak apa kok, Tante. Santai aja!" sahut Dion. "Kamu pulang naik apa? Kita barengan yuk! Sekalian mau aku ajak traktir. Oya nama kamu siapa?" tanya wanita itu. Bukannya Dion yang mepet malah tante itu yang memberi Dion kode-kode. "Aku Zayn, Tante. Kalau tante siapa?" tanya balik Dion. "Nama tante Sanny ...." Sebutnya sambil mengulurkan tangannya pada Dion. "... Sanny Shilby," imbuhnya menyebut namanya secara utuh. Dion menjabat tangan Tante Sanny. "Nama yang sangat indah," puji Dion. "Seindah orangnya." Dion mulai nakal dengan mencium tangan tante tersebut yang ternyata harum banget bak kuburan baru. Mana halus juga, tapi biar begitu hati Dion cuma buat Fanya. Maafin kakak ya, Fanya. Ini demi kamu .... Pikir Dion merasa berdosa. "Kamu bisa aja deh, Cakep. Ya udah tante ganti baju dulu ya habis ini kita makan, oke. Sebagai ucapan terima kasih tante karena kamu udah ngajarin tante cara pegang ... mm .... barbel." Tante Sanny mencolek d**a Dion dengan genit membuat Dion refleks memundurkan tubuhnya. Anjiir! Pekik Dion dalam batin. Selama Tante Sanny ganti baju, Dion menunggu wanita itu sambil menghubungi teman-temannya melalui sambungan suara. Panggilan grup istilahnya. "Asyik! Macam mana itu tante? Cantik, semok, kaya?" tanya Ernest yang terlihat paling bersemangat di antara mereka berlima. 'Macam Dewi Perssik gitu lah. Pokoknya oke banget. Ya udah gue matiin itu orangnya udah datang," kata Dion lalu mematikan panggilan suara. "Ayo, Zayn! Kamu naik apa ke sininya?" tanya Tante Sanny sambil melingkarkan tangannya di lengan Dion dengan mesra. "Aku naik motor, Tante," jawab Dion. "Oh ... kalau gitu kamu ikut tante naik mobil tante, nanti pulangnya tante ampirin ke sini lagi. Tenang motornya nggak akan ilang kok, kalau ilang pun nanti tante ganti," jelas Tante Sanny masih bergelendot manja di tubuh Dion. "Aku berharapnya ilang sie, soalnya motorku butut tante mau ganti mobil. Hehehehe ...." canda Dion. "Gampang itu mah ... ayo kita jalan!" Tante Sanny menggeret Dion untuk ikut bersamanya. "Kamu bisa bawa mobil kan, Zayn?" tanya Tante Sanny ketika mereka sudah sampai di parkiran mobil. "Jelas bisa dong, Tante," jawab Dion. "Ya udah kamu aja yang pegang, ya! Tante pingin duduk-duduk manja aja di dekat kamu," ujar Tante Sanny lalu menyerahkan kunci mobilnya pada Dion. Wow ... mobilnya keluaran tebaru gini. Ini mobil impian gue sejak dulu. Keren banget ini mah emang beneran sultin. Gumam Dion dalam batin. Dengan senang hati Dion naik ke dalam mobil roda empat milik Tante Sanny yang mewah berwarna merah menyala. "Kita makan di restoran favorit tante ya, Zayn. Daerah Xyz, namanya Crips Resto." Duh ... itu pun restoran mahal dan terkenal tempat nongkrong gue dulu sama anak-anak. Iya ... dulu pas kantong gue masih tebel. "Siap, Tante. Kemana pun yang tante mau deh aku anterin," sahut Dion. "Kamu tuh ya udah ganteng banget mana baik pula. Jadi jatuh cinta deh ..." Tante Sanny ngegombal. "Dih ... ntar diamuk sama suami tante lho." Dion menyalakan mesin mobil sambil memancing pembicaraan ke arah pribadi. "Santai! Suami tante jarang pulang. Dia stay di Amerika dan baru pulang tiga bulan sekali, jadi tante bebas di sini. Yang penting setoran tiap bulan lancar," jelas Tante Sanny yang ternyata memiliki suami tajir melintir, ganteng, orang luar, tapi nggak pernah ditungguin karena mereka tinggal di negara yang berbeda. "Oh ... berarti tante kesepian, Dong?" goda Dion. "Banget, Sayang ... tapi kayaknya setelah ini tante nggak akan sepi lagi, deh," cetus Tante Sanny sambil mengelus paha Dion dengan wajah menggoda. Aduuuh ... Fanya ... ampuni kakak, Ya! Kakak terpaksa demi kamu .... ucap Dion yang selalu teringat Fanya ketika tante cantik ini melakukan serangan-serangan pada tubuhnya. "Terus tante punya anak berapa?" selidik Dion. "Tante punya anak satu masih umur tiga tahun. Tante belum tua-tua amat kok, masih tiga puluh lima tahun," ujar Tante Sanny. "Wow ... tiga puluh lima, tapi masih kinyis-kinyis gitu, bodynya masih aduhai ...." puji Dion. "Kamu bisa aja, deh." Tante Sanny tersipu malu. Mana bisa dia nggak kepincut sama gombalan gue. Pokoknya setelah gue dapatin duitnya dan gue lulus kuliah dapat kerjaan yang mapan, gue bakal say good bye sama Tante Sanny. Gue mau nikahin Fanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN