Istri Orang 13

2022 Kata
** Dion merasa frustasi. Dia langsung pulang ke kostan dan bolos kuliah hari ini. Pikirannya sangat kalut, moodnya bubar jalan dan mentalnya down banget. "Arrrkh ... kenapa gue harus ngejalanin hidup sepahit ini? Gue rindu hidup gue yang dulu!" Dion melempar botol parfum ke tembok hingga pecah terbelah menjadi dua, seketika kamar kost Dion yang ukurannya sedang-sedang saja itu pun menjadi wangi. Dion meremat rambutnya, dia terduduk di lantai dengan tubuh yang dia sandarkan pada tembok kamar. Penghinaan dari Zain dan Farish berulang-ulang terus di telinganya. "Kayaknya gue nggak bakalan bisa bungkem mulut mereka dengan pekerjaan seperti ini. Gue harus nyari jalan alternatif, jalan pintas biar gue cepat kaya," gumam Dion dengan putus asa. ** Fanya mencari-cari Dion ke mana-mana, tapi Dion tidak menampakkan batang hidungnya. Fanya melihat di parkiran kendaraan juga tidak ada motor kekasihnya terparkir di sana. Karena sudah putus asa mau mencari Dion ke mana lagi, maka dari itu Fanya memutuskan untuk menghampiri sahabat-sahabat Dion yang sedang kongkow di gazebo. Inilah kali pertama Fanya berkomunikasi secara langsung dengan ke empat lelaki yang terkenal paling konyol sekampus. "Assalamualaikum, Kak," sapa Fanya dengan sopan dan takut-takut. Fanya didampingi oleh Mawar. "Walaikumsallam, Neng Geulis," sapa mereka kompak bak paduan suara. "Kak, maaf ya mengganggu waktunya sebentar aku ... aku mau tanya Kak Dion ada di mana, Ya? Kok aku cari-cari nggak ada?" tanya Fanya to the point tanpa banyak berbasa-basi. "Oh ... Dion lagi nggak ngampus, Nenk. Nggak enak badan katanya," jawab Ernest. Subuh tadi Dion memberi kabar di grup w******p kalau dia mau ijin kuliah hari ini. Dion belum cerita apapun tentang pertemuannya dengan Zian semalam. "Kak Dion sakit?" Fanya khawatir. "Iya, meriang gitu, Nenk. Merindukan kasih sayang, hehehe ...." jawab Gilbert dengan candaan. "Memang kamu nggak komunikasi sama Dion? Kok sampai nggak tahu kabarnya Dion?" tanya Udin. Fanya menggeleng lesu. "Kak Dion lagi ngambek sama aku, Kak. Soal masalah Kak Adelia," ucap Fanya. "Kenapa sama cewek gatell itu?" tanya Gilbert. "Sini deh kalian duduk dulu sambil cerita!" perintah Ernest pada Fanya dan Mawar yang sejak tadi berdiri di undak-undakan gazebo. Mata Jovian udah melotot tuch lihatin Mawar terus. Dasar jomblo! Fanya dan Mawar pun duduk bersisian bergabung bersama mereka. "Jadi Kak Adel kemarin nyamperin aku, dia bilang kalau Kak Dion itu ... mm ...." Fanya ragu-ragu untuk mengatakannya. "Mm kenapa, Nenk? Ngomong aja nggak usah malu-malu!" perintah Ernest. "Kak Adelia bilang kalau Kak Dion itu penjahat kelamiiin dan pernah tidur sama dia dan banyak cewek lainnya," jelas Fanya kemudian menundukkan kepala. "Dih ... sompret banget itu cewek! Yang ada dia yang udah tidur sana sini. Nenk, Demi Allah dah gue berani disantet malaikat kalau gue boong! Dion itu nggak pernah kayak gitu! Biar pacar dia banyak juga," jelas Jovian membela sahabatnya yang difitnah. "Mending kita samperin aja itu si Adel tak kodel-kodel! Kurang ajar banget cewek mulutnya lemes! Toh kita punya bukti dia lagi ngamar sama om-om," cetus Ernest naik darah. "Ayo lah let's go!" Ke empat lelaki itu serempak berdiri sambil mencangklongkan tas mereka di pundak. "Kakak-kakak mau ke mana?" tanya Fanya ikutan berdiri disusul oleh Mawar yang sejak tadi hanya diam menyimak obrolan mereka. "Kita cari Adel, Nenk!" jawab mereka kompak bener dah. "Oh ... oke, Deh!" sahut Fanya sambil manggut-manggut. Mereka berjalan beriringan mencari di mana Adelia berada. "Awas lu pada nyembunyiiin Adel gue ketekin lu-lu pade!" ancam Ernest pada teman-teman yang dia tanyai dan menggeleng, tidak bersedia memberitahu di mana Adel. "Beneran nggak tahu kok, Sumprit dah," sahut mereka tapi dengan jantung berdebar. Mereka nggak nyerah gitu aja dan akhirnya bertemu Adelia di parkiran kendaraan. Dia lagi asyik pacaran sama dosen ternyata. "Duh ... Pak Sanusi nggak tahu malu ya malah pacaran sama ayam kampuus di sini. Kalau mau pacaran di hotel, Pak! Bukan di dalam mobil. Ayo keluar!" Jovian menggedor-gedor kaca mobil milik dosennya yang sudah berumur lima puluh tahunan tersebut. Aduuh ... ketahuan mereka bisa kacau ini! Pekik Pak Sanusi dalam batin. Adel segera menutup kancing kemejanya dan wajahnya terlihat merah padam. "Nggak tahu diri kalian ini! Din, ambil hape lu! Perlu divideo ini kita viralin, mahasiswi mesumm sama dosennya di parkiran kampus," celoteh Ernest menakut-nakuti Pak Sanusi dan Adel. Mereka turun dari dalam mobil dengan wajah belingsetan, ketakutan. "Please dong jangan divideo! Kalian mau apa deh nanti Bapak kasih, hehehe ...." Pak Sanusi merayu-rayu. "Dih ... mau nyogok dia," cibir Jovian. "Bapak udah kebelet? Tahan dulu! Adel kan available setiap saat kapan pun Bapak butuhin. Ya nggak, Del? Murrahan banget! Hahaha ...." maki Gilbert menambah malu Adelia. Kenapa mereka pada pakai ke sini si? Mana ngajak Fanya juga. Tengsin gue! Pekik Adelia kesal. "Gue viralin deh kalian," ucap Udin menakut-nakuti. "Ja-Jangan! Please!" Adelia ketakutan dan memohon-mohon. "Wani piro? (Berani berapa?)" tantang Ernest sambil mengulurkan telapak tangannya meminta sesuatu. "Aduh ... Bapak, ayo bertindak! Kan Bapak tadi yang udah kebelet, aku kan udah bilang di hotel aja habis kelar kuliah," rengek Adelia. Tanpa dia ketahui, Fanya merekam kejadian ini dengan ponselnya secara diam-diam. Bisa-bisanya kamu yang murahan, Kak Dion yang kamu fitnah. Geram Fanya. "Gini aja, Deh. Ada nomor rekening? Sini Bapak transferin. Minta berapa?" tanya Pak Sanusi sambil membuka aplikasi M-banking dalam ponselnya. Udah siap transfer nih ceritanya. "Waduuh ... main suap dia, Coey. Jangan mudah disogok! Tapi kalau harganya cocok kita oke-oke aja. Hahahaha ...." celoteh Ernest kemudian mereka tertawa bersama-sama. "Berapa-berapa? Ngomong aja!" perintah Pak Sanusi sok kaya banget. "Oke, sepuluh juta!" Ernest menyebutkan nominal yang dia minta. "Aduuh, jangan sepuluh juta dong! Tanggal tua ini," tawar Pak Sanusi keberatan. "Terus berapa? Mau ini kita sebarin videonya?" ancam Ernest lagi. "Aduuh, jangan dong!" Adelia ketakutan. "Ayo, Pak! Transfer aja dari pada kita kena masalah," rengeknya pada Pak Sanusi. "Oke ... oke, saya transfer sekarang," ucap Pak Sanusi tidak ada pilihan lagi. "1234567910," sebut Ernest. Itu nomor rekeningnya. Jemari tangan Pak Sanusi dengan lincah bermain-main di atas screen ponselnya. Tak lama setelah itu. "Udah aku kirim, Ya. Jadi kita boleh pergi dong," ucap Pak Sanusi udah ancang-ancang mau kabur aja. "Eits ... tunggu dulu! Aku cek M Banking-ku dulu," kata Ernest. Dia nggak mau kena tipu si dosen tua yang mata keranjang ini. Setelah memastikan uang itu masuk Ernest and the genk baru melepaskan itu dosen. Baru dosennya aja, tapi Adelia masih ditahan. "Kenapa sie kalian ini? Kan duitnya udah ditransfer," omel Adel karena dia tidak dibiarkan pergi oleh mereka. "Masalah kita belum kelar sampai transfer duit ini doang, Adelia si ayam kampuus," tegas Jovian. "Memang ada urusan apalagi? Pakai ngajak-ngajak pacarnya Dion ngapain juga?" balas Adelia dengan tingkahnya yang tengil. "Justru ini masalahnya menyangkut Fanya sama Dion," tegas Ernest. "Ngapain lu fitnah Dion penjahaat kelamiin segala? Hah? Bukannya lu yang kegatelan? Pacaran sama beberapa cowok sekaligus dalam satu waktu," tegur Ernest emosi banget. "Ya suka-suka gue dong. Mulut-mulut gue," decak Adel. "Tapi mulut lu itu ngerugiin orang, sialan!" umpat Jovian. "Aku juga udah tahu, Kok. Kakak dulu pacarnya Abang aku kan Farish?! Aku jadi curiga kalau Kak Adel juga yang ngasih tahu abang aku kalau aku sama Kak Dion pacaran," tutur Fanya masuk ke dalam obrolan. "Emang bener gue, terus kenapa? Pokoknya gue dendam aja sama Dion. Karena dia satu-satunya cowok yang udah nolak gue! Dan gue benci banget sama dia!" kelakar Adelia akhirnya mengaku juga. "Udah denger kan lu sekarang, Nya? Jadi masalah clear ya, nggak boleh lagi lu berantem sama Dion cuma karena fitnahan dia doang," tutur Ernest. "Iya, Kak. Aku juga nyesel kok udah kemakan sama hasutan dia," sahut Fanya sambil meliri Adelia dengan tidak suka. "Andai lu cowok udah gue hajar lu!" umpat Ernest emosi. ** Alhamdulilah aku udah punya bukti kalau Kak Dion nggak salah. Aku bisa kasihin rekaman ini ke Bang Farish. Gumam Fanya. Saat ini dia sedang perjalanan menuju ke kostannya Dion. Dia sengaja cabut kuliah demi bisa bertemu dan meminta maaf dengan kekasihnya itu. "Tok ... tok ... tok ....!" Fanya mengetuk pintu kamar Dion beberapa kali. Deg-degan juga takut Dion menolak kehadirannya. Lima menit menunggu Dion akhirnya membuka pintu. "Kakak ...." "Fanya .... " Dion menoleh ke kanan kiri, mencari tahu Fanya datang ke kostnya dengan siapa. "Kamu tahu dari mana alamat kostku?" tanya Dion kaget banget. "Aku tanya sama teman-teman kakak," jawab Fanya. "Ayo masuk!" perintah Dion lalu menutup pintu. "Nggak usah takut! Kamu nggak bakal kakak apa-apain," ucap Dion sambil membersihkan kamarnya yang berantakan. Pakaian kotor di mana-mana. Maklum anak cowok mana ada yang rapi. "Kakak, kok wangi banget kamarnya. Itu ... botol parfumnya pecah, ya?" selidik Fanya sambil menyapukan pandangan matanya ke setiap sudut ruangan. "Oh ini jatuh tadi," kata Dion lalu membersihkan sekaian botol kaca yang berserak. Fanya duduk di atas ranjang selama Dion membersihkan kamarnya. Fanya menenteng tas kresek yang berisi makanan dan minuman untuk Dion. "Kenapa kamu sampai sini?" tanya Dion sambil menempatkan dirinya duduk di sisi Fanya. "Aku khawatir sama Kakak," jawab Fanya. "Aku nggak apa-apa, kok. Cuma butuh tenang aja," ujar Dion. Dari bahasanya Dion masih kesal dengan Fanya, karena kalau Dion lagi nggak marah pasti dia menyebut Fanya dengan sapaan adek dan menyebut dirinya dengan sapaan Kakak. Fanya menyesal banget sudah menorehkan luka di hati Dion. "Kak, maafin aku, Ya!" ucap Fanya lalu memeluk tubuh Dion erat-erat. "Aku benar-benar minta maaf karena udah buat kakak sakit hati. Aku udah bener-bener percaya sekarang kalau kakak itu nggak pernah ngelakuin hal yang dituduhin sama Kak Adel," jelas Fanya terisak-isak memeluk tubuh gagah Dion. "Kenapa kamu bisa percaya?" tanya Dion belum mau membalas pelukan Fanya. "Karena aku udah punya bukti. Aku dibantu sama teman-teman kakak yang pada baik-baik banget itu," jawab Fanya. Dia melepaskan pelukannya dan mengambil ponsel untuk menunjukkan hasil rekaman tadi saat di kampus. Dion menyimaknya sambil sesekali berdecak dan geleng-geleng kepala. "Bisa-bisanya Pak Sanusi ini ... ckckckck ..." Dion nggak habis pikir. "Tolong maafin aku, Kak!" Fanya memohon sambil mengatupkan ke dua tangannya. "Dan maafin juga abang aku! Aku tahu abang aku udah keterlaluan banget sama kakak kan?" Hati Fanya bak teriris-iris setiap kali mengingat hinaan abangnya pada Dion. Pasti Farish juga mengatakan hal yang sama pada Dion secara langsung. Fanya aja sakit hati banget apalagi Dion. "Kakak udah maafin kamu, Sayang ...." cetus Dion dengan mata berkaca-kaca. "Kakak cuma sedih aja karena nggak bisa bikin kamu bangga jadi pacar kakak," ungkap Dion kemudian menangis terisak-isak. Hatinya lagi terluka parah sekarang karena hinaan yang bertubi-tubi. "Kakak jangan bilang gitu! Kakak nggak boleh putus asa! Kakak itu hebat dan aku bangga punya lelaki pekerja keras kayak kakak. Ini ...." Fanya menunjuk bekas luka di wajah Dion yang bekas gambar abangnya. "Ini bukan ulah tembok kan? Ini ulah tangan abang aku. Aku minta maaf, Kak!" Fanya mengelus luka di wajah Dion dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Iya ... maafin kakak! Kakak terpaksa bohong karena nggak mau kamu kepikiran," sahut Dion. "Abang aku udah ngomong apa aja sama kakak? Kakak jangan ambil hati, Ya!" "Omongan Abang kamu jadi semangat buat kakak biar kakak lebih berusaha lagi bahagiain kamu. Satu hal yang pingin kakak tanyain ke kamu, kamu masih mau dampingin Kakak kan, Dek?" tanya Dion. Karena Fanya adalah penyemangatnya untuk hidup dan berjuang saat ini ketika keluarga yang seharusnya mendukungnya malah membuatnya jatuh di lembah yang terdalam. "Iya, aku mau ... aku bakal terus dampingin kakak meski Abang aku paksa aku buat ninggalin kakak, tapi aku nggak akan pernah ninggalin Kakak," ucap Fanya dengan yakin mengutarakan niatnya yang akan setia di sisi Dion sampai Dion sukses nanti. "Makasih ya, Sayang. Kakak cinta banget sama kamu," cetus Dion lalu memeluk Fanya dengan erat. Dion hanya memperbolehkan Fanya sebentar saja di dalam kamarnya, karena dia tidak mau ada orang yang melihat dan bisa membuat fitnah nantinya. Karena Fanya gadis baik-baik jadinya Dion sangat menjaganya dan menghormatinya. Fanya pulang menggunakan ojek online. Setelah itu Dion mandi dan memakan makanan yang tadi Fanya belikan untuknya, sebungkus nasi uduk dan juga teh hangat yang sudah tidak hangat lagi. "Terima kasih, Ya Allah. Engkau memberiku orang-orang yang tulus cinta sama aku," ucap Dion merasa sangat bersyukur karena dibalik orang-orang yang ingin menjatuhkan mentalnya, ada pula sahabat dan kekasih yang tak pernah lelah memberinya semangat. Dion merasa jauh lebih segar dan bersemangat selepas berbincang dan berdamai dengan Fanya. Moodnya yang tadi ancur-ancuran kini perlahan membaik meski tidak sepenuhnya pulih seperti sedia kala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN