**
Selepas menemani Dion sarapan di gazebo taman. Fanya berjalan beriringan bersama Mawar untuk masuk ke dalam kelas. Namun, di tengah perjalan, tepatnya di lorong kampus yang menghubungkan laboratorium komputer dan juga kelas Fanya, ada dua orang wanita (kakak kelas) yang menghadang langkah Fanya dan Mawar.
"Siapa, Nya?" tanya Mawar berbisik di telinga Fanya.
Fanya hanya menaikkan ke dua pundaknya untuk menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
"Jadi kamu pacar barunya Zayn Dion?" tanya si cewek berambut panjang dengan gayanya yang sok kecantikan, tapi memang dasarnya cantik si.
"Aku ... mm ...." Fanya kesusahan untuk menjawab.
"Nggak usah ditutup-tutupin gitu! Gue tahu kok, bahkan anak-anak semua juga tahu. Tadi kalian juga sempat berduaan di gazebo sana kan?" cecar si cewek yang bernama Adelia, mantan pacar Dion.
"Kalau emang aku pacaran sama Kak Dion memang apa masalahnya buat kakak?" tanya Fanya dengan nada menantang. Meski banyak dinilai gadis polos dan lugu, tapi Fanya bukan gadis yang penakut seperti yang orang sangka.
"Nggak ada masalah sie buat aku, tapi .... " Cewek tersebut menyunggingkan senyum setan.
"... kalau dulu dia kaya, bisa diporotin duitnya kalau sekarang apanya yang kamu abisin? Cuma gantengnya doang? Sama cinta? Ciih ... makan tuh cinta. Laki kere ternyata masih laku juga, ya. Sama aku aja aku buang eh kamu pungut," lanjutnya menghina Dion habis-habisan dan dengan kalimat yang sangat melecehkan membuat Fanya menjadi geram.
"Kakak bisa nggak sie nggak usah ngomong kaya gitu? Kak Dion itu lagi tertimpa musibah," sembur Fanya.
"Hm ... iya, musibah. Dan lu yang malah nyamperin musibah! Aku aja menghindar jauh-jauh, hahaha ..." sungut Adelia sambil mengibas-mengibaskan tangannya seperti orang jijik.
"Udah diapain aja sama Dion? Diajak tidur juga nggak? Kalau dulu mah ada duitnya nggak masalah sie mau ngamar berapa kali juga aku masih happy-happy aja ...." Kata-kata yang keluar dari mulu Adel memancing emosi Fanya hingga gadis itu menangis terisak-isak.
"Memang kakak siapanya Kak Dion, sie?" tanya Fanya dengan nada tinggi.
"Jelasin, Say! Dia nggak tahu siapa aku," pinta Adelia pada rekannya.
"Dia Adelia, mantan pacarnya Dion," jelas Syahnaz, sahabat Adelia.
"Udah tahu kan kamu sekarang siapa aku? Dion mah penjahaat kelamiiin, jadi hati-hati aja! Minimal kalau dia kaya, nggak apalah dapat duitnya. Lah ini kamu dapat apa? Hahaha ... dasar cewek polos! Jangan bodoh deh jadi wanita!" umpat Adelia kemudian berjalan pergi membelah tubuh Fanya dan Mawar yang berdempetan. Tawa ke dua kakak kelas itu pun terdengar begitu menyakitkan untuk Fanya.
"Nya, yang sabar, Ya! Tapi aku nggak pernah dech dengar gosip kalau Kak Dion itu penjahaat kelamiiiin. Kamu jangan terpancing sama mereka, Ya! Mending lu cari tahu dulu kebenarannya! Dari teman-teman Kak Dion misalnya," ujar Mawar menenangkan hati Fanya yang pastinya gundah gulana.
**
Dion kini berada di kantin untuk bertemu dengan teman-temannya. Lelaki itu terlihat lesu karena memendam masalah yang ingin segera dia ceritakan pada sahabat-sahabatnya.
"Kenapa lu, Yon? Sampai lebam gitu muka lu," tegur Ernest.
"Ini sebenarnya memang nggak kepentok meja, Guys. Tapi gue habis adu jotos sama Farish," cetus Dion membeberkan yang sebenarnya.
"Farish? Kok bisa?" tanya mereka kompak.
"Ternyata Fanya itu adiknya Farish dan dia nggak terima aku pacaran sama adiknya," jawab Dion membuat teman-temannya menjadi shock.
"Ya Allah, bisa kebetulan gitu, ya? Kayaknya lu sama Farish itu jodoh deh, Yon," cetus Jovian.
Farish seusia dengan Dion, tapi mereka berbeda kampus. Farish dan Dion dulu pernah bertengkar karena masalah perempuan yang tidak lain adalah Adelia.
"Gue lagi mikir dari mana dia bisa tahu kalau Fanya itu pacaran sama gue," decak Dion sambil menyangga kepalanya yang terasa pusing akibat masalah ini ditambah dengan kurangnya dia beristirahat.
"Pasti ada yang ngadu dong nggak mungkin enggak. Lagian jaman sekarang tuh, tembok aja bisa ngomong," ucap Gilbert.
"Tapi gue nggak mau nglepasin Fanya gitua aja. Gue cinta beneran sama dia. Cuma satu hal yang benar-benar nusuk hati gue banget," cerita Dion dengan mata berkaca-kaca. Dia lemah sekali kalau itu tentang Fanya.
"Kenapa, Bro?" tanya Udin.
"Farish bilang apa sama lu?" sambung Ernest super penasaran.
"Dia bilang kalau gue nggak pantas buat adiknya karena gue kere. Gue nggak ada harta, cuma modal tampang doang. Gue nggak bisa diginiin! Gue udah direndahin sama abang gue sendiri karena ceweknya dan sekarang gue direndahin sama abangnya pacar gue sendiri. Gue nggak bisa, Guys! Gue harus buktiin kalau gue bisa bikin Fanya bahagia. Ini pun gue lagi berjuang mati-matian buat memantaskan diri gue buat Fanya," jelas Dion. Dia merasa harga dirinya sebagai seorang lelaki sangat diinjak-injak. Namun, dari sini Dion bukannya patah arang, tapi semangatnya untuk bangkit dan membuktikan diri pada orang-orang yang menghinanya malah semakin tinggi dan meroket naik.
"Semangat, Yon! Kita yakin lu pasti bisa!" seru Jovian memberi moodbooster pada sahabatnya tersebut.
"Dukung gue ya, Guys! Jangan tinggalin gue! Gue nggak tahu apa jadinya gue tanpa kalian," ucap Dion begitu bersyukur memiliki sahabat seperti genk huru-hara.
"Kita pasti dampingi lu kok sampai lu sukses. Udah nggak usah cengeng gitu! Badai pasti berlalu," tegur Ernest lalu menepuk pundak sahabatnya itu menguatkan.
**
Fanya meminta waktu pada Dion selepas jam kuliahnya selesai. Mereka bertemu di salah satu cafe yang jauh dari kampus mereka agar tidak ada yang melihat pertemuan mereka terlebih anak-anak kampus.
"Kenapa, Sayang? Kok mukanya masam gitu?" tanya Dion pada Fanya. Sejak awal dia datang, Fanya sama sekali tidak menunjukkan keramahan padanya. Jelas pasti ada masalah.
"Aku mau tanya sama kakak," cetus Fanya dengan mata berkaca-kaca.
"Tanya apa? Kok sedih gitu?" Fanya belum bertanya, tapi Dion yang justru melempar pertanyaan duluan.
"Apa benar Kakak punya mantan pacar yang namanya Adelia?" Pertanyaan Fanya membuat Dion terdiam beberapa detik, lalu dia menjawab singkat ...
"Iya ...."
"Kakak pernah ngapain aja sama dia?" tanya lagi Fanya dengan pertanyaan berikutnya.
"Maksudnya? Memang ngapain?" Dion balik bertanya.
"Kakak nggak usah sok polos gitu!" geram Fanya naik emosinya.
"Kakak pernah tidur sama dia?" tuduh Fanya termakan omongan dari Adelia.
"Astagfirullah!" Dion menghela napas kasar sambil memegang jidatnya.
"Jawab, Kak!" pinta Fanya dengan tangisnya yang pecah.
"Nggak pernah! Aku sama sekali nggak pernah nyentuh dia, ya. Kita pacaran cuma sebulan dan itu pun aku yang ditipu sama dia, Nya. Dia bilang masih jomblo nyatanya dia udah punya pacar. Aku memang playboy dulu, tapi aku nggak main niduriin anak orang seenaknya!" tegas Dion menampik tuduhan yang Fanya lontarkan.
"Tapi kata Kak Adel kalian-"
"Jadi terserah kamu deh, Nya! Mau percaya aku atau Adelia, aku udah cukup pusing sama masalah aku, aku nggak mau nambah masalah lagi dengan hal yang gak mesti aku pikirin!" sembur Dion kesal. Beban pikirannya sudah cukup berat dia tidak mau menambah beban lagi yang berujung pada stress yang berkepanjangan.
Dion berlalu begitu saja meninggalkan Fanya tanpa berkata apapaun lagi. Baginya percuma untuk menjelaskan pada orang yang tidak mempercayainya, itu hanya akan membuang-buang tenaga saja.
"Kak ... Kak Dion ...!" seru Fanya mencoba mencegah Dion untuk pergi.
"Astagfirullah, aku udah salah bersikap kayaknya." Fanya merasa bersalah karena sudah membuat Dion marah.
**
Malam harinya, Dion kembali bekerja setelah tadi dia hanya tidur tiga jam karena dia harus tetap menarik orderan ojek online. Biaya kuliahnya harus segera dia lunasi, maka dari itu dia bekerja sangat keras.
Sial! Saat berjaga dia bertemu dengan Zian, Kakaknya dan juga Jenifer, kekasihnya. Namun, Dion tidak mencoba untuk bersembunyi atau melarikan diri. Dia tetap bekerja secara profesional.
"Lu kerja di sini, Yon?" tanya Zian sambil memamerkan senyum seperti orang meledek. Dia mengamati penampilan adiknya dari atas sampai bawah.
"Keren juga kamu pakai baju satpam," ucap Zian. Entahlah kenapa pujian ini berasa seperti sebuah penghinaan bagi Dion.
"Thanks," sahut Dion singkat.
"Hm ... kita masuk aja, Sayang! Aku takut nanti adik kamu menggodaku lagi," ucap Jenifer yang bergelendot manja di tubuh Zian.
Dion melirik ke arah Jenifer dengan tidak suka. Dia benar-benar marah bukan karena cemburu wanita itu bersama dengan kakaknya, karena Dion tidak memiliki rasa sama sekali dengan wanita itu. Yang bikin Dion marah karena Zian sampai detik ini masih menjalin hubungan dengan wanita nakal itu dan tidak menggubris peringatannya.
Ternyata hati lu buta, Yan. Demi wanita jalllang ini lu rusak persaudaraan kita. Batin Dion.
"Semoga lu bisa sukses hanya dengan menjadi seorang petugas keamanan ya, adikku tersayang," ledek Zian lalu menepuk lengan adiknya.
Dion geram ... kenapa begitu banyak penghinaan mampir di telinganya. Ke dua tangan Dion terkepal, ingin sekali dia membalas pukulan yang dulu pernah dia terima, tapi Dion berusaha untuk mengontrol emosinya, karena dia tidak mau membuat kericuhan di tempatnya mencari uang.
"Baaag ...!" Dion melampiaskan amarahnya dengan meninju tembok hingga tangan lelaki itu terlihat membiru, tapi Dion tidak merasakan sakit karena hatinya terasa lebih sakit.
**
Fanya memikirkan Dion sejak tadi sampai dia tidak konsen untuk belajar apalagi makan. Dion tidak mau membahas pesannya apalagi menjawab teleponnya. Rasa bersalah Fanya semakin menggunung karena ini.
Di saat dia sedang sibuk dengan pikirannya, bahkan menangis karena bertengkar dengan kekasihnya. Suara ketukan pintu terdengar mengagetkannya. Fanya segera menghapus air mata yang tumpah di pipinya dan bergegas untuk membuka pintu kamar.
"A-Abang ...." Fanya terbata-bata melihat tubuh gagah kakak kandungnya sudah berdiri di hadapannya.
"Abang mau ngomong sama kamu," ucap Farish, suaranya terdengar berat. Pasti ada hal serius yang akan dia katakan.
"Kenapa, Bang?" tanya Fanya dengan ketakutan. Farish menarik Fanya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar rapat-rapat.
"Kenapa kamu nggak nurut sama perintah abang?"
"Perintah yang mana, Bang?"
"Udah abang bilang dari awal, kamu boleh pindah kuliah di kampus itu asal kamu jangan sampai dekat-dekat sama gerombolan pemuda nakal yang abang wanti-wanti ke kamu! Tapi kenapa kamu malah pacaran sama Dion?!"
Fanya bagaikan tersambar petir mendengarkan omelan abangnya.
Dari mana abang tahu aku pacaran sama Kak Dion? Pikir Fanya dengan mata berkaca-kaca. Inilah yang paling dia takutkan dalam hubungannya dengan Dion, ketahuan oleh salah satu anggota keluarganya.
"B-Bang ...."
"Fanya, asal kamu tahu, Ya. Dion itu yang udah ngrebut pacar abang!" geram Farish begitu menakutkan saat dia emosi seperti sekarang.
"Pacar abang siapa yang direbut sama Kak Dion?" selidik Fanya.
"Adelia!" cetus Farish membuat Fanya membulatkan ke dua netranya.
"A-Adelia ...."
Ya Allah kenapa bisa kebetulan begini? Aku nggak nyangka ternyata Kak Dion itu musuh bebuyutan abang aku sendiri.
"Bang, Abang salah paham. Yang salah itu bukan Kak Dion, tapi Adelnya yang ngebohongin Kak Dion. Kak Dion itu nggak tahu kalau Adel punya pacar. Jadi Abang nggak bisa nyalahin Kak Dion gitu aja!" jelas Fanya membela kekasihnya mati-matian. Dia percaya kalau Dion tidak membohonginya.
"Jadi kamu udah berani nantang abang, Nya? Kamu mau Abang bikin dia lebih babak belur lagi dari kemarin? Putusin dia kalau kamu mau dia selamat!" ancam Farish dengan mata terbelalak.
"Maksud abang apa sie? Abang mukul Kak Dion, iya?" Fanya refleks mendorong d**a Abangnya karena nggak terima Dion disakiti.
"Kalau iya kenapa? Lagian apa sie yang kamu banggain dari dia? Udah kere kelakuan juga nggak bener!" cibir Farish menghina Dion habis-habisan.
Fanya menangis histeris karena merasa sakit kekasih yang dia sayangi direndahkan oleh abangnya sendiri.
"Abang nggak boleh bilang kayak gitu, Bang! Abang harusnya sadar diri kalau sebentar lagi kita pun juga bisa jatuh miskin seperti Kak Dion!" teriak Fanya dengan cukup kencang hingga Tante mereka mendengar pertengkaran hebat ini dan segera menemui ke dua ponakannya.
"Kalian kenapa ribut sie? Malu ah ...." tegur Tante Sashi.
"Fanya udah berani pacaran sama lelaki kere, Tante. Aku nggak suka ya, Nya! Kamu harus putusin dia! Abang nggak mau tahu!" paksa Farish.
"Aku nggak mau, Bang! Aku cinta sama Kak Dion. Udah cukup abang ngatur hidup aku! Aku udah gede, aku udah tau mana yang baik mana yang enggak!" sembur Fanya menolak dengan tegas permintaan abangnya.
"Kalau udah tahu kenapa malah milih laki miskin itu?" tanya Farish lagi-lagi dengan nada meremehkan.
"Jangan bilang kayak gitu! Karena bentar lagi nasib kita juga bakalan sama kayak Kak Dion. Jatuh bangkrut!" tegas Fanya.
"Kita nggak bakalan miskin asal kamu mau nikah sama Refi. Jadi nasib kita murni ada di tangan kamu!" sentak Farish.
"Pergi! Abang pergi dari sini! Aku nggak mau lihat abang! Tante juga pergi!" Fanya mengusir mereka dengan kasar dan segera menutup pintu rapat serta menguncinya.
Fanya menangis terisak-isak. Sekarang dia tahu kenapa wajah Dion sampai terluka, ternyata akibat bogem mentah dari abangnya.
"Abang pasti nggak cuma nyakitin badan Kak Dion doang, tapi juga hatinya. Kak ... apapun yang terjadi aku nggak akan ninggalin kakak, karena aku yakin kakak orang yang baik," tutur Fanya terduduk di lantai sambil bersandar di pintu.
Sementara itu Farish merasa kesal karena adiknya lebih memilih rivalnya dari pada dirinya.
"Jangan kamu tegur Fanya dengan keras kayak gitu, Rish! Biarin dia tenang dulu! Nanti tante yang coba ngomong sama dia," ucap Tante Sashi.