Istri Orang 11

2341 Kata
Fanya melempar senyum pada Dion, meski dalam hatinya kecewa. Pikirnya saat ini, kalau Dion punya pacar, hubungan mereka pasti nggak akan sedekat sekarang. Bahkan, mungkin mereka nggak akan pernah berkomunikasi lagi demi menjaga perasaan pasangan Dion yang baru. Namun, Fanya sudah mempersiapkan diri tentang kemungkinan buruk itu, kan dari awal dia sudah tahu kalau Dion memiliki target yang diincarnya. "Semoga kakak sukses, ya," ucap Fanya setulus hati mendoakan keberhasilan Dion. "Thanks, Ya," sahut Dion. Mereka menjeda percakapan sejenak untuk memesan makanan. Fanya memesan nasi goreng ayam dan milkshake cokelat, sedangkan Dion memilih memesan ayam geprek level tiga dengan jus jeruk. Sambil menunggu makanan mereka melanjutkan obrolan mereka. "Oya, Dek. Bulan depan kakak mulai kerja," cetus Dion memberitahu rencana ke depannya pada Fanya. "Oya?" Fanya tersenyum senang mendengar kabar ini. "Syukurlah! Kakak kerja di mana memangnya?" tanya Fanya cukup antusias. "Cuma pekerja biasa sie, Dek. Jadi satpam di club malam gitu," jawab Dion jujur tanpa ada satu pun yang dia tutup-tutupi. "Oh .... " Fanya manggut-manggut. Club malam itu biasanya berhubungan sama hal-hal yang negatif. Aku takut aja sie kalau nanti ada yang resek atau apa terus Kak Dion kenapa-kenapa. Pikir Fanya memikirkan resiko pekerjaan yang akan diambil oleh Dion. "Kenapa. Dek? Kamu nggak suka kakak kerja jadi satpam?" tanya Dion, karena raut wajah Fanya terlihat berubah tidak seantusias sebelum dia memberitahu di mana dia akan bekerja. Fanya menggeleng. "Nggak kok, Kak. Sama sekali enggak, yang penting kakak jaga diri kakak baik-baik, karena jadi satpam itu kan resikonya gede, Kak. Mana harus betah melek sampai pagi kan? Mana habis itu kakak masih ada kuliah, masih ngojek juga. Aku cuma takut kakak sakit kalau nggak jaga kesehatan," tutur Fanya dengan panjang lebar memberikan perhatian pada Dion dan tentunya ini membuat Dion menjadi semakin terpikat dengan kebaikan hati Fanya. "Fanya ...." cetus Dion menyebut nama gadis yang duduk di sisinya ini sambil memegang tangan Fanya dengan mesra. "I-Iya, Kak," sahut Fanya dengan terbata-bata. "Boleh aku nembak cewek yang aku maksud sama kamu sekarang?" tanya Fanya meminta ijin. "Ne-nembak?" Fanya masih terbata-bata. Gesture tubuhnya menunjukkan bahwa dirinya sekarang dalam posisi yang tidak nyaman. "Kalau kakak mau nembak cewek itu, silahkan!" ucap Fanya dengan mata berkaca-kaca. "Ta-Tapi ... tapi setelah ini .... " Fanya menjeda, memberi paru-parunya yang terasa sesak untuk bernapas. "Tapi setelah ini kita nggak boleh ketemu lagi, karena aku takut bikin pacar kakak salah paham," jelas Fanya lalu membungkam mulutnya rapat, menahan tangisnya yang serasa ingin meledak. Fanya memalingkan muka, tidak mau menatap mata Dion lagi. Dion mencium punggung tangan Fanya yang masih dia genggam erat. Menyadari itu, Fanya menarik tangannya dengan kasar. "Kakak nggak bisa kayak gini! Kakak bilang udah punya cewek inceran, tapi kakak malah perlakuin aku mesra banget seperti gini," tegur Fanya merasa kesal. Bodohnya dia yang membuka pertemanan dengan Dion tanpa membatasi perasaannya. Maklumlah, ini pertama kalinya ia berdekatan dengan lawan jenis. Dia belum pandai dalam hal percintaan. "Karena cewek yang kakak incer itu kamu," aku Dion tidak membiarkan Fanya berlama-lama salah paham. Fanya kaget bukan main. Dia menoleh setelah sejak tadi membuang muka. "Kakak sayang sama kamu, tapi kamu yang terlalu polos sampai nggak paham sama kode yang kakak kasih ke kamu," ucap Dion. Pintarnya Dion yang memilih tempat duduk yang paling pojok dan sepi yang jauh dari keramaian. Dengan begini dia lebih leluasa mengutarakan apapun pada Fanya tanpa ada yang mengganggunya. "Kakak serius?" tanya Fanya seolah tidak percaya bahwa seorang gadis yang dimaksud oleh Dion selama ini adalah memang dirinya. "Iya, Fanya. Cewek yang kakak maksud waktu itu ya kamu, kakak berani ngejar kamu karena kamu yang bilang kalau cinta itu harus dibuktikan. Padahal kakak udah hopeless, kakak takut banget buat deketin kamu karena level kakak yang sekarang yang nggak akan bisa sebanding sama kamu," jelas Dion. "Tapi kakak lihat kamu welcome sama kakak. Kamu bisa menerima kakak dengan tulus tanpa mempermasalahkan pekerjaan kakak sama sekali. Kakak sayang sama kamu, Fanya. Sejak pertama kali kakak ketemu kamu, kakak udah jatuh hati sama kamu. Bahkan semenjak kamu sebutin nama kakak di kertas arisan yang kamu temuin," papar Dion lebih rinci lagi. "Dan ... kakak semakin yakin kalau kamu gadis yang baik, karena satu hal ini ... karena kamu adalah satu-satunya cewek yang mau kakak dekatin saat kondisi kakak udah nggak jaya lagi seperti dulu. Itu artinya kamu memang memiliki hati yang tulus ...." imbuh Dion dengan sebuah pujian untuk Fanya. Dion berkata berdasarkan fakta, memang Fanya sangatlah tulus, baik dan juga mau menerima Dion apa adanya. "Fanya ... malam ini kakak mau tanya sama kamu ...." Dion menggenggam ke dua tangan Fanya erat-erat. Mereka duduk beralaskan tikar sederhana dengan posisi berhadap-hadapan. Sorot lampu yang remang-remang membuat suasana dirasa romantis oleh mereka berdua. "... apa kamu mau jadi pacar kakak, Fanya?" tanya Dion dengan mata berkaca-kaca. Berharap Fanya akan lekas berkata iya. "Kakak serius?" tanya Fanya sekali lagi untuk memastikan kalau Dion tidak main-main. "Iya, kakak sangat serius," jawab Dion mantab. "Aku juga sayang sama kakak. Hm ... iya ...." Fanya menyunggingkan senyumnya. "... aku mau jadi pacar kakak," lanjut Fanya membuat Dion sangat bahagia. Berkali-kali menembak cewek, tapi inilah moment yang paling mendebarkan sepanjang sejarah percintaannya. Fanya gadis berbeda dan yang paling istimewa yang berhasil memikat hatinya. "Makasih, Dek ... kakak senang banget," ungkap Dion lalu menciumi tangan Fanya bergantian. Fanya tersenyum di tengah tangis bahagianya. Padahal tadi dia sudah galau, sedih banget kalau kedekatannya dengan Dion harus diakhiri kalau Dion memiliki pacar lagi. Namun, dia tidak sadar kalau cewek yang diincar Dion adalah dirinya. "Tapi kamu yakin nggak malu punya pacar kaya kakak?" tanya Dion. Fanya menggeleng. "Aku bakal malu kalau punya pacar yang nggak mau usaha dan hanya jadi beban orang tua," jawab Fanya. "Apapun pekerjaan kakak asal itu halal aku pasti dukung, Kok. Tapi, karena aku belum boleh pacaran, kakak jangan bilang sama siapa pun tentang hubungan kita, ya. Terutama sama orang-orang yang nggak bisa kakak percaya mulutnya," kata Fanya mewanti-wanti. "Kamu takut keluarga kamu nggak nerima kakak ya, Dek?" tanya Dion sudah sadar diri duluan sebelum Fanya menjelaskan. Permasalahan dalam hidupku sebenarnya cukup berat. Bagaimana soal perjodohanku? Tentang utang-utang papah yang begitu banyak, tentang mamah yang matrealisitis, tentang tante yang nggak mau aku punya pacar orang nggak punya, tentang abangku yang terlalu pengekang. Batin Fanya gelisah dengan permasalahan hidupnya yang pelik. Hanya saja dia tidak mau membuat Dion kepikiran. "Apapun masalahnya nanti dalam hubungan kita, asal kita sama-sama berjuang dan saling setia pasti akan dikasih jalan sama Allah, Kak." Sebuah jawaban klise yang keluar dari mulut Fanya agar Dion tidak lagi banyak bertanya tentang keluarganya. "Jadi kita udah jadian sekarang?" "Iya, Kak. Aku pacar kakak sekarang." Fanya bahagia, begitu pun Dion. Ini kali pertama dalam hidup Fanya memiliki seorang kekasih. Keputusannya untuk menerima Dion terbilang sangat pemberani mengingat akan banyak sekali rintangan terutama dalam keluarganya yang akan membuat hubungan mereka menjadi sulit. Namun, Fanya tidak bisa memungkiri bahwa dia memiliki rasa yang sama pada lelaki yang usianya dua tahun lebih tua darinya itu. Fanya tidak peduli apapun tentang masa lalu Dion, karena menurutnya semua orang pasti memiliki sebuah masa lalu, tergantung bagaimana kita berusaha untuk merubah yang lalu menjadi lebih baik. "Tapi ingat yang tadi ya, Kak! Jangan disebar dulu hubungan kita!" pinta Fanya mewanti-wanti. "Iya, Sayang," sahut Dion mulai memanggil Fanya dengan sebutan yang mesra. Lelaki itu mengusap-usap kepala Fanya penuh kasih sayang. "Boleh kakak peluk?" Dion meminta ijin, takut kalau Fanya tidak nyaman dan kurang ajar kalau asal nemplok. Fanya mengangguk dengan malu-malu. "Asyiik .... " Dion segera menarik tubuh mungil Fanya di dalam dekapannya. "I love you, My Sweet Love," kata Dion lalu membenamkan sebuah ciuman ke pucuk kepala Fanya. ** Rintik hujan membasahi bumi. Fanya menggeleng saat Dion menawarkan mereka untuk berteduh, baginya hujan malam ini adalah berkah. Ini hujan yang akan menjadi saksi cinta mereka berdua. Fanya merentangkan ke dua tangannya lebar-lebar dengan laju kendaraan Dion yang diminta untuk berjalan pelan. Pukul sepuluh malam dan keadaan jalanan masih padat. Fanya yang memakai helm di kepalanya dan juga masker untuk menutupi wajahnya berteriak cukup kencang, "I Love You Kak Dion ...." Dion yang mendengar itu pun tersenyum dan menoleh sebentar untuk menatap kekasih barunya. Fanya membalas senyum Dion lalu memberi sebuah pelukan erat di tubuh sang kekasih dan meletakkan kepalanya dengan manja di pundak gagah Dion yang bidang. "I Love you too, Sayang," ucap Dion membalas ucapan cinta dari Fanya. Sepasang muda-mudi yang tengah dimabuk asmara ini merasa dunia hanya milik mereka berdua dan yang lainnya kontrak. Dion mengantarkan Fanya hingga ke depan gerbang kompleks perumahan tantenya. Tubuh mereka sama-sama kebasahan, karena meski hanya gerimis, tapi apabila ditempuh dengan jarak yang jauh pasti lama-lama tetap basah juga. Namun, Dion dan Fanya menikmati momen basah-basahan itu sebagai momen romantis bagi mereka berdua. "Hati-hati ya, Sayang! Nanti kalau kakak udah sampai kost, jangan lupa telpon aku," pesan Fanya pada kekasihnya. "Iya, Sayang. Ya udah kamu jalan dulu gih! Aku mau mastiin kalau kamu sampai di rumah dengan selamat," perintah Dion. "Oke ... aku pulang dului ya, Kak. Hati-hati pokoknya." Fanya mengulang pesannya kembali. Dia melambaikan tangan pada Dion sambil berjalan mundur. Pada saat melewati petugas keamanan, Fanya ditanya tentang siapa lelaki yang bersamanya, tapi Fanya memilih tidak menjawab karena itu bukan urusan mereka. "Moga aja mereka nggak ember dan bilang sama tante kalau aku ketemu sama cowok," gumam Fanya. Dion masih ada di tempatnya. Menatap Fanya yang perlahan kian menjauh dari pandangannya. Pokoknya kalau Fanya belum masuk ke rumah dia nggak akan pergi dari sana. Fanya menoleh dan merasa haru karena Dion begitu menjaganya. "Semoga Kakak jadi orang sukses nantinya, biar bisa bawa aku jadi istrinya kakak," doa Fanya sembari menyunggingkan senyumnya. Meski itu masih terlalu jauh, harapan yang masih muluk-muluk di usia jadian mereka yang baru beberapa jam, tapi Fanya memang hanya ingin menikah dengan cinta pertamanya dan itu Dion. ** Bekerja dengan dua pekerjaan masih ditambah dengan berkuliah ternyata tidak semudah yang Dion bayangkan. Lelaki itu kerap ketiduran saat jam kuliah dan membuatnya diusir keluar oleh dosen mata kuliah. Seperti hari ini, Dion terpaksa harus menahan malu akibat molor saat teman-temannya sedang berkonsentrasi menyimak materi. Namun, mau bagaimana lagi kalau memang keadaannya sangat lelah karena harus begadang tiap malam. "Kakak ...." Fanya mencolek-colek lengan Dion yang tengah tertidur di sebuah gazebo di tengah taman. "Eh, Fanya ...." Dion kaget dan langsung beranjak ketika mendapati Fanya sudah ada di dekatnya. Wajah Dion terlihat layu tidak fresh seperti sebelum dia mengambil pekerjaan sebagai seorang satpam. Fanya paham kok kalau Dion lelah, dia juga paham kalau Dion pasti mengantuk karena begadang seharian. Bahkan, pagi ini pun dia belum makan sama sekali karena diburu waktu jam kuliah, tapi nyatanya dia malah ketiduran karena nggak kuat menahan kelopak matanya agar tidak terpejam. Namun, ada satu hal yang membuat Fanya menjadi khawatir yaitu luka lebam yang ada di sudut mata Dion. Jantung Fanya seketika berdebar kencang, karena pasti ada sesuatu hal yang terjadi hingga kekasihnya itu terluka. "Kakak, ini kenapa?" tanya Fanya sambil menunjuk mata Dion. Dion memegang luka yang dimaksud oleh Fanya. "Oh, ini cuma kepentok meja aja kok. Nggak usah khawatir, Dek!" jawab Dion. Meski begitu Fanya tidak percaya dengan jawaban Dion, karena wajah Dion menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tengah terjadi padanya dan dia sembunyikan. Sepertinya aku nggak bisa ngedesak Kak Dion buat jujur sekarang, tapi aku yakin pasti Kak Dion habis berantem sama orang. Pikir Fanya. "Oh, ya udah kalau gitu. Hm ... kakak pasti belum makan kan? Ini aku beliin kakak nasi uduk sama teh anget buat kakak sarapan," ucap Fanya sembari memberikan kresek yang sejak tadi ditentengnya. "Kamu baik banget si, Dek. Makasih, ya," sahut Dion sangat menghargai perhatian kekasihnya itu. Tidak bisa ditutupi lagi kedekatan mereka berdua ini, meski mereka berusaha untuk tidak mempublikasikannya, tapi penghuni kampus ternama ini sudah menduga kalau Dion dan Fanya menjalin hubungan. "Dimakan sekarang, Kak! Aku nggak mau kakak sakit. Biar aku tungguin, kelasku masih setengah jam lagi, Kok," perintah Fanya yang bersedia menyisihkan waktunya sebelum kuliahnya dimulai untuk menemani kekasihnya. "Thanks, Ya," cetus Dion. Karena Fanya, Dion jadi belajar caranya berterima kasih, dulu dia adalah anak yang tidak pernah menghargai apapun yang diberikan oleh orang lain. Dia terbiasa meminta tanpa memberikan apresiasi sama sekali pada orang yang membantunya meski hanya dengan dua patah kata saja 'terima kasih'. Dion menghabiskan makanannya dan juga sebotol teh hangat yang Fanya bawakan. Badannya yang tadi lemas kini telah terisi tenaga. Dan barulah Fanya berani untuk bertanya tentang hal yang membuat Dion mendapatkan luka di wajahnya. "Kakak, kenapa? Kakak habis berantem ya sama orang?" tanya Fanya. Dia khawatir dengan Dion, bahkan sudah sejak Dion mengutarakan niatnya untuk bekerja sebagai tugas keamanan malam itu. Resiko pekerjaan Dion tidaklah ringan, sebagai security apalagi di club malam, Dion harus siap menghadapi kericuhan, kerusuhan, atau apapun yang mungkin saja terjadi di tempat yang biasa digunakan oleh orang-orang menghabiskan penat di tengah malam. "Ini beneran kepentok meja kok, Sayang. Kamu nggak usah overthinking gitu!" jawab Dion berusaha meyakinkan Fanya. "Aku cuma takut kakak kenapa-napa," cetus Fanya dengan mata berkaca-kaca. "Nggak usah khawatir, Sayang! Kakak bisa jaga diri kakak dengan baik, Kok," jelas Dion lalu mengelus pucuk kepala Fanya dengan lembut. "Gimana bisa kakak jaga diri kalau sama meja aja kakak kalah?" tanya Fanya dengan nada meremehkan. "Mending kakak keluar aja dan cari kerjaan lain!" dalih Fanya agar dia bisa tenang dan nggak perlu khawatir lagi tiap Dion pergi bekerja. "Nggak bisa kayak gitu dong, Nya. Kakak banyak tanggungan, harus bayar kuliah, bayar kost, buat makan sehari-hari, belum lagi buat manjain kamu. Jaman sekarang susah banget nyari kerja, Sayang," debat Dion tidak mengindahkan keinginan Fanya. "Aku tahu, Kak. Tapi aku cuma takut itu doang ... resiko pekerjaan kakak itu berat banget. Mana kakak jadi nggak konsen kuliah kan karena ngantuk terus." "Ini salah kakak yang nggak bisa ngatur waktu dengan baik. Kakak lagi adaptasi aja, Kok. Lama kelamaan pasti kakak terbiasa," tutur Dion mencoba untuk menenangkan hati Fanya. "Tapi thanks karena kamu udah perhatian banget sama kakak. Thanks sarapannya, teh angetnya. Doain aja kakak bisa sukses, ya." Fanya tidak dapat mendesak lagi Dion untuk mengundurkan diri dari club malam milik om-nya Gilbert. Apalagi yang bisa dia lakukan selain banyak berdoa demi keselamatan Dion, kekasihnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN