**
Dion bahagia sekali hari ini. Dia menciumi jaketnya yang masih ada bekas aroma parfum Fanya menempel di sana.
"Mungkin gue nggak akan nyuci jaket ini sampai tujuh hari tujuh malam," gumam Dion lalu memeluk jaket tersebut dan mengajaknya tidur bersama.
Maghribnya Dion bangun. Dia mencari makan malam dan sebelum itu dia mengirim pesan pada Fanya agar gadis itu tidak melupakan dinner agar perutnya tidak sakit karena telat makan.
Fanya senang mendapatkan pesan singkat dari kakak kelasnya tersebut. Sampai dia nggak sadar kalau sejak tadi dia senyam-senyum sendiri nggak jelas.
"Anya, kenapa kamu?" tegur Tante Sashi. Dia adalah adik kandung dari ibu Fanya. Untuk sementara waktu Fanya tinggal di rumah tantenya.
"Nggak apa kok, Tante," jawab Fanya lalu meletakkan ponselnya.
"Ciye ... lagi jatuh cinta kayaknya," goda Tante Sashi membuat Fanya tersenyum malu-malu.
"Yang penting ingat satu hal pesan tante, kalau mau nyari cowok harus yang tajir. Itu wajib banget. Ya kayak ommu ginilah, ya biar pun jarang ada di rumah karena sibuk kerja," ucap Tante Sashi membuat Fanya muram.
Tante sama mamah sama aja, sama-sama materialistis. Semoga rencana mama untuk jodohin aku sama Kak Refi dibatalin, karena aku nggak mau nikah cuma karena harta, tapi tanpa rasa cinta. Aku nggak mau berumah tangga kayak pernikahan orang tuaku yang nggak harmonis. Gumam Fanya dalam batin.
**
Mungkin bertukar pesan dengan Fanya akan menjadi rutinitas baru Dion mulai saat ini. Dengan begini Dion merasa memiliki harapan baru dalam hidupnya. Semangatnya yang kerap kendor karena rasa putus asa yang tetiba mampir pada dirinya, kini berkobar setelah hujan tadi sore yang mengantarkannya pada kebahagiaan. Iya ... bahagia karena Fanya sudah mengijinkannya untuk mengejar dirinya, meski Fanya sendiri tidak paham kalau gadis yang Dion maksud adalah dirinya.
Pagi ini, Dion berjanji akan menjemput Fanya. Namun, Fanya meminta Dion untuk menunggunya di portal depan kompleks.
"Maaf ya, Kak! Bukan maksud aku malu kalau kakak jemput di depan rumah, tapi ada hal yang belum bisa aku jelasin sama kakak. Ayo, Kak! Cepet kita pergi dari sini!" ucap Fanya dengan terburu-buru dengan pandangan matanya yang tidak fokus, seperti sedang mengawasi sekitarnya.
"Oke-oke!" sahut Dion segera menyalakan mesin motornya.
Dion tidak memakai jaket kebesaran saat tidak ngojek seperti ini. Dion memakai jaket levis berwarna biru dongker, ini jaket mahal satu-satunya yang tersisa yang dia punya. Penampilannya tetap oke meski pun dia sekarang telah jatuh kere. Memang dasarnya sudah tampan, maka mau jadi gembel sekali pun akan tetap tampan.
"Kakak, kakak nggak tersinggung kan, Ya?" tanya Fanya. Kini obrolan mereka sudah tidak canggung lagi seperti di awal. Cara duduk Fanya pun santai tidak kaku dan berada di ujung jok motor Dion seperti dahulu kala.
"Tersinggung soal yang mana?" tanya balik Dion.
"Soal aku yang nggak mau dijemput di depan rumah. Kakak nggak mikir yang macam-macam kan?" Fanya memperjelas arah pertanyaannya.
"Oh ... enggak kok, Dek. Tapi kalau boleh tahu bisa adek jelasin alasannya?"
"Hm ... karena aku nggak mau ada orang yang ngrendahin kakak."
"Kakak kan emang rendahan sie, Dek."
"Tuch kan kakak pasti tersinggung. Udah ah nggak usah bahas ini lagi! Yang penting aku nggak malu jalan sama kakak," tegas Fanya.
**
Saat sampai di kampus Fanya pun turun dari motor Dion dengan gelisah, takut banget kalau ada orang yang tahu tentang kedekatan mereka. Namun, ternyata hal yang dilakukan Fanya ini percuma, karena nyatanya Mawar tahu kalau Fanya sedang dekat dengan playboy kampus yang sekarang sudah tidak punya apa-apa.
"Fanya ...!" teriak Mawar sambil berlari kecil mengejar Fanya yang berjalan cepat menghindarinya. Fanya tahu pasti Mawar akan menegurnya tentang Dion.
"Nya, aku udah tahu lho kamu tadi berangkat bareng Kak Dion," kata Mawar sambil menarik lengan Fanya agar gadis itu menghentikan langkahnya.
"Iya, terus kenapa?" tanya Fanya singkat sembari menghentikan langkahnya.
"Kita ngobrol di taman aja!" ajak Mawar lalu menggandeng tangan sahabatnya tersebut.
Fanya melihat jam yang melingkar di tangannya. Masih setengah jam lagi mata kuliah pertama akan dimulai. Fanya tidak memiliki alasan untuk lari dari Mawar.
Kini mereka duduk berdua di bangku panjang yang terbuat dari besi yang ada di dekat air mancur. Gemericik air terdengar membelai gendang telinga mereka, tapi tidak membuat ke duanya kebisingan.
"Kok bisa sie kamu jadinya dekat sama Kak Dion? Kan aku udah kasih tahu kamu Kak Dion itu seperti apa," tegur Mawar dengan intonasi tidak suka.
"Playboy yang sekarang jatuh miskin, begitu kan ya?" cetus Fanya sambil meletakkan sulur anak rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya ke belakang telinga.
"Nah itu kamu tahu," sembur Mawar.
"Terus kenapa kalau dia sekarang miskin?" tanya Fanya dengan nada menantang.
"Tapi dia playboy, Nya," tukas Mawar.
"Bukannya kamu juga suka gonta-ganti pacar? Lalu apa terus nggak boleh ada lelaki baik yang ngedeketin kamu karena masalah itu?" Fanya memutar balikkan fakta.
"Nya, ini tentang kamu bukan tentang aku. Kamu itu masih polos banget, kamu masih belum paham soal lelaki, aku takutnya kamu dimainin sama Kak Dion," tutur Mawar.
"Pikiran kamu kejauhan, War!" sentak Fanya.
"Aku sama Kak Dion cuma temenan. Dia udah ada cewek yang mau dia seriusin. Jadi kamu nggak usah overthinking kayak gitu. Aku temenan sama Kak Dion karena aku nyaman, dia baik terlepas dari segala hal buruk tentang dia yang mampir di telinga aku, selama aku rasa itu nggak ada benernya kenapa aku mesti peduliin? Dan satu hal ... kita nggak perlu nilai orang dari materi, karena semua itu titipan, nggak hanya Kak Dion yang bisa jatuh miskin, tapi kamu juga, aku juga, semua orang bisa ada di posisi Kak Dion kalau Allah mau," jelas Fanya dengan panjang lebar membantai mental Mawar dengan rangkaian kata-katanya yang sangat dewasa dan bijaksana.
Fanya bergegas pergi meninggalkan Mawar tanpa menunggu Mawar membalas ocehannya. Fanya kesal dengan orang yang suka menjudge orang lain seenaknya, mencemoooh musibah orang lain tanpa berpikir kalau kita juga bisa berada di posisi yang sama dengan orang yang kita pandang rendah.
**
"Gue yakin banget, Fanya bakalan jadi cewk terakhir buat gue," kata Dion pada kawan-kawannya dengan mata memerah dan berkaca-kaca.
"Kenapa lu bisa seyakin gitu?" tanya Jovian yang aslinya meragukan kata-kata Dion barusan. Dion mana bisa tahan kalau cuma bertahan sama satu cewek dalam waktu yang lama?
"Lu kesambet ya, Yon? Lu sampai mau nangis begitu, eh ... kenapa lu mendadak cengeng dan lembek begini?!" sambung Ernest yang kebingungan dengan perubahan tingkah sahabatnya akhir-akhir ini.
Dion menyeka lelehan air matanya. "Gue jadi sensi banget begini selepas jatuh miskin," ucapnya dengan suara serak.
"Kenapa-kenapa sama Fanya?" selidik Udin.
"Jadi pagi ini gue jemput dia kan, dia minta gue buat nunggu di ujung gang yang jauh dari rumah dia, terus dia minta maaf gitu takut gue kesinggung, dia hanya nggak mau kalau ada orang yang ngehina gue karena jemput dia naik motor. Terus ...."
"Masih ada lagi, Coey," celetuk Gilbert. Mereka berempat duduk berkeliling menyimak cerita yang Dion utarakan.
"Tadi gue ngikutin dia, karena gue penasaran kenapa dia lari dari kejaran temannya ...."
"Temannya yang mana?" tanya Udin.
"Temannya yang suka ke kantin bareng Fanya," jawab Dion.
"Oh yang galak itu?" sambung Jovian.
"Tapi player kayaknya," timpal Ernest. Eh mereka malah ngomentarin Mawar.
"Nah pokoknya sama itu orang ... jadi gue ngikutin mereka diam-diam, karena mereka nyebut-nyebut nama gue dan ternyata sahabatnya Fanya ini nggak suka gue dekat sama Fanya. Dan ...." Dion menjeda ceritanya membuat ke empat rekannya ini kompak bertanya ....
"Dan apa?"
"Dan Fanya belain gue, Guys. Dia bilang dia nggak peduli mau orang ngomong apapun tentang gue dia nggak peduli ...." Dion menceritakan secara rinci setiap kata yang terlontar dari mulut Fanya yang hingga sekarang masih sangat dia ingat.
"Keren ... jarang ada cewek kaya gitu jaman sekarang, Njiing," cetus Ernest terpikat dengan kebaikan hati Fanya.
"Makanya gue bertekad banget deh buat tobat, nggak mau main cewek lagi. Gue cuma mau dia, tapi kenapa Allah nemuin gue sama cewek sebaik dia saat gue miskin kayak begini. Gue jadi nggak bisa manjain dia sama kayak pacar-pacar gue dulu," tutur Dion, lagi-lagi menyesalkan keadaan.
"Eh pikir dulu baik-baik, dech!" perintah Udin sambil menepuk pundak Dion pelan.
"Dengan lu jadi miskin lu bakalan tahu mana yang tulus mana yang enggak. Karena kalau lu kaya semua cewek bakal keroyokan ngrebutin elu tanpa lu bisa filter mana yang tulus mana yang enggak. Kalau begini lu tau cuma Fanya yang mau lu deketin saat lu susah, dia yang nggak ada malu-malunya lu boncengin pakai motor butut lu, tapi masalahnya lu udah nembak dia belum?" papar Udin lalu diakhiri dengan sebuah pertanyaan pada sahabatnya.
"Ini gue setubuuh sama pendapatnya Udin," sahut Jovian sambil menjentikkan jarinya.
"Setujuuh geblek, setujuuh!" protes yang lainnya.
"Nah terus kapan mau lu tembak?" tanya Ernest.
"Tunggu dulu lah! Sampai gue dapat satu pekerjaan yang bisa nunjang keuangan gue selain di ojol," jawab Dion.
"Tembak dulu nggak apa-apa, Bro! Keburu dia diembat orang," saran Udin.
"Dih pakai ngasih pendapat begitu, lu sendiri aja masih ngegantung ama Si Siti," cibir Jovian.
"Itu beda kasus, Bro!" sungut Udin.
"Tapinya dia ada tanda-tanda ngrespon perasaan kamu kan, Yon?" selidik Ernest.
"Ya ada sie, tapi gue belum percaya diri aja," cetus Dion.
"Oya, gue ada info lowongan kerja buat lu, Yon. Jadi satpam di club malam punya om gue, mau nggak lu?" tanya Gilbert memberi penawaran pada Dion.
"Kan lu udah jago bela diri tuch meski pun kalah pas ngelawan Farish, hahahahaha ...." Inilah sahabat yang sesungguhnya habis muji terus dijatuhin.
"Boleh juga sie, bayarannya gimana?" tanya Dion. Kerja apapun nggak masalah selama halal pikir dia.
"Gaji sesuai UMK, Yon. Ntar bisa gue atur sama om gue kalau lu mau," jawab Gilbert.
"Oke deh nggak masalah," ucap Dion menyetujui.
**
Seminggu kemudian. Dion mengajak Fanya untuk jalan berdua. Fanya tidak berani janji sama Dion kalau dia akan bisa keluar rumah malam-malam, tapi untung saja tantenya mengijinkan. Jadilah Fanya meminta Dion untuk menunggunya di tempat yang sudah mereka sepakati bersama.
"Nya, kamu mau ke mana?" tanya Mawar, kebetulan Mawar adalah tetangga tante Sashi. Rumah Mawar ada di seberang rumah tante Sashi.
"Aku mau pergi sama Kak Dion, tapi aku bilangnya pergi sama kamu. Please, bantuin aku! Kamu jangan nongol di depan rumah ya sebelum aku pulang!" jawab Fanya sambil menengok ke belakang takut tetiba Tante Sashi keluar dan memergoki kebohongannya.
"Oke dech, good luck, Ya!" ucap Mawar dengan senang hati membantu Fanya.
Dia sekarang tidak ingin lagi melarang Fanya untuk bertemu dengan Dion, karena dia mau Fanya melakukan apa yang Fanya inginkan sesuai dengan kata hatinya. Lagi pula Mawar sadar bahwa dia sendiri belum mengenal Dion secara personal. Dia hanya mendengar cerita tentang Dion dari orang-orang, jadi belum pantas kalau dia langsung percaya dan meminta Fanya untuk menurutinya. Toh Fanya sudah dewasa, dia tahu mana yang benar mana yang salah. Seiring berjalannya waktu Fanya yang polos dan belum mengenal cinta pasti akan tahu bagaimana cinta bisa memberdayakan kita.
**
Jadilah Fanya menemui Dion di sebuah cafe sederhana yang ada di kota mereka. Meski sederhana, tapi cafe ini sangat terkenal dan tersohor bagi kalangan anak muda.
"Kakak, maaf ya aku lama banget ya datangnya," ucap Fanya sambil duduk lesehan di sisi Dion.
Kebiasaan Fanya yang selalu meminta maaf dalam segala hal meski pun dia nggak salah. Dan Fanya selalu tidak lupa bilang terima kasih atas semua yang Dion lakukan, meski itu hanya sekedar mengingatkan makan.
"Nggak lama kok baru sepuluh menit kakak nunggunya," ucap Dion membohongi Fanya, padahal dia sudah menunggu hampir setengah jam-an.
"Sepuluh menit juga lama itu, Kak. Maaf banget, ya! Maaf nggak maksud gitu." Fanya masih mengulang-mengulang kata maaf, padahal Dion sama sekali nggak menganggap itu sebuah kesalahan.
Dion refleks memegang tangan Fanya yang tergeletak di atas meja.
"Kamu nggak salah apa-apa, udah stop minta maafnya!" ucap Dion dengan lembut dan sangat mesra. Mana Fanya sampai meleleh melihat tatapan mesra Dion pada matanya.
Dadaku jadi dangdutan kaya begini. Batin Fanya nerves sampai-sampai keningnya mengucurkan keringat.
"Tangannya baru kakak lepasin kalau kamu udah nggak minta maaf terus," kata Dion memberi syarat.
"I-iya ... aku nggak akan minta maaf lagi kok, Kak," sahut Fanya lalu menarik tangannya perlahan-lahan. Kemudian dia menunduk malu-malu sambil menyelipkan rambutnya yang menjuntai menutupi sebagian wajahnya ke belakang telinga.
"Kamu cantik kalau rambutnya digerai gini," puji Dion.
"Aduuuh ...." pekik Fanya pelan seraya memalingkan muka.
"Kenapa, Dek? Apanya yang sakit?" tanya Dion mendadak panik.
"Eh, enggak kok, Kak," jawab Fanya lalu tertawa nyengir hingga menunjukkan deretan gigi-giginya.
"Terus kok aduuh?"
Nggak mungkin aku jawab karena aku terlalu senang dipuji begitu sama Kak Dion? Tengsin dong .... oceh Fanya dalam batin.
"Nggak apa kok, Kak. Tadi ada semut aja yang gigit kaki aku. Ini mau aku garuk, heheh ...." jawab Fanya membuat kebohongan agar Dion tidak tahu kalau hatinya saat ini tengah berbunga-bunga.
Fanya berpura-pura menggaruk kakinya yang tidak gatal sama sekali demi membuat Dion percaya.
"Coba kasih tahu kakak mana semutnya?! Biar kakak gantian gigit kakinya," canda Dion membuat Fanya terkekeh karena geli.
"Mana bisa kaki semut segede itu kakak gigit? Hahahaha ...."
"Aduuuh ...." Dion gantian mengaduh.
"Eh, aduh kenapa, Kak?" tanya Fanya gantian kebingungan.
"Aduh ... manis banget kamu kalau nyengir gitu," jawab Dion dengan gombalan mautnya.
"Kakak bisa aja iih .... " Fanya tersipu malu.
"By the way kamu mau pesen apa, Dek?" tanya Dion. Saking assyiknya ngobrol Dion sampai lupa nawarin Fanya makanan dan minuman yang mau dia pesan.
"Aku pesen apapun yang Kak Dion pesenin buat aku," jawab Fanya.
"Kok gitu? Nanti kamu nggak cocok lagi sama pilihan aku," ucap Dion keberatan kalau Fanya minta dia yang memesankan.
"Jangan-jangan kamu nggak suka ya sama tempat yang kakak pilihin ya, Dek? Maaf deh kakak belum bisa ajak kamu ke tempat yang mewah," cetus Dion merasa berkecil hati.
"Aduuuh ... nggak gitu kok maksud aku, Kak! Maaf ya, Kak!" Fanya kumat minta maaf mulu terus pastinya setelah ini. Apalagi lihat eksperi wajah Dion yang muram seperti sekarang semakin menambah rasa bersalah di hati Fanya.
"Sini-sini mana buku menunya biar aku pilih sendiri, ya." Fanya memasang sikap bersemangat lalu mengambil buku yang ada di depan Dion. Dia nggak mau buat Dion tersinggung dengan sikapnya.
"Mm ... makanan di sini enak-enak, kok. Aku jadi bingung kak mau milih yang mana," ucap Fanya tanpa mengalihkan tatapannya dari buku yang dia bawa.
Dion senang melihat sikap Fanya yang sangat menghargai perasaannya, Fanya sangat menjaga hati Dion dan nggak mau nyakitin Dion sedikit pun, karena ini Dion menjadi semakin sayang dan cinta sama Fanya. Semakin tumbuh pula keinginannya untuk menjadikan Fanya miliknya.
Nggak boleh pesimis, Dion. Lu harus semangat! Semangat kerja buat buktiin ke keluarga lu kalau lu bisa berdiri dengan kaki lu sendiri dan semangaat untuk ngedapatin cinta Fanya. Pikir Dion memotivasi dirinya sendiri.
Namun, semenjak dia dekat dengan Fanya, hampir tiap hari berkomunikasi dan bertemu, itu sangat memberi pengaruh yang besar bagi psikologis Dion yang kerap anjlok, nggak bersemangat hidup, berasa selalu gagal dalam segala hal. Kehadiran Fanya memberi Dion pengobatan dalam luka hatinya menjalani nasib yang menyedihkan.
"Kakak senang banget karena kamu selalu ngehargain kakak, apapun yang kakak lakuin buat kamu, kamu nggak pernah menutup mata," ucap Dion sambil memandangi wajah ayu Fanya meski tanpa riasan yang berlebihan di wajahnya.
Fanya menoleh dan mengalihkan pandangannya dari buku bergambar makanan ke wajah Dion yang belum lepas menatapnya. Maka dengan posisi seperti itu, dengan jarak duduk yang hanya satu jengkal tangan orang dewasa pun mata mereka kini bertemu dalam satu titik. Bibir mereka sama-sama terkunci dan hanya sorot netra mereka yang berkomunikasi.
Kenapa aku ngerasa sayang banget sama kamu, Kak. Nggak pingin aja aku nyakitin hati kamu. Aku mau kamu selalu baik-baik aja. Batin Fanya.
Sejak pertama kamu menyebut namaku, aku merasa kamulah yang aku cari, cewek yang bisa mencintai aku dengan tulus tanpa meminta lebih dari yang aku bisa, tapi aku berjanji, Fanya. Kalau kamu jadi milikku, aku akan berjuang demi membahagiakan kamu. Batin Dion.
Fanya tersadar dari lamunannya. Lalu dia melempar tatapan ke sembarang arah.
"Karena aku suka setiap kali Kakak ngasih aku perhatian. Dan aku nggak mau buat kakak kecewa," ucap Fanya. "Tapi seharusnya aku nggak bersikap berlebihan seperti ini kan, Ya? Karena udah ada satu nama cewek yang bakal kakak seriusin. Aku sendiri pun ngerasa nggak enak sama cewek itu, takut kedekatan kita bikin dia salah sangka," cetus Fanya dengan sesekali menelan ludah kasar.
"Cewek itu nggak akan salah sangka. Karena setelah ini aku bakal nembak dia," balas Dion dengan mantab, dia masih belum lepas menatap wajah Fanya yang menurutnya tidak membosankan.