Istri Orang 9

1827 Kata
Tak lama setelah itu hujan mengguyur dengan deras. Dion segera mencari tempat yang teduh untuk mereka berlindung dari tetesan air hujan yang siap membuat mereka kebasahan. Tanpa dikomando, Fanya segera turun dan berlari masuk ke dalam sebuah pos kecil yang ada di pinggir jalan. Ini dulunya pos polisi, tapi sudah lama tidak dipergunakan. "Fanya, maaf banget. Aku nggak bawa jas hujan," ucap Dion sambil membuka jaketnya yang untungnya belum basah sempurna hingga ke dalam. "Nggak apa kok, Kak. Kita berteduh aja di sini," sahut Fanya sembari melihat ke arah tubuhnya sendiri. Tidak terlalu basah pada bagian depan, tapi bagian belakang sudah lumayan kuyub dan sukses membuat Fanya kedinginan. "Kamu nggak terburu-buru kan? Kayaknya hujannya bakalan awet banget, dech," kata Dion sambil mengintip ke arah langit yang gelap padahal jam baru menunjukkan pukul empat sore kurang seperempat. "Nggak kok, Kak. Santai aja," ucap Fanya melempar senyum simpul ke arah Dion. Fanya terlihat gelisah dan sesekali menggesek-gesekkan ke dua telapak tangannya. Dion paham pasti gadis ini kedinginan, apalagi dia sejak tadi dia juga sesekali memeluk dirinya sendiri. "Kamu kedinginan, Fanya?" tanya Dion yang menjadi tidak tega melihat gadis itu dengan tubuh menggigil. Lagian Fanya nggak pakai jaket, dia hanya memakai kemeja panjang berwarna merah. Fanya hanya mengangguk. Dia memang tidak terlalu tahan dengan suasana dingin. "Ini pakai jaket kakak aja, ya!" pinta Dion sambil mengulurkan jaketnya kepada Fanya. "Memang nggak apa-apa, Kak?" tanya Fanya dengan sungkan. "Pakai aja! Sini aku pakaiin!" Dion mendekat pada Fanya dan membalutkan jaketnya yang berwarna hijau itu di tubuh Fanya. "Maaf, Ya! Bukan jaket keren, setelah ini dilepas aja kalau kamu malu ketahuan orang," ucap Dion berkecil hati. Dulu jaket gue bagus-bagus, mahal-mahal, mana bermerk, tapi semuanya udah gue jual preloved demi nyambung hidup gue dan buat jajan. Sekarang giliran gue srek sama satu cewek yang pingin gue seriusin, gue malah jadi miskin. Jangankan untuk maju ngungkapin perasaan. Duduk jejeran aja gue minder banget. Lagi-lagi hati Dion membatin pilu. "Kakak kok ngomongnya gitu, sie?" tegur Fanya tidak suka dengan perkataan Dion. Gadis itu duduk di bangku panjang yang ada di dalam pos tersebut. Lalu dia meminta Dion untuk duduk di sisinya. "Sini, Kak! Kakak pasti capek berdiri terus," pinta Fanya sembari menepuk tempat kosong yang ada di sisinya. "Nggak apa kakak duduk situ?" Dion tidak enak hati kalau duduk di sisi putri raja yang cantik. "Ya nggak apa lah, Kak. Kan ini tempat umum juga," balas Fanya. "Thanks, ya," cetus Dion dengan senyum simpul yang membingkai bibirnya. Mereka pun duduk berdua ditemani oleh suara rintik hujan dan ... "Deerrr ...." Suara petir yang kembali menggelegar kencang membuat Fanya refleks memeluk lengan kekar Dion sambil memejamkan ke dua bola matanya. Dion terpaku menatap kecantikan wajah Fanya yang bisa dia nikmati secara langsung dan dengan jarak yang dekat. Jantung Dion berdebar kencang, sering jatuh cinta, tapi rasanya kali ini sungguh beda. Belum pernah dia tertarik pada gadis lugu seperti Fanya. "Ma-maaf, Kak. A-aku ...." Fanya terbata-bata sembari melepaskan pegangannya dan bergeser sedikit agar tubuhnya tidak terlalu menempel pada Dion. "... aku takut banget sama petir. Maaf .... " jelas Fanya lalu menundukkan kepalanya karena malu. "It's oke. Nggak masalah kok, cuma peluk dikit bukan hal yang serius," sahut Dion santai meski jantungnya bergenderang kencang. "Tapi ntar Kakak mikirnya aku cewek kegatelan lagi. Padahal emang beneran aku takut sama petir," jelas Fanya. "Nggak, kok. Santai aja. Sama sekali nggak ada pikiran seperti itu. Lagi pula aku tahu kamu cewek baik-baik, kamu beda banget nggak kayak aku," tutur Dion lalu memalingkan wajahnya. "Kenapa sama kakak?" tanya Fanya membuat Dion menoleh ke arahnya. "Kamu pasti tahu siapa aku kan dari gosip yang berseliweran di kampus," ucap Dion dengan lesu. "Mm ... soal itu. Iya ... sedikit saja yang aku tahu." "Apa saja? Tentang aku yang playboy, slengekan, yang dulunya kaya raya tapi sekarang miskin terus apalagi aib aku yang kamu dengar?" selidik Dion. "Menjadi miskin itu bukan suatu aib, Kak .... " ralat Fanya. Beberapa detik mereka terdiam. "Menjadi orang nggak punya itu ujian ... ujian yang dikasih Allah sama umatnya yang mau naik kelas. Itu bukan suatu hal yang harus bikin kita malu, karena itu bukan dosa, itu bukan aib, Kak," lanjut Fanya dengan sangat dewasa. "Tapi kakak ngerasa rendah diri aja, Dek. Kakak yang dulunya dipuja-puja banyak cewek, sekarang pada nengok aja ogah. Mana ada cewek yang mau diboncengin motor butut kakak?" keluh Dion. Sengaja dia bilang gitu karena pingin tahu bagaimana respon Fanya. "Pasti nantinya ada kok cewek yang mau nerima kakak apa adanya, bukan karena materi yang kakak punya," sahut Fanya membesarkan hati Dion. "Tapi memang cewek cantik jaman sekarang pada mandang harta, biar jelek juga ditabrak aja asal banyak duitnya, hehehe .... " canda Fanya. Semakin lama ngobrol ternyata pemikiran Fanya nggak selugu wajahnya, dia cukup dewasa dalam menanggapi suatu masalah dan melihat realita di sekitarnya. "Tapi aku enggak kok, Kak," imbuhnya dengan nada terburu-buru. Takut Dion menilai dia dengan wanita di luaran sana. "Yang bener, Dek?" tanya Dion memastikan. "Huum .... meski pun aku belum pernah pacaran sie, Kak. Aku masih polos banget, takut dimarahin sama abang sama mama," tutur Fanya. "Tapi sekarang kan udah gede." "Iya, udah dibolehin pacaran, tapi .... " Seperti ada sesuatu yang dipikirkan oleh Fanya hingga membuatnya diam dan tidak jadi meneruskan ucapannya. Dion penasaran dong sama sesuatu hal yang membuat Fanya mengunci mulutnya. "Tapi kenapa?" tanya Dion singkat, tapi tatapannya meminta Fanya untuk segera menjawabnya. "Bukan apa-apa kok, Kak," jawab Fanya menolak untuk menjelaskan. "Kita bahas tentang kakak aja. Gimana ceritanya sampai keluarga kakak jatuh miskin?" Pertanyaan Fanya membuat Dion berpikir keras. Karena dia sendiri pun tidak tahu kenapa orang tuanya bisa mendadak jatuh miskin. "Kalau kakak keberatan untuk cerita nggak apa, Kok. Maaf, Ya! Aku nanyain sesuatu hal yang nyinggung perasaan kakak," ujar Fanya tidak enak hati karena sudah membuat Dion diam tidak menjawab. "Santai aja, sie! Kakak nggak tersinggung, kok. Kakak diam karena kakak sendiri bingung mau jawab apa. Kakak nggak tahu alasan orang tua kakak jatuh bangkrut. Karena kakak dulunya cuek banget sama masalah rumah, yang kakak tahu cuma minta uang aja," jelas Dion dengan wajah lesu. Fanya manggut-manggut. "Dan sekarang kakak pergi dari rumah," aku Dion. Dia merasa nyaman berbicara dengan Fanya, hingga apapun keluar begitu saja dari mulutnya. "Kenapa, Kak?" "Karena kakak mau ngebuktiin kalau kakak bisa hidup mandiri dan nggak jadi beban keluarga lagi terutama abangku." 'Untuk membuktikan kakak mandiri, kakak nggak harus pergi dari rumah kan? Kasian orang tua kakak." "Tapi penghinaan dari abang bikin kakak pingin pergi aja. Apalagi ...." Dion menceritakan semua yang terjadi panjang lebar pada Fanya, termasuk tentang masalah Jenifer yang ternyata pacar dari abang kandungnya sendiri. "Mulai sekarang kakak harus mawas diri, jangan sembarangan deketin wanita!" Fanya memperingatkan Dion dengan serius. "Nggak minat lagi buat deketin siapa pun. Karena kakak udah punya satu nama yang pingin kakak ajak serius, meski kakak nggak tahu apa dia mau nerima kakak yang cuma tukang ojek," jelas Dion lagi-lagi dengan kalimat yang berkesan putus asa. "Kok kakak pesimis gitu?" tanya Fanya dengan nada protes. "Karena cuma ganteng doang itu nggak cukup buat ngegaet cewek, Dek," jawab Dion. "Yang penting itu attitudenya, Kak. Siapa pun cewek itu moga aja bisa membuka hatinya buat kakak, asal kakak tunjukkin kerja keras kakak dan rasa cinta kakak sama dia. Good luck ya, Kak!" Dengan tulus Fanya memberi support pada Dion. "Jadi kakak harus kejar dia, nich? Biar pun sekarang kakak belum jadi apa-apa?" "Justru kalau itu cewek mau nerima keadaan kakak yang lagi susah, itu artinya dia tulus. Cintanya nggak bisa kakak sepelein lagi. Jarang kan ada cewek yang mau nemenin pasangannya dari nol." "Ckckckck ... ternyata kamu dewasa banget ya, Dek. Nggak kaya penampilan kamu yang kelihatan bocah banget, hehehe ...." canda Dion sekaligus memuji Fanya. Dari sini Dion jadi tahu lebih dalam lagi tentang sisi baik seorang Fanya Putri Nur Jameela. "Ah kakak bisa aja." Fanya jadi malu karena pujian Dion. Tidak terasa hampir setengah jam mereka berbincang-bincang. Sampai akhirnya hujan benar-benar telah reda. Terima kasih hujan, udah ngasih gue waktu buat berduaan sama cewek yang mau gue seriusin. Dan gue senang karena dia minta gue untuk nunjukkin rasa cinta dan keseriusan gue sama cewek yang gue cintai. Mulai besok gue bakal gigih ngejar dia sambil usaha buat ngedapetin kerjaan. Thanks, Fanya. Lu bikin semangat gue tumbuh berkembang. Batin Dion sembari memperhatikan wajah ayu Fanya yang ada di hadapannya. "Kita lanjutin perjalanan lagi, ya!" ajak Dion segera karena tidak mau menahan Fanya lebih lama lagi. "Oke, Kak," sahut Fanya kemudian berdiri dari tempat duduknya. "Kalau kamu malu lepas aja jaketnya," kata Dion, takut Fanya tengsin karena memakai jaket ojol untuk menutupi tubuhnya. "Nggak apa kok, Kak. Aku masih kedinginan, aku pinjam dulu boleh kan, Ya?" "Boleh banget, kok." Dengan senang hati Dion membiarkan jaketnya membalut tubuh Fanya. Kali ini baru jaket gue, perlahan tubuh gue yang bakalan angetin badan lu, Nya. Nggak akan gue lepas, gue peluk sampai lu bosan. Pikir Dion sembari menaikkan satu kakinya melangkah pada kendaraannya. "Thanks ya, Kak," ucap Fanya melempar senyum manisnya. "Your'e welcome." Rasanya Dion nggak ingin pisah dari Fanya. Dia ingin berlama-lama dengan gadis yang telah membuatnya nyaman tersebut. Waktu setengah jam untuk berbincang ternyata masih kurang baginya. Masih ada banyak hal yang ingin Dion tanyakan tentang kehidupan Fanya. Dion mengantarkan Fanya ke alamat yang sama dengan yang pertama kali dia mendapatkan orderan. Rumah megah yang berasitektur modern dengan cat tembok berwarna putih dan emas. Ini tidak kalah jauh dengan rumahnya terdahulu, rumah yang sudah berbulan-bulan keluarganya tinggalkan akibat disita oleh bank. "Kak, ini ongkosnya," kata Fanya begitu turun dari motor dan memberikan Dion sejumlah uang. Lagi-lagi Dion merasa malu menerima uang itu dari tangan Fanya. "Untuk kali ini, kakak kasih gratis," kata Dion menolak pemberian Fanya. "Kok gitu, Kak? Ayo diterima! Kakak pasti butuh uang ini kan?" Fanya memaksa. "Kakak nggak cuma butuh uang, tapi kakak juga butuh support dari cewek yang mau kakak seriusin dan kakak udah dapat itu. Jadi kakak nggak butuh uang lagi," jelas Dion sembari menyunggingkan senyumnya. "Oh gitu, jadi itu cewek udah ngasih lampu ijo sama kakak?" tanya Fanya dengan lugunya. "Baru sejam yang lalu dia ngomong kalau kakak suruh ngejar dia dan buktiin kalau kakak serius sama dia," jawab Dion dengan hati berbunga-bunga. Fanya manggut-manggut. "Kakak minta balik jaketnya aja, Ya. Oya, mulai ntar malam kakak boleh ngechat kamu secara personal kan? Bukan antara tukang ojek online sama pelanggannya yang nanyain posisinya di mana?" Dion meminta ijin. "Oh iya, boleh, Kak." Fanya menjawab, tapi berasa ada yang bikin dia nggak ngerti. Fanya mendadak ngeblank. Kok aku berasa bingung. Batin Fanya sambil garuk-garuk kepala. "Kakak pulang dulu ya ke kostan. Ati-ati kamu, thanks banget udah ngasih kakak ijin. Asalamualaikum." Dion mengucapkan salam kemudian bergegas pergi. Fanya berdiri terpaku di tempatnya, menatap Dion yang perlahan menghilang dari pandangan mata. "Walaikumsallam." Fanya baru sadar belum menjawab salam dari Dion setelah lelaki itu lenyap dari pandangan matanya. Uang ongkos yang seharusnya menjadi hak Dion pun masih ada di genggaman tangannya. "Terima kasih udah ngasih kakak ijin," gumam Fanya mengulang perkataan Dion.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN