Istri Orang 8

2239 Kata
** Karena keinginannya untuk membuktikan kepada abang dan juga orang tuanya kalau dia bisa sukses. Kini Dion lebih serius dalam kuliah. Dia nggak mau ada bolos-bolos lagi. Perubahan harus dimulai hari ini, tidak boleh terlalu lama menunda. Seperti biasa, ketika kelas sudah selesai. Maka Dion and the genk kumpul di kantin untuk makan siang. Di sanalah Dion berbagi keluh kesah dengan kawan-kawannya, karena posisinya memang Dion yang lagi banyak masalah. "Hidup gue berasa ancur banget, Guys!" desah Dion sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. "Sabar, Yon! Ini ujian biar lu naik kelas," sambung Udin. "Tadi pagi gue dapat orderan ojek dan ternyata ...." Dion menggantung kata-katanya sejenak untuk menghela napas pendek. "... dia mahasiswi baru yang waktu itu nemuin gulungan kertas arisan kita," lanjutnya. 'Terus?" tanya Udin, Gilbert, Jovian dan Ernest bersamaan. Dion celingukan ke kanan dan kiri sebelum menjawab pertanyaan dari kawan-kawannya. Dia sedang mengawasi keadaan apakah aman atau tidak. "Sini, deh! Merapat!" perintah Dion dengan suara yang super pelan sembari menggerak-gerakan ujung jarinya memberi kode agar mereka semua segera mendekat padanya. "Why?" tanya Jovian penasaran. "Please jangan berisik!" Dion mewanti kawan-kawannya. Suaranya masih pelan. "Oke." Mereka menyahut setuju. "Aku jatuh cinta sama Fanya," bisik Dion membuat teman-temannya sontak berteriak heboh. "Heh, udah gue bilang jangan berisik anyiing!" tegur Dion kesal. "Habisan lu aneh-aneh! Bukannya selera lu yang bahenol, sexxy macam Jenifer gitu?" oceh Gilbert. "Itu selera jadi pacar, Coey!" protes Dion ngegas. "Lah memang ini mau lu jadiin apa?" tanya Udin kepo. "Jadi istri," jawab Dion singkat dan spontan aja gitu tanpa dia pikir dulu. "Biar gue cowok urakan, tapi gue pinginnya cewek yang baik dan nggak neko-neko kayak Fanya buat aku jadiin istri. Nggak mau gue kalau punya istri macam Jasmine atau Adelia. Berat ngaturnya, Njir," jelas Dion. "Hm ... gue juga ogah sie punya betina kayak mereka, bar-bar banget," sambung Jovian menyetujui pendapat Dion. "Terus? Lu boncengin dia sampai ke kampus dong, ya?" tanya Ernest. "Iya, gue boncengin dia, tapi awalnya dia kayak takut gitu duduknya pol di ujung jok, gue takut dia jatuh lah, ya. Terus gue suruh majuan dikit gitu," jawab Dion. "Bukan masalah takut jatuhnya, masalahnya lu mau dia mepet-mepet elu," ralat Udin dengan nada tinggi. "Dih ... kagak berani gue Din macam-macam sama cewek kalem macam dia. Dia tuch wajib gue jaga sampai nanti kita halal," sahut Dion. "Gini-gini gue lihat orangnya juga, kalau orangnya kalem nggak mungkin juga gue rusak," ucap Dion yang ternyata masih memiliki akal sehat dalam bertindak untuk mendekati perempuan. "Cakep ini namanya cowok sejati," puji Jovian sambil menepuk-nepuk pundak Dion penuh kebanggaan. Lagi asyik-asyik ngobrol, lalu Fanya datang bersama dengan temannya yang kemarin itu, sebut saja Mawar. Dih ... kayak penjual bakso boraks. Hahahaha .... "Panjang umur dia," gumam Ernest sambil melihat ke arah Fanya. "Shuut! Diam!" perintah Dion sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. "Gue mau ngembaliin buku dia yang kemarin jatuh. Please, kalian jangan rese!" Dion mewanti-wanti. Lekaslah dia meninggalkan tempat duduknya dan berjalan mendekat pada Fanya yang duduk seorang diri, karena Mawar lagi pesan makanan untuk mereka. "Fanya, kakak boleh duduk di sini? Bentar aja, kok." Dion meminta ijin dengan sopan, rada sungkan dan malu juga sebenarnya. Malu karena ingat tadi pagi dia nerima uang dari Fanya (ongkos ojek online). Dia ngerasa tengsin banget sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi orang lagi butuh. "Oh, boleh kok, Kak," jawab Fanya. Gadis berumur sembilan belas tahun itu bergeser untuk memberi space pada Dion agar bisa duduk, karena sekarang dia sedang duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu. Aduh ... aku selalu deh-degan begini tiap kali dekat Kak Dion. Kayak tadi pagi juga. Batin Fanya sambil menundukkan kepalanya. Dion terlihat membuka resleting tasnya dan mengambil sesuatu untuk Fanya. Apalagi kalau bukan buku? "Fanya, ini kemarin kakak temuin jatuh pas kamu lewat depan kampus. Kakak udah panggil-panggil kamu, tapi kamu nggak dengar," jelas Dion sembari menyerahkan buku itu kepada Fanya. "Oh ... pantas aja aku cari-cari nggak ada. Makasih banyak ya, Kak Dion," sahut Fanya seraya mengambil alih buku itu dari tangan Dion. "Sama-sama, Fanya," kata Dion dengan menyunggingkan senyumnya. "Kalau gitu kakak balik ke meja kakak lagi, ya. Dah ... Assalamualaikum," pamit Dion dengan sopan dan kalem. Ini beda banget dari Dion yang biasanya. Penduduk kantin pun menatap ke arah Dion, tak sedikit yang berkomentar tentang Dion, cowok terganteng dan terkaya di kampus ini yang sekarang jatuh bangkrut dan kehilangan pesona seiring dengan nilai cuannya yang tidak seberapa. "Eh, itu kakak kelas ngapain kamu, Nya?" tanya Mawar ketika dia sudah kembali selepas memesan minuman dan makanan. "Dia nggak ngapa-ngapain aku kok, War. Cuma ngembaliin buku aku yang jatuh aja," jawab Fanya. Wajah Fanya terlihat berseris-seri. "Oh ... buku yang semalam kamu cari, ya?" Fanya hanya mengangguk. "Aku lihat kamu senang gitu didekatin sama dia. Jangan sampai kamu naksir Kak Dion deh!" Mawar mewanti-wanti. "Memangnya kenapa?" tanya Fanya dengan nada kecewa. "Aku banyak dengar gosip dari kakak-kakak kelas, katanya Kak Dion itu playboy dan dia sekarang udah jatuh miskin nggak kaya dulu lagi," terang Mawar. Berbeda dengan Fanya yang nggak pernah ngegosip, Mawar ini justru hobi nyari bahan ghibah. "Hm ... memangnya kenapa kalau dia jatuh miskin? Apa bedanya sama keluarga aku?" tanya Fanya dengan lugunya, toh kondisi keuangan keluarganya sekarang juga lagi krisis banget. Meski belum bisa dikatakan bangkrut juga sie. "Mang kamu mau sama cowok miskin?" Pertanyaan Mawar ini membuat Fanya tidak suka. "Lelaki itu yang dilihat tanggung jawabnya dan kerja kerasnya bukan hartanya. Seberapa banyak orang tua kamu ninggalin harta, pasti akan tetap miskin kalau kamu nggak mau kerja," tegas Fanya. "Tapi dia tukang-" "Ojek online maksudmu?" potong Fanya. "Kamu tahu juga?" "Aku tau karena tadi pagi aku berangkat pakai jasa dia," jelas Fanya. "Memang kenapa sie kita harus mengukur segalanya pakai materi? Aku fine-fine aja sama pekerjaan Kak Dion dari pada nyuri," lanjut Fanya membela Dion yang belum jadi apa-apa untuk dia. Baru ketemu tiga kali, tapi udah kesengsem. Semakin tertarik pas lihat lelaki itu bekerja keras dan nggak malu untuk nyari nafkah dengan jadi tukang ojek. Itu pekerjaan yang halal dan tidak memalukan, kok. "Kamu kan belum kenal dia, dia itu playboy," ucap Mawar mengompor-ngompori kawannya. "Lagian kan abang kamu udah pernah bilang, ada perkumpulan genk rese di sini dan salah satunya ya Dion itu," imbuh Mawar. "Selama aku ada di sini, aku fine aja sie lihat mereka," sahut Fanya. "Kamu itu masih polos, Fanya. Belum paham apa-apa. Apalagi soal cinta. Aku berharapnya si kamu nggak keterusan aja sama Kak Dion. Mama kamu sama abang kamu pasti nggak setuju kamu punya pacar miskin," ketus Mawar membuat telinga Fanya panas karena mendengarnya. ** "Ciye ... pakai ngucap assalamualaikum segala lu, Yon!" ledek Udin ketika sahabatnya itu sudah kembali bergabung bersama mereka. Telinganya peka banget, perasaan jarak meja mereka dan meja Fanya kurang lebih lima meteran. "Gue sopan kalau sama cewek sopan, gue urakan kalau sama cewek urakan. Gue mah fleksibel jadi lelaki. Lagian kok lu denger sie?" kata Dion. "Gue bukannya denger, tapi baca dari gerak bibir lu doang. Dan gesture tubuh lu kaku bener sie, mana Dion kita yang cool dan keren penjinak wanita?" cemooh Udin. "Iya, Yon. Lu kelihatan kaku banget tadi, nggak all out. Tunjukkin pesona lu dong!" sambung Jovian satu frekuensi sama Udin dalam hal mencela sahabatnya itu. "Nggak tahu sie, dia beda aja dari cewek yang penah gue lihat," ucap Dion sambil memerhatikan Fanya dari tempat duduknya. Gadis itu tengah asyik makan bakso bersama Mawar. "Tapi gue minder, karena gue bukan lagi yang dulu," gumam Dion dengan sedih. Jovian menepuk pundak Dion. "Jangan putus asa, Sob! Lu pasti bisa sukses dengan tangan lu sendiri," ucapnya berusaha membuat rasa percaya diri Dion menjadi bangkit kembali. Mereka paham, Dion sedang dalam masa keterpurukan saat ini. "Sekarang gue mesti rajin nyari lowongan kerja, biar nasib gue nggak melarat-melarat amat kaya gini. Kerja apa aja dech yang penting dapat duit," tekad Dion. ** Dion menyebar lowongan di mana-mana. Yang dia utamain pekerjaan yang bisa jalan sambil kuliah. Agak susah memang nyari pekerjaan yang seperti itu. Dion bahkan hampir nyerah. "Semangat, Yon! Lu pasti bisa!" Kawan-kawan tak lepas memberi dukungan pada Dion. Dan ... arisan istri orang pun benar-benar terlupakan karena masalah Dion ini. Sudah sebulan, tapi usaha Dion belum membuahkan hasil sama sekali. Dion pun tidak pernah menghubungi keluarganya lagi setelah itu meski pun dia sangat rindu. Semua acces dia blokir agar tidak ada yang bisa menghubunginya baik Zain atau pun ke dua orang tuanya. Bukan karena dia tega, tapi karena dia malu kalau sampai saat ini dia belum mendapatkan pekerjaan yang bisa dia banggakan. "Susah, Yon. Lu harus fokus lulusin kuliah lu dulu, dengan ijasah sarjana baru lu bisa ngubah hidup lu," terang Ernest. Dion bak seorang manusia kerdil yang kehilangan kepercayaan dirinya karena masalah ini. Dia bahkan belum melakukan serangan apapun untuk mendekati Fanya, gadis pujaan hatinya. Dia merasa tidak memiliki modal apapun untuk meluluhkan hati gadis cantik itu. Apa sie yang diinginkan perempuan jaman sekarang? Uang. Itu pikiran Dion menurut pengalaman yang dia ambil selama ini. Jelas banget, selepas dia menjadi miskin, tidak ada lagi perkumpulan cewek-cewek cantik yang kerap menggodanya dan mengejar cintanya. Mana ada cewek yang mau duduk di kursi belakang motornya? Berboncengan sambil berpelukan di bawah sengatan matahari dan rintik hujan yang bisa membuat kita kebasahan? Nggak ada ... cewek cantik akan cinta pada mobil mewah dan dompet yang tebal. Dion bahkan nyaris frustasi gara-gara ini. Apalagi ketika suatu hari dia melihat Fanya dijemput oleh lelaki tampan dengan mobilnya yang mewah. Membuat Dion mengeliminasi dirinya sendiri dari jajaran cowok-cowok yang mengejar cinta Fanya. ** Dion terpekur, menatap dinding kamar kostan sederhananya yang berwarna putih bersih. Di tembok itu Dion melihat dua ekor cicak yang tengah bermesraan di dekat jam dinding berbentuk bundar bergambar Hello Kitty. "Sialan! Gue aja kalah ama cicak," decak Dion merasa terhina, cecak aja bisa kawwin lah dia ngobrol aja sama tembok tiap harinya. Dion pulang dari kuliah dan langsung masuk kamar karena dia merasa tubuhnya sangat lelah. Hampir tiap hari dia narik hingga larut malam. Lumayan dapat dua ratus sampai tiga ratus ribu yang bisa dia sisihkan untuk bayar kuliahnya yang menunggak. "Semangat, Yon! Jangan nyerah sama keadaan! Buktikan lu kuat! Lu bisa jadi anak yang dibanggakan orang tua lu nggak cuma Zain doang." Dion menyemangati dirinya sendiri. Setiap kali dia teringat pelecehan yang kakaknya lontarkan padanya, rasa sakit itu masih berasa. Setelah pertemuan terakhirnya di apartmen milik Jenifer, dia sudah tidak lagi ada komunikasi dengan wanita gatel itu. Dion sudah memblokir kontak wanita tersebut, karena tidak mau dianggap sebagai perebut pacar dari kakak kandungnya sendiri. Lagi asyik healing time dengan mengucapkan kalimat-kalimat positif agar motivasinya untuk berjuang bangkit. Ponsel Dion bergetar. Ada satu orderan masuk pada aplikasinya. "Alhamdulilah, orderan lagi. Lumayan," kata Dion. Yang bikin dia senang karena Fanya yang memesan jasanya untuk ke dua kali. "Gass yuk! Jangan sampai Fanya nunggu terlalu lama!" Dion merampas jaket berwarna hijau yang dia letakkan di dekat meja. Segera dia pakai seragam kebesarannya itu. Dengan semangat Dion keluar kamar dan menunggangi motor maticnya untuk menjemput pelanggan. Kalau memang Tuhan ngasih jalan gue bisa deket sama Fanya dengan pekerjaan gue ini, gue ikhlas, kok. Biar pun gue terlihat rendah, tapi gue bahagia bisa ada di dekat dia. Batin Dion sambil menyunggingkan senyumnya. Hanya lima menit Dion sampai di tempat yang ditujukan oleh google map. Di situ dia melihat Fanya menunggunya. "Hai, Kak," sapa Fanya dengan ramah. "Hai, juga. Ayo naik!" perintah Dion sambil menyerahkan helmnya pada Fanya. Dion heran juga kenapa Fanya sering terlihat naik angkutan umum dan gojek dari pada diantar naik mobil. Toh, dia anak orang kaya kan? "Siap, Kak," sahut Fanya. Selepas dia memakai helm dia segera duduk di belakang Dion. "Udah siap?" tanya Dion. "Udah kok, Kak," jawab Fanya. Dion melajukan kendaraannya. Lagi-lagi dengan kecepatan yang pelan. Alasannya masih sama, karena dia ingin menikmati bau parfum Fanya yang manis dan agar dia lebih lama berduaan dengan gadis yang hanya bisa dia kagumi tersebut. "Dek, kok nggak minta dijemput lagi sama pacarnya? Anak orang kaya kenapa naik ojek atau angkutan umum?" tanya Dion membuka obrolan. "Pacar yang mana, Kak? Aku nggak ada pacar," jawab Fanya. "Yang pernah jemput kamu naik mobil bagus," terang Dion mencoba mengingatkan Fanya. "Oh, itu bukan pacar kok, Kak," jelas Fanya membuat Dion bahagia. Setidaknya Fanya masih belum ada gandengan dan peluang untuknya masih ada meskipun sempit. "Oh ... kirain pacar kamu," cetus Dion. Fanya menggeleng. "Dan soal kenapa aku suka naik angkutan umum atau ojek online, jawabannya cuma satu. Karena aku pingin berbagi rejeki aja sama orang-orang. Nggak ada aturan kan anak orang kaya harus naik mobil pribadi ke mana-mana?" tutur Fanya membuat Dion begitu tersentuh dengan kebaikan hati gadis itu. "Keren! Aku suka kamu," ucap Dion secara spontan memuji Fanya. "Apa?" tanya Fanya kaget. "Eh, enggak ... maksudnya aku suka bau parfummu," ralat Dion dengan gugup. "Oh ...." ucap Fanya dengan manggut-manggut. "Ini parfum kesukaan aku, Kak. Udah lama nggak ganti, hehehe ...." "Manis banget kok kayak kamu." Dion mulai ngegombal. "Jangan gitu, Kak! Aku tahu kok kakak pawang betina," celetuk Fanya dengan santainya. "Kok bisa kamu ngomong gitu?" tanya Dion dengan nada memrotes. "Bukan rahasia umum lagi, semua penduduk kampus juga udah tahu kan, Kak," jawab Fanya. Tetiba suara guntur terdengar menggelegar. Membuat Fanya ketakutan karenanya. Dia refleks memeluk Dion dengan erat sambil menyembunyikan kepalanya di pundak Dion yang terasa hangat. Dan kini posisi mereka pun menempel sangat dekat. Dion tersenyum sembari menatap ke dua tangan Fanya yang melingkar di perutnya. Ya Allah, biarkan lelaki miskin ini bahagia meski hanya sebentar saja. Doa Dion dalam batin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN