Istri Orang 7

3071 Kata
** "Mak, Dion mana?" Suara Zian yang menanyakan tentang dirinya terdengar juga sampai di telinga Dion. Mendadak Dion rasanya nggak mau keluar dari kamar mandi, pingin bobo aja di mari sampai Zian berangkat ke kantor lagi besok pagi. "Lagi mandi," jawab Emak. Zian lantas memerintah kakinya untuk mengantarkannya ke arah kamar mandi. Zain berjalan dengan langkah lebar dan amarah yang berkobar-kobar. Kalimat urusan kita belum selesai yang dia lontarkan tadi sebelum adiknya pergi, kini ingin dia buktikan. "Dioon! Keluar lu!" teriak Zian sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi. "Mampus gue!" pekik Dion sambiil memejamkan matanya sejenak. "Bentar, Bang! Lagi boker," sahut Dion berbohong. Kalau sudah kena masalah dia baru ingat buat manggil Zian dengan sebutan abang. "Nggak banyak alasan! Keluar atau gue dobrak pintunya!" ancam Zian sembari melingkas lengan kemejanya yang panjang hingga sebatas lengan. "Oke, oke gue keluar," sahut Dion ketakutan. "Gue pakai baju dulu. Please jangan didobrak! Ntar lu insecure lihat adik gue yang lebih besar dari punya lu," celoteh Dion yang sempat-sempatnya meledek abangnya yang lagi emosi. "Sialan!" umpat Zain sembari menggedor-gedor pintu kamar mandi,. "Woeey! Sabaar! Rubuh ntar pintunya, udah lapuk juga kayunya, Bang," tegur Dion mempercepat gerakannya dalam memakai baju karena beneran takut pintunya rubuh dan nimpa badan dia. "Ini ada apa sie kok ribut-ribut?" tanya Emak kaget mendengar suara kegaduhan dari arah belakang rumah. "Aku mau ngasih pelajaran sama anak emak yang manja," jawab Zian. "Kenapa sie?" Pak Devan turut nimbrung ketika mendengar kegaduhan semakin seru setelah istrinya ikut meramaikan suasana. Yaelah ini mau ada kerusuhan antara kakak dan adik habis ini. Dion keluar dari kamar mandi sambil melingkarkan handuk di lehernya. Zain sudah siap untuk menghajar adiknya. "Mak, bantuin aku, Mak!" Dion bersembunyi di balik punggung emaknya. "Kenapa sie?" tanya Emak Astri kebingungan. "Kali ini gue nggak main-main ama lu ya, Yon! Lu bikin gue sakiit banget!" sentak Zain sangat emosi sampai otot-otot lehernya terlihat menonjol karena teriakannya. Wajah lelaki itu merah padam karena ledakan amarahnya. "Tapi penjelasan gue tadi udah yang sejujur-jujurnya, Yan. Gue emang deketin dia tadinya, nemu di mall gitu-" "Mank lu keganjenan banget!" potong Zain kesal. "Tapi kan posisinya gue nggak tau dia cewek lu, Yan. Gue baru tahu pas tadi siang dia jemput gue pake mobil yang lu bawa kemarin. Gue udah nolak kok, sumpah! Sumprit! Suwer! Gue berani deh o***g gue jadi korbannya, kalau gue boong ini adik gue impoten seumur hidup!" jelas Dion lalu menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V, bersumpah maksudnya. "Gue tadi juga udah mau pulang pas tau ada foto lu di sana, tapi Jenifer malah nyegah gue dan nyosor bibis gue," imbuh Dion. "Ya ampun, anak kamu ngeributin cewek, Pak," decak Ibu Astri. "Ini kenapa sie kalian? Nggak boleh berebut cewek gitu! Malu dong! Kaum hawa di sini populasinya lebih banyak dari cowok, ngapain pake berebut? Kalian bisa dapat banyak malah, satu lelaki tiga perempuan juga bisa. Bapak harapannya juga begitu tadinya tapi ...." Bapak langsung mengunci mulutnya ketika Emak Astri membelalakkan bola matanya. "Aku nggak ngerebut ceweknya Zain, Mak, Pak. Ceweknya aja yang kegatelan!" celetuk Dion yang membuat Zain nggak terima karena Dion sudah mengatakan hal yang buruk tentang pacarnya. "Demi Allah gue nggak bohong, Yan. Gue nggak maksud rebut dia dari lu sama sekali." Namun, Zian tidak mau percaya dengan penjelasan adiknya. Dia menarik paksa adiknya dan, "Baag ...!" Zain memukul wajah Dion hingga lelaki itu jatuh tersungkur di lantai. Terang saja ini membuat kepanikan Emak Astri dan juga Bapak Devan. "Astagfirullah! Zain, udah!" Emak Astri mencoba mencegah Zain yang akan memberi adiknya tinjuan lagi. Wajah lelaki itu masih terlihat menakutkan. Emosinya belum mereda meski darah terlihat mengucur di sudut bibir adiknya. "Lu emang adik yang nggak ada gunanya, Yon! Gue tahu maksud lu dekeetin Jenifer karena dia kaya dan mau lu porotin kan?" tuduh Zain murka. Dion berdiri dibantu oleh ayahnya, sementara Ibu Astri terlihat menangis sedih karena melihat dua buah hatinya bertengkar seperti ini. "Iya ... tadinya begitu, tapi gue masih punya perasaan buat nggak nyakitin hati lu, Yan!" sahut Dion dengan nada tinggi sambil menyeka darah di sudut bibirnya. "Dengan keadaan hidup kita yang kayak gini harusnya lu usaha buat nyari kerja yang bener! Jangan jadi beban orang tua mulu yang cuma bisa minta tanpa bekerja!" sembur Zain menyudutkan adiknya. "Bukannya lu deketin Jenifer juga karena uangnya? Hah?!" tuduh balik Dion emosi. "Lu sa-" Kalau gue ngomong yang sebenarnya, rencana gue sama emak bapak bakal gagal total. Batin Zain lantas tidak jadi meneruskan ucapannya. "Itu urusan gue! Yang penting gue nggak ngrebut Jenifer dari siapa pun kaya yang lu lakuin!" "Gue nggak ada maksud ngrebut! Emang pacar lu yang kegatelan! Gue juga udah nolak karena gue gak mau nyakitin hati lu! Gue masih punya perasaan biar pun gue slengekan, nggak pernah terlihat hormat ke lu, tapi gue sayang sama lu karena lu kakak gue. Dan gue nggak mau lu punya pasangan yang kegatelan macam dia! Udah stop, Yan! Jauhin dia! Putusin dia!" sentak Dion dengan lelehan air matanya yang tanpa terasa menetes. "Pak, gimana ini, Pak?" Emak Astri sangat sedih melihat ke dua anaknya bertengkar hebat seperti ini. Meski dibilang nggak pernah akur, tapi Zian dan Dion nggak pernah main tangan untuk melepaskan amarah mereka seperti yang mereka lakukan malam ini. "Biarin mereka nyelesaiin masalah mereka, Mak! Kita dengerin aja dan ngawasin," sahut Pak Devan yang terlihat lebih tenang. "Lu nggak usah ngatur-ngatur hidup gue! Urus diri lu sendiri yang nggak ada masa depannya! Lu cuma beban buat kita semua!" hardik Zain dengan kasar membuat hati Dion sangat terluka. "Kalau mau duit, mau kaya kuliah yang bener! Kerja yang bener! Jangan morotin duit cewek! Paham lu, Yon!" "Bukannya lu juga morotin duitnya Si Jenifer?" Dion memutar balikkan fakta. Lu nggak akan paham, Yon! Dan belum saatnya buat lu paham. Batin Zain. "Apa yang baik dari gue, bisa lu contoh dan apa yang buruk dari gue jangan lu ulang! Gimana? Bisa nggak lu jadi anak yang bener? Jadi anak yang bisa emak sama bapak banggain? Bukan jadi beban negara kayak gini!" "Lu kejam banget, ya! Oke ...." Dion berusaha untuk tegar dan meredam emosinya. "Gue bakal buktiin kalau kelak gue bisa sukses dan gue bisa mandiri! Gue juga bisa nyenengin Emak sama Bapak! Thanks, karena lu lebih percaya sama pacar lu yang murahhan itu dari pada gue, adik kandung lu sendiri, Yan!" tutur Dion dengan penuh kekecewaan. "Mak, Bapak, mulai malam ini aku mau keluar dari sini! Aku mau tunjukkin ke anak kesayangan bapak ini kalau aku bisa mandiri, aku bisa cari duit kaya dia dan nggak jadi beban lagi! Dan aku nggak akan pulang lagi ke rumah ini sebelum aku sukses!" tegas Dion lalu masuk ke dalam kamarnya setelah memberi tatapan tajam pada abangnya. "Yan ... astagfirullah! Kenapa kamu sampai setega ini sama adikmu, Yan." Emak Astri menangis terisak-isak. "Ini juga demi masa depan Dion, Mak. Biar dia dewasa dan bisa usaha pakai tangan dia sendiri. Nggak cuma bisa ngulurin tangan doang!" sahut Zain. Sebenarnya dalam hati kecil Zain saat ini, dia pun menyesal karena sudah memukul dan berkata kasar pada adiknya. Dion mengemasi barang-barangnya. Dia sendiri pun bingung mau berbuat apa, mau tinggal di mana ... dia hanya punya uang dua ratus rupiah hasil ngojek online tadi pas perjalanan pulang ke rumah. Namun, dia sudah terlanjur bilang kalau dia akan pergi. Nggak mungkin dia jilat lagi kata-katanya yang akan membuat Zain menjadi menang dan itu sebuah tamparan untuk Dion kalau sampai abangnya meremahkannya lagi. Dion menyeka air matanya yang menetes. "Banci banget gue! Kenapa mesti nangis sie?" Dion mengumpat dirinya sendiri. "Yon, jangan pergi, ya! Emak mohon." Ibu Astri menghampiri Dion yang sedang sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam koper. "Nggak bisa, Mak. Aku harus pergi, biar Zain nggak bisa lagi ngeremehin aku," tolak Dion dengan tegas. Meski untuk meninggalkan emak dan bapak pastinya sangat berat. "Minta maaf aja sama kakakmu, Yon! Kamu harus berjiwa besar, kamu harus minta maaf! Kalian kan saudara nggak boleh musuhan seperti ini, Yon. Emak mohon!" Ibu Astri menangis terisak-isak sembari mengenggam pergelangan tangan anaknya. "Mak, aku nggak salah! Ngapain aku mesti minta maaf?! Abang yang nggak nganggap aku saudara karena dia lebih percaya sama omongan pacarnya yang kegatelan itu dari pada aku adiknya sendiri. Demi Allah, Mak! Aku udah pingin pergi pas tahu dia itu beneran pacarnya Zain, tapi dia ngelarang-ngelarang aku dan malah nggak ngaku kalau udah punya pacar. Kalau Zain nggak mau putusin dia, jadinya emak sama bapak yang harus tegas! Jangan restuin Zain sama perempuan nakal, meski pun dia udah ngasih banyak harta buat Zain! Lelaki itu harus punya harga diri. Justru Zain yang nggak ada harga dirinya!" tutur Dion dengan panjang lebar. "Aku pergi ya, Mak. Mak harus jaga diri sama bapak! Aku bakal pulang kalau aku udah sukses nanti. Maaf kalau aku udah bikin orang satu rumah repot selama ini," lanjutnya dengan mata berkaca-kaca Tak ada pembicaraan lagi antara Dion dan Zain selepas ini. Mereka sama-sama diam meski dalam hati mereka sangat menyesalkan apa yang sudah terjadi. "Pak, Dion itu manjanya nggak ketulungan. Dia itu nggak bisa mandiri, Pak. Gimana ini, Pak? Emak kepikiran banget sama Dion, Pak," rintih Ibu Astri dalam pelukan suaminya. "Dion udah dewasa, Bu. Dia laki-laki juga, dia pasti bisa menjaga dirinya dengan baik," sahut Pak Devan sambil mengelus-elus lengan istrinya untuk menenangkan. "Apa kamu nggak bisa ngalah sama adik kamu, Yan? Emak nggak tenang Demi Allah!" "Ini udah kesepakatan kita buat ngubah Dion jadi lelaki dewasa yang bisa mandiri kan, Mak? Ya udah nggak bisa kita mundur! Untuk membuat orang jadi lebih baik itu kadang kita emang harus tega dan pastinya terlihat jahat di balik maksud kita yang baik," ucap Zain. ** Dion berhenti di sebuah warung nasi kucing untuk sekedar minum es teh dan makan sebungkus nasi. Dia nggak sempat makan apapun sebelum pergi. Lumayanlah untuk mengganjal perutnya yang keroncongan. Di saat itu dia melamun dan berpikir kira-kira ke mana dia harus pergi hanya dengan uang seratu sembilan puluh ribu rupiah karena yang sepuluh ribu sudah buat bayar makanan dan minumannya. "Nggak mungkin ke hotel dengan uang segini, mau ngekost juga nggak cukup. Mampus gue bakal jadi gelandangan. Mana uang yang dikirim Jenifer ke gue udah gue balikin, aturan gue pinjam dulu kan ya," gerutu Dion. Pada saat itulah, Ernest menelponnya. Dion menceritakan apa yang terjadi pada Ernest dan memberitahu sahabatnya itu di mana posisinya sekarang. Tak lama, karena memang Dion sudah berada di pusat kota, Ernest dan ke tiga kawannya yang lain datang. Inilah enaknya memiliki sahabat yang loyal dan royal, padahal cuma satu orang yang dijadiin tempat keluh kesah, eh yang lain datang juga buat ngebantuin. "Ya ampun, Yon. Gembel ya lu. Kasian gue," celetuk Gilbert. "Makasih atas simpati lu ya, Sob. Tapi nggak usah sambil nyela bisa nggak?" protes Dion antara kesal, tapi geli juga dikatain begitu. "Kalau nggak nyela berarti nggak sayang, Sob," sahut Gilbert. Ada ya aturan begitu? Kalau nggak nyela nggak sayang? Ckckck ... memang tingkah mereka suka aneh bin ajaib. "Jadinya nasib gue gimana ini?" tanya Dion meminta kejelasan pada teman-temannya. "Tinggal di tempat gue aja," ucap mereka secara serempak dan kompak. "Anjiir ... kalian memang best friend gue," kata Dion begitu terharu. Selepas mereka bercakap-cakap sebentar di warung nasi kucing itu. Jadilah atas kesepakatan bersama, mereka patungan untuk menyewakan Dion kost-kostan selama satu bulan ini dulu. Nanti bulan-bulan ke depannya bisa dipikir lagi sambil jalan. Kost Dion dan Udin bersebelahan kebetulan kamar sebelah lagi kosong. Mereka kumpul di ruangan yang berukuran empat kali lima meter itu sambil minum soft drink dan ngemil kacang. "Terus rencana lu selanjutnya gimana, Bro?" tanya Gilbert. Nggak tega banget lihat wajah Dion yang biasanya ceria kini jadi murung seperti itu. "Gue mau cari kerja yang bener. Gue mau buktiin kalau gue bisa hidup mandiri," jawab Dion bertekad bulat untuk membuktikan kemampuannya. "Terus ini muka lu kenapa memar gitu?" tanya Udin setelah memerhatikan wajah Dion. Sudah sejak tadi sebenarnya mereka ingin bertanya, tapi keadaan di warung nasi kucing tadi ramai banget jadi takut kalau ada yang dengar dan bikin Dion jadi malu. "Ini gue digampar sama Zian," jawab Dion sambil mengusap sebelah bibirnya yang masih terasa sakit. "Ya Allah, sampai segitu marahnya Zain karena masalah ini. Jadi intinya dia nggak percaya sama penjelasan lu dong, Yon?" tanya Jovian bersimpati. "Dia lebih percaya sama pacarnya yang keganjenan itu," sungut Dion sebal. Dion menatap ke depan, sorot matanya menunjukkan kalau lelaki ini tengah dilanda kegalauan parah. Rasa sakitnya amat dalam akibat pisau yang digores oleh Zian di hatinya. "Zian yang masih pacaran aja bisa semarah ini sama gue, padahal gue nggak maksud macarin pacarnya juga, apalagi kalau gue pacaran sama istri orang dan ketahuan. Bisa-bisa gue dibunuh sama lakinya," lirih Dion. "Dua kali lho aku dihajar karena dituduh ngerebut pacar orang. Padahal dua-duanya karena si cewek yang kurang ajar," imbuhnya. Dari sini Ernest yang memiliki ide gila untuk membuat arisan istri orang menjadi berpikir ulang. Kasihan juga sie, ini bukan hanya masa depan yang bakalan jadi taruhannya, tapi juga nyawa. "Ya udah, Sob. Kita batalin aja rencana gila kita ini ... demi terselamatkannya Dion dari korban pembunuhan," cetus Ernest membuat semua mata kini terarah kepadanya. "Serius lu, Bro? Terus rencana kita hedon di Bali gimana?" tanya Udin. "Kita reschedule aja sampai keadaan keuangan Dion membaik. Kita kan udah komit, jika salah satu di antara kita ada yang susah, itu berarti kesusahan untuk kita semua ... Yon, kita fokus buat nunjang hidup lu dulu dah," jelas Ernest berpikir dengan bijaksana dan serius. "Lu yakin sama keputusan lu, Bro?" tanya Dion dengan mata berkaca-kaca. Ernest menepuk pundak Dion. "Gue serius banget," jawabnya mantab sambil menyunggingkan senyumnya. "Thanks banget, Bro," ucap Dion lalu memeluk Ernest. "Sama-sama, Bro! Keep strong! Lu lagi diuji biar naik kelas, tetap semangat!" ujar Ernest. Ernest dan Dion melepas pelukan mereka. "Kalian memang teman-teman terbaik gue," puji Dion penuh haru. ** Hari pertama Dion tidur di kost. Sepi banget terjadi jauh dari keluarga. Itu yang Dion rasakan. Andai waktu bisa diputar kembali, dia nggak ingin hidup seperti ini. "Jadi gue memang harus sukses biar bisa balik sama emak bapak, itu tekad gue," lirih Dion sambil menatap ke langi-langit kamar. Dion berusaha memejamkan mata. Syukurlah mimpinya indah malam ini, bertemu dengan gadis bertubuh mungil bernama Fanya. Mereka ngobrol berdua di kantin kampus, lalu berjalan bergandengan tangan di taman pusat kota. Sunguh mimpi yang sangat indah. "Yoon! Bangun lu!" teriakan Udin membuat mimpi indah Dion hancur lebur. "Iyaaaa!" teriak balik Dion sambil mengedip-ngedipkan mata untuk membuat pandangannya yang masih buram agar kembali sempurna. "Anjiiir! Basah deh!" keluh Dion bergegas berlari masuk ke kamar mandi. Setelah bersiap-siap untuk berangkat kuliah, Dion menyempatkan diri untuk mencari sarapan. Menu nasi rames sederhana yang dibeli hanya dengan harga lima ribu rupiah. "Alhamdulilah masih bisa makan." Dion banyak bersyukur sekarang, kalau dulu terlalu enak hidupnya sampai lupa akan nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Dion menunggangi motor bermerk Pario miliknya untuk sampai ke kampus yang jaraknya tidak terlalu jauh tersebut. Udin sudah berangkat duluan dari dia. Di perjalanan Dion mendapatkan orderan dan ternyata itu adalah akun dari Fanya, mahasiswi baru yang bukunya terjatuh dan Dion temukan kemarin. "Fanya, ya?" tanya Dion sambil memegang hapenya selepas memastikan kalau benar Fanya ini lah yang membutuhkan Jenanya. Fanya yang rambutnya dibiarkan terikat tinggi ke atas itu pun mengganguk malu. "Iya, bener, Kak," jawab Fanya. "Oh, oke. Ayo naik!" Dion memberikan helm berwarna hijau pada Fanya. Fanya segera meraihnya dan memakainya. "Makasih, Kak," sahut Fanya lalu duduk di boncengan Dion dengan jarak yang jauh. Tidak mau terlalu menempel dengan Dion, sampai jok tengah motor Dion kelihatan banget kalau bolong. Dion menoleh ke belakang. "Jangan ujung banget gitu duduknya! Ntar jatuh gimana?" tegur Dion. "Kakak nggak gigit kok, Dek," imbuhnya lalu tertawa. Ya Ampun, kakak ini cakep banget lho sumpah. Puji Fanya dalam batin. "Eh, iya, Kak. Aku maju, ya." Fanya pun memajukan posisinya, tapi tidak mepet juga sama tubuh Dion. Anjiir, deg-degan banget gue boncengin dia. Ada rasa tengsin juga karena ketahuan cuma tukang ojek online. Pikir Dion. Dion malu sebenarnya karena dia yang dulu adalah lelaki keren, banyak duit, tunggangannya mentereng dan digilai banyak wanita. Lalu sekarang apa kabar setelah berita bangkrutnya menyebar? Dih ... jangankan ada cewek yang nempel, nyamuk aja pada nolak ngisep darahnya. Darahnya rasanya pahit karena makannya nasi sama sambal melulu tiap hari. "Udah siap? Kita berangkat, ya. Tujuan kita kan sama ke kampus," kata Dion disambut anggukan oleh Fanya. Pada sepuluh menit perjalanan, mereka saling diam. Fanya mau ngajak ngobrol, tapi tengsin banget, hingga dia pun memilih untuk diam mendengarkan ritme jantungnya yang berdebar-debar. Begitu pun dengan Dion yang sebenarnya pingin banget sksd alias sok kenal sok dekat, tapi Dion mendadak malu karena merasa nggak sebanding dengan Fanya yang anak orang kaya. Dari mana Dion tahu? Karena Fanya keluar dari dalam rumah megah ketika dia menjemputnya. Coba gue nggak dikutuk jadi miskin seperti ini, pasti udah gue pepet ini anak. Batin Dion merasa minder. Namun, Dion sengaja memelankan laju roda duanya, agar dia bisa lebih lama bersama dengan Fanya, si gadis kalem yang membuatnya terpesona. Dia ingin lebih lama lagi mencium bau parfum Fanya yang beraroma permen, manis-manis banget seperti orangnya. "Fanya anak baru, Ya?" tanya Dion berbasa-basi memecah kebisuan di antara mereka. "Hm ... iya, Kak," jawab Fanya dengan suara yang agak kencang karena di jalan pasti bising banget, takut Dion nggak dengar. "Kenapa pindah?" tanya Dion kepo. "Pingin aja, Kak," jawab Fanya lagi-lagi singkat sesuai dengan kebutuhan pertanyaan yang Dion lontarkan. "Oh ...." Dion pun menutup mulutnya, karena Fanya juga tidak mencoba untuk mencari topik pembicaraan atau sekedar balik melempar pertanyaan. Sampai di kampus. Fanya turun dan melepas helm yang ada di kepalanya dan menyerahkannya pada Dion. Rambut Fanya jadinya agak berantakan karena ini. "Maaf, Ya! Helm kakak jadi bikin rambut kamu kusut," kata Dion merasa tidak enak hati karena membuat tatanan Fanya menjadi berantakan. "Nggak apa kok, Kak. Ini resiko kalau naik ojek," balas Fanya sambil menyunggingkan senyumnya. Fanya merogoh tasnya untuk membayar ongkos seusai aplikasi. Total dua puluh lima ribu rupiah. "Ini, Kak," ucap Fanya sambil mengulurkan uang tiga puluh ribu pada Dion. Ya Allah, beneran berasa nggak ada harga dirinya gue. Pekik Dion. Dia benar-benar nggak pernah menyangka akan berada pada posisi seperti ini, dia nggak pernah ingin menerima uang dari perempuan apalagi itu gadis yang udah menarik perhatiannya. Rasanya malu banget bin minder. Dion memperhatikan uang yang Fanya sodorkan, tapi belum ada niat untuk mengambil alihnya. "Kakak, ayo diterima! Kembaliannya buat kakak aja," ucap Fanya dengan senyum ramah yang masih tersungging di bibirnya. Dari sini Dion paham kalau Tuhan itu bisa saja membolak-balikkan nasibnya semudah Dia membalikkan telapak tangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN