**
Jenifer melajukan kendaraan roda empatnya dengan kecepatan tinggi sampai Dion berpegangan erat karena gerakan mobilnya yang oleng ke kanan dan kiri.
"Busyeet ... mantan pembalap ya kamu?" decak Dion, aslinya ketakutan banget dia meski wajahnya berusaha sok tenang kayak nggak panik begitu.
"Hahahaha ... naik mobil dengan kecepatan tinggi kayak gini bikin adrenalin terpacu, bisa ilangin stress juga," sahut Jenifer. Wanita itu memelankan kecepatan mobilnya hanya untuk memutar musik disco lalu kembali menginjak pedal gas dalam-dalam.
Anjiiir, bar-bar banget ini cewek. Batin Dion sambil menggelengkan kepalanya. Sebenarnya dia nggak suka tipe cowok modelan seperti ini, iya ... Dion justru teringat akan pesona cewek lugu yang disebut bernama Fanya.
Besok gue bakal cariiin elu buat kembaliin buku ini. Gumam Dion sambil memperhatikan buku Fanya yang kini berada di pangkuannya.
"Kenapa bukunya diplotottin gitu sie? Lihat aku, dong!" tegur Jenifer, lampu berwarna merah dan Jenifer justru menggoda Dion dengan mendekatkan bibirnya pada bibir Dion. Dion bukannya menyambut, tapi dia justru memundurkan kepalanya hingga mentok ke kaca mobil.
"Hahahaha ...." Jenifer tertawa sembari menjauhkan wajahnya kembali. "Aku pikir kamu udah sering ciuman kan, ya? Kenapa malah ngehindar?"
Dion menelan salivanya, dia mendadak gugup. Apalagi ketika Jenifer membuka jaketnya hingga bentuk dalaman wanita itu bisa Dion lihat begitu sempurna dan memancing jiwa kelaki-lakiannya.
Anjiiiir! Ganas banget. Pekik Dion merasakan tubuh bawahnya mulai bereaksi.
"Ini di jalan, nggak pas kalau buat pacaran," kata Dion lalu memalingkan wajahnya.
Padahal di antara mereka sama sekali belum ada kata jadian, tapi ini cewek main nyosor aja. Tadinya Dion suka-suka aja, tapi setelah bertemu Fanya ... Ealah ... "Kenapa gue berasa nggak mood sama cewek lain, ya? Kepikiran dia mulu," kata Dion dalam batin. Baru juga ketemu dua kali, tapi Dion sudah kesengsem seperti ini.
"Jadi mau tempat yang sepi buat have fun? Oke .... " ucap Jenifer yang menganggap perkataan Dion sebagai sebuah permintaan.
Fanya memutar arah dan jelas ini bukan jalan menuju ke mall yang akan mereka kunjungi seperti kesepakatan semalam. Dion otomatis celingukan bingung.
"Lhoh mau ke mana kita, Jen?" tanyanya. Dion begitu dikendalikan oleh Jenifer, hanya bisa menurut, duduk diam di tempatnya, pasrah tanpa bisa melakukan apa-apa.
Dion, nggak usah kayak orang bego gini deh! Have fun aja! Dion bicara dengan dirinya sendiri.
Shiit! Gue keingat Fanya mulu. Decak Dion.
"Kita cari tempat sepi buat having fun," jawab Jenifer dengan wajahnya yang selalu terlihat menggoda. Bibir yang ranum dengan lipstik berwarna merah dan juga baju yang terbuka mempertontonkan bentuk tubuhnya. Anehnya, hasrat Dion perlahan hilang meski sudah disuguhi oleh pemandangan begituan.
Dion memilih diam sepanjang perjalanan, dia sibuk menatap ke luar jendela. Selain memikirkan sosok Fanya yang hanya dia lihat belum dia kenal secara mendalam, Dion juga memikirkan tentang indikasi kalau Jenifer adalah pacar dari abangnya. Karena ingatan Dion nggak mungkin salah, bukan hanya mobil dan warnanya yang sama, tapi plat nomor mobilnya juga sama persis. Nggak mungkin kan ada dua mobil yang sama persis hingga ke nomor serinya juga?
Dion geleng-geleng kepala melihat tingkah Jenifer yang menyetir sambil berjoged-joged hingga gunung kembar wanita yang lebih tua sembilan tahun darinya itu terlihat bergoyang naik turun. Laju kendaraan masih dengan kecepatan tinggi.
Gue berharap nggak mati sia-sia siang ini. Pekik Dion karena dia nggak mau terlihat bodoh dengan berekspresi ketakutan meski sebenarnya dia takut mati muda karena ulah Jenifer.
"Jangan tegang gitu, Sayang! Cukup anumu aja yang tegang, hahahaha ...." goda Jenifer lalu mengelus wajah Dion yang halus mulus meski tanpa perawatan.
Putaran roda empat milik Jenifer terhenti di sebuah halaman apartemen mewah yang menjulang tinggi. Sudah bisa dipastikan kalau kekayaan Jenifer memang nggak main-main. Cocok sama kriteria incaran Dion (dalam permainan gila ini) meski Jenifer bukanlah istri orang seperti yang Ernest inginkan. Yang penting cuannya kan?
"Ayo, Zayn!" Jenifer melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya.
Zayn Dion masih melongo, jantungnya berdebar kencang.
"Zayn, ayo!" ulang Jenifer mengajak Dion untuk ikut dengannya.
"Mau ngapain kita di sini?" tanya Dion.
Jenifer mendekat pada Zayn hingga bajunya yang berbelahan d**a rendah semakin menujukkan pesonanya.
Sialan! Dion menelan saliva ketika tubuhnya serasa menegang, urat syarafnya merespon rangsangan yang diberikan oleh Jenifer dengan cepat. Dion memalingkan wajah sambil mendorong ke dua bahu Jenifer agar menyingkir.
"Oke, aku turun sekarang," ucap Dion dengan terburu-buru membuka sabuk pengamannya dan gegas membuka pintu mobil.
Dion berjalan menjauh dari mobil Jenifer, lalu dia berdiri sambil mencangklongkan tas ranselnya di satu pundak. Buku milik Fanya sudah dia masukkan ke dalam sebelumnya. Lelaki tampan dan gagah itu menatap ke atas di mana gedung pencakar langit itu menjulang tinggi. Sorot matahari membelai netranya dengan sempurna hingga dia memicingkan mata.
Keren banget sie, tajir melintir nggak kaleng-kaleng. Batin Dion.
Hingga sekarang Dion belum pernah bertanya dari mana harta kekayaan Jenifer, menurutnya juga nggak penting. Yang Dion pikir sie, Si Jenifer ini anak orang kaya atau mungkin memiliki usaha di luar sana.
"Ayo, Zayn!" Jenifer memutari mobilnya dan berjalan mendekat pada Dion yang memilih berpanas-panasan dari pada meneduh di bawah bangunan.
"Iya," sahut Zayn singkat sambil menyunggingkan senyumnya.
Jenifer melingkarkan tangannya ke lengan kekar Jenifer. Sialnya wanita itu tidak tahu malu berpakaian sexyy seperti itu di depan umum hingga banyak pasang mata menatap ke arahnya.
Untung gue nggak ada rasa, kalau ada rasa udah gue buntel badan dia pakai karung. Mana ada cowok yang ikhlas kalau badan ceweknya dilihatin sama orang lain? Batin Dion.
Mereka berjalan masuk ke dalam apartmen tersebut dan langsung menuju ke depan lift. Ada empat lift berjajar dari kiri ke kanan. Dion dan Jenifer memilih lift yang paling kanan.
Begitu bilik besi terbuka, langkah kaki mereka kompak melangkah untuk masuk ke dalam alat angkut canggih tersebut. Jenifer memencet angka tiga belas yang menandakan apartmennya ada di lantai tersebut.
"Kenapa tegang gitu sie, Zayn? Kayak nggak pernah jalan ama cewek cantik aja sie?" tanya Jenifer yang sejak tadi masih menempel di tubuh Dion bak ulat bulu.
Dion memang kerap bergonta-ganti pasangan, tapi bukan berarti semuanya dia tiduuri. Just kissing, petting, tapi belum sampai masuk memasuki ....
Dan ... seumur-umur Dion nggak pernah jalan sama wanita yang lebih tua, yang agresifnya bukan main macam Jenifer.
"Bukan tegang tapi-" Ucapan Dion terhenti karena ponsel yang dia simpan dalam sakunya berdering nyaring.
"Bentaran, Ya! Ada telepon," kata Dion. Bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka karena mereka sudah tiba di lantai yang mereka tuju. Dion dan Jenifer melangkah keluar bersamaan.
Yang menelpon adalah Ernest.
"Ntar gue telpon lagi, bye," sahut Dion singkat tanpa memberi waktu Ernest untuk bicara, dia segera memutus panggilan suara.
"Siapa? Pacar kamu, ya?" tanya Jenifer dengan wajah masam.
"Bukan, kok. Aku jomblo," jawab Dion.
Jenifer membimbing Dion untuk berjalan mengikutinya. Maka sampailah mereka di apartmen milik Jenifer yang letaknya berada di paling pojok.
"Selamat datang, Sayang!" seru Jenifer begitu pintu apartmen dibuka.
Mewah sekali. Berbeda dengan gubug sederhana yang Dion tinggali saat ini. Namun, Dion biasa saja karena dia kerap keluar masuk ke tempat mewah sebelum dia jatuh miskin. Bukan berarti stratanya yang down membuat dia berubah menjadi lelaki udik, ya.
"Kamu tinggal di apartmen selama ini?" tanya Dion berjalan masuk mengekor pada Jenifer. Pintu apartmen ditutup rapat.
"Hanya kalau aku ingin berduaan dengan pacarku saja," jawab Jenifer.
"Kamu mau apa? Banyak minuman berakohol di sini?" Jenifer menawari Dion minuman yang tidak ingin Dion sentuh selama ini. Pantang baginya untuk memasukkan zat berbahaya itu di dalam tubuhnya yang sehat.
"No, aku nggak suka minum, Jen," tolak Dion sambil meletakkan dirinya di sebuah sofa panjang yang terhampar di sana. Dion mengedarkan pandangan matanya untuk menelisik apa-apa saja yang ada di dalam apartmen Jenifer, termasuk menyelidiki apakah benar Jenifer itu pacar dari abangnya sendiri atau bukan. Siapa tahu dia menemukan bukti hubungan Jenifer dengan Zian.
"Hm ... aku pikir kamu bisa cobain dikit aja, Zayn." Jenifer menuangkan minuman berharga fantastis itu ke dalam gelas kecil yang kemudian dia berikan pada Dion.
"Aku nggak mau, Jen. Aku nggak suka," tolak Dion sambil menyingkirkan benda berbentuk bulat yang ada di tangan Jenifer itu dengan segera.
"Hm ...." Jenifer menunjukkan wajah kecewa.
"Ya udah aku minum sendiri aja," kata Jenifer yang meneguk minuman haram itu seperti orang yang menahan dahaga sejak tadi.
Dion memilih menyingkir karena tidak tahan dengan bau alkohol yang sangat menyengat. Namun, Jenifer melarangnya. Dia menahan Dion pergi dengan memeluk lelaki itu dengan manja.
"Jangan jauh-jauh dari aku dong, Zayn!" pinta Jenifer. Dia kini menyandarkan kepalanya di d**a Dion sembari tangannya meraba-raba nakal tubuh Dion membuat adik kecil Dion di bawah sana menjadi bereaksi.
"Jen, stop!" Dion menahan tangan Jenifer yang ingin memegang tubuh bawahnya. Dia menggenggam pegelangan tangan Jenifer erat-erat.
"Kenapa sie, Zayn? Duit yang aku kirim kurang, ya? Sini aku kirimin lagi, ya!" rayu Jenifer.
"Bukan masalah itu, Jen. Tapi kamu belum jawab pertanyaan aku tadi! Kamu udah punya pacar kan?" tukas Dion kesal.
"Aku kan udah bilang nggak usah peduliin statusku apa, karena aku aja nggak peduliin status kamu. Yang penting kita sama-sama enak, udah sie nikmatin aja!" tutur Jenifer. Dia melepaskan tangan Dion dari pergelangan tangannya. Lalu dia mendorong tubuh Dion kuat-kuat hingga lelaki itu telentang di tas sofa. Tanpa meminta ijin, Jenifer menaiki tubuh Dion dan merapatkan daaadanya ke dadaa Dion dengan penuh menggoda.
Anjiiir! Ini cewek udah sangee banget kayaknya. Pekik Dion dengan kaget. Baru kali ini dia nemu cewek seliar ini.
"Jen, aku sesak napas kalau kamu di atasku gini!" tegur Dion sambil memegang ke dua pundak Jenifer dan menyingkirkan tubuh wanita itu dari atasnya.
"Kamu kenapa si, Zayn? Banyak cowok yang mau bobo sama aku, lho. Kenapa kamu malah nolak?" decit Jenifer kesal dan merasa terhina karena baru kali ini ada lelaki yang menolaknya.
"Aku nggak mau karena aku takut bikin pacar kamu sakit hati!" tegas Dion.
"Mending kita nggak usah ketemu lagi," imbuhnya.
Dion beranjak dari tempatnya sambil mencangklongkan kembali tas ransel miliknya yang tadi dia letakkan di atas meja.
"Zayn, aku udah ngomong apa tadi sama kamu? Jangan peduliin status, toh pacar gue nggak akan tahu, kok! Kita have fun aja karena aku suka sama tubuh kamu. Aku bisa kasih kamu duit yang lebih banyak, kok," ucap Jenifer dengan nada tinggi. Dia bahkan merayu-rayu Dion dengan uang.
"Tapi aku nggak mau! Aku bisa mati kalau sampai ketahuan!" tolak Dion dengan tegas.
Dion tetap pada prinsipnya untuk tidak melakukan hubungan yang lebih jauh dengan Jenifer. Bukan hanya karena dia tidak cinta, tapi dia ingin menjaga perasaan seseorang yang sangat penting untuknya.
"Aku nggak mau tahu, kamu harus tetap samaa ku, Zayn!" paksa Jenifer.
"Lu gila, ya! Lu cewek hyper!" sentak Dion murka.
"Aku memang gila! Tapi aku nggak peduli! Yang penting aku mau tiduur sama kamu, Zayn!" teriak Jenifer dengan mata memerah. Dia menangkup pipi Dion dengan ke dua telapak tangannya, lalu dia mendekatkan bibirnya. Dion tidak bisa menolak hingga bibir mereka kini menyatu dalam sebuah ciuman.
Lelaki mana yang tidak grengg kalau diperlakukan seperti ini dengan seorang wanita? Apalagi buaah dadaaa wanita itu sejak tadi telah dia rasakan menekan dirinya membuat urat-uratnya menjadi tegang. Namun, ada satu alasan yang membuat Dion memang harus menolak Jenifer.
Dion berusaha melepas ciuman liar Jenifer. Pada saat itu juga pintu apartmen tetiba terbuka dan tidak lama setelah itu terdengar suara lelaki berteriak memanggil nama Jenifer dengan lantang.
"Jenifer!" panggilnya penuh emosi.
Jenifer segera menghentikan aksinya dan menoleh ke belakang. Wanita itu ketakutan ketika menyadari ada kekasihnya yang kini berdiri dengan mata terbelalak.
Mampus gue! Keluh Dion dalam batin. Hal yang paling dia takutkan ternyata terjadi.
"S-Sayang ... i-ini ...." Jenifer terbata-bata.
"Bisa-bisanya kamu selingkuh sama adik aku, Jen?" tanya kekasih Jenifer yang memang benar dia adalah Zian, kakak kandung Dion.
Dion menghela napas sambil memegang keningnya. Andai dia bisa pergi lebih cepat dari sini, dia pasti tidak akan terjebak dengan masalah besar seperti ini.
Ketika Dion memperhatikan isi apartmen Jenifer, dia melihat ada foto wanita itu dengan kakaknya tergeletak pada sebuah meja kecil di dekat lampu. Foto mesra itu terbingkai kecil dan rapi. Dari situlah Dion yakin kalau Jenifer memang pacar abangnya. Salahnya Dion yang pakai bertanya dulu tentang kebenaran status wanita tersebut, harusnya dia langsung pergi saja tanpa banyak bertanya.
"Gue bisa jelasin sama lu, Yan," ucap Dion dengan seluruh badan yang gemetaran karena takut diamuk oleh Zian.
"A-Adik? Jadi Zayn ini adik kamu?" tanya Jenifer kaget bukan main. Ini kebetulan yang sungguh membuat malapetaka untuknya.
"Iya, Dion adik gue! Zayn Dion yang lu cium tadi itu adik kandung gue!" tegas Zian penuh emosi.
"Ck ... kacau!" desah Dion sambil mengusap wajahnya kasar.
"Gue bisa jelasin sama lu Zayn ... gue udah mau pergi kok tadi, tapi pacar lu ini yang kegatelan banget!" jelas Dion karena dia nggak mau disalahkan.
"Bukan gitu, Sayang! Adik kamu bohong! Dia yang ngajak aku tidur!" tuduh Jenifer, memutar balikan fakta.
"Nggak usah ngarang ya lu!" sentak Dion nggak terima mendapat fitnahan seperti itu dari Jenifer.
"Selesaiin masalah lu sama cewek lu yang gatel ini deh, Yan! Gue mau cabut! Yang pasti gue udah berusaha pergi dari sini, tapi dia yang ngerayu-rayu gue terus," jelas Dion.
"Urusan kita belum selesai," ucap Zain ketika adiknya itu berjalan melintasi dirinya.
"Sayang ... beneran ... adik kamu yang udah ngerayu aku, Sayang," tutur Jenifer dengan air mata buaya yang mengalir di pipinya.
"Kalau dia yang ngerayu kamu kenapa dia bisa sampai di apartmen ini? Cuma aku dan kamu yang tahu tentang apartmen ini, Jen. Aku beliin kamu apartmen ini tanpa ada satu pun orang yang tahu termasuk orang tua aku. Aku beliin kamu mobil baru juga tanpa sepengetahuan siapa pun karena aku mau nyenengin kamu! Aku mau ngajak kamu ke pelaminan, aku mau seriusin kamu, Jen!" sembur Zian dengan mata berkaca-kaca. Rasanya sakit banget saat tahu wanita yang dia cintai malah bermesraan dengan adik kandungnya sendiri.
"Demi Allah, adik kamu yang ngerayu aku, Sayang. Please percaya sama aku!" Jenifer memohon.
"Kenapa pakaian kamu juga seperti ini?! Hah?! Bisa-bisanya kamu tampil sexyy selain di depan aku?! Keterlaluan kamu!" geram Zain benar-benar marah dan kecewa karena cinta tulusnya diduakan.
**
Dion menelpon Ernest untuk menjemputnya, karena sayang uangnya kalau harus pulang naik ojek online. Mana jarak antara apartmen dan kampus jauh banget. Motor Dion kan ditinggal di kampus.
"Gimana-gimana? Lu habis tempura ama Si Jenifer?" tanya Ernest ingin tahu.
"Tempur apaan? Kagaklah! Justru gue kena masalah besar sekarang," jawab Dion lalu mengeluh pada sahabatnya tersebut.
"Masalah apa coey? Jenifer kan bukan istri orang, lalu apa masalahnya? selidik Ernest. Kepo banget dia kalau soal beginian.
"Masalahnya dia itu pacarnya abang gue. Sialan!" cetus Dion membuat Ernest reflek menginjak pedal rem mobilnya hingga Dion terpental ke depan dan kepalanya terpentok dashboard.
"Anyiiing lu, ya!" omel Dion sambil mengusap-usap kepalanya yang terasa nyeri.
"Eh serius? Dari mana lu tau?" tanya Ernest lagi tanpa memedulikan kesakitan kawannya.
Setelah berhasil membuat kepala Dion benjol, mobil itu kembali berjalan dengan kecepatan sedang.
"Gue udah curiga pas Jenifer jemput gue pakai mobil yang sama yang pernah dibawa sama abang gue," cetus Dion.
"Terus?"
"Mobilnya sama, warnanya sama, plat nomornya juga sama. Jadi nggak mungkin kan ada dua kendaraan dengan nomor yang sama?"
"Heem, bener. Lalu?"
"Lalu Jenifer ajak gue ke apartmen itu tuh-"
"Mau kikuk-kikuk, ya?" potong Ernest nggak sabaran.
"Iya ... dia cewek yang hiper banget main nyosor gue mulu, tapi gue semakin yakin kalau dia itu ceweknya Zian pas gue lihat foto mereka di dalam apartmen itu," jelas Dion mengingat-ingat kejadian yang belum ada satu jam dia lalui.
"And then?"
Cerita Dion makin seru, jadinya Ernest makin antusias.
"Gue udah pingin kabur mulu, meski pun junior gue udah tegang banget disuguhin begituan. Anjiir!" Dion geram sendiri kalau ingat, dia meremat rambutnya kuat-kuat untuk melampiaskan rasa kesalnya.
"Itu kalau gue yang jadi elu, udah gue ngeek dulu sampai uh ah uh ah Si Jenifer mana moontok bener, hahaha ...."
"Lu mah messuum gue tau! Tapi masalahnya gue nggak mau lah biikin masalah sama Zian. Gila aja mana tega gue nikung sodara gue sendiri?" Biar dia dan Zian udah seperti kucing dan anjing kalau ketemu, tapi dia masih punya hati untuk nggak buat luka untuk saudara kandungnya sendiri.
"Bener juga sie, jadinya Zian mergokin elu sama Jenifer lagi berduaan gitu?"
"Bukan berduaan lagi, Cong. Tapi pas Jenifer cium bibir gue."
"Whaat? Jadi lu dah dapat bibirnya Si Jenifer? Asyiik dong."
"Dia yang nyosor gue mulu, pas mau gue lepas ciumannya eh Zian udah keburu datang. Mampuslah pasti ntar di rumah gue diamuk habis-habisan," tutur Dion. Kepalanya berasa mau pecah aja mikirin masalah ini. Kasihan banget sama abangnya, karena dia yakin pasti Jenifer nggak cuma open sama dia doang, tapi sama cowok-cowok lainnya juga.
**
Selepas mengambil motornya di kampus, Zayn bergegas pulang dan baru tiba di rumah selepas adzan maghrib karena dia sambil mencari orderan di pinggir jalan. Lumayan dapat dua ratus ribu dan bisa untuk dia dua hari ke depan.
"Dari sini gue tahu gimana susahnya nyari duit. Rasanya pingin banget puter waktu biar gue nggak susah-susah lagi meras keringat kaya gini," oceh Dion ketika dalam perjalanan pulang ke rumah.
Sampai di rumah, Dion belum mendapati kendaraan milik abangnya. Lega banget meski hatinya gelisah. Dia yakin akan timbul keributan setelah ini.
"Mak, aku lapar. Mamak masak apa?" tanya Dion pada ibunya yang sedang duduk di ruang tamu sambil menjahit baju beliau yang terlihat robek bagian ketiaknya.
"Goreng tempe sama sambal terasi, Yon. Makan seadanya nggak usah protes!" jawab Ibu diakhiri dengan memperingatkan anaknya agar patuh.
"Iya, Mak. Dion mandi dulu aja," sahut Dion lesu lalu masuk ke dalam kamarnya.
Jangankan bath up kayak waktu di kamarnya yang dahulu, kamar mandi aja sempit banget ukurannya. Mana kalau buang air besar meski jongkok. Dion suka kesemutan kalau habis buang hajat. Benar-benar ya dunia ini suka banget ngajak orang bercanda.
Di kamar mandi yang hanya berukuran dua kali tiga meter, Si Dion pakai ketiban sial karena sampo yang habis padahal rambut dia udah buluk banget bau matahari, terpaksa Dion kasih air botolnya, dikocok-kocok terus disiram di kepalanya.
"Ya Allah, ngenes banget hidup gue sampai sampo aja gue koret-koretin," desah Dion mengeluh sebal. Padahal dulu hobi banget buang-buang sampo, segala pakai nutupnya ngasal berujung itu sampo tumpah beluber ke mana-mana. Giliran udah begini sampai harus dikasih air baru bisa sampoan.