Johnson menghampiri Davis saat pria itu telah selesai melakukan panggilan. Keduanya menyatukan gelas wine masing-masing hingga menimbulkan suara dentingan. ‘’b*****h mana yang akan kau jadikan suami untuk Putriku?’’ Dari dulu Johnson sudah menganggap keturunan Sahabatnya itu sebagai darah dagingnya sendiri. ‘’Apakah kau seorang b*****h?‘’ ‘’Tentu saja tidak. Kenapa kau bertanya padaku? Sialan.’’ ‘’Hh, i’m just asking.’’ Johnson merasa ada yang janggal. Apa hubungannya antara pertanyaannya dengan pertanyaan Davis? Setelah lama berpikir. Oh, s**t. Dia tau sesuatu. Pria paruh baya itu cepat-cepat mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Putranya. Davis merasa perlu untuk memberitahukan hal ini secepatnya karena acara konferensi yang ditunggunya sudah semakin dekat. Ada yang ia khawatirk

