Pandangan Valgar mulai memindai sosok gadis yang kini berada di hadapannya. Rambut basah dengan tubuh yang berada dalam balutan bathrobe itu sukses membuat Valgar kesulitan menelan salivanya. Ambar begitu seksi dengan kecantikannya yang alami. ‘’Apa kau tidak akan mempersilakan calon suamimu masuk?’’ Tanyanya dengan nada lembut namun penuh penekanan. Ambar menyipitkan maniknya. Ia tak suka dengan penggunaan kata yang masih saja disebutkan Valgar. ‘’Bisakah kau berhenti menggunakan istilah itu?’’ Manik Valgar terus memandangi Ambar. Bendera perang yang berkibar di wajah gadis itu sudah cukup menjelaskan bahwa Valgar tak seharusnya berlama-lama di sana. Tapi dia bersikap tak perduli. Seolah-olah semua terlihat baik-baik saja. ‘’Bukankah kau tidak pernah berbohong? Dan aku yakin kau pun

