Ambar tak kuasa melihat robekan yang dijahit di betis kiri Valgar. Gigitan anjing itu gila. Dan anehnya, seorang Valgar entah kenapa bisa terkena serangan seperti itu, dari hewan pula. Ia cemas memperhatikan pria yang sejak kejadian itu hanya diam dan sama sekali tak bersuara. Ambar merasa apa yang ia lakukan sudah sangat keterlalauan. Sepertinya dia memang sudah berhasil membuat Valgar marah. Ketika aksi kejar-kejaran tersebut terjadi, Ambar hanya mengikuti pergerakan Valgar dari belakang dengan gelak tawa yang tak henti-henti.Sangat menyenangkan melihat pria yang suka mengatur jadi bertingkah lucu seperti itu. Dan dia tidak menggunakan kesempatan tersebut untuk kabur. Kekhawatiran yang terbesit di benaknya memaksa Ambar untuk terus mengejar Valgar. "Apa aku sudah boleh pulang?" Tanya

