Ada perasaan cinta yang terdapat dalam pergerakan lembut bibir Ambar saat membalas ciuman Valgar. Pria itu bahkan dapat merasakannya. Sedetik berlalu. Ambar mengambil kesempatan itu untuk melepaskan pagutan mereka. Canggung. Itulah yang sedang ia alami saat ini. Ia masih tak percaya. Yang tadi itu apa? Beda halnya dengan Valgar. Pria itu terlihat biasa saja. Bahkan Valgar tersenyum sumringah dengan wajah tanpa dosa. Oh, jelas sekali bahwa dia sedang berbunga-bunga karena telah melakukan apa yang selama ini ia inginkan. ‘’Berpakaianlah. Kita makan siang bersama.’’ Ia mengecup puncak kepala Ambar sebelum meninggalkan kamar mandi dan duduk di dekat sofa. Ambar menggigit bibir bawahnya saat menatap punggung Valgar yang perlahan-lahan kian menjauh. Ia tertunduk dengan semburat merah meron

