HAPPY READING GUYS:)
Kiano hanya diam saja mendengar perkataan Sebastian, memang benar sekuat apapun dirinya tapi dia tetap bisa dikalahkan bahkan saat pertarungan tiga hari yang lalupun begitu.
"Selama aku bisa menanggungnya aku tidak akan membaginya kepada siapapun termasuk dirimu" Ujar Kiano.
"Ya udahlah aku juga tidak ingin memaksamu tapi jika kau merasa membutuhkan bantuan panggil saja aku" Ujar Sebastian.
Kiano menatap kedepan dengan muka datarnya lagi dan mengangguk sekali untuk mengiyakan perkataan Sebastian. Persahabatan memang sangat indah, semuanya bisa dilakukan bersama sama, kita bisa selalu bersama, dan tidak akan ada kata kesepian dalam hidup.
Mereka berdua akhirnya sampai diapartemen Kiano. Kiano turun dari mobil lalu pergi masuk kedalam.
"Dia pasti sangat sedih itu sebabnya dia menjadi dingin padaku hari ini, sebelumnya dia tidak pernah seperti ini padaku"
"Walaupun dia juga bisa berkunjung kesana tapi dia pasti akan dihantui oleh kekhawatiran apalagi lawannya juga bukan manusia biasa dan dia bisa muncul kapan saja dia mau, sangat tidak mudah jika aku berada diposisinya" Ujar Sebastian.
Lalu Sebastian menginjak gas mobilnya dan pergi dari sana. Sedangkan Kiano yang sedang mandi memikirkan kira kira kenapa orang itu mengincar dirinya.
"Kenapa orang itu harus mengincarku? apakah aku memiliki sebuah rahasia dalam diriku yang tidak pernah kuketahui?" Ujar Kiano bertanya pada dirinya sendiri.
Sore itu, Kiano melaluinya dengan sendirian dan termenung memikirkan mengapa harus dirinya yang diincar oleh orang itu. Hari itu berlalu dengan suasana yang tenang tapi tidak dengan hati Kiano yang terus memikirkan itu semua.
Keesokan harinya dia menjalani paginya seperti biasa dan mencoba untuk melupakan semua yang dia tanya tanyakan kemarin. Dia pergi kesekolah dengan memasang wajah datarnya hingga semua orang menjadi takut padanya, tidak ada yang mendekatinya, tidak ada yang menatapnya, bahkan tidak ada yang menyapanya. Mereka mengira bahwa suasana hati Kiano sedang tidak baik dan lebih baik jika mereka tidak mendekat saat ini.
Mereka sudah mendengar kabar bahwa Kiano pergi melawan SMA Hijie sendirian, walaupun pada akhirnya dia harus masuk kerumah sakit karena tertusuk pisau, itu sudah termasuk sangat hebat. Bayangkan saja jika lawannya tidak menggunakan pisau maka sudah pasti hanya Kiano yang berdiri ditengah tengah anak anak SMA Hijie dengan kemenangannya.
Kiano sudah sampai dikelas tetap dengan wajah datarnya, dia duduk dikursinya dengan melihat keluar jendela. Aurel dan Jessica yang tidak mengerti mengapa sikap Kiano berubahpun ingin mendekatinya tapi Sebastian datang dan menghalangi mereka berdua.
"Jangan mendekatinya untuk saat ini, biarkan dia sendiri dulu" Ujar Sebastian.
"Memangnya dia kenapa? ekspresinya datar aku sama sekali tidak bisa menebak dia sedang sedih atau marah" Ujar Aurel.
"Dia sedang sedih, orang yang sedih terkadang memerlukan waktu sendiri untuk meredakan kesedihannya" Ujar Sebastian.
"Kenapa dia bersedih? dan juga jika dia bersedih kenapa dia harus memasang muka datar bukankah akan jadi agak... menyeramkan" Ujar Jessica.
"Dia sedih karena tidak bisa tinggal dirumahnya sendiri" Jawab Sebastian.
"Loh bukankah ibunya mengizinkan dia untuk tinggal malah dia sendiri yang ingin pergi darisana" Ujar Aurel.
"Itu karena dia terpaksa pergi darisana demi keamanan semua orang yang ada disana" Jawab Sebastian.
"Kenapa terpaksa?" Tanya Jessica.
"Dia punya musuh yang kali ini tidak bisa dia atasi bahkan jika aku membantunya itu juga tetap tidak akan bisa mengalahkannya. Jika Kiano tetap tinggal dirumahnya dia takut bahwa orang itu akan mendatanginya kesana dan menyakiti semua orang disana" Ujar Sebastian menjelaskan pada Aurel dan Jessica.
"Siapa lagi musuhnya ini, dia baryu saja keluar dari rumah sakit dan sekarang sudah memiliki musuh lagi" Ujar Aurel.
"Musuh yang ini sangat berbeda, dia sendiri yang mendatangi Kiano, bahkan Kiano sendiri tidak mengenal siapa orang itu" Ujar Sebastian.
Aurel ingin mengatakan sesuatu untuk menjawab perkataan Sebastian tapi bel sekolah sudah berbunyi duluan dan mereka harus kembali etempat duduk masing masing. 10 menit kemudian, Bu Ris masuk kedalam ruang kelas.
"Selamat pagi anak anak" Sapa Bu Ris kepada semua muridnya sambil melihat satu persatu muridnya diasana.
Semua anak menjawab sapaan dari Bu Ris kecuali Kiano karena Kiano masih melamun dan melihat keluar jendela.
"Eh Kiano, kamu sudah mulai masuk sekolah? bagaimana keadaanmu?" Tanya Bu Ris pada Kiano.
Kiano tidak menanggapi Bu Ris dan masih saja melamun menghadap kejendela. Bu Ris lalu mendekat kearah Kiano lalu menyentuh pundaknya. Kiano terkejut dengan refleksnya, Kiano berdiri dan langsung mencengkram tangan Bu Ris. Bu Ris menjerit kesakitan karena tentu saja tenaga yang digunakan Kiano juga tidaklah main main. Setelah melihat dengan jelas, Kiano melepaskan tangan Bu Ris.
"Ma-maaf sa-saya tidak tau kalau itu anda" Ujar Kiano sambil memegang tangan Bu Ris dan mengecek apakah gurunya itu terluka atau tidak.
"Ti-tidak apa apa" Ujar Bu Ris sambil menarik tangannya.
"Ada apa denganmu? apakah perkelahianmu tiga hari yang lalu telah mempengaruhi dirimu?" Tanya Bu Ris.
"Tidak, saya hanya sedang memikirkan masalah lain saja" Ujar Kiano menjelaskannya pada Bu Ris.
"Ya sudah kalau begitu tapi tetaplah fokus pada pembelajaran" Ujar Bu Ris.
Kiano mengangguk lalu Bu Ris kembali kedepan dan Kiano duduk.
...................................................................................
Jam yang digemari murid muridpun tiba yaitu jam istirahat. Kiano pergi keatap sendirian, diatap sekolah dia melihat para murid yang lainnya yang sedang bermain bola dibawah dengan wajah yang gembira. Kiano lalu memikirkan tentang orang itu lagi, tak lama kemudian Aurel, Jessica, dan Sebastian datang menemui dirinya. Aurel memberikan sepotong roti pada Kiano.
"Nih ambil dan makanlah" Ujar Aurel sambil memberikan rotinya.
"Tidak, kau makan sendiri saja" Ujar Kiano yang menolak roti yang diberikan Aurel.
"Padahal aku berpikir jika kau akan menyukainya, tapi ternyata tidak. Sia sia saja aku membeli makanan ini untukmu dengan uang jajanku yang berharga tapi kau malah tidak menyukainya, terpaksa harus kubuang deh" Ujar Aurel membuat drama agar Kiano mau menerimanya tanpa memaksa dirinya.
"Baiklah baiklah aku akan memakannya, kemarikan" Ujar Kiano mengulurkan tangannya.
Aurel tersenyum puas dengan aktingnya dan memberikan rotinya pada Kiano, Kiano menerimanya lalu memakannya.
"Terima kasih" Ujar Kiano pada Aurel.
"Kiano apakah kau memiliki masalah? jika kau memiliki sebuah masalah tolong ceritakan padaku dan yang lainnya" Ujar Aurel.
"Aku harus mengatakan apa pada kalian, aku sendiri tidak memiliki masalah. Sudahlah jangan terlalu memikirkannya lagipula aku juga baik baik saja" Ujar Kiano menjelaskan pada Aurel.
"Kau berbohong, kami ini adalah temanmu kan, kenapa kau berbohong pada temanmu sendiri" Tanya Aurel pada Kiano.
Kiano hanya diam lalu dia tersenyum dan menepuk kepala Aurel lalu pergi dari sana. Aurel terkejut dan hanya melihat kepergian Kiano dari sana. Sebastian dan Jessica keluar dan bertanya apakah Lauren berhasil mendapatkan informasi dari Kiano, tapi Aurel tetap saja menatap kearah pintu disana.
'Apa maksudnya tadi?' Tanya Aurel dalam hatinya.
...............................................................................................
Hari hari disekolah berlalu dengan biasa tapi tentu saja tidak bagi Kiano, Kiano menjadi pendiam selama disekolah, sering melamun, dan menjadi sangat waspada. Jika ada yang menyentuhnya saat dia sedang melamun maka dia akan langsung refleks lalu mencengkram tangan orang itu yang tentunya dengan tenaga yang sangat luar biasa.
Raja Iblis telah mempengaruhi kehidupannya dan membuatnya menjadi anak yang suka menyendiri bahkan dia juga menjauhi Aurel, Sebastian, dan Jessica. Dia melakukannya karena tentu saja untuk melindungi mereka, Kiano hanya bisa berpikir saat ini jika ada orang yang dekat dengannya orang itu pasti akan sial dan dia tidak bisa membiarkan teman temannya mendapat kesialan itu.
Sebelas hari itu dia lalui dengan sendirian saja, saat ini sedang jam istirahat dan Kiano tentu saja sedang berada diatap sekolah. Teman teman Kiano yang tidak bisa melihatnya seperti itu terus mengawasinya dan terkadang salah satu diantara mereka akan keluar dan menemani Kiano.
Saat itu adalah giliran Sebastian yang pergi untuk menemui Kiano.
"Sampai kapan kau akan seperti ini? Sudah sebelas hari berlalu dan kau masih saja seperti ini. Kau mengatakan semuanya baik baik saja tapi aku yakin semuanya pasti tidak baik baik saja"
"Katakan Kiano ada apa denganmu sebenarnya" Ujar Sebastian.
"Aku melakukan semua ini demi kebaikan kalian semua, aku tidak ingin kalian semua terluka jadi menjauhlah dariku, jika terjadi sesuatu padaku setidaknya kalian tidak akan pernah diganggu. Jika aku mati maka aku pasti akan mati sendiri dan kalian dapat melanjutkan hidup dengan damai" Ujar Kiano. dengan nada yang dingin.
Tiba tiba Aurel keluar dari persembunyiannya dan itu tidak membuat Kiano terkejut karena dari awal dia sudah tau bahwa setiap hari dia selalu saja diikuti oleh mereka bertiga.
"Apakah kau ingin mengingkari janjimu!!?" Ujar Aurel dengan nada yang marah.
"Kau berjanji padaku bahwa kau pasti akan tetap hidup walau kau merasa bahwa nyawamu tidak berharga tapi kau akan tetap hidup. Lalu Kenapa kata katamu menjadi seperti ini" Ujar Aurel dengan menangis yang tidak menyangka bahwa Kiano akan mengatakan itu semua dan mengingkari janji yang telah mereka buat bersama.
Dengan menetesnya air mata Aurel tentu saja membuat hati Kiano merasa sakit. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"Aku juga tidak ingin menjadi seperti ini, aku juga ingin bersama dengan kalian, menikmati masa muda kita bersama, aku juga ingin bersama dengan ibu, bersama dengan anak anak, dan tinggal dirumah dengan damai"
"Tapi aku tidak bisa, karena orang itu bisa muncul kapan saja dan aku tidak ingin dia menyakiti orang terdekat yang paling aku sayangi. Kalian juga harus tau, aku melewati hari hari ini serasa seperti di neraka, aku kembali ke neraka yang dulu lagi, dimana aku selalu merasa sendiri, kesepian dan tanpa kasih sayang"
"Itu semua sangat menyakitiku, tapi taukah kalian apa yang paling menyakitkan dari neraka itu, yaitu kehilangan kalian semua. Semua kesakitan ini tidak ada apa apanya daripada kehilangan kalian semua. Jadi kumohon pada kalian untuk menjauhiku karena aku tidak ingin masuk keneraka yang jauh lebih berat daripada ini" Ujar Kiano dengan suara yang gemetar, dia seperti ingin menangis dan mengatakan bahwa dia sudah tidak kuat lagi, tapi dia menahan semua itu demi keselamatan mereka semua.